
Setelah mendapat izin dari Ryo, Bu Rani akhirnya mengemaskan pakaian Ratu dan berangkat ke kota.
Sesampainya di rumah, Pak Yoga dan istri membawa serta Ratu ke kota untuk tinggal bersama dengan keluarga Yoga, kemudian asisten rumah tangganya datang membawakan barang - barang yang di bawa oleh majikannya tersebut.
"Maaf tuan, nyonya, ini bayi siapa?," kata Bi Nila kepada majikannya dengan penasaran.
Dengan tersenyum Pak Yoga memberitahukan kepada Bi Nila, kalau bayi ini akan menjadi anak nya yang ke 3. Dikarnakan anak Pak Yoga dan Bu Rani 2 laki - laki, yaitu Wily dan Dio.
"Bi, Wily dan Dio masih tidur yah?," tanya Bu Rani kepada pembantunya itu.
"Iya nyonya, mereka masih tidur, kalo den Dio baru saja tidur habis kerjakan skripsi katanya nyah," jawab Bi Nila.
Kemudian, Bu Rani menelpon Bu Rini dan Ryo, untuk memberitahukan kalau mereka sudah sampai dirumah. Sambil menggendong Ratu menuju kamar anak - anaknya, tapi Dio masih belum mau bangun, dikarnakan masih mengantuk habis kerjakan skripsi, dan melanjutkan membangunkan Wily.
Wily yang setengah sadar, bingung melihat mamanya menggendong bayi, dia kira sedang bermimpi, bahwa ia pengen sekali punya adik perempuan.
"Ma? ini anak siapa?, " tanya Wily.
"Ini Ratu anaknya om Ryo, karna Ibunya sudah tiada, maka Mama sama Papa sepakat untuk mengadopsi Ratu, kamu sering minta Adek cewek kan?, nah ini dia!, gapapakan nak?," jawab Bu Rani.
Dengan senang hati, Wily langsung meminta menggendong Ratu.
"Uhhh lucu nya Adik Abang," kata Wily bahagia, sambil menggendong Ratu menuju kamar Dio.
"Dioooooo!!!!!, kita punya adik cewek, bangung woooyyyyy!!!!," teriak Wily kesenangan dan membangunkan Adik laki - lakinya, yang tengah tidur kelelahan.
"Apaan sih lu bang!!!, gue masih ngantuk nih, gak usah ngehalu deh!!!, Mama itu sudah gak bisa hamil lagi, mendingan elu nikah deh biar lu punya anak gak ngehalu punya adek cewek!!!!," bentak Dio setengah sadar sambil memeluk gulingnya.
Wily membaringkan Ratu dengan hati - hati tepat di samping Dio, hingga akhirnya Ratu terbangun dan menangis.
"Oooeeekkkk oooeeekkkkk," tangis Ratu.
"Ya ampun bang!!!, lu tu yah kalo ngehalu gak usah bawa - bawa suara anak keci...," bentak Dio ke abang nya Wily dan tidak melanjutkan apa yang dikatakan.
Saat Dio membalikkan badannya, dan melihat bayi perempuan yang tidur tepat disampingnya. Mata Dio melotot dan mematung tidak percaya ada bayi kecil perempuan.
"Nahhh kan kaget, gue juga kaget, tadi Mama bangunin gue, dan bilang kalo dia mengadopsi anaknya om Ryo buat jadi adek kita," kata Wily dengan bangga.
"Uhuuuyyyy gue punya adek cewek!!!," teriak Dio dengan senang dan melupakan lelahnya bergadang sampai Ratu kaget dan kembali menangis.
__ADS_1
Mama dan Papa, hanya bisa melihat mereka berdua, dari pintu kamar Dio. Mereka senang melihat 2 anak laki - laki, yang kegirangan melihat calon adik angkat mereka.
"Bi, susunya dedek udah dibuatkan ?," tanya Wily kepada pembantunya itu sambil menuruni anak tangga.
"Iya, sudah den," balas Bi Nila.
Seteleh Bi Nila membuatkan susu untuk Ratu, Wily mengambilnya dan memberikan ke Ratu.
"Ayok adikku, minum susu dulu yah biar cepat gede," kata Wily sambil menggendong dan memberikan susu kepada Ratu.
Pak Yoga, Bu Rani dan juga Dio menertawakan aksi sang kakak Wily, saking senang dan bahagianya, ia mempunyai adik perempuan.
"Ma, Pa, apa gak sebaiknya kita rubah saja nama nya dedek ini," kata Wily kepada orang tuanya, karna menurutnya nama Ratu itu banyak yang menggunakannya, ia ingin adek perempuannya itu mengganti nama.
"Memangnya, Abang mau kasih nama siapa?, biar besok Papa urus akte dan kartu keluarga," tanya Pak Yoga kepada anak sulungnya itu.
"Aku ingin namanya menjadi Violet, nama panjangnya terserah, pokoknya aku mau namain dia Violet," jawab Wily dengan tegas.
"Aku juga setuju bang, namanya anggun, biar kalo dia di panggil gurunya lama, kalau gak manggil dari bawah hehehe, nama panjangnya kalo bisa Violet Nikita, gimana?" tambah si bungsu Dio.
Akhirnya, semua pun setuju dengan nama baru si bayi, dua hari kemudian Pak Yoga, dan Bu Rani menggelar acara syukuran untuk mendoakan Violet, agar dia menjadi anak yang baik dan berbakti kepada orang tuanya. Karna terbatasnya biaya, Bu Rini dan Ryo tidak dapat menghadiri acara syukuran untuk Ratu.
