
Dari dalam mobil aku terus memperhatikan wanita yang paling tidak ingin aku lihat selama ini, tapi kali ini entah kenapa aku begitu perduli. Mungkin karena saat ini Kasih tampak benar-benar berbeda dengan gadis pada umumnya.
5 menit, hanya sedikit itu waktu yang Iya gunakan untuk membuang rasa letihnya. Kasih kembali berdiri dan berjalan menuju rumah tersebut. Tidak, itu bukan rumah melainkan neraka. Setidaknya, itu menurutku.
Baru beberapa menit Kasih berada di dalam rumah, Iya tampak kembali keluar seraya menjinjing ember besar yang berisikan banyak kain kemudian Iya menjemurnya. Apa anak itu sudah makan siang? Tanya ku di dalam hati.
Siap dengan pekerjaan menjemur pakaian, Iya langsung membersihkan halaman rumahnya dengan sapu lidi dan parang yang berada tidak jauh darinya. Sesekali aku melihat Kasih menguap lebar sambil menutupi mulutnya.
Bagaimana dia bisa diperlakukan seperti ini? Aku tidak menyangka bahwa Kasih memiliki kehidupan seberat ini. Aku mulai iba padanya.
Pantas saja dia jarang jajan atau main ke kantin, untuk ongkos pulang ke rumah saja Kasih tidak punya. Makanya Iya pulang dengan berjalan kaki walaupun jarak tempuhnya sangat jauh dari sekolah menuju ke rumah, itu menurut ku.
Pukul 17.00 wib, Kasih tampak selesai dengan pekerjaannya kemudian Iya kembali masuk ke dalam rumahnya. Aku masih menunggu tanda-tanda Kasih akan keluar dari rumah tapi sepertinya itu tidak akan terjadi.
Pukul 18.00 wib, aku memutuskan untuk kembali ke rumah karena merasa sangat letih hari ini. Padahal aku hanya duduk di dalam mobil ber-AC tanpa melakukan pekerjaan apapun.
Aku tiba di rumah disambut oleh Papa ku seperti biasanya. " Ada apa? Kenapa pulangnya lama sekali? Tidak ada kabar lagi. Papa kan jadi khawatir. " ucap Papa tanpa henti.
"Maaf pa ... ada yang sedang aku lakukan. " sahut ku sambil membuka sepatu ku.
"Biasamya kamu tidak pernah begitu peduli dengan sekolahmu. "
"Ini bukan tugas sekolah Pa, sudah dulu ya Pa. Aku capek dan lapar banget. " sahut ku tidak ingin basa basi dan segera masuk ke dalam kamar.
"Kalau begitu, biar makanan mu diantar ke kamar saja. "
"Iya pa, makasih banyak. " Lalu aku pergi ke kamar dan meninggalkan Papa sendirian dalam kebingungan nya.
"Mbok ... antarkan makanan untuk langit ke kamarnya! "
"Iya Tuan, baik. "
Sepintas aku mendengarkan perkataan Papa ku yang memberi perintah kepada si mbok agar segera mengurus isi perutku yang sudah dewasa ini.
__ADS_1
Setibanya di kamar aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang empuk favorit ku. " Aden, maaf ini makan malamnya si mbok letakkan di atas meja ya, jangan lupa dimakan mumpung anget ...! Lalu si mbok meninggalkan aku sendiri di dalam kamar.
Sebenarnya aku memang sangat lapar sekali. Baru hari ini aku tidak mengunyah apapun sejak waktu makan siang, itu semua membuat tubuhku gemetaran.
5 suapan berlalu dengan nikmat, tapi pada suapan berikutnya tiba-tiba bayangan Kasih muncul di otakku. Rasanya apa yang aku lihat hari ini berputar-putar di kepalaku dan terbayang-bayang dimataku.
Suapan ku melambat, aku masih ingin tau apa yang Kasih lakukan di malam hari. Untuk itu aku memutuskan untuk kembali memata-matai Kasih sejak pulang sekolah seperti hari ini hingga waktu malam hari.
Aku meninggalkan piring makan di atas meja kamar dan merebahkan tubuhku yang masih berbungkus seragam sekolah. Rasanya malas sekali untuk membersihkan diri dan mengganti pakaianku.
Aku berusaha menutup mata dengan lengan kananku agar dapat tertidur pulas, tapi suara HP ku berbunyi berkali-kali dan ternyata ada panggilan dari Nadia.
"Halo Nad, kenapa? " ucapku dengan sangat malas.
"Kamu gimana sih sayang? Aku nungguin dari sore lho tapi sampai jam segini kamu belum datang juga. " berkata dengan kesal.
"Sory-sory, aku capek banget dan rasanya mau tidur cepat malam ini. Lain kali aja ya Nad. "
"Lho kok gitu sih? Selama ini kamu thu nggak pernah kayak gini. Kamu selalu nepatin janji, jadi sebel deh ah." ujar Nadia pura-pura ngambek.
