Kekasih Monster

Kekasih Monster
Bab 4


__ADS_3

Caffe di tengah kota menjadi pemberhentian penyihir Aleisther dan Beta Sujin setelah berkeliling mencari orang beraroma sama dengan potongan kain yang ditemukan di tengah hutan. Keduanya beruntung mudah beradaptasi, terutama Aleisther. Penyihir pria berambut terang itu mampu menyerap memori setiap manusia yang ditemuinya. Untuk Sujin sendiri, ia hanya mengikuti arahan Aleisther saja.


Di hari yang sama saat tiba di dunia ini, mereka telah menemukan tempat untuk bernaung, letaknya tidak begitu jauh dari hutan.


Kebetulan saat itu ada seorang lelaki tua pemilik jasa camping, Aleisther menyerap memori lelaki tersebut, mulai dari bahasa, pola hidup, hirarki pemerintah hingga mengetahui penginapannya bersistem deposit. Tentu, keduanya tidak memiliki uang dan berakhirlah memberi beberapa keping emas yang mereka bawa.


“Kemarin kau meninggalkanku di rumah sampai larut. Apa yang sedang kau lakukan?”


Aleisther menoleh. “Selain mendapatkan uang dengan menukar emas untuk membeli beberapa pakaian manusia yang saat ini kau dan aku pakai, aku berusaha menyerap memori orang-orang mengenai tempat ini. Dari sana aku bisa mengetahui seluk beluk beberapa daerah juga jalur yang bisa digunakan untuk mencari Alpha.”


“Yakin hanya itu?” Vir Sujin mengamati minuman boba yang sedang tren. Ia mulai minum dan mencecap rasanya, begitu manis, tapi Beta menyukainya.  “Asal kau tahu, pemilik rumah datang berkunjung dan aku tidak tahu mereka berbicara apa.”


Aleisther terkekeh. “Maaf Beta, sebenarnya ada hal yang membuatku lebih lama meninggalkanmu. Kemarin aku menaiki kendaraan bernama bus dan bertemu orang sangat mirip dengan kekasihku yang telah meninggal.”


“Kekasih? Bagaimana hal itu bisa terjadi?”


“Aku sendiri tidak tahu. Apakah ini bisa disebut reinkarnasi, tapi beda dunia?”


“Mungkin saja," Sujin menyedot minumannya lagi. "Siapa namanya?”


Aleisther menatap Sujin.


“Kekasihku bernama Angel, dan orang yang kutemui bernama Angelina Deyara,” Penyihr Aleisther tersenyum-senyum mengingat Deyara menyebutkan nama lengkapnya sendiri dengan merdu. "Wajah mereka sangat mirip, sama-sama cantik. Membuatku lupa jika yang aku ajak bicara bukan mendiang kekasihku. Aku ingin mendekatinya jika sempat"


Vir Sujin memutar bolamatanya. “Terserah kau saja, yang penting kita harus cepat menemukan Alpha.”


...***...


Di suatu ruang temaram Bella membuka kelopak mata perlahan. Perempuan itu mendudukan diri dan menatap sekitar. Di sekelilingnya ruangan bersekat dinding berlapis bebatuan, entah hanya ornamen atau memang batu sungguhan?


Bolamatanya mengerling pada kamar mandi yang terbuka dengan lampu sangat terang. Ia menggigit bibir bawahnya, ada sebuah pintu besar berwarna cokelat tertutup rapat tepat di depan ranjang. Tempat ini begitu asing bagi Bella, tentu saja bukan apartemen Brian yang sebelumnya.


Jiwanya yang telah kembali memberi energi bagi Bella untuk menuruni ranjang dan menerjang satu-satunya pintu sebagai jalan keluar. Tangannya mencoba memutar kenop berkali-kali, tapi hasilnya nihil. Perempuan itu menjauhkan diri, meraup wajah frustrasi, dan berteriak pilu. Air matanya mengalir penuh isak.

__ADS_1


Dimana sekarang ia berada? Tentunya tidak ada siapapun yang bisa dimintai tolong, bakan Deyara sekalipun.


Perempuan itu memejamkan mata, mengatur deru napasnya. Ia harus tenang.


Kembali, Bella menatap pintu di depannya dan mendekat. Ada lubang di sela-sela pintu, ia mengintip keluar. Terlihat ruangan kecil terhubung dengan lokasinya yang memiliki pintu lain juga tertutup rapat. Ruangan itu memiliki pencahayaan lebih temaram daripada tempatnya. Tidak ada dindin batu yang menhelilinginya.


Bella terus mengamati ruangan tersebut. Walau temaram ia bisa melihat baju-baju tergantung pada stand hanger .


"Sebenarnya gue dibawa kemana lagi sih?!"


Berhenti memperhatikan ruang di depannya, Bella memilih mengamati kamarnya sendiri. Terdapat nakas di dekat ranjang, Bella mendekat. Di atasnya ada nampan dengan semangkuk sup, nasi dan air mineral, juga tergeletak ID card dengan foto Bella di sana. Itu ID card dari mantan perusahaannya yang ia masukan ke dalam saku celana.


