
Apa yang terjadi padaku? Kenapa seluruh tubuhku bereaksi terhadap dirinya. Aku yakin, kalau aku sama sekali tidak tertarik padanya. Gadis zombi ini akan selalu menjadi gadis zombi di hadapanku. Aku mendekatinya hanya untuk dua tujuan, taruhan dan menang.
"Sory sory, aku ngak sengaja. Sory banget ... kamu ngak papa kan Kasih? " ucapku sambil berdiri dan mengambil tangan kasih untuk menenangkannya. Jujur, aku tidak ingin Dia merasa tidak nyaman denganku.
"A-aku ngak papa. "
"Ok kalau sudah pencariannya, sebaiknya kita bayar dan segera jalan ya ...! "
Aku dan Kasih berjalan ke kasir terdekat. Setelah di scan, seperti biasa aku akan mengeluarkan dompet ku yang tebal dengan segala jenis kartu kredit di dalamnya dan bertanya, "Berapa semuanya Mbak?"
"Semua Rp. 270.000,-."
"Ini Mbak .... " ujar Kasih sambil memberikan tiga lembar uang merah miliknya.
Aku menatap wajah Kasih dari samping dan kali ini aku cukup terkejut karena dari semua wanita yang jalan denganku, hanya Kasih yang tidak berharap diriku membayarkan belanjaannya.
"Pake ini aja Kasih ...! Mbak, kembalikan uang itu kepada Kasih! " ucapku berbicara pada keduanya tapi Kasih menolak uangku dan tetap bersikeras membayar dengan uang dari kantongnya.
"Ini uangku, hasil jerih payah ku, jika aku membeli buku dan belajar pakai uang ini. Aku merasa lebih mudah memahami isi buku ini. "
Aku tidak paham dengan apa yang Kasih maksud. Selain itu aku juga merasa aneh karena selama ini aku tidak pernah melihat kasih foya-foya atau jajan di kantin. Tapi ternyata, Dia punya pegangan uang dan menurutku walau tidak seberapa, tapi Kasih kan tetap bisa memakainya untuk jajan.
"Kalau kamu punya uang, kenapa tidak sering jajan di kantin? "
"Emh ... aku menyimpan uang jatah jajan ku untuk membeli peralatan sekolah. Aku tidak ingin membebani Ayah dan Ibu ku. Lagipula, aku kan bisa makan setibanya di rumah. " ujar Kasih sambil berjalan ke arah luar toko buku ke areal parkiran mobil.
Aku ingin tau sesuatu. "Wah ... kalau begitu, berarti kamu anak kesayangan ya Kasih. Soalnya kamu tampak sangat perduli dengan Ayah dan Ibu mu. Pasti mereka juga begitu? " kataku sambil duduk di dalam mobil saling berdampingan dengan Kasih.
Untuk sesaat kasih tampak terdiam dengan pandangan lurus kedepan. Ada sesuatu yang Iya pikirkan. "Tentu saja. Aku berangkat ke sekolah dengan perut yang penuh. Saat pulang sekolah, biasanya aku dijemput oleh Ayah. Nanti setibanya di rumah, aku langsung disambut hangat oleh ibuku. Dengan perut yang sudah kosong, aku langsung menyantap semua masakan Ibu. Setelah itu, Ibu menyuruhku untuk istirahat. Saat sore hari, aku pergi bermain dengan teman-teman ku. Iya ... itulah yang aku lakukan setiap hari. "
"Oh ... begitu. " sahut ku dengan suara yang lirih karena menyadari satu hal. Saat ini Kasih sedang berbohong.
"Kita makan dulu ya ...! Perutku mulai sakit, mungkin lapar karena aku belum makan siang. Tenang ... aku yang traktir. "
"Baiklah .... "
Sepertinya hari ini Kasih memiliki cukup waktu luang. Buktinya, Dia bisa keluar tanpa dikekang oleh waktu. Tapi sebenarnya ada apa dengan Kasih, kenapa Dia harus berbohong tentang keluarganya padaku?
Kami makan siang di pizza hut. Aku sengaja membawanya kemari untuk mengamati sikapnya saat berada di dalam restoran. Menurutku, tidak ada yang aneh dari dirinya. Dia mampu membantu beberapa menu dengan baik dan Dia bisa bersikap anggun.
