
Seseorang menyikut teman di sampingnya saat sosok pemimpin kawanan rogue telah tiba. Pemimpin yang sangat ditakuti membuat para serigala menunduk dan memberi jalan. Ia anak pemimpin sebelumnya yang telah binasa saat perang besar antar pemberontak dan kerajaan.
Rogue sendiri berarti serigala yang tidak memiliki pack atau kelompok. Mereka membuat kelompok sendiri yang dibentuk oleh salah satu serigala terkuat. Namun berbeda dari pack asli, kelompok rogue tidak memiliki Alpha, tapi hanya ketua.
Pemimpin memberi senyum saat salah satu kawanan tidak sengaja menghalangi jalannya. Serigala itu menunduk, mengucapkan maaf berkali-kali. Sang pemimpin mengangguk memaafkan sambil menepuk bahu kawanannya itu. Reputasi ayahnya yang kejam membawa dampak di kehidupan dewasanya.
“Sudah tidak apa.”
“Te-terimakasih!”
Pemimpin itu kembali melangkah memasuki gedung tempat seseorang dirawat. Beberapa tabib dan petugas ikut menundukan wajah. Di satu ruang istimewa dengan penjagaan ketat pemimpin itu berhenti. Serigala yang berjaga membukakan pintu untuknya.
“Silakan Tuan Jack!”
“Terimakasih.”
Serigala penjaga terperangah. Sama seperti serigala lain, ia merasa pemimpin baru begitu berbeda dari sebelumnya yang kejam dan menakutkan. Kebetulan ia baru bergabung dalam kelompok pemberontak, jadi hanya mendengar desas-desusnya saja.
Jack, pemimpin baru kawanan rogue terbesar di dunia Imortal dilahirkan dan dibesarkan dalam lingkup pemberontak. Kehidupannya dipenuhi oleh luka dan perpisahan. Ia harus kehilangan sosok ibu karena ayahnya mencoba menggagalkan kebijakan kerajaan mengenai para werewolf yang tidak memiliki kawanan.
Sejujurnya kelompok pemberontak dengan kerajaan sama kejamnya. Hanya saja kerajaan lebih beruntung dengan image putih mereka. Sedangkan Jack beranggapan berbeda, walau selama hidupnya selalu dipandang sebelah mata sebagai anak pemberontak, pria itu sama sekali tidak tertarik bergabung besama penghuni kerajaan. Biarkan ia tetap menjadi hitam, tanpa berpura-pura menjadi si putih.
“Bagaimana keadaannya?”
“Sampai saat ini belum menunjukan peningkatan Tuan.”
Seorang tabib dipercaya Jack menyembuhkan gadis yang dicintainya, menunduk sedih. Tertidurnya perempuan ini akibat perang besar yang menewaskan dua pemimpin sekaligus. Perbedaannya Jack tidak ikut terbunuh seperti pewaris tahta King Alpha kerajaan werewolf.
Perang itu selain membawa perseteruan kelompok werewolf juga menjadi perang antar penyihir. Awalnya Jack menolak gagasan ayahnya yang bekerjasama dengan pemimpin witch atau penyihir hitam dalam membantu melawan para elite kerajaan. Tapi karena ayahnya keras kepala, tejadilah perang besar tersebut. Pemimpin wizard yang awalnya tidak ingin ikut campur akhirnya memutuskan membantu kerajaan werewolf.
“Pagi semua!”
Dua orang sedang fokus membahas gadis di atas ranjang yang tertidur lelap pun menoleh. Jack tersenyum saat sahabatnya tiba dengan sihir. Seorang witch super cantik bernama Karin.
“Aku telah menunggumu!” ungkap Jack.
“Benarkah? Aku tersanjung!”
“Tentu, kau menghilang untuk membantu mencari cara mengembalikan Yuri. Aku mengandalkanmu dalam hal ini karena tabib darimana pun tidak bisa menyembuhkan kekasihku.”
Karin tersenyum kecil. “Tenang kawan, aku telah menemukan caranya.”
“Syukurlah, cepat katakan padaku!”
Witch cantik itu menatap tabib yang masih berdiri di antara dirinya juga Jack. Informasi yang akan ia ucapkan begitu rahasia dan tidak boleh sampai tersebar. “Maaf, bisa tingalkan kami berdua saja?”
“Ah, maaf!”
Tabib tersebut menunduk dan melenggang pergi.
“Mengapa kau menyuruh tabib pergi? Siapa tahu dia bisa membantu dalam menyembuhkan Yuri?”
“Tidak Jack. Apa yang diderita Yuri tidak bisa disembuhkan oleh ilmu medis. Sehebat apapun tabib yang kau bayar tidak akan bisa menyembuhkan kekasihmu. Karena ini ada hubungannya dengan sihir!”
“Sihir? Bukankah kau pernah berkata tidak ada sihir di tubuh Yuri?”
