
“Eh, ikut? Kemana? Tolong, biarkan Saya kembali ke rumah Saya saja!”
Orang itu menggeram. “Nggak!!”
Tubuh Bella perlahan melayang, tanpa sadar ia mengalungkan lengannya di leher orang ini. Bisa ia rasakan posisinya tengah digendong ala bridal style. Pipinya bersemu. Baru disadari orang ini tidak menggunakan baju, hanya celana jeans saja yang menutupi tubuhnya.
Tidak Bella, kamu tidak tidak boleh terbawa suasana!
Bella tidak banyak bicara saat pria ini membawanya lari ke arah berlawanan dari kos kecilnya. Walau air hujan semakin lebat turun tubuhnya sama sekali tidak merasa kedinginan. Juga bagaimana mungkin pria bertelanjang dada ini begitu kuat menerjang hawa dingin?
Cukup lama mereka dalam posisi seperti ini. Bella bisa melihat beberapa gedung pencakar langit dekat dengan mantan tempat kerjanya juga tidak begitu jauh dari tempat Deyara berkuliah. Bella mendongak pada pria yang terus menatap ke depan. Wajah pria itu sesekali tertutup rambut cokelatnya yang terlihat mulai memanjang.
Sebenarnya kemana ia akan dibawa? Melihat tubuh orang ini yang lebih kuat dan besar darinya tentu akan susah untuk memberontak melarikan diri.
“Kita mau kemana?”
Pria itu menunduk. “Tidur, kamu lelah bukan?”
“Tapi—--,”
Belum sempat Bella berbicara, tubuhnya telah berganti posisi. Ia semakin kencang memeluk leher pria ini---karena hal yang tidak pernah ia duga---ternyata pria ini tengah memanjat salah satu gedung apartemen tanpa pengaman apapun.
“Lo ngapain manjat?! Heh, ini berbahaya!”
Orang itu tetap bungkam, sampai keduanya mendarat di salah satu balkon apartemen, Bella bisa bernapas lega. Namun, perasaan itu menghilang saat pria ini membawanya masuk ke dalam. Tubuh Bella perlahan diturunkan di atas sebuah ranjang cukup besar.
Pria itu menatap Bella lembut. Tangannya membelai rambut indah Bella. “Tunggu di sini!”
Bella menatap kepergian pria bertelanjang dada. Ia mengamati sekitar. Kamar ini lumayan luas, walau tidak begitu rapi, ada beberapa barang yang menjuntai. Komputer dengan layar tipis terlihat masih menyala, menampilkan laman yang aneh. Bella mendekat. Siapa tahu ia bisa meminta pertolongan pada siapapun lewat alat tersebut.
Ia men-scroll perlahan menggunakan mouse. Matanya terus penasaran pada beberapa laman yang terbuka. Pria itu apa begitu tertarik dengan hal-hal berbau mitos? Beberapa laman tengah membuka situs yang membahas makhluk-makhluk yang tidak mungkin ada di dunia ini, seperti penyihir, vampir, goblin, hantu, bahkan werewolf.
Merasa ada yang ganjil, Bella menerawang. Apa mungkin orang itu mempelajari hal-hal mistis? Lagipula bagaimana mungkin manusia normal bisa memanjat gedung apartemen dengan mudahnya?
Ceklek!!
Mendengar itu Bella segera duduk di ranjang seperti semula. Perempuan itu menatap heran saat segelas cokelat panas dan beberapa biskuit diserahkan, tentu diterimanya dengan senang hati.
Eh, tunggu bagaimana jika makanan ini telah diobati?
Bella menatap pria itu melangkah menutup jendela balkon rapat. Sepertinya hujan semakin lebat. Mengingat itu, biasanya ia akan kedinginan di dalam kos kecilnya sendirian.
“Kenapa? Kamu nggak suka cokelat panas? Atau ingin makan kue yang lain”
__ADS_1
“Emh, Saya cuma....”
“Jangan terlalu formal, kita harus menjadi dekat.”
Bella terdiam. Bagaimana menjadi dekat? Pertemuan mereka saja karena paksaan pria aneh ini.
“Kalau begitu biar aku bawa ke belakang saja.”
“Nggak usah, aku mau hehe.”
Perempuan yang masih mengenakan jaket cokelatnya perlahan memakan biskuit yang ternyata cukup enak. Ia menghabiskannya tanpa tersisa dan meminum cokelat panas dengan puas.
“Kamu suka?”
“Ya, ini enak.”
“Bagus, karena aku buat sendiri.”
“Kamu yang membuat... biskuit?”
“Ya, saat Natal tiba aku selalu membuat dan makan sendiri, perlu ketelitian tinggi. Dengan keadaanku sekarang yang sering emosional biskuit-biskuit itu jadi gagal. Dapurku menjadi berantakan karena ulahku sendiri, tanpa bisa mengontrolnya. Entah, apa yang terjadi dengan aku tidak tahu.”
Tangan Bella mengelus gelas kosong di pangkuannya. Ia tersenyum kecil melihat pria penculiknya tengah duduk di bawah dengan wajah yang bersungut-sungut. “Jadi kamu bawa aku ke sini buat makan biskuit itu? Supaya kamu nggak makan sendiri lagi?”
“Apa?”
“Setelah kejadian mengerikan waktu itu. Aku terbangun, pandanganku menjadi awas, pendengaran dan penciumanku semakin tajam. Aku keluar dari hutan dan bertemu beberapa orang. Namun, hal yang tidak kuinginkan terjadi!!”
Cring!!!
Bella melebarkan matanya saat tangan pria itu memunculkan cakar panjang dan tajam.
