
Aku pulang ke rumah dengan malas. Pikiranku selalu pada Kasih. Aku terus membayangkan sikap Ibu nya dan itu membuat aku semakin membenci wanita. "Apa seorang Ibu selalu saja menyakiti anaknya? Aku sangat membenci mereka. " ucapku sambil meninju dinding ruang tamu rumahku.
Aku memasang wajah yang menekuk dan langsung masuk ke dalam kamar. Kesal dengan sikap Ibunya Kasih, aku ingin mengutuknya. Ternyata Kasih bisa keluar rumah sampai sore karena Dia menginginkan Kasih menang dan mendapatkan hadiah berupa uang.
Aku merebahkan tubuhku di atas ranjang sesuka hati. Dengan sepatu yang masih menempel di kedua kakiku, aku berniat untuk tidur. Saat mataku hendak terpejam, suara Kasih bergema di telingaku. "Kamu harus bisa mendapatkan nilai minimal 80 saat ulangan lusa nanti." ucapku mengulangi perkataan Kasih.
"Aaaagggh ... aku terpaksa belajar gara-gara kamu Kasih. Menyebalkan...!!
Aku bengun dan membersihkan diriku. Seakan tidak punya pilihan, aku harus bisa mendapatkan angka itu. Tidak pernah terbayangkan oleh ku bisa punya kehidupan seperti ini. Terikat pada gadis yang hidupnya 360° berbanding terbalik denganku.
Selama ini yang aku tau hanya semua yang aku butuhkan ada. Aku tidak perlu bantuan dari siapapun karena Papa ku sudah memenuhinya dengan sangat sempurna. Tapi Kasih ... sebenarnya apa yang terjadi pada si gadis zombi itu?
Dua hari kemudian.
Kasih sibuk dengan perlombaannya, sementara aku disini sibuk dengan perlombaan ku. Aku sudah belajar untuk hari ini dan aku akan sangat hati-hati sekali. Kamu harus bisa mendapatkan nilai minimal 80 saat ulangan lusa nanti. Iiiiih ... rasanya suara Kasih terdengar dimana-mana.
Aku melaksanakan ulangan dengan baik. Hari ini juga nilai tersebut keluar dan guru mengembalikannya pada kami. Aku membuka kertas ulanganku perlahan dan hasilnya sangat memuaskan. Ini pertama kalinya aku mendapatkan nilai 85 seumur hidupku. Ha ha ha ha ha ha ha. Aku tertawa di dalam hati.
Bel panjang berbunyi, aku segera meninggalkan sekolah menuju lokasi di mana Kasih berada. Tampaknya sekolah kami sudah selesai berlomba dan masuk ke babak final. Kasih memang hebat.
Aku mencari keberadaan Kasih dan saat aku menemukannya, aku menunjukkan hasil ulanganku. " Kamu harus menepati janjimu sekarang ...! " ucapku dengan nada yang angkuh.
"Kamu hebat. Baiklah .... "
Apa? Apa benar aku hebat? Yang memujimu saat ini adalah utusan sekolah yang sangat pintar. Aku tidak menyangka kalau Kasih juga sangat pintar memotivasi orang lain. Ucapku di dalam hati sambil memperhatikan Kasih.
2 jam berlalu. Biasanya aku sangat bosan dengan situasi orang-orang yang selalau membicarakan tentang pelajaran. Tapi hari ini, aku merasa sangat senang masuk ke dalamnya.
"Sudah selesai. Ayo kita pulang ... !" ujar Kasih yang tampak mulai nyaman dengan ku.
"Baik .... "
"Sebaiknya ... kamu jangan mengantar ku ke dalam ya. "
__ADS_1
"Hemh ... baiklah. Lalu bagaimana dengan malam minggu besok?
"Iya ... aku pasti akan menepati janjiku padamu Langit. Tapi ... aku tidak punya pakaiannya. "
"Itu urusanku. Besok aku akan carikan, dan kamu ganti pakaian di salon saja. Jadi sekalian kamu dandan gitu. "
"Baiklah ... paham. "
Malam minggu tiba.
Aku menjemput Kasih pukul 17.00 wib dengan membawa aneka ragam makanan dan parsel buah ukuran besar. Saat aku mengetuk pintu dan dibuka oleh Ibu nya Kasih, Iya langsung tersenyum lebar. Mungkin karena buah tanganku yang banyak.
"Maaf tante ... Kasihnya ada? Saya mau ajak Dia jalan-jalan kalau boleh. " tanyaku tanpa basa basi.
"Oh iya ... silahkan masuk ...! " ujar Ibu kasih dengan nada suara yang sangat lembut.