Nadia memutuskan sambungan telponnya. Seperti biasa dia sok ngambek sama aku dan aku tau apa yang dia mau. Tanpa rasa aku mengirimkan bukti transfer uang Rp. 10.000.000,- buat Nadia.
Ting
( Makasih ya transfernya beb, emuach).
Hah, dasar semua wanita sama saja, bangkai semua. Pura-pura ngambek ditransfer langsung woke aja. Tapi mau bagaimana lagi, aku juga butuh mereka buat bahan permainanku. Aku kembali menutup wajahku dengan lenganku. Rasanya aku ingin segera tidur saat ini.
"Den, bangun den sudah pagi. Apa ndak ke sekolah?" ujar si mnok sembari menggelitik telapak kakiku.
Hal itu memang harus si mbok lakukan agar bisa membangunkan aku. Si mbok adalah orang yang sangat mengerti aku. Sejak aku masih bayi, si mbok lah yang merawat ku dan si mbok adalah wanita satu-satunya yang aku sayangi.
"Emangnya sudah jam berapa mbok? sahut ku dengan nada yang manja seperti biasanya bercampur rasa malas.
__ADS_1
" Sudah pukul 07.00 wib Den. "
" What? " sahut ku kaget lalu aku segera bangun dan membersihkan diri.
Tanpa sarapan, aku langsung berangkat ke sekolah. Setibanya di sekolah aku segera menuju ruang kelas dan kali ini sambil berjalan, aku memperhatikan Kasih.
Kasih menundukkan kepalanya dan mencoret-coret buku dengan tulisan dan gambar yang tidak bisa aku pahami. Hari ini Iya tampak berbeda dengan wajah yang sangat pucat dan lesu. Mungkin karena kemarin iya sangat kelelahan. Ucapku di dalam hati.
Jam pelajaran di mulai, ini adalah mata pelajaran yang aku benci tapi tentu saja tidak untuk Kasih. Karena dia sangat pandai, aku yakin, apapun mata pelajarannya Iya menyukainya.
Biasanya Kasih sangat aktif selama proses belajar mengajar berlangsung, tapi kali ini tidak. Dia tampak malas dan menyandarkan kepalanya di atas tangan kirinya sambil terus mencoret-coret buku pelajarannya.
Entah apa yang merasuki ku? Pagi ini aku begitu sibuk memperhatikan dirinya sehingga aku lupa untuk mengeluarkan buku pelajaran milik ku sendiri.
Rasanya hatiku agak sedikit berbeda dalam merespon nama Kasih. Aku tidak tau apa sebabnya, mungkin karena aku merasa cukup kasihan padanya atau memang hanya perasaan bersalah karena tujuanku hanya untuk mempermainkannya.
Tidak ingin terganggu dengan pikiran ku sendiri, aku mencoba untuk fokus dan belajar seperti teman-teman ku yang lainnya. Dengan begitu mungkin aku bisa menghentikan pikiran yang selalu saja berputar-putar di dalam kepalaku hingga membuat aku pusing.
Teeet teeet teeet teeet
Bel istirahat berbunyi. Biasanya di dalam fikiran ku hanya ada satu tujuan saat bel istirahat berbunyi yaitu kantin. Tapi tidak kali ini, terutama saat aku melihat Kasih akhirnya menyandarkan kepalanya di atas meja belajar beralaskan punggung tangan kirinya.
Aku yakin ada yang salah dengan anak satu ini. Untuk itu aku mendekatinya, " Hai, kamu kenapa? " Tapi Kasih hanya menggeleng-
gelengkan kepalanya dengan mata yang terbuka tanpa menatap ku sedikitpun.
Aku melihat wajahnya sangat pucat dan matanya merah. Tapi aku tidak ingin bertanya lebih lanjut karena mendapat balasan reaksi yang biasa-biasa saja dari Kasih, membuat aku merasa kesal dan terabaikan.
Biasanya para wanita jika aku sapa atau tanya, pasti mereka selalu bersuara histeris atau bersikap sangat manis. Tapi tidak dengan gadis zombi ini, jadi aku memutuskan untuk meninggalkannya sendirian di dalam kelas dan aku beranjak ke kantin. " Bodo amat. " ucap ku kesal sembari berjalan ke arah kantin.
Bersambung...
Jangan lupa terus ikuti episode selanjutnya ya teman-teman. Tinggalkan komentar, klik like dan favorit untuk mendapatkan notifikasi selanjutnya.
__ADS_1
Plus beri aku dukungan dengan menekan tombol vote pada halaman terdepan. Vote dari teman-teman pembaca semuanya adalah semangat tersendiri bagi saya sebagai penulis. Makasih 😘😘😘