Orang ini bagaimana bisa melakukan hal mengerikan seperti itu? Mau dilihat dari sudut pandang manapun tetap yang dilakukan pria ini tidak normal.
Bella menjadi gemetaran. Tangannya mencengkram gelas semakin kencang. Hanya benda ini satu-satunya senjata jika pria bertelanjang dada mencoba melukainya.
Tidak, ia tidak boleh panik dan ketakutan. Tenang Bella, tenang....
“T-terus apa selanjutnya?”
Pria itu menatap Bella. Bolamatanya berubah menjadi emas, dengan merah darah menyelimuti lingkar luar lensa matanya.
“Karena penciumanku jadi tajam, setiap makhluk hidup di sekitar akan mengeluarkan bau anyir, begitu pekat. Aku menjadi tidak terkontrol dan berakhir membunuh bahkan memakannya.”
__ADS_1
Perempuan itu menangkupkan mulutnya. Ternyata benar, orang yang selama tiga bulan menjadi buronan pembunuh berantai adalah pria ini. Berita mengungkapkan tiap korban ada yang sebagian tubuhnya hilang terkoyak. Tapi bagaimana mungkin hal aneh seperti itu terjadi padanya? Apa karena ia terlalu dalam mempelajari hal-hal aneh di komputer itu?
“Tapi, saat aku mengetahui keberadaan kamu, aroma kamu sangat berbeda.” Cakar dan mata emas pria ini menghilang. Ia bangkit, mencondongkan tubuhnya pada Bella yang entah mengapa menjadi bergetar dan gugup. “Bau kamu lain, sangat harum dan menenangkan. Aku sangat butuh kamu.”
Pria itu mengambil gelas dalam genggaman Bella yang dicengkram dan menaruhnya di samping piring bekas biskuit. Ia menatap lekat wajah Bella yang berusaha terlihat tenang. Detak jantung perempuan di hadapannya berpacu sangat cepat terdengar jelas, membuatnya tersenyum kemenangan.
“Namaku Brian. Kamu?”
“A-aku....”
“Aku bisa mendengar detak jantung kamu, jadi nggak perlu berbohong Princess.”
“Bella, n-nama aku Bella.”
“Hm..., nama yang cantik!”
Pria bertelanjang dada yang ternyata bernama Brian ini menarik pinggang Bella. Tentu perempuan itu terpekik, tubuhnya menjadi terlentang di atas ranjang terpenjara dalam kukuhan Brian. Bella panik. Tubuhnya otomatis menjauh dari jangkauan Brian, tapi pemuda itu lebih cepat. Ia menarik Bella masuk ke dalam rangkulannya. Kini keduanya tertidur dalam posisi yang sangat intim.
Bella kembali memejamkan mata untuk meredam detak jantungnya yang berpacu semakin cepat. Keringat dingin kembali menetes. Kali ini ia benar-benar ketakutan.
“Aku tidak akan membunuh kamu tenang saja. Aku cuma butuh aroma kamu yang menenangkan ini.”
Brian semakin menelusupkan kepalanya di ceruk leher Bella. Ia menghirup dalam aroma yang menguar dari sana. Sesuatu dalam dirinya yang selalu pemarah kini kegirangan dan menginginkan hal lebih. Tanpa sadar Brian mengecupi leher perempuan dalam rangkulannya, sesekali menggigitnya. Mata pemuda ini perlahan berubah menjadi emas dan cakar pada tangannya mulai tumbuh.
Bella menggigit bibir bawahnya. Bibir Brian yang lembab masih betah bermain di tempat sensitifnya. Ia bukan perempuan polos, hal seperti ini sering ia lihat di beberapa film dan telah dipraktekan dengan mantan pacarnya dulu. Sialnya, Brian bukan orang yang ia kenal dan entah mengapa tubuhnya pasrah.
Namun secara tiba-tiba perempuan itu menjadi terpekik saat cakar Brian menancap di pinggangnya.
“Aku ingin makan kamu Bella!” suara Brian terdengar berbeda di telinga Bella, lebih dalam dan serak.
“Ka-kamu bilang nggak akan bunuh aku?! Kenapa kamu mau makan aku?! Akh, i-ini sa-kit....”
Bella mulai tersadar. Pinggangnya begitu nyeri dan linu akibat cakar Brian yang masih menancap di sana. Rasa takut mulai menyelimutinya kembali, tubuhnya gemetaran dan jantungnya berdegup semakin cepat.
“AARRGGGGGHH!!!” Brian mengerang dan menjauh. Ia begitu frustrasi. Tangannya menutupi wajah yang terdunduk-duduk di ujung ranjang. Mata emasnya menghilang, begitupun cakar di kedua tangannya. “Maksud aku, makan dalam arti yang lain!”
Bella tidak mengerti. Ia menggeser tubuhnya, meringkuk memegangi pinggangnya yang telah mengeluarkan banyak darah. Ini begitu menyakitkan! Jika bisa menjerit Bella akan menjerit sekeras mungkin, tapi pria ini predator gerakan sekecil apapun darinya pasti akan mempengaruhi mood Brian.
“Maaf, kamu bisa mengobatinya dengan kotak obat di laci dekat komputer itu.”
Setelah mengatakan hal tersebut Brian beranjak dan meloncat keluar dari jendela balkon.
Bella bisa melihat ke luar. Hujan sedang terjadi diikuti sapuan angin kesana-kemari. Isak tangis yang sedari tadi ditahannya mulai keluar. Tubuhnya menggigil.
__ADS_1
Bagaimana bisa mengobati luka mengaga di pinggangnya? Untuk bangkit saja ia tidak sanggup. Mungkin ini akan menjadi lebih buruk daripada kedinginan di kos kecilnya sendirian.