Tak lama, Kasih keluar dengan peluh yang menyelimuti seluruh permukaan wajahnya. "Kamu ngak papa Kasih? "
Sekitar 20 menit berlalu, Kasih keluar dengan pakaian biasa. Kami meminta izin kepada Ibu nya dan bergegas pergi menuju salon. Setibanya di salon, aku memberikan kotak berisi sepatu dan dress warna merah yang sopan untuk Kasih kenakan.
Aku menunggu di luar, sementara Kasih masih didandani di dalam. Setalah 1 jam menunggu, Kasih keluar dari dalam salon dengan tampilan yang sangat berbeda dari biasanya. Aku tidak menyangka Kasih sangat cantik dan menarik.
Ditambah lagi dengan pakaian yang begitu melekat pada tubuhnya sehingga mampu memperlihatkan lekuk tubuhnya dengan baik. Selain itu, cara Kasih berjalan sangat memukau. Kasih seperti memiliki kaki yang kuat untuk berdiri di atas sepatu hak tinggi yang runcing. Ini di luar ekspektasi ku dan Dia tampak sangat mempesona. Ujarku di dalam hati.
Hatiku sepertinya bergeser saat ini. Aku benar-benar mengaguminya. Dia sosok yang sangat berbeda dari teman-teman wanitaku yang lainnya. Dia seakan mampu menempatkan dirinya dengan baik. Di sekolah Iya sebagai pelajar, di istana Dia seperti ratu. Luar biasa, aku terus beradu argumentasi dengan diriku sendiri.
Kami tiba, dengan mengaitkan tangan dan kami berjalan seperti sepasang kekasih yang sangat bahagia nan serasi. Saat kami tiba di dalam, banyak mata tertuju pada Kasih termasuk Arya.
"Hai sob ... akhirnya datang juga. "
"So pasti ... selamat ulang tahun ya ... semoga tambah sukses dan bahagia hidup lo. " ucap ku dengan kesal karena melihat mata Arya selalu tertuju pada Kasih.
"Makasih banyak ... ini pacar lo? "
__ADS_1
"Saya Kasih ... kami cuma teman saja kok. Langit punya banyak pacar di sekolah. " ucap Kasih dan perkataannya itu membuat darahku berdesir. Apa ini? Aku baru merasakan perasaan seperti ini.
"Owh gitu ... boleh minta no HP kamu Kasih?"
"Kasih ngak punya nomor HP. Dia ini kutu buku dan kerjaannya hanya belajar saja. Tidak pernah main HP. " sahut ku dengan mata yang melotot mengarah pada Kasih.
"Eeemh ... iya benar, saya tidak punya HP.
"Baiklah ... tapi apa boleh saya main ke rumah kamu? Kamu tinggal dimana Kasih? "
"Kasih tidak boleh keluar rumah kalau tidak terlalu penting. Jadi sebaiknya tidak usah berfikir untuk mengajaknya jalan atau bertandang di rumahnya. " sahut ku dan saat yang bersamaan Kasih selalu menatap ke padaku.
Arya menatapku lalu tersenyum. "Ya sudah kalau gitu, sebaiknya kalian duduk santai sambil menikmati hidangannya. "
Aku menarik tangan Kasih agar tidak jauh dariku. Aku membawanya ke kursi tengah bernuansa romantis. Kali ini aku menatap wajahnya dari remang-remang cahaya lampu. Kasih yang menyadari sikap ku itu, langsung menundukkan kepalanya sembari tersenyum.
Tak lama, Arya kembali datang mengusik ku. "Maaf Lang, ini kan hari ulang tahun gue. Boleh dong kalau gue dansa sama Kasih .... "
"Terserah kalau Kasih mau .... " ucapku setengah keadaan dan setengah mengejek. Mana mungkin kasih bisa dansa. Ucapku di dalam hati.
Arya menarik tangan Kasih perlahan dan lembut. Setibanya di tengah areal lantai dansa, Kasih dan Arya memulai gerakannya. Di iringi musik yang harmonis dan cahaya lampu yang sempurna, mereka tampak bergerak senada.
Bagaimana Kasih bisa melakukannya. Siapa kamu sebenarnya Kasih? Hatiku mulai bertanya-tanya.
Musik pengiring mulai cepat terdengar, dengan lincah Kasih mengimbangi gerakan Arya yang memang jago dansa sejak dulu. Arya tampak sangat senang karena mendapatkan lawan yang sepantaran malam ini dan mereka terus menari hingga lebih dari satu jam.
Sementara aku disini. Aku duduk terdiam sambil meneguk minuman yang ada di hadapanku. Rasanya panas sekali, hatiku terbakar. Apa yang terjadi pada ku? Ayolah Langit ... dia hanya mainan mu...! Aku terus mengatakannya di dalam hatiku.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘
__ADS_1