KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
10. CATATAN YANG SUNYI


__ADS_3

DEKA pulang dengan wajah kusam, kedua matanya masih sembab sehabis menangis terlalu lama di taman. Dia bahkan bolos di pelajaran terakhir, dan saat pulang dia berharap bisa bertemu dengan Ken, satu-satunya orang yang paling ingin dia temui. Akan tetapi keadaan rumah tidak seperti yang dia inginkan.


“Ken!” Deka memanggil, tapi saudaranya tidak terlihat di mana pun. Buru-buru dia menaiki tangga lalu berjalan lurus menuju kamar Ken yang pintunya tertutup.


Dengan pelan, Deka membuka pintu bercat putih gading itu sehingga terbuka, menampilkan ruangan yang rapi dengan barang-barang yang terusun apik. Dia melihat rak buku yang tingginya sedikit melebihi dia, teringat kembali kejadian yang memuakkan saat dia memarahi Ken dan mendorongnya dengan kasar. Apakah Ken baik-baik saja? Apa punggung laki-laki itu tidak memar dan nyeri setelah terbentur dengan rak yang keras?


Deka terduduk, menarik napas dengan lemas karena Ken tidak terlihat di mana-mana. Di kamar mandi pun dia tidak ada. Deka sangat ingin minta maaf, meminta maaf untuk yang kedua kali.


Namun, apakah Ken akan memberinya maaf setelah apa yang selama ini dia lakukan? Dirinya sudah keterlaluan, bukan? Padahal dia sudah berjanji untuk tidak akan bersikap buruk dan dingin lagi, tapi dengan sangat mudah dia mengingkari itu semua.


Mata tertuju pada sebuah buku yang lumayan tebal, sampulnya berwarna putih gading seperti cat pintu tadi. Deka tersenyum kecil, ternyata Ken sangat menyukai warna putih gading.


Dia tidak tahu hal sekecil itu, padahal Ken tahu dirinya menyukai teh hangat sebagai penawar mimpi-mimpi buruknya. Kenapa sampai tidak tahu hal sepele ini? Mungkinkah sudah terlalu jauh dari Ken, saudara kandung sendiri? Deka memilih duduk di kursi belajar, membaca lembar demi lembar buku bersampul putih gading itu dengan teliti.


-o0o-


Kepalaku semalam pusing banget.


Perutku sedikit mual dan napas sesak. Ouh, mungkin maag, ya? Waktu aku baru istirahat, Deka datang dan marah-marah.


Aku bingung, salahku apa? Ternyata, PR-nya lupa kukerjakan. Aduh.


-o0o-


Terkekeh meski perasaan menyesal membuatnya sedikit kesulitan membuka buku harian itu ke halaman lain. Deka menelan ludah sekali sebelum melanjutkan untuk membaca kalimat-kalimat baru, tertulis dengan tinta warna merah tua.


-o0o-


Deka sakit, kasihan adikku. Dokter bilang dia demam. Ini salahku karena telat membawakannya payung waktu pulang sekolah. Deka jadi basah kuyup. Aku mau minta maaf.


-o0o-


JARI-jari Deka gemetar ketika membalik ke halaman lain. Ken hanya menulis curahannya dalam kalimat-kalimat singkat.


-o0o-


Ada rasa malu saat teman-teman di kelas mengejekku. Rupanya, masih ada yang nggak senang aku sekolah di tempat yang sama dengan mereka.


-o0o-


“HAAH...” Napas Deka terasa memendek. Kata-kata yang Ken tulis membuat dirinya sesak.

__ADS_1


-o0o-


Aku punya rahasia dan Deka nggak. Sangat takut Deka akan bertambah benci jika tahu kalau rahasia itu tidak pernah diceritakan padanya.


-o0o-


KARENA kalimat ini, Deka mengernyitkan dahi, berharap dia sudah tahu perihal rahasia yang disebutkan Ken. Namun, dia mengalami blank brain, kenapa begitu sakit membaca kisah-kisah sedih Ken dalam buku harian ini? Kenapa dirinya baru sadar kalau Ken memang begitu peduli? Lambat laun, air mata Deka menetes, semua kata yang Ken tulis di buku itu hampir semua tentang persaudaraan mereka yang terlupakan. Ternyata buku tersebut adalah buku harian, tertulis tanggal dan hari-hari di bagian paling atas setiap lembarnya. Yang membuat Deka tidak kuasa menahan tangis adalah saat membaca beberapa deret kata yang terlihat tidak rapi tulisannya.


-o0o-


Malam ini, Deka akan ulang tahun! Aku akan minta tolong ke Ayu, dia pasti tahu hadiah yang tepat. Hehe... Soalnya Ayu kan naksir adikku.'


-o0o-


Deka memintaku sembunyi. Aku juga ingin menghadiri pesta adik sendiri, tapi Deka nggak ngizinin. Mungkin tahun depan Deka akan mengundangku juga.


-o0o-


AIR mata Deka berlinang semakin deras, rupanya apa yang semua Ayu katakan benar mengenai Ken yang hanya meminta bantuan Ayu untuk memilih hadiah yang pas. Namun, hanya karena foto-foto yang Bian kirimkan sudah membuatnya salah faham dan lebih memilih merusak persaudaraan mereka lagi. Sehingga dirinya dan Ken tidak seakrab sebelumnya, semua yang terukir lalu rusak dalam sekejab mata saja.


