KALIMAT SUNYI

KALIMAT SUNYI
8. DARAH SANG MALAIKAT


__ADS_3

KEN menuruni tangga rumahnya dengan tergesa-gesa dan langsung berbelok ke dapur tempat Mamanya sedang memasak bersama seorang pembantu.


“Mbha, dah yap? (Ma, udah siap?)”


Bu Mirna tersenyum seraya mengangguk. Wanita itu menyerahkan sebuah kotak berwarna biru dan langsung diraih oleh Ken. Wajah remaja itu terlihat khawatir dan langsung berbalik hendak meninggalkan dapur.


“Ken, tunggu bentar.” Ken langsung berhenti dan berbalik lagi, menatap Mamanya dengan bingung ketika tangan wanita tersebut terangkat.


“Rambutmu berantakan sekali, kamu nggak menyisirnya, hm?” Ken menanmpilkan cengiran kemudian menggeleng. Bu Mirna berdecak geli, lalu dengan telaten jemari putihnya merapikan helaian hitam sang anak sulung. Ah! Rambut Ken sangat lembut meskipun belum disisir.


“Udah, Sayang. Sekarang berangkatlah dan hati-hati. Jangan ngebut, ya.” Ken mengangguk kemudian meraih tangan Mamanya kemudian dicium cukup lama.


“A’u kat dlhu, Mbha! (Aku berangkat dulu, Ma!).” Ken sedikit berseru, kekhawatiran masih terlihat di wajahnya.


“Tunggu, Ken!” Satu panggilan denga suara berbeda kembali menghentikan langkah Ken. Laki-laki itu berbalik dan tersenyum lebar mendapati Pak Hardi.


“Pah...”


Papanya terlihat sangat berwibawa saat mengenakan setelan jas formal. Ah, betapa berkharisma pria ini.


“Mau ke sekolah adikmu?” Ken mengangguk lalu memperlihatkan kotak bekal penuh makanan, “kalau gitu, ngayuh sepedanya jangan terlalu kencang. Setelah selesai, cepat pulang lalu istirahat. Papa akan ke kantor lebih awal hari ini."


Ken mengangguk kemudian mencium tangan Papanya, dia lantas berlalu. Bu Mirna menatap punggung sempit Ken dari dapur, tanpa sadar air mata wanita itu menetes, sedangkan pembantu yang masih berada bersama dia hanya memandang majikannya dengan raut iba.


“Bu,” panggil pembantu itu dengan pelan.


“Bi, apa ini hanya pengelihatanku saja atau Ken memang berubah sangat kurus?” Tanya bu Mirna dengan suara pelan.


Pembantu yang kerap dipanggil Bi Minah itu tersenyum pedih kemudian menjawab, “Bibi juga berpikiran yang sama, Bu. Tuan Ken terlihat begitu kurus, wajahnya juga sering sayu.”


“Kenapa nangis, Sayang?” Pak Hardi mendekati Bu Mirna lalu mengusap air mata di wajah isterinya.


Dengan sedikit mendongak, Bu Mirna berucap dengan nada memohon. “Mas, nanti saat Deka pulang, kita harus ngajak dia bicara serius. Aku nggak bisa nyembunyiin rahasia itu lagi darinya, dia harus tahu! Aku nggak kuat liat Ken sedih terus, Deka udah keterlaluan!”

__ADS_1


“Kalau kamu memilih nyeritain rahasia itu, maka akan kita ceritakan. Mas juga sebenarnya memikirkan hal yang sama. Tapi sekarang, berhenti menangis. Lebih baik bawakan tas ini sampai mobil, hm?”


Bu Mirna mengangguk dan berhenti menangis, dia keluar lebih dulu menuju mobil yang terpakir di depan rumah. Sedangkan suaminya berdiri diam dengan kening berkerut, dia memikirkan hal yang besar dan berat.


...[][][]...


