
Aku tiba di kantin dan segera memesan makanan apa saja yang aku suka. Entahlah ... biasanya makanan super duper wow tapi tidak kali ini. Rasanya di sini sepi tak seperti biasanya.
"Hai sayang ... makasih ya transferannya. Kenapa mukanya ditekuk kayak gitu? Tumben banget kamu ngak happy pagi-pagi gini. Mau aku pijitin? Plus-plus juga boleh. Gimana kalau nanti malam?" Ucap Nadia yang biasa memberikan tubuhnya untuk uang. Dia tanpa henti bertanya kepadaku dan itu membuat aku merasa kesal.
"Aku sedang ngak baik Nad, so tolong banget menjauh ya! " ucapku tegas pada Nadia.
Nadia pergi meninggalkan aku dengan wajah yang begitu masam dan kesal. Wajar saja, baru kali ini aku bersikap kasar padanya. Aku jadi bingung pada diriku sendiri. Apa yang sebenarnya terjadi padaku? Aku saja tidak mengenali diriku sendiri apalagi orang lain.
Aaaggh ... entah apa yang aku rasakan, hanya saja biasanya Nadia cukup untuk mengenyangkan otot ku tapi kali ini disentuh olehnya saja aku merasa malas banget. Sepertinya ada yang salah denganku.
Pesananku tiba di meja makan ku. Aku mulai menyantab kebab isi daging yang biasanya manjur mengusir rasa kesal ku. Aku menggigitnya satu persatu tapi kali ini diluar ekspektasi ku. Hasilnya nihil untuk hatiku, tidak ada kebahagiaan selesai menyantap kebab isi daging tersebut.
Setengah bagian kebab sudah habis, saat aku merasa ini tidak berhasil dan hanya membuatku lelah saat mengunyah nya, aku melempar pelan kebab dari tanganku ke piring di atas meja.
Saat aku mengangkat wajahku, aku melihat Kasih sedang memesan sesuatu dan mengantri. Itu antrian yang cukup panjang, namun aku terus memperhatikannya.
Tiba giliran Kasih, saat Iya ingin memesan, datang beberapa gadis populer yang menyalip antrian kemudian berdiri di depan Kasih. Tubuh kasih terdorong ke belakang, Iya tampak lemah tapi iya tetap berusaha terus berdiri tanpa melakukan perlawanan.
Aku sangat merasa kasihan padanya tapi kalau mengingat perlakuan dan sikap cuek Kasih padaku, aku jadi sangat malas dan kesal padanya.
Kini kembali giliran Kasih yang memesan makanan, tapi lagi-lagi barisannya dipotong oleh para laki-laki dari gang tingkat teri dan Kasih kembali menunduk tidak berbuat apa-apa.
Aku sudah tidak tahan lagi, aku muak dengan apa yang aku lihat jadi aku memutuskan untuk meninggalkan kantin dan semua hal-hal yang menyakiti hatiku saat aku melihatnya.
__ADS_1
Heh, untuk apa aku perduli dengan cewek yang jelas-jelas cuek padaku dan tidak bersikap tunduk padaku, cemo'ohku di dalam hati sembari meninggalkan kantin dan semua yang ada di dalamnya.
Hampir tiba langkahku di ujung pintu kantin tapi aku mendengarkan suara pelan dan lirih dari mulut Kasih. "Aduh .... " ucapannya itu terdengar di telingaku dan membuat aku tidak bisa untuk tidak tau apa yang terjadi padanya.
Saat aku menolehkan arah pandangan ku kepadanya, aku melihat Iya sedang menunduk dan memegang ujung sepatunya, Iya tampak kesakitan. Apa mungkin laki-laki itu menginjak kaki Kasih? Dimana matanya? Aku mulai merasa geram.
"Kenapa lho? Sakit? Gitu aja nangis. Ngak usah manja deh! Udah jelek, manja lagi, jijik banget lihatnya. Pergi sana! " ucap salah satu laki-laki yang merupakan anggota geng tersebut sembari mendorong dada kiri Kasih.