“Memang, saat itu aku tidak melihatnya, karena kekuatan sihir manipulatifnya begitu tinggi.” Karin menarik Jack untuk duduk di kursi dekat pintu masuk. “Aku telah bertapa dan mengembalikan kekuatanku setelah terkuras habis karena perang. Saat bertapa aku kembali menjelajah situasi perang yang telah usai dengan membaca energi yang tertinggal.”
“Maksudmu bagaimana? Aku tidak mengerti.”
“Begini Jack. Kau ingat saat Yuri menyelinap untuk melindungimu dari serangan Alpha? Kami para witch kehilangan banyak kekuatan menyebabkan kami tidak menyadari ternyata serangan itu sihir kutukan.”
“Sihir kutukan?”
“Itu setara dengan mantra kuno, perbedaannya kau hanya bisa mematahkan sihir kutukan dengan membunuh sumber sihir tersebut.”
“Tapi pemimpin kerajaan telah mati.”
“Mati? Benarkah?” Perempuan itu tertawa terbahak. “Alpha itu sangat licik Jack. Berbeda dengan ayahmu yang masih memikirkan para werewolf terbuang dan terinjak, dia tidak memiliki hati.”
__ADS_1
“Bagaimana kau bisa yakin akan hal tersebut?”
“Mata dan telingaku ada dimana-mana Jack.” Karin tersenyum sangat misterius. “Dia masih hidup bersemayam di tubuh orang lain. Dalam sejarah werewolf keturunan King Alpha hanya akan hilang jika mate-nya telah mati. Ini termasuk kutukan dari Dewi Bulan, ikatan Soul:Mate. Ingin menghilangkan kutukan pun siapa yang mampu membunuh makhluk abadi setingkat orang-orang langit?”
Jack berdesis, matanya bergejolak dengan penuh emosi. “Jadi bisa disimpulkan bahwa belahan jiwa Alpha itu belum mati?! Dan perang besar yang merenggut ayah, kekasih dan kawananku dimenangkan oleh pihak kerajaan?!”
Karin mengangguk. “Jika kau ingin mematahkan kutukan pada Yuri, maka bunuh mate Alpha, bukan hanya kutukan, jiwa Alpha itu pun akan hilang selamanya.”
***
“Kau harus bercinta dengannya, Brian!”
“Apa?!”
“Bercinta, bersetubuh, laki-laki dan perempuan membuat anak. Kau tidak tahu? Hah, dasar manusia payah!”
“Aku tahu itu, tapi mengapa aku harus melakukannya?”
“Karena kalian sudah terikat!”
“Terikat bagaimana?”
“Aku telah menandainya, maka kita telah berbagi jiwa dengan Bella.”
Brian Pradipta duduk terpekur di ruang makan sambil berdebat dengan suara-suara di kepalanya. Ia mengacak rambut karena pusing dengan hal-hal aneh yang diucapkan sosok, entah bagaimana menyebutnya tapi ada di dalam tubuh Brian. Pemuda itu sangat sadar bahwa ia bukan Brian yang dulu lagi.
Awalnya, Brian senang dengan perubahan tubuhnya yang drastis. Jika ia bisa muncul di sekitar manusia mungkin banyak yang akan menyukainya, tapi ia juga harus sadar, berkumpul di antara manusia berarti harus siap menjadi pembunuh keji. Aroma amis manusia sangat menggiurkan, entah sudah berapa manusia yang berhasil ia makan atau sekedar dibunuhnya karena emosi.
“Berhenti meratapi dirimu yang telah berubah!”
“Tapi mengapa harus aku?”
“Hey, aku menyelamatkanmu! Jika aku tidak melakukannya mungkin kau sudah mati!”
“Maka, biarkan saja aku mati!”
Jiwa serigala di dalam tubuh Brian berdecak. “Nak, sudah sebesar apa kau memahami arti perpisahan sampai menganggap remeh sebuah kehidupan?!”
“Jika dihitung dengan tahun di bumi mungkin enam ratus tahun.”
Mendengar itu Brian bergidik ngeri. “Kamu seorang lelaki tua.”
“Ya, itu berarti kau juga lelaki tua!”
“Sialan!”
Ding!
Suara dari microwave membangunkan Brian. Pria itu berdiri memakai sarung tangan kain untuk mengambil makanan yang telah matang.
Sudah tiga hari ini ia memindahkan Bella ke tempat rahasianya. Pria itu di tahun pertamanya menginjakan kaki di Jakarta telah membeli tanah cukup luas. Sifatnya yang tertutup, ia putuskan untuk membangun ruang bawah tanah sebagai rumah keduanya setelah apartemen.
Mengingat hal tersebut Brian sebenarnya tidak ingin menyembunyikan Bella di sini, tapi keberadaan Bella dan dirinya di apartemen pasti sudah diketahui. Sialnya, ternyata Bella sepupu Deyara, gadis yang disukainya selama ini.
“Berhenti memikirkan gadis lain!”
“Mengapa? Aku mencintai Deyara!”
“Kau sudah terikat dengan Bella. Sekarang kau bukanlah manusia yang bisa seenaknya menjamah wanita manapun