
Situasi:
Seorang pria sedang menatap tajam ke arah seorang ballerina yang tampaknya sudah lama Iya kenali. Tapi sayangnya Sang Ballerina tidak mengetahui kehadiran lelaki tersebut dalam show malam yang dilaksakan akhir bulan di kota bunga.
Ini bukan tentang penampilan yang biasa, pada akhir acara Sang Ballerina malam akan melayani kebutuhan jiwa seorang pria yang mampu memberikannya harga tertinggi di malam yang sama.
Tubuh nan molek dan kokoh terlihat sangat jelas saat sang Ballerina memamerkan gerakan-gerakan tarian nan indah beraroma erotis dengan busana yang hanya sedikit menutup bagian-bagian sensitif miliknya.
Semua mata tertuju padanya, menganggap penampilan Sang Ballerina sebagai awal pemanasan yang baik sebelum melakukan tawar-menawar untuk menikmati waktu malam bersama Sang Ballerina.
Tidak ada yang mengetahui secara persis identitas wanita yang terus diperebutkan setiap akhir bulan dengan harga tertinggi ini. Yang mereka tau, Sang Ballerina malam adalah rekreasi terbaik dan menyenangkan yang mampu melemaskan otot-otot yang lelah setelah satu bulan penuh bekerja keras.
Sang Ballerina masih belum berhenti bergerak dengan gemulai, lincah dan menawan, di ujung acara ini Iya hanya tinggal menunggu harga tertinggi yang mampu memberikan pundi-pundi rezeki untuk kehidupannya.
" Rp. 5 juta."
" Rp. 10 juta. "
" Rp. 20 juta. "
" Rp. 50 juta. "
__ADS_1
Lalu hening. " Rp. 50 juta untuk Sang Ballerina malam ini jatuh kepada Tuan Rajo Langit. " ucap pembawa acara disambut tepuk sorak sorai bergemuruh mengisi ruang namun Sang Ballerina tidak pernah tau siapa laki-laki yang memberikan bayaran tertinggi sebelum tiba di kamar hotel berbintang lima.
Langkah kaki manis terdengar perlahan memasuki kamar mewah nan megah yang memang sudah dipersiapkan sebagai tempat permainan panas sang ballerina dan pembeli kemolekan nya.
Iya berdiri di tengah ruangan kamar dengan pakaian super sexy dengan jelas dapat memperlihatkan lekuk tubuh Sang Balerina, ditambah bahan transparan semakin membuat penampilan Sang penggoda ini tampak luar biasa.
Dari kaca besar pembatas antara kamar mewah dan luar ruangan. Aku melihat Iya berdiri tanpa senyuman dan tampak tersiksa, namun pada saat aku memutar kursiku, senyumnya melebar sambil menunduk.
Ternyata dia belum mengatahui bahwa laki-laki yang kini di hadapannya adalah aku. Aku berdiri dan berjalan ke arahnya, saat tubuh kami saling berdekatan aku langsung memegang dagunya sembari mengangkat wajahnya.
Saat matanya menangkap wajahku dari camera kecil itu, Iya tampak sangat terkejut. Matanya berkaca-kaca tapi iya sangat kuat sehingga mampu menahan bulir-bulir air matanya agar tidak menetes.
"Masih ingat padaku? " ucap ku berbicara dengan nada yang dingin. Seketika bibirnya menganga kecil sambil mengatur nafasnya.
Aku mendekatkan wajahku padanya dan menatap Ballerina ku dengan tatapan tajam dan marah. "Harusnya aku yang bertanya padamu, apa yang tengah kamu lakukan di sini? "
Dengan ringan dan mudah iya menjawab, "Aku sedang bekerja. "
"Dengan cara menjual diri? " ucap ku dengan suara mengejek dan menyunggingkan bibirku.
"Kamu tidak tau apa-apa. " balasnya.
__ADS_1
"Kalau begitu, beri tahu aku sekarang! " ucap ku sangat penasaran tapi iya mengunci mulutnya rapat-rapat.
"Dengar ...! Malam ini kamu milikku, jadi aku mau kamu melakukan semua yang aku inginkan! Jelas? "
"Tubuhku memang milikmu tapi tidak dengan pikiranku. " ujar Kasih berkata dengan dingin sambil terus menatap mataku.
Aku melepaskan tanganku dari wajah cantiknya. Perlahan, aku menurunkan tali-tali tipis ukuran satu jari yang tampak menyangga dan menutupi tubuh moleknya.
Aku mulai menempelkan bibirku di leher putih mulus milik Kasih hingga ke belakang telinganya sambil berbisik, " Selama ini, aku mencarimu. "
"Hah .... " ujar Kasih dengan suara yang tipis dan lembut keluar dari bibirnya bersama nafas lembut yang hangat. Dia tampak terkejut dan tidak percaya.
"Aku hampir gila, hampir putus asa, aku mendatangi setiap show ballet di seluruh kota kita. Hanya untuk satu tujuan, bertemu denganmu dan memohon maaf atas kesalahanku. "
Aku merasakan nafas hangat yang bergejolak tidak teratur keluar dari mulut wanita yang pernah aku permainkan hatinya 3 tahun yang lalu.
Saat bibirku sangat dekat dengan kulit lehernya aku dapat merasakan bulu-bulu halus itu berdiri. Aku yakin iya masih memiliki perasaan yang sama seperti dulu walaupun hanya tinggal sedikit terhadap diriku.
"Jangan lagi menipuku ...! apa belum cukup?" ujar kasih sembari menarik nafasnya panjang.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