
Selama ini, aku tidak pernah benar-benar mencari apapun. Apa yang Tuhan beri adalah jalan ku. Aku tidak pernah berfikir tentang apapun dan siapapun mungkin karena selama ini aku kurang mendapatkan cinta. Sehingga aku tidak ingin melihat dunia dengan mata yang sebenarnya.
Seperti biasanya, aku bangun di pagi hari dan jalan ke sekolah hanya untuk mengsi waktuku. Siapa yang perduli dengan angka-angka pada kertas yang diberikan hanya 6 bulan sekali.
Sebenarnya, aku sangat ingin mengerti tentang apa yang selalu mereka kejar saat duduk di bangku itu sejak pagi hingga lebih dari tengah hari. Seperti halnya Kasih, Dia selalu fokus pada ilmu dan sepertinya hanya itu yang penting bagi dirinya.
Sejak dari semalam aku sulit memejamkan mataku hanya untuk memikirkan wanita zombi itu. Entah apa yang membuatku seperti ini. Apakah taruhan kali ini sangat berat? Hingga aku jadi bingung pada diri sendiri dan keadaan.
Hari ini aku berangkat ke sekolah pagi-pagi sekali, seperti ada yang ingin aku lihat atau aku cari di sekolah. Setibanya di sekolah, ada rasa keresahan di dalam hatiku saat tidak melihat sosok Kasih duduk di bangku itu seperti biasanya.
Jam pertama di mulai, tapi Kasih belum juga tiba di sekolah. Kenapa? Ada apa? Dia tidak pernah seperti itu. Apakah Dia sedang sakit?
Kenapa Dia tidak mengatakannya padaku? Padahal aku sudah meninggalkan nomor HP ku kemarin padanya tapi karena keangkuhan ku, aku tidak meminta nomor HP Kasih. Sekarang ... aku yang tidak tenang.
Aku memainkan bulpoint milikku untuk mengusir rasa yang tidak biasa ini. Sepulang sekolah, aku akan mencari Kasih. Aku sangat khawatir.
Jam istirahat pertama di mulai. Aku segera mencari ketua kelas untuk mencari tau apakah ada pemberitahuan dari keluarga Kasih tentang dimana Dia atau alasan hingga Dia tidak bersekolah.
"Brian sebentar ...! "
"Hai ... tumben menyapa. "
"Jangan buat mood aku semakin hancur ...! "
"Ok. Ada apa? "
"Kamu tau dimana Kasih? maksud ku, kenapa Dia ngak datang ke sekolah? "
__ADS_1
"Oh Kasih ... iya, Dia kan ikut lomba cerdas cermat di kantor gubernur hingga tiga hari ke depan. Makanya Dia ngak masuk. " ujar Brian dengan jelas. " Kalau mau cari kasih, kamu kesana aja ...! Dia disana sampai pukul 16.00 wib kalau ngak salah. "
"Ok. Thanks. " sahut ku sari menepuk pelan lengan Brian.
"Aagh ... aku pikir Dia sakit. Bikin khawatir aja." ucapku spontan dan pelan. Apa, khawatir. Sejak kapan kamu begitu langit? Ucap bagian dari diriku yang lainnya. Dan aku tidak tau jawabannya.
Sepulang sekolah, aku berniat menyusul Kasih. Tanpa berlama-lama, saat bel panjang berbunyi. Aku segera menyandangkan tas ku dan bergerak ke kantor gubernur.
Aku mencari gedung dimana Kasih melakukan perlombaannya. Tepat waktu, saat aku tiba, Kasih dan 2 orang teman lainnya sedang berdebat di atas podium.
Kali ini ada pemandangan yang lain dari Kasih. Biasanya Dia hanya tampil seadanya tapi kali ini entah dimana Kasih membuang wajah pucat miliknya itu? Heran, cepat sekali Dia ganti kulit. Ditambah lagi dengan lincah bibirnya sebagai juru bicara, membuat aku menyadari sisi lain Kasih. Suaranya benar-benar indah, lembut dan mendayu-dayu.
Aku baru menyadari kalau kasih adalah wanita yang riang dari tawanya saat berhasil menaklukan setiap soal dengan benar. Kasih tampak sangat cekatan, terampil, banyak bicara, ekspresi, dan ... sulit untuk aku aku'i, tapi saat ini aku melihat Dia sebagai perempuan yang cantik dan bersinar.