Tulisan-tulisan yang Ken buat di diary-nya sudah lebih dari cukup menjadi bukti, bahwa Ken tidak hanya sayang pada Deka, tapi juga sangat peduli. Akan tetapi, setiap kali Deka bersikap kasar pada Ken, kenapa kakaknya itu tidak pernah mau membalas sedikit pun? Kenapa Ken begitu tegar menghadapi dirinya selama ini? Berkali-kali mendapatkan omelan yang tidak pantas serta ejekan perihal kekurangan yang dia miliki, Ken tetap terlihat seperti biasa.


Berkali-kali Deka mencoba menghubungi Ken, tapi jaringan selalu sibuk. Saat kebingungan dan perasaan cemas semakin melanda, pintu kamar dibuka hingga Deka yang masih duduk di depan meja belajar tersentak. Dia reflek berdiri.


“KEN!”


Deka tidak sadar berseru keras ketika orang yang dia tunggu-tunggu memasuki kamar. Wajah Ken sangat pucat, jaket tebal yang dia kenakan bahkan tertutup sampai ke lehernya.


“Ken, aku... Aku nggak bermaksud baca diary-mu dan...daan aku... Aku nggak—”


“Deka.”


“Ken, aku benar-benar minta maaf, itu—tunggu dulu! Kamu... Ngucapin sesuatu? Sesuatu yang...yang...tadi.. Namaku?” Deka menunjuk dada, terbata-bata ketika telinganya tidak sengaja mendengar suara yang Ken keluarkan.


“Deka.”


Lagi, namanya disebut oleh Ken. Tunggu dulu! Ken berkata dengan fasih. Apa itu tidak salah? Deka tidak amnesia, dia tahu Ken tidak bisa bicara dengan normal, jadi tidak mungkin secara tiba-tiba bisa menyebut namanya tadi.


“Ken...”


Deka berdiri mematung, mulut terkunci ketika tatapan sendu tertuju langsung padanya. Ken terlihat tersenyum samar lalu menarik pergelangan tangan Deka dengan lembut.

__ADS_1


Dingin sekali.


“K—Ken?”


“Kamu belum makan, ‘kan? Ayo ke dapur, biar kutemani. Jangan sampai kamu sakit, dek.”


Tess... Tess... Tess... Air mata itu lagi-lagi tidak bisa tertahan di kedua pelupuk Deka. Dia tidak salah dengar, ini bukanlah halusinasi akibat rasa lelah dan bingung. Kata-kata panjang yang fasih tadi memang keluar dari mulut kakaknya! Ken tidak bisu lagi? Deka sangat bahagia, tapi dia juga bingung bagaimana bisa itu terjadi secara tiba-tiba. Atau jangan-jangan selama ini dia hanya dikerjai!


Tangan dingin Ken terus membawa Deka, turun dari tangga kemudian berbelok menuju dapur. Ken melepaskan pegangannya lalu menyiapkan makanan untuk Deka, tersenyum senang ketika Deka memulai menyantap makanan meskipun dengan gerakan kaku.


“Ken, kamu nggak—”


“Makanlah yang banyak, supaya kamu sehat dan tambah tinggi.” Ken memotong ucapan Deka.


Si adik mengangguk, terus menyendokkan nasi bercampur sup wortel dan daging sapi. Cukup lama Deka memakan makanannya, dia minum dari gelas yang juga disiapkan oleh Ken. Air putih itu kenapa hambar sekali? Saat meneguknya pun, dada terasa begitu berat dan sesak.


“Aku punya hadiah untukmu, Deka.”


Deka hanya diam karena masih menangis, kebingungannya semakin besar perihal kemampuan Ken yang bisa bicara. Dia berdiri, hanya melangkah dengan lemas tanpa berhenti menangis dalam diam. Diikutinya Ken yang menaiki tangga, Ken membuka pintu kamar Deka dan masuk diikuti lagi oleh si pemilik.


“Kado dariku, bukalah.”


Ken menyerahkan sebuah kotak pada Deka. Untuk yang entah keberapa kali, Deka tidak kuat menahan air matanya. Dia ingat, kotak itu adalah yang dia lihat di dalam kamar Ken, tepatnya di atas meja belajar. Waktu itu, kemarahan dan rasa cemburu terlalu mendominasi Deka, sehingga tidak peduli apa-apa lagi. Ternyata kotak yang bungkusnya belum usai dirapikan Ken adalah hadiah yang disiapkan.


“Ja—jaket berkerah bulu?”


Ken tersenyum dan mengangguk. Deka terlihat berbinar-binar, wajahnya merah karena menangis terus. Dengan cepat dia mengenakan jaket berwarna coklat tua dengan kerah berbulu lembut itu.


“Makasih banyak! Aku suka ini!”


Deka menubrukkan tubuhnya memeluk Ken. Sedangkan yang dipeluk hanya diam. Deka tidak melihat ada tetes-tetes air juga dari kedua mata Ken. Sebuah panggilan terdengar dari lantai bawah.


“DEKA! KAMU UDAH PULANG, NAK? AYO TURUN, PAPA DAN MAMA PERLU BICARA!”


“Itu Mama! Mama harus tahu kalau kamu bisa bicara, Ken! Kamu udah sembuh!”


Deka tidak menunggu apa pun, langsung berlari keluar dari dalam kamarnya dan meninggalkan Ken yang menatap penuh kepedihan pada pintu yang sedikit terbuka.


‘Ya Allah, terima kasih.’


...[][][]...

__ADS_1


__ADS_2