KASIH LANGIT

KASIH LANGIT
Penasaran


__ADS_3

15 menit berlalu, aku sudah sangat gerah dan gelisah karena merasa sangat lama berada di dalam kelas tanpa AC ini. Otakku mengajak untuk segera berlari dari ruangan hampa ini tapi naluri ku masih menahan gerakan tubuhku.


Tak lama kemudian, tanpa ku duga sang zombi meninggalkan sarangnya dan meletakkan buku plus bulpoint yang dari tadi iya pegang di atas mejanya. "Ini adalah kesempatanku. " ujarku berbicara dengan sangat pelan.


Awalnya aku mengintip langkah Kasih agar aku tidak ketahuan memata-matai nya. Saat aku melihat dari jendela kelas, ternyata Iya menuju ke toilet wanita.


Merasa aman, aku segera membuka buku yang berada di atas meja belajarnya. "Ya ampun ... ternyata dari tadi si zombi ngerjain pekerjaan rumah (PR) yang baru saja diberikan oleh guru saat jam pelajaran pertama. "


Sambil menutup buku Kasih aku berkata, "Aku pikir dia sedang apa? Dasar cewek aneh, kayak ngak punya waktu lebih aja di rumah. " ujarku sambil melanjutkan omelan sebab merasa dongkol karena berharap mendapatkan informasi penting tentang Hasih yang berguna untuk mendekatinya.


Aku beranjak dari kelas manuju kantin, disaat yang bersamaan Kasih berjalan ke arah kelas. Kami berpapasan tapi seperti biasa, Kasih sama sekali tidak pernah memandang sekitarnya, Iya hanya berjalan dengan pandangan lurus ke depan atau menunduk.


Tapi berbeda denganku, kali ini aku melihat wajah Kasih yang tampak basah, kelihatannya Iya ke toilet untuk mencuci wajahnya. Kasih terlihat sangat letih dan mengantuk.


Aku tiba di kantin, saat memesan makanan favorit ku, Bara dan Sultan menghampiri. "Gimana kabar perkembangan perjuangan kamu Langit ?" ujar Bara dengan nada mengejek.


"Tau ah, lapar aku. Jangan ganggu aku dulu ya! ntar kamu yang aku habisin." sahut Langit agak marah.


"Buseeet ... kenapa kamu jadi emosional banget? Kegigit lidah? " ujar Bara melanjutkan olokannya. "Ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha ha. " Lalu terdengar tawa bara dan Sultan saling bersautan.


"Bete aja aku, baru kali ini gue deketin cewek tapi hatiku nolak habis-habisan. " ungkap Langit sambil menusuk air mineral dengan pipet dan tampak sangat kesal.


"Jangan bilang kamu mau nyerah kawan. " sahut Sultan.


"Nyerah? Ngak ada dalam kamus hidupku sob tapi aku ngerasa bete aja. Ngerti ngak sih kalian berdua? Jadi jangan cuma ketawa doang! basi tau. " ujar Langit sangat kesal kali ini.


"Hari ini sudah hitungan pertama ya." Ucap Bara sambil memegang pundak langit dan pergi entah kemana.

__ADS_1


"Aku pamit juga kawan. " ucap Sultan sembari melangkah meninggalkan langit sendirian dengan kedongkolannya.


Aneh banget. Selama aku sekelas sama thu zombi, aku jarang banget lihat dia makan di kantin, jajan, atau happy-happy. Apa memang dia ngak suka gaul sama manusia?.


Kalau ngak punya uang sih kayaknya itu ngak mungkin, inikan sekolah elite. Orang susah mana mungkin mampu sekolah di sini. Berarti memang ada yang salah dengan thu anak. Atau bisa juga dia malu dengan dirinya sendiri, ngak percaya diri gitu.


Tau ach, ngapain aku jadi mikirin dia. Padahal aku malas banget sama thu orang. Aku melanjutkan menyantap makanan ku dalam waktu yang singkat, karena waktu ku sudah habis akibat terlalu lama menunggu si zombi di kelas tadi.


"Hallo Langit sayang ... " ucap Nadia dengan suara manja palsunya.


"Hay juga. Sudah makan? "


"Sudah dong. Langit ... beli'in dress yang lagi booming dong ...! Pengen banget aku. " ucap Nadia sambil memijat pundak ku.


