Kekasih Monster

Kekasih Monster
PROLOG


__ADS_3

Gedung laboratorium Mandava University tampaknya telah padam. Dua orang keluar dari sana dalam diam. Salah satunya tengah gugup, sesekali menaikan kacamata tebalnya berusaha meredam detak jantung yang berdebar.


Brian Pradipta terus melirik gadis di sebelahnya. Angelina Deyara, merupakan perimadona kampus, hampir seluruh lelaki naksir padanya. Kali ini Brian sangat beruntung, menjadi asisten dosen membuatnya bisa membantu Deyara dalam menyelesaikan tugas karya ilmiah gadis itu.


“Su-sudah malam, kamu dijemput?”


Deyara menatap ponselnya dan tersenyum sangat manis pada Brian. “Ya, Ayah udah nunggu di dekat gedung utama.”


Pemuda di samping Deyara menundukan wajahnya untuk menyembunyikan rona di pipi. Gila, bagaimana mungkin ada manusia seindah Angelina Deyara? Brian mengulum senyum dan mengangguk pada Sang Primadona.


“Kakak, hati-hati ya? Dan terimakasih!” Gadis berambut panjang itu melambaikan tangan dan berjalan menjauh.


Sekarang hanya ada dirinya. Brian hampir saja pingsan jika tidak ingat dimana sekarang dirinya berada. Deyara benar-benar sangat cantik dan mempesona. Adik tingkatnya itu sudah ia taksir saat pertama kali bertemu di depan gerbang kampus dan berlanjut hingga kini, tapi ia cukup tahu diri. Orang culun sepertinya mana mungkin bisa bersanding dengan primadona kampus.


Apapun itu walau di masa depan mereka tidak bisa bersama, seharian ini hati Brian berbunga-bunga. Bisa berdekatan dengan primadona kampus, mencium baunya yang harum seperti bidadari, menatap wajah cantik Deyara, bahkan berbicara berdua sudah seperti kencan saja. Pemuda itu menggelengkan kepala. Ini bukan akhir, masih ada hari-hari selanjutnya yang akan ia hadapi bersama Deyara dan Brian tidak akan menyia-siakan kesempatan itu.


Pandangan Brian teralih pada beberapa mahasiswa yang masih berkeliaran di area universitas. Kegiatan mahasiswa kadang tidak pernah mengingat waktu.


Langkahnya menuju lorong yang menghubungkan laboratorium dengan loker terlihat lenggang dan sepi. Brian berjalan perlahan menuju loker 29 sambil menggenggam erat tali tas gendongnya.


BRAKKK!!


BRAKKK!!


BRAKKK!!


Segerombol manusia tiba dengan beberapa alat pukul di setiap tangannya. Alat itu bertemu dengan pintu-pintu loker yang tertutup, mengeluarkan dentuman menggema yang sangat keras. Brian menelan salivanya. Orang-orang ini terkenal biang perusuh di kampus, terutama lelaki bertubuh besar yang menyeringai ke arahnya.


“PRADIPTA!”

__ADS_1


Orang itu sangat mengerikan. Melihat beberapa urat keluar dari leher dan tawa dari yang lain sungguh Brian amat sangat benci akan hal tersebut. Lelaki bertubuh besar mulai mendekat dan meremas kerah leher Brian, membuat pemuda berkacamata tebal itu melayang panik.


“To-tolong, jangan!” Kaki Brian mulai menendang-nendang berusaha mengenai dada mahasiswa berotot yang meremas kerahnya kuat, namun tidak berarti apa-apa bagi orang itu. “A-apa salah Saya?!”


“Lo tahu apa yang salah Nerd?!” ucap lelaki berotot itu menggema mengelilingi setiap sudut lorong.


Brian menggeleng. “Turunkan Saya! Tolong!”


Lelaki itu mendengus dan melempar tubuh Brian cukup kencang menghantam loker-loker besi yang hanya bisa membisu. “Lo udah deket-deket pacar gue, Deyara!”


Punggung yang terantuk loker terasa sangat sakit. Brian mengerang keras, membuat orang-orang di hadapannya tertawa semakin kencang. Brian mencoba berdiri dengan tenaganya, namun sesuatu yang keras tiba-tiba menghantam pipi kirinya. Ia kembali rubuh dengan darah menyiprat dari luka hantaman tersebut.


