KASIH LANGIT

KASIH LANGIT
Rasa Apa ini?


__ADS_3

Aku mulai gerah dengan apa yang aku lihat. Kasih tampak lebih akrab dengan Aryo dari pada denganku. Kesal dan aku sama sekali belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya.


Rasanya ... aku ingin menarik tangan Kasih sekuat tenaga ku agar Dia menjauhi Aryo. Rasanya aku ingin menelanjangi nya di sebuah kamar lalu menyiksanya dengan semua sentuhan ku. Aku mengepalkan kedua tanganku sambil mengadu barisan gigi atas dan gigi bawah milikku dengan kuat.


Dansa yang panas sudah dimulai. Sekarang Arya memeluk pinggang Kasih dengan sangat erat. Dia menatap Kasih dengan tajam seolah tidak ada orang lain disekitar mereka. Aku tidak tahan lagi, dengan langkah yang cepat dan emosi yang membara, aku menarik tangan Kasih dan memisahkan tubuhnya dari tubuh Aryo.


"Langit ... apa apaan kamu? Sakit tau .... " ujar Kasih sambil berusaha melepaskan tangannya dari genggaman tanganku yang mencengkram.


"Langit ... sebentar! Mau kemana kamu? Pestanya baru saja dimulai. " ujar Aryo yang berusaha mengejar langkahku yang jalan sembari menyeret tangan Kasih.


Tanpa memperdulikan ucapan Aryo, aku terus meninggalkan pesta dan membuka pintu mobil dengan sangat keras. "Langit ... kuncinya belum di buka. " ujar Kasih sambil memperhatikan gerakan tanganku.


"Aaagh .... " ucapku dengan suara yang kesal sambil memukul mobilku. Entah apa yang terjadi padaku? Yang jelas aku sangat marah.


Kasih terdiam sambil terus menatapku. Dia tampak sangat bingung. Sementara aku masih berkutat dengan emosiku. "Ayo kita pulang ...! " ucap Kasih dengan suara yang tenang sambil memegang tanganku.


Aku menatap Kasih sembari mengatur nafasku yang sudah tidak menentu seperti seseorang yang habis olahraga berat. Sama halnya denganku, Kasih juga menatap diriku dan Iya tampak khawatir dengan sikap ku.


"Masuk ....! ucapku memerintah Kasih.


"Baik. "


Saat di dalam mobil, Kasih mengajukan pertanyaan untukku. " Apa yang bisa aku lakukan untuk membuatmu tenang Lang? "


"Diam saja ...! ucapku sembari menatap Kasih dan menjawab pertanyaannya dengan singkat.


"Baiklah .... "


Kasih menuruti permintaan dariku. Disaat yang bersamaan, aku mendorong tubuhku sangat dekat dengan Kasih dan aku menempelkan bibirku pada bibir Kasih. Kasih yang terkejut tampak terdiam mematung. Mungkin Dia tidak menyangka hal ini akan terjadi.


Aku terus memuaskan keinginan dari l*matan bibirku yang agresif. Aku menumpahkan semua perasaan marahku padanya. Tiba-tiba, aku mendengar suara isak tangis kecil dari bibir kasih. Saat itu aku menyadari bahwa Kasih tidak sama dengan wanita-wanita lain yang pernah jalan denganku.

__ADS_1


Perlahan, aku menghentikan gerakan bibirku dan menarik wajahku dari wajah Kasih. Aku melihat kasih yang tertunduk dengan bibir yang gemetaran dan pipi yang basah. "Sory ... sory banget. Aku juga tidak tau kenapa aku jadi begitu emosional. "


Aku menyandarkan tubuhku di kursi dan menyalakan mesin mobil. Aku membiarkan Kasih terus menangis hingga Iya puas. Menyesal? Tentu saja... tapi yang jelas ... amarahku sedikit reda. Kasih, kamu adalah mainan yang mampu mengobrak-abrik emosiku. Ucapku di dalam hati.


Kami kembali ke salon dan Kasih mengganti pakaiannya. "Sudah siap? " tanya ku tanpa senyum dan Kasih menganggukkan kepalanya lalu kembali tertunduk.


"Ini buat kamu Kasih. " ujarku sambil memberikan kotak berisi baju dan sepatu yang aku berikan kepadanya untuk pesta malam ini.


"Terimakasih .... " sahut kasih dengan nada suara datar.


"Ayo kita pulang sekarang ...! " ujarku karena merasa situasinya sudah memburuk.


"Baik. " sahut Kasih.