KEN memang tidak pernah lagi mengantarkan Deka makan siang semenjak pertengakaran mereka beberapa hari lalu. Hari ini adalah pertama kalinya dia akan datang ke sekolah Deka membawa makanan lagi, semoga saja Deka tidak sedang dilanda kelaparan yang melilit. Ken terus mengayuh sepeda dengan kecepatan tinggi, ternyata sudah menjadi keahlian tersendiri melewati berbagai kendaraan yang berlalu-lalang di sekeliling. Dia memotong jalan ke arah belokan kiri, sehingga akan lebih cepat sampai meskipun lumayan berkelok-kelok serta jalanan yang tidak terlalu rata.


Keringat mulai turun di pelipis, tiba-tiba dia mengerem sepedanya dan berhenti di dekat gang yang lumayan luas di depan sebuah toko tua dan tidak dipakai lagi. Ken melihat siswa berseragam sama dengan milik adiknya tengah membicarakan sesuatu yang tampak penting, terlihat jelas dari raut wajah orang itu yang sesekali berkerut di bagian alis dan dahi.


Yang membuat Ken menghentikan laju sepedanya karena orang tersebut sempat menyebut nama Deka beberapa kali. Ken turun dari sepeda lalu berjalan mendekati siswa tadi. Itu Bian.


“Yan!” Ken memanggil, seketika itu juga, mata Bian membulat. Wajahnya mulai bingung, tapi 1 ide langsung terlintas dan diangguki 4 temannya yang berpakaian biasa setelah memberikan isyarat.


BUKK! Tubuh Ken terpental setelah tendangan telak mendarat di perutnya. Remaja itu meringis sakit, tapi tatapan berubah tajam dan dia langsung berdiri dengan tegak.


“AAAAAGGH..!!” Ken berseru lalu membalas tendangan salah satu teman Bian yang bertindik.


Tendangan Ken tidak main-main, berhasil membuat orang tadi terjerembab di beberapa tumpukan kardus bekas dan botol-botol kaca. Terbiasa melewati gang kumuh itu membuat Ken tidak memikirkan sebab akibat. Dia tidak menyangka akan mendapatkan kesialan ini! Beberapa botol di sana pun pecah berserakan. Bian menonton perkelahian dengan raut cemas, pasalnya, Ken mungkin sudah dengar apa yang dia rencanakan tadi.


“Kamu kakaknya Deka, si murid yang paling kubenci dan udah menjadi rivalku sejak dulu. Kamu bisu dan dibenci Deka juga, adikmu sendiri. Kamu ingat fakta itu, ‘kan? Jadi, untuk apa repot-repot jagain anak yang nggak punya balas budi kayak dia?”


“Kha nak ai’ik, mu dhak nya ahk un’uk ndahkan a’ina! (Deka anak baik, kamu nggak punya hak untuk merendahkannya!).”


Setelah Ken berhasil protes, gelak tawa di belakang Bian dari teman-temannya terdengar, bagi mereka ada kelucuan di setiap kata yang Ken lontarkan.


“Teman-temanku nggak faham kamu bilang apa. Sekarang pulang dan urusi diri sendiri, karena sebentar lagi adikmu yang udah ngancam dan cepu ke Ayah soal bikin masalah di sekolah ke Ayahku, akan nerima akibatnya. Pergi sekarang!”


“Ani’nya mu! (Beraninya kamu!).”—bukh!


“Akhh!”


Bian berseru kesakitan ketika dengan tiba-tiba Ken menonjok tepat di hidungnya dan membuat hidung siswa itu mengeluarkan darah yang banyak. Bian melotot, sedangkan empat temannya hanya diam, tidak berani mengambil tindakan sebelum disuruh.

__ADS_1


“Kamu...” Bian menggeram, kedua matanya memunculkan amarah besar. Dia berbalik, menarik botol yang sudah pecah dan—


Jleb! “Ahkk!”