"Kasih ... apa sabtu malam kamu sibuk? "
__ADS_1
"Tidak .... "
"Aku ingin mengajak kamu ke pesta dansa sahabat ku Arya. Kebetulan Dia berulang tahun dan tema-nya Romeo dan Juliet. Apa kamu bersedia pergi bersamaku? "
"Bukannya kamu punya teman wanita yang banyak. Kenapa tidak mengajak mereka saja? Aku merasa tidak pantas di sana. "
"Aku maunya kamu Kasih. Jangan menolak ...! "
"Baiklah ... tapi dengan satu syarat. "
"Apa itu? "
"Kamu harus bisa mendapatkan nilai minimal 80 saat ulangan lusa nanti."
"Bagaimana ya ...? Apa tidak ada tantangan yang lain? "
"Tidak. Aku maunya itu langit. "
"Kok kamu jadi jiplak bahasa ku? "
"He he he he he he ... selagi gratis, bolehlah Langit. "
"Huh." sahut ku tanpa membuka mulutku.
"Baiklah ... setuju. Lagipula aku adalah laki-laki yang pantang ditantang. " ujarku dengan sombong tapi sebenarnya aku tidak yakin dengan ucapan ku sendiri kali ini.
"Bagus ... laki-laki memang harus begitu. "
Kami menyudahi makan siang kami dan aku berniat untuk mengantarkan Kasih sampai ke rumahnya, hanya saja ... Kasih menolak. Kali ini aku ingin melihat sendiri kehidupan Kasih dari dekat jadi dengan susah payah, aku terus membujuknya.
"Baiklah ... huh, aku tidak menyangka ... ternyata kamu laki-laki yang sangat rewel. "
Aku melihat Kasih dari ujung mataku. Hari ini selain penampilannya berbeda, Iya juga lebih banyak bicara. Jujur, aku suka suaranya. Lembut dan mendayu-dayu, benar-benar suara yang menenangkan.
"Aku ingin es cream. Apa kita bisa berhenti sebentar di sana ...! " ucap Kasih menunjuk arah mini market di pinggir jalan.
"Baiklah ... tapi aku tunggu di sini saja ya. "
"Iya .... "
Kasih turun dari mobil dan aku memperhatikannya dari kaca spion mobilku. Beberapa menit di dalam mini market, Iya pun keluar. Aku yakin kalau Kasih sangat ingin makan es cream makanya Dia memberanikan diri mengatakannya padaku.
__ADS_1
Dua es cream di tangannya dan itu es cream biasa bagiku. Saat Kasih memperhatikan jalanan, seorang bocah laki-laki pun sedang memperhatikan Kasih.
Dari dalam mobil, aku bisa melihat tatapan mata bocah itu penuh keinginan. Kasih tampaknya mengerti, dengan senyuman, Iya memberikan salah satu es cream nya untuk bocah tersebut.
"Kasih ... ternyata nama kamu sesuai dengan sikapmu. " ucapku dengan suara yang pelan sembari terus memperhatikan dirinya.
"Ini punya kamu .... " ujar Kasih sambil menyodorkan es cream kepadaku.
"Punya kamu mana? "
"Sudah habis. Aku pengen banget, jadi ... cepat-cepat aku makan. Takut diminta sama kamu ... he he he he he he he. " sahut Kasih dengan tawa yang seru guna menutup perasaan dan keadaan yang sesungguhnya.
"Ini rasa strawberry ya? Aku sukanya coklat. Kamu bantu aku habiskan ya ...! Sayang kan kalau terbuang. "
"Eeemh ... baiklah."
Kami menghabiskan es creamnya bersama dan saat ini, aku sangat merasa dekat dengan Kasih. Tidak!! Maksudku dekat dengan keberhasilan misi ku.
Kami melanjutkan perjalanan kami. Sekitar 20 menit, kami tiba di rumah Kasih. Kasih tampak menelan liurnya yang berat tapi Dia berusaha untuk terus tenang.
Kasih mengetuk pintu rumahnya beberapa kali, tak lama suara yang sangat kasar terdengar keluar dari pintu tersebut. Seperti disambar petir, seketika tubuh Kasih gemetaran.
"Baru pulang kamu? Mana hadiahnya? "
"Belum ada hadiah bu, masih babak perempat final. "
"Jangan bohong kamu ...! "
"Kasih ngak bohong kok Tante. Saya saksinya .... " ucapku sambil keluar dari samping sisi dinding.
"Kenalin bu ... ini teman Kasih namanya langit. Kebetulan tadi Langit ada di lokasi jadi langsung mengantar Kasih pulang.
"Ya sudah, sekarang kamu masuk! Ini sudah sore, silahkan anak pulang. " berkata padaku dan Kasih secara bergantian.
"Baik tante, makasih .... "
Braaaak
Wanita itu menutup pintunya dengan kasar dan mulai meneriaki Kasih sekali lagi. Dia meminta kasih untuk memijat kedua kakinya.
Bersambung...
__ADS_1
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