Rasanya kali ini aku dan Kasih menjadi berjarak. Apa karena ulahku di dalam mobil tadi? Itukan hal biasa, lalu kenapa Kasih terlalu memasukkannya ke dalam hati? Tanyaku tanpa suara. Hemh ... jangan bilang kalau Dia juga masih perawan.


Di balik pikiranku yang berkutat. Ada keinginan untuk tau kebenaran tentang Kasih. Jika memang Dia sangat menjaga bibirnya, seharusnya Dia juga sangat menjaga dirinya. Selama ini aku bermain dengan banyak wanita dak tidak ada satu pun dari mereka yang masih suci. Lalu Bagaimana dengan Kasih?


Kami tiba di rumah Kasih dan aku meminta izin pada ayahnya untuk segera pulang. 30 menit berlalu, aku pun tiba di rumah dengan rasa yang masih tersisa. Jujur, aku masih menginginkan bibir Kasih.


Aku kembali ke kamarku dan berlaku seperti anak malas. Ya ... apa lagi yang bisa aku lakukan kecuali bermalas-malasan. 60 menit berlalu, aku masih belum dapat memejamkan mataku. Ada Kasih disana dan semua ini menyiksaku.


Pikiranku tidak tenang, entah kenapa tiba-tiba bayangan Arya dan Kasih yang sangat dekat saat dipesta tadi, terus berputar-putar di mataku. Dibalik semua itu, ada hasrat yang muncul dan tidak bisa aku reda.


Aku tidak bisa tidur, milik ku tidak tenang dan selalu bereaksi saat aku membayangkan Kasih. Aku tidak mungkin menelpon Kasih yang tadi tampak sangat marah kepadaku, jadi aku memutuskan untuk menghubungi orang lain.


"Halo Nad, dimana kamu? "


"Dirumah aja. Kenapa sayang? "


"Aku butuh kamu. Bisa? "

__ADS_1


"Ok ... ditempat biasa ya sayang. "


"Ok."


Tanpa mengganti pakaianku, aku segera mengarah pada lokasi yang biasa aku dan Nadia tempati untuk b*rcinta. Hotel Aracha dengan fasilitas bintang 5.


Setibanya di sana, aku langsung menempati kamar dan merebahkan tubuhku. Tak lama, Nadia datang dengan pakaian santai. "Hai sayang, bentar ya ... aku ganti pakaianku dulu. " ucap Nadia dengan suara yang manja seperti biasanya dan aku hanya tersenyum.


Sekitar 10 menit, Nadia keluar dari kamar mandi dengan mengenakan lingerie berwarna putih transparan tanpa pakaian dalam sehingga menunjukkan bentuk langsung tubuhnya. Percuma Dia pakai pakaian luar kalau begitu. Ucapku tanpa suara.


"Kenapa? Kok kurang semangat gitu? Biasanya kamu langsung berdiri dan menikmatiku ? " ucap Nadia sambil duduk sangat dekat denganku. " Apa ini kurang menarik? " sambungnya sembari menyentuh tubuh bagian atas miliknya dengan jari-jarinya yang lentik.


"Aku sedang kurang sehat saja. Rasanya malas sekali. "


"Ya sudah, kalau gitu ... biar aku yang bermain. Kamu tinggal menikmatinya saja. "


"Kamu yakin? "


"Tentu saja. Tidak masalah. " sahut Nadia mulai mengambil posisi di atas ku.


Nadia mulai membuka pakaian ku satu persatu. Sambil memberikan kecupan hangat pada leherku, Iya terus beraksi dengan penuh semangat. Sementara aku hanya mengikutinya saja. Ini sangat berbeda dari biasanya. Aku kurang bergairah.


Saat tubuhku tanpa penutup sejengkal pun, Nadia mulai memainkan senjata milikku dengan pintar. 10 menit berlalu dan Nadia masih berusaha membuatnya kekar tapi sayangnya ... senjataku tidak bereaksi dengan sangat baik seperti biasanya. Aku tidak tau penyebabnya, yang aku tau ... saat ini aku sedang memikirkan Kasih.


Nadia tampak kesal dengan reaksi ku. Dengan mengomel, Iya kembali ke kamar mandi dan mengganti pakaiannya lalu Iya meninggalkan aku sendirian di kamar hotel tersebut.


"Aaaah .... " keluh ku sembari mengangkat tangan kanan untuk menutupi kedua mataku. Aku berharap bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


Bersambung...


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.

__ADS_1


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘


__ADS_2