Sangat disayangkan di tempatnya sekarang sepi, walau ada CCTV Brian yakin orang-orang ini memiliki kekuatan untuk menghilangkan adegan kekerasan yang mereka perbuat padanya.


Tidak adil memang, namun kenyataannya sepahit dan seamis ini.


“Kalian beresin dia dan buang ke jurang!”


Laki-laki yang ternyata Boss dari gerombolan tersebut memberikan senyum sinisnya sebelum melenggang pergi.


Melihatnya Brian menyentuh luka lebam di pipi dan meringis. Ia menghapus keringat yang mengucur di pelipis. Brian semakin merapatkan tubuhnya ke pintu loker dengan tangan segera melindungi tubuhnya saat pukulan bertubi mulai dilayangkan oleh orang-orang yang tersisa.


...***...


Bau tanah lembab dan dinginnya udara malam membuat Brian segera membuka mata perlahan. Ia bernapas dengan lamat-lamat dan mencerna setiap detik apa yang telah ia alami sehingga ia berada di bawah pepohonan yang rimbun. Pemuda itu mengerang hebat saat mencoba menggerakan tubuhnya. Ia baru ingat jika gerombolan pem-bully telah membuangnya ke dasar jurang.


“Argh! Sak-it....”


Brian tidak menyerah. Ia meraba-raba tanah untuk mencari kacamatanya yang entah ada dimana. Kepalanya terasa berat dan pening. Tubuhnya remuk, mungkin beberapa tulang rusuknya patah akibat bergulung dari atas jurang. Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuh, wajahnya pucat karena kehilangan beberapa darah yang keluar dari luka-luka.

__ADS_1


Tidak menemukan kacamatanya, Brian memilih menyeret tubuhnya untuk bersandar pada pohon besar. Celana jeans yang kotor lumpur menambah beban tubuhnya.


Hutan bergitu gelap. Ia benar-benar tidak bisa melihat apapun. Bahkan cahaya bulan tidak terlihat, sepenuhnya tertutup awan mendung. Brian menggigit kain bajunya saat beberapa rintik hujan mulai turun. Tubuhnya gemetaran merasakan dingin yang mulai menusuk tulang.


Kesialan apalagi yang akan ia dapatkan?


Grrrrrrrr....


Grrrr.....


Sebuah suara menarik perhatian Brian. Di balik semak-semak tersengar suara geraman. Brian memincing, ia terkejut saat dua titik cahaya merah muncul dari semak-semak tersebut. Pemuda itu kembali menyeret tubuhnya semakin menjauh dengan tertatih.


Sudah pasti itu binatang buas, di dalam hutan lebat ini pasti banyak terdapat hewan yang sangat berbahaya. Sebisa mungkin Brian berusaha untuk menjauh.


Grrrrr....


Suaranya semakin jelas. Dada Brian naik turun merasakan adrenalin yang hebat. Saat gemerisik dedaunan dan ranting saling terkoyak memunculkan sesosok makhluk dari sana. Brian tidak bisa bergerak saat mata merah makhluk itu menatapnya tajam.


Seekor serigala? Tapi, bagaimana mungkin? Tempatnya tinggal ada di daerah tropis dan bukan termasuk teritorial serigala.


Menelan salivanya Brian dibuat lemas tidak bisa bergerak kembali. Sebelumnya Brian pernah melihat serigala secara langsung tapi tidak sebesar yang ada di hadapannya kali ini.


“Ti-tidak!! Jangan bunuh Saya!!”


Makhluk tersebut menggeram menunjukan giginya yang tajam, besar dan meneteskan air liur. Serigala itu begitu agung, berbulu silver, kuku-kukunya terlihat panjang dan tajam, terbalut dengan darah segar yang menetes.


“Monster jangan bunuh Saya, Saya mohon!!”


Serigala itu semakin menggeram mendengar ucapan Brian. Makhluk itu segera berlari menerjang membuat pemuda itu terjebak dalam kukuhannya.

__ADS_1


Dengan tenaga yang tersisa Brian berusaha memukul dan menendang, rasa sakit pada tubuhnya seakan berkompromi untuk tidak timbul. Namun, makhluk itu cukup kuat. Brian bukanlah tandingan si serigala yang bisa besarnya empat kali lipat dari tubuh Brian.


Segera kuku serigala yang mencuat tajam mencabik tubuh Brian tanpa ampun dan darah menyembur deras dari sana.


__ADS_2