Napas Ken tercekat, tatapannya menyipit ke arah tembok gang. Dia bisa melihat 4 teman Bian membulatkan mata mereka. Napas Ken sendiri tertahan ketika sebuah benda dingin berhasil menembus area ulu hatinya. Perlahan, darah segar keluar dari luka yang tercipta dari botol pecah tadi.


“Ah khh...”


Ken mengerang seakan tersengat listrik ketika Bian mencabut pecahan botol tadi dari perutnya. Sedangkan siswa itu kini menatap tidak percaya diri yang memegang botol pecah berlumuran darah. Dia berbalik, menatap satu per satu temannya yang menggeleng syok. Bian menggenggam pecahan botol dengan erat, berharap bisa ditarik kembali dari dunia yang dianggap ilusi.


“Bian, kamu nggak bilang kita akan membunuh,” ucap salah satu temannya. Wajah laki-laki dengan baju berkerah panjang mulai kebingungan.


“Aku nggak dibayar untuk ini, Bian. Kami bukan pembunuh, ingat?” 1 teman Bian yang lain menyahuti perkataan temannya.


“Lebih baik aku nggak mengenalmu sejak awal. Ayo, teman-teman. Cepat pergi sebelum ada yang lihat!”


4 teman Bian sudah berlari, melupakan tugas yang sebelumnya Bian berikan. Bian sendiri berbalik, menatap Ken yang terduduk dengan posisi bersandar di tembok gang lembab. Lelaki itu meringis memegang lukanya, darah mengalir keluar dari sela-sela jari.


“A—aku nggak... Aku nggak bermaksud untuk... Hah...hah...mu-mustahil..."


Bian terbata-bata, botol kaca yang dia pakai untuk melukai Ken sudah terjatuh entah sejak kapan, mengubahnya menjadi pecahan-pecahan kecil yang bahkan lebih tajam. Wajah siswa itu memucat, dia tidak sadar dengan darahnya sendiri yang masih menetes dari lubang hidung.


“Yan, pat... Ahh... Pat gihkk...” Ken menggerak-gerakkan sebelah tangan, menyuruh Bian pergi dari gang itu secepatnya.


Si pelaku tidak bergerak, terus menatap kedua tangan yang ternoda darah dengan ketakutan. Ken menarik napas dalam-dalam ketika pasokan udara mulai terasa berkurang. Daging di perutnya seperti diiris perlahan-lahan, lalu dikoyak ketika Bian menarik pecahan botol itu beberapa saat lalu. Panas disertai perih tiada tara menggerogoti dari luka, turun sampai ke setiap sela jari kaki. Dengan susah payah, Ken berdiri berpegangan di tembok menuju sepeda yang masih berdiri apik tidak tersentuh. Seketika itu juga, darah merembes berwarna merah gelap. Menyakitkan!


Tatapan sendu Ken tujukan ke kotak bekal yang ada di keranjang sepeda. Dengan tangan gemetar hebat, dia meraih jaket yang terlilit di keranjang sepeda itu kemudian mengenakannya, menutup zipper untuk menyembunyikan luka tusukan tadi. Lantas, Ken menaiki sepeda dan menoleh ke arah Bian yang kini memandang dengan air mata berlinang.


"Yan gihkk...khab...khabuhh..." Ken menyuruh Bian kabur, tersenyum dengan bibir yang membiru.


Kayuhan lemah kaki Ken membuat sepeda itu bergerak tidak seimbang, Bian tetap berdiri mematung dengan air mata yang semakin deras. Kembali mengayuh, mengayuh, dan terus mengayuh hingga menghilang dari gang sama sekali.


‘Nggak...nggak... Apa yang sudah kulakukan padanya? Nggak, dia nggak salah apa-apa...’ Bian meratapi kebodohannya yang termakan emosi, sehingga pihak yang tidak berdosa menjadi korban luka parah.

__ADS_1


...[][][]...


__ADS_2