Aku yakin sekali kalau Kasih tidak menyadari kehadiranku di sini. Jadi apa yang aku lihat ini adalah sikap aslinya Kasih? Sangat menyenangkan, dan saat Dia tertawa di atas podium, aku juga ikut tertawa. Ini hari yang seru dan menegangkan. Bukan hanya untuk Kasih, tapi tiba-tiba aku juga merasakan ketegangan tersebut.
Kegiatan hari ini sudah berakhir. Saat kasih turun dan berjalan ke arah luar, aku segera menyapanya. Tampak ekspresi kaget dari wajahnya. "Hai .... " sapaku sambil menatap wajahnya yang merona dengan rambut yang terurai.
"Ngak ada ... aku cuma lihat sekolah kita bertanding. "
"Tumben ... selama ini aku ngak pernah lihat kamu ada di lingkungan dalam urusan sekolah. " jawab Kasih dan itu membuat aku tidak nyaman. Aku berusaha menaikan nada bicaraku agar terlihat marah demi mengalihkan pertanya'an Kasih.
"Emangnya kenapa? Ngak boleh? Ngak suka? " ujarku sembari menekuk kedua alis mataku dan menatap Kasih dengan tajam.
"Bukan begitu ... hanya saja baru kali ini terjadi. Aku suka banget kamu di sini. " ucap Kasih dengn senyum dan suara yang tetap tenang.
"Ayo pulang ...! "
__ADS_1
"Emh ... kamu duluan aja Langit ...! Soalnya aku mau ke gramedia terlebih dahulu. Ada materi yang harus kau perdalam. "
"Aku kesini buat kamu ya Kasih. Lalu sekarang kamu se'enaknya aja ngusir kau gini. " ujarku spontan dan itu membuat Kasih terdiam sembari menatap mataku tanpa henti. Saat kedua mata kami bertemu, aku merasakan getaran yang tidak biasa dan aku tidak tau itu apa? Serta dari mana asalnya. Yang jelas ... getaran itu hadir diiringi suara detak jantungku yang semakin cepat.
Untuk beberapa saat Kasih melepaskan pandangannya dari mataku dan menunduk sambil tersenyum. "Baiklah ... tapi kamu antarin aku ke gramedia dulu ya ...! "
"Baik .... "
Kami mulai melangkah ke toko buku tersebut dan mencari semua buku yang berhubungan dengan materi yang Kasih butuhkan. Satu jam di sini dan kami mendapatkan 3 buku.
"Aku masih butuh satu lagi. Kamu ngak masalh nunggu aku?
"Hm .... " sahut ku dengan suara yang kecil tanpa membuka mulutku dengan sikap yang malas.
Aku sangat bosan dan lelah. Ini perjalanan yang tidak asik. Ujarku di dalam hati. Aku memilih duduk di kursi yang telah disediakan. Sementara Kasih, Iya masih memburu buku-buku seperti Nadia memburu barang-barang belanjaannya.
Kasih menatap tinggi, sepertinya buku yang Iya inginkan berada di rak teratas. Dengan menjinjitkan kedua kakinya, Iya berusaha menggapai buku tersebut. Tapi dari sini aku melihat buku-buku yang lainnya ikut bergerak tidak beraturan dan sepertinya akan jatuh menimpa Kasih.
Dengan sigap aku mengepung kepala Kasih dengan tubuhku hingga buku-buku ukuran tebal tersebut jatuh menimpa kepalaku dan pundakku. "Ya ampun Langit ... kamu ngak papa? " bertanya dengan wajahnya yang tampak cemas. Tak lama, Kasih menarik tanganku ke kursi. Sedangkan buku-buku tersebut, di tangani oleh petugas toko.
Kasih menggosok-gosok kepalaku dengan cepat sambil meniup-niupnya beberapa kali. Saat Kasih berputar dan berada tepat di hadapanku dalam posisi berdiri, aku sangat ingin melihat wajahnya jadi aku putuskan untuk menengadahkan kepalaku.
Saat hal itu terjadi, tanpa sengaja. Bibirku menyentuh bibir Kasih yang sedang runcing karena masih meniup. Kasih terdiam dan mundur beberapa langkah untuk menjauhiku. Matanya terbuka lebar dan Iya langsung memasukkan bibirnya ke dalam mulutnya.
Satu hal yang aku sadari, mungkin ini adalah pertama kalinya ada bibir laki-laki yang menyentuh bibirnya dan itu dilakukan secara tidak sengaja. Wajah Kasih memerah dan Dia hanya terdiam. Semantara aku, aku merasakan ada bagian dari tubuhku yang mulai mengeras.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