Aku berjalan dengan cepat ke arah laki-laki tersebut. Aku menarik seragamnya dengan kuat dan Dia balik menatapku dengan pandangan marah.
"Kamu ngomong apa barusan? Kalian yang motong barisan antrian, sekarang kalian yang marah-marah. Ini cewek kawan, kalau kamu berani sama aku yang cowok! " ucapku sangat marah sambil menantang laki-laki yang tidak aku kenali tersebut..
"La-langit ... sory banget, gue ngak tau kalau yang narik baju gue itu elo, kirain thu cewek cupu. " ucapnya sambil melirik kan matanya pada Kasih.
Satu pukulan dari tanganku, sudah mampu menjatuhkan laki-laki itu. Saat Dia berdiri aku terus menghajarnya hingga kau merasa puas dan Dia babak belur.
Aku tidak perduli dengan apa yang akan terjadi nanti. Lagipula papa ku kaya raya, Iya bisa mengurusnya bahkan untuk mengganti nyawa laki-laki biadab seperti ini pun pasti Papa ku mampu.
Aku memukul laki-laki tersebut tanpa henti, tidak ada satupun penduduk di kantin ini yang mampu melerai ku karena aku tak segan-segan untuk memberikan pukulan ku untuk siapa saja yang ikut campur dalam urusanku.
Aku sangat kalap, entah apa yang membuat aku begitu marah hingga aku merasa ada sepasang tangan mungil yang hangat memeluk dan menarik tubuhku menjauhi laki-laki tersebut.
Aku tidak suka dengan ini, aku membalik badanku dengan ekspresi yang sangat marah. Aku juga mengepal tinju ku dengan sangat kuat siap memukul orang yang berani menahanku dari belakang.
__ADS_1
Tapi pada saat aku berputar, aku melihat Kasih berada tepat dibelakangku dan Iya masih memegang kedua sisi pinggang ku. Dia menatapku dengan matanya yang teguh dan berkaca-kaca, aku bisa melihat dengan jelas kolam kecil di dalam matanya dan itu membuat aku terdiam, amarahku pun hilang seketika.
Aku menurunkan kepalan tanganku dan membukanya perlahan. "Apa yang kamu lakukan? Biar aku menghabisinya. Bukankah dia sudah menyakiti dan menghina kamu? " tanyaku tanpa henti dengan nada suara yang tinggi.
"Kekerasan tidak menyelesaikan masalah. Jadi aku mohon ... tenangkan diri kamu ...! " Kasih berbicara dengan suara yang sangat lembut dan mendayu-dayu. Rasanya seluruh tubuhku diterpa angin sepoi-sepoi yang segar. Baru kali ini aku mendengarkan suara dari mulutnya. Ternyata ... suara Kasih sangatlah indah, sangatlah lembut, sangatlah merdu.
"Baik aku mengerti. " sahut ku sambil menghentikan tatapan kebencianku.
Kasih mendekati laki-laki tersebut dan bertanya, "Kamu ngak apa-apa? Tadi aku cuma mau beli sebotol air mineral untuk minum obat. " ucap Kasih sambil memberi tangan kanannya pada laki-laki yang telah menyakiti dirinya tersebut.
"Maaf, aku ngak tau kalau kamu sedang sakit. Namaku Erik. "
"Sebaiknya kamu segera mengobati luka kamu ini di UKS ya ...! Permisi .... "
Setelah aku memastikan keadaan aman, aku segera membelikan Kasih air mineral dan memberikannya pada Kasih. Kali ini, aku melakukannya dengan iklas. "Mana obat kamu? " ujarku sambil menatap mata Kasih dan Iya menjawab ada di dalam tas.
"Ya sudah. Kalau gitu ayo kita ke kelas! " ucapku sembari mengiringi langkah Kasih kembali ke dalam kelas.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘
__ADS_1