Tidak lama setelah itu, akte dan kartu keluarga pun jadi.
...****...
Violet tumbuh jadi anak yang ceria dan selalu penuh dengan kegembiraan dihatinya, hingga suatu saat dia masuk sekolah dasar semua berubah, teman- temannya banyak yang mengejek Violet, dan dia juga mendengarkan bisikan - bisikan orang lain yang membicarakan tentang dirinya.
"Eh Violet!!!!, aku tau kamu itu bukan anaknya Bu Rani," kata teman sekelas Vio.
"Iya, aku juga tau dari Mamaku, kalau si Violet itu anak angkat, hahahahahaha," tambah anak kelas lainnya, dan sebagian menertawakan Violet.
Violet yang mendengar ejekan semua itu, langsung berlari ke rumah dan tak peduli dengan satpam yang berusaha menahannya, ia menghampiri Papanya yang tengah asik minum kopi di ruang tamu.
"Papa!!!, apa benar Vio bukan anak Papa?," tanya Violet kepada papanya sambil menangis.
"Siapa bilang nak? kamu benar - benar anak Papa, coba lihat idung nya sama kayak Papa," jawab Pak Yoga kaget, dan ia mencubit hidung Violet dan memeluknya.
Dia gak menyangka kalau ada yang membaut anak perempuannya itu menangis karna perkataan tentang siapa sebenarnya Violet.
__ADS_1
Violet yang mendengarkan penjelasan dari Papanya, langsung ke kamar dan duduk terlamun di tempat tidur, dia tidak peduli dengan sekolahnya hari ini.
"Hikss hikkss, Papa aja bilang bukan, kali aja mereka iri sama aku, makanya mereka ngomong begitu, tapi mereka sangat kejam hhhuuuuhhuuu," katanya dalam hati sambil menangis tersedu-sedu.
Saat makan malam, Violet nampak kayak biasanya, tidak ada yang dicurigai dan kesedihan lagi.
Mama yang mengetahui apa yang dialami Violet tadi di sekolah angkat bicara dan berusaha menyakinkan anaknya itu, agar tidak ada keganjalan atau pemikiran yang tidak - tidak hingga merusak mentalnya.
"Vio, kamu tutup kuping saja apa yang teman - teman vio bilang, karna itu tidak benar nak, Vio benar - benar anak Mama sama Papa, mendengar perkataan itu mama yang sudah melahirkanmu sangat sakit hati mendengarkannya nak." kata Bu Rani meyakinkan anaknya itu, dan tanpa sadar Bu Rani menangis.
"Udahlah Ma, aku tau itu orang - orang iri sama aku Ma, Mama sama Papa gak usah khawatir, Violet akan tutup telinga karna mereka sudah melukai hati Mama yang sudah berjuang melahirkanku," jawab Violet dengan nada santai dan beranjang untuk menghapus air mata Mamanya dan memeluk Mama dan Papa.
Papa dan Mamanya, hanya bisa tersenyum melihat tanggapan Violet. Saat akhir makan malam, Violet kembali ke kamarnya untuk belajar.
Selesai belajar Violet selalu menghafal apa yang dia belajar tadi sampai tertidur, terkadang ia juga mengigau tentang pelajaran yang ia hafal.
Pagi hari seperti biasa Violet selalu bangun subuh untuk ibadah sholat, terkadang habis sholat ia masih melanjutkan belajar dan menyiapkan seragamnya atau membantu bi Nila di dapur, setelah itu siap - siap kesekolah.
Violet ke sekolah dengan di antar bi Nila menggunakan sepeda motor, ia sendiri yang meminta di antar menggunakan sepeda motor, katanya agar bisa hirup udara segar, ya walaupun nantinya di jalan raya tercampur oleh polusi udara juga.
Sesampainya di sekolah Violet pasti membantu memungut sampah yang ia lihat, guru yang melihat tindakannya itu langsung menyuruh murid lainnya mengikuti timdakan Violet, ya kadang banyak yang protes karna malas takut kotor dan banyak lagi.
Siswa lain yang mengetahui dalang di balik perintah guru langsung menglabrak Violet dan mengatainya caper lah, sok baik anak emas dan lain - lain.
"Lu pengen di kasih pelajaran yah!!! sok - sokan mungut sampah, dasar anak angkat yang caper!!!" kata Kiki menghina Violet.
"Ya kalo gak mau ya gak usah lakuin lah, memangnya siapa juga yang anak angkat dan caper, kalo ngomong yang baik - baik deh gak usah ngehina!!!" tegas Violet yang hampir murka.
Violet sampai tidak konsen untuk belajar karna masih gak senang apa yang ia dengar dari kakak kelasnya itu, memang Violet belum mengetahui siapa dia sebenarnya karna dia selalu mendapati orang sekitar menyebutnya sebagai anak angkat, ia kadang mikir apa benar sih aku bukan anak mama dan papa, terus siapa dong orang tua ku.
Mereka hanya tau ngomong toh surat akte dan kartu keluarga sudah jelas aku anak mama dan papa, apa mereka iri sama aku???.
gak kerasa bel pulang sekolah sudah berbunyi, Violet menyesal atas pemikirannya yang kalang kabut gara - gara perkataan yang gak jelas itu, sehingga dia gak fokus akan apa yang dia belajar tadi.
"Ih dasar bego, kenapa aku musti dengerin omongan mereka sih!!!!, akhhh makin gak konsen, ya sudah deh ke perpus saja sambil nunggu papa jemput." gumamnya sambil memasuki buku di dalam tas.
***
Bersambung.....
__ADS_1