"Ok, ntar sore ya. Aku jemput di rumah dan jangan lupa dandang yang cantik! Jangan buat aku malu. " berkata sambil terus mengunyah makanan ku.


Siap dengan makanan ku, aku segera kembali ke dalam kelas. Setibanya di pintu kelas, aku melihat si zombi masih fokus mengerjakan PR pada mata pelajaran pertama. Sambil menggeleng-gelengkan kepala aku berjalan menuju kursi di belakang sudut kelas.


"Kasih, ini gimana ya cara menyelesaikan nya? " tanya seorang teman yang paling blo'on di kelas.


"Mana? Coba aku lihat! Ini ngak rumit kok, asalkan kamu mengikuti langkah-langkahnya dengan tepat." sahut Kasih dengan tenang dan santai. " Ini dijabarkan dulu angka depannya, kalau sudah baru di deretankan, lalu dijumlahkan atau dikurangi sesuai permintaan soal. Aku beri contohnya ya .... "


Tak lama, seorang guru masuk ke dalam kelas dan menghentikan kursus singkat antara si zombi dan hulk. Kenapa aku panggil Frandi dengan sebutan hulk? Karena bentuk tubuhnya yang besar dan penuh otot.


Bel yang menunjukkan waktu pulang sekolah akhirnya berbunyi. Aku membiarkan Dia pulang lebih awal karena aku berniat untuk membuntutinya.


Dari pagar sekolah aku melihat si zombie pulang dengan berjalan kaki, tidak seperti murid lainnya yang mengendarai motor, mobil, atau menyewa kendaraan online.

__ADS_1


20 menit berlalu namun Iya masih terus berjalan. 30 menit berlalu tapi langkahnya masih belum berhenti. Aku terus mengikuti arah langkahnya karena sangat ingin tau kelemahan dan tabiatnya agar aku mudah untuk menaklukannya.


40 menit tepat. Iya berhenti di sebuah warung yang menjual aneka sayuran dan membeli beberapa jenis sayur kemudian Iya melangkah kembali.


Berselang 5 menit, langkah kaki yang lincah dan cepat itu tiba-tiba berhenti. Dari kejauhan aku melihatnya menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan sembari menundukkan kepalanya.


Baru tiba di depan pagar rumah, tiba-tiba seorang wanita menyiram wajah Kasih dengan se-ember air. Disaat yang bersamaan, aku merasa terkejut karena rasanya air itu juga mengenai wajahku hingga aku mengusap wajahku sendiri di dalam mobil.


"Dari mana saja kamu? Kenapa lama sekali? Ini sudah jam berapa? Kami semua sudah kelaparan. Apa kamu ingin membunuh kami?" teriaknya seperti mengabaikan wajah Kasih yang tampak lelah.


"Ma - maaf Bu, aku sudah berusaha untuk cepat tapi .... " sahut Kasih sambil menunduk.


"Jangan banyak alasan! Sekarang cepat masuk ke dalam rumah, masak, dan cuci pakaian, tidak perlu ganti seragam! "


"Baik Bu ...." ucap Kasih dengan suara yang lirih sembari menunduk.


Aku yang tidak menyangka dengan apa yang baru saja aku lihat, langsung terdiam dengan mulut mengangga. Aku yakin sekali kalau Kasih sangat letih setelah berjalan lebih kurang selama 40 menit lamanya, lalu bagaiamana Iya bisa melakukan semua pekerjaan yang diperintahkan kepadanya?. Tanyaku di dalam hati.


Penasaran, aku memutuskan untuk tetap berada di sini guna mengetahui tayangan seperti apa lagi yang akan muncul setelah ini. Selain itu juga, aku mulai ingin tau bagaimana Iya menjalani hidupnya selama ini.


60 menit berlalu, aku melihat Kasih menggunakan daster kumuh keluar dari rumahnya yang tergolong bagus sambil memegang kantong sampah, kemudian Iya berjalan dan membuangnya di penampungan.


Kasih terlihat sangat kelelahan, untuk sesa'at Iya tampak mengistirahatkan tubuh mungilnya sembari duduk di atas dua buah batu yang telah Iya susun sebelumnya. Iya terus menghapus peluhnya tapi Iya tidak dapat menghapus lelah yang terukir di wajahnya.


Bersambung...


Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.

__ADS_1


Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘


__ADS_2