Duduk kembali di atas ranjang, Bella mengambil gelas air dan meminumnya. Ia terlalu terkejut sampai melupakan tenggorokannya yang perih.


“Brian sebelumnya gigit leher gue.” Bella mulai meraba lehernya. “Tapi nggak ada luka dan gue masih hidup. Apa gue bakal berubah jadi vampir? Emang Brian vampir?”


Bella mengamati jemari dan menyentuh tubuhnya yang masih terbalut sweter krem. Ngomong-ngomong sudah berhari-hari ia tidak berganti pakaian. Mau bagaimana lagi? Ia korban penculikan yang entah tidak tahu tujuannya diculik untuk apa. Kata Brian karena aromanya yang menenangkan? Bukankah itu mengada-ada? Bahkan ia belum mandi sejak saat itu.


Seseorang terlihat memasuki kamar Bella. Perempuan itu melihat jelas Brian dengan rambut semakin memanjang, juga tumbuh jambang dan kumis di wajahnya. Pemuda itu terlihat lebih dewasa dalam tampilannya. Belum lagi setelan jas bersepatu pantofel yang melekat di tubuhnya. Pria ini baru kembali atau akan pergi?


“Sudah bangun?”


Pintu yang akan ditutup membuat Eunbi mengintip keluar. “Eum.”


“Perut kamu pasti lapar. Makanannya masih hangat segera dimakan, aku bakal nunggu kamu habiskan makanannya.”


Nyatanya walau dalam hati Bella tergumpal bermacam-macam kekesalan dan rasa takut, perempuan itu sama sekali tidak ingin terlihat lemah.


Bella menurut saja. Sup segera ia makan beserta nasinya. Sesekali ia melirik Brian yang duduk di ranjang tidak jauh dari Bella. Pria itu membuktikan ucapannya menunggu sampai nasi dan sup kandas.


Menggeser tubuh semakin jauh dari Brian dan meremas telapak tangannya sendiri. Bella terus teringat kejadian sebelumnya, tentu ia tidak tahu kelanjutannya bagaimana? Bisa saja hal yang tidak diinginkan terjadi bukan?


“Bella?” Brian mendekat akan menyentuh perempuan di sampingnua, tapi perempuan itu menepis. “Kamu marah?”

__ADS_1


Brian Pradipta menghembuskan napas. Pria itu melepas jas hitam dan menggulung kedua lengan kemeja putihnya. Ia masih mengamati Bella yang tetap tidak ingin melihat dirinya. Entah kenapa Brian menjadi kecewa, muncul rasa tidak senang akan hal tersebut. Ia kembali akan menyentuh Bella.


“Berhenti, j-jangan sentuh gue, brengsek!” Ada getaran di suara yang dikeluarkan Bella. Perempuan itu tidak ingin terlihat lemah, tapi entah mengapa sebutir air mata jatuh. Dengan cepat Bella menghapusnya dan menatap nyalang pada Brian. “Lo udah keterlaluan Brian!! Lo melukai gue berkali-kali, menjamah tubuh gue seenak lo, dan sekarang bawa gue ke tempat kayak gini! Sebenarnya apa tujuan lo culik gue?!!”


Brian tersinggung akan ungkapan Bella. “Aku nggak menculik kamu!”


“Kalau gitu bawa gue balik ke rumah!”


“Nggak akan!”


Mendengus, Bella beranjak dalam ranjang untuk meringkuk membelakangi Brian.


Brian ingin memeluk Bella seperti sebelumnya, tapi ditolak mentah-mentah, dengan memukuli brutal dan mengancam akan bunuh diri.


Mungkin terlalu berlebihan, tapi Bella tahu waktu kematiannya semakin dekat. Buktinya Brian memindahkan Bella ke tempat ini.


Mungkin saja jika ada korban penculikan lain akan dieksekusi di sini? Who knows?


Cukup lama saling diam, Bella yang masih meringkuk di atas ranjang ternyata tertidur pulas.


Selang beberapa jam tertidur, perempuan itu terbangun menatap sekitar yang tidak berubah sama sekali.


Ayolah Bella, harapan kelangsungan hidup untuk selamat mungkin hanya satu persen. Ia berdecak dan menoleh pada nakas. Nampan dan peralatan makan telah hilang begitupun keberadaan Brian tergantikan dengan sekotak cokelat dengan catatan di atasnya.


“Apa ini?” Perempuan itu meraihnya dan mendengus. “Dia pikir dengan ngasih gue cokelat dan note bertulisan kata ‘MAAF’ bisa memperbaiki semuanya? Dia tuh kenapa sih, nggak sadar diri banget!”


Melempar cokelat tersebut dengan kekuatan ekstra, Bella juga menyobek-sobek kertas note dari Brian penuh amarah. Perempuan itu turun dari ranjang menuju kamar mandi.


Buang air kecil lebih ia butuhkan dari pada sekotak cokelat dengan permintaan maaf.


😄😄


jangan lupa like ya, Saya masih baru soalnya hehe

__ADS_1


__ADS_2