Kekasih Monster

Kekasih Monster
Bab 3 (Part 2)


__ADS_3

Udara malam di musim penghujan tidak membuat Deyara gentar menunggu kendaraan di depan halte. Tujuannya adalah kantor polisi di mana dirinya melapor mengenai menghilangnya Bella Wicaksana.


Ia menatap sekeliling, suasana masih ramai lalu lalang manusia, kakinya ia tendang-tendangkan pada air hujan yang jatuh gemericik pada atap halte, kegiatan untuk menghilangkan gelisah. Sebelumnya Deyara sangat terkejut, asisten dosen yang telah menghilang selama tiga bulan ternyata sosok yang menjadi buron dan tengah menculik Bella.


Perempuan itu menatap beberapa gedung pencakar langit. Di antaranya mungkin tempat Bella disembunyikan, tapi ia harus mencari bantuan untuk menemukan kakak sepupunya itu.


Senyum Deyara menguar saat bus yang ditunggunya mulai terlihat. Dengan perlahan Deyara masuk dan mencari bangku yang kosong. Ia celingukan dan berhenti pada satu-satunya bangku yang kosong. Ada seseorang dengan pakaian cokelat panjang juga kupluk besar menutupi kepala sedang duduk di sebelah bangku kosong tersebut. Tidak ambil pusing Deyara mulai mendudukinya.


Cukup lama perempuan itu duduk dengan gelisah, seseorang di sebelahnya mulai bergerak dan menyadari keberadaannya. Deyara menoleh dan memberi senyum kecil, kemudian hal yang tidak terduga membuatnya terkejut.


"Angel?! K-kau masih hidup?!" Orang di sebelahnya tiba-tiba mencengkram bahu Deyara.


"Hah?" Perempuan itu menurunkan tangan orang berkupluk itu dengan risih. "Maaf, nama Saya memang ada unsur Angel-nya, tapi sepertinya Anda salah orang."


"T-tidak mungkin...."


Orang itu terlihat menggelengkan kepala dengan mata mulai menitikan airmatanya. Deyara bisa melihat dengan jelas, orang ini seorang pria dengan rambut pendek terang dan ia tidak kenal sama sekali.


Setelah kejadian penculikan Bella, ia lebih waspada daripada biasanya.

__ADS_1


Orang-orang yang mendadak mengenalinya, mungkin saja salah satu komplotan penculik atau kejahatan lain. Tidak mungkin Deyara lupa dengan orang-orang yang pernah ia kenal atau temui. Wajah pria ini sangat asing, lebih cocok sebagai warga negara lain yang bahkan Deyara belum pernah ke luar negeri.


"Angel, ini aku Aleisther! Kekasihmu!"


Perempuan dengan rambut lurus menggeleng kuat. Ia akan beranjak turun dari bus saja, namun bahunya dicengkram kuat membuatnya meringis. "Tolong lepas, atau Saya akan berteriak!"


"Tidak, maksudku maaf. Tolong dengarkan aku sebentar."


Deyara menatap sekitar. Kantor polisi masih jauh jaraknya. Ia menghela napas dan mengangguk. "Ada apa?"


Pria dengan nama Aleisther itu tidak kunjung berbicara. Orang itu terus menatap Deyara dengan wajah yang susah diartikan. Merasa tidak mendapat apa yang diminta, Deyara akan kembali beranjak. Aleisther tahu dan ia tidak ingin kehilangan lagi.


Situasi macam apa ini? Deyara dengan lapang dada mendengarkan ucapan Aleisther. Mau dikatakan menipu pun Deyara tidak yakin, karena wajah pria ini sangat kesakitan.


Benarkah ia pernah bertemu sebelumnya? Tapi orang ini mengakui jika Deyara pun tidak akan mengenalinya.


Bahasa yang pria ini pakai juga sangat baku. Mungkin benar Aleisther ini dari luar negeri.


"Melindungi?" Deyara berdesis. Senyum ia paksakan pada Aleisther. Gadis itu berpaling menatap lurus ke depan saja.

__ADS_1


Sebentar lagi kantor polisi nampak. Hanya menahan duduk di samping pria asing ini sampai di kantor polisi bukanlah hal yang berat.


"Maaf jika lancang, apa boleh Saya tahu nama kamu?"


Nama? Buat apa? Bukannya tadi dia udah panggil gue Angel?


Deyara tidak menoleh, diam saja seakan orang di sebelahnya tidak ada. Mungkin tidak sopan, tapi ia harus berhati-hati.


"Tidak boleh ya?" Aleisther tersenyum masam dan menggaruk kepala bagian belakang "Maaf ya sama respon Saya tadi, soalnya wajah kamu mirip dengan kekasih Saya"


Deyara melirik. Agaknya ia penasaran juga mengenai kisah pria ini yang ia sendiri tidak yakin fiksi atau nyata.


"Kami hampir menikah, tapi kami mendapat pekerjaan berat yang mana nyawa sebagai taruhan. Saat itu Saya merasa gagal karena kakasih Saya gugur untuk menyelamatkan Saya."


"Saya bodoh dan tidak berdaya. Jika Saya lebih kuat lagi atau lebih gesit pasti kejadian itu tidak akan terjadi hahaha."


"Entah mengapa wajah kamu mirip sekali tanpa cela. Dari mata sampai postur tubuh. Sekali lagi maafkan Saya karena sudah lancang tadi."


Merasa orang ini tidak berbohong Deyara menoleh. Pria berambut terang sedang menatap ke luar jendela bus. Ternyata hujan kembali turun.

__ADS_1


“Angelina Deyara, itu nama Saya.”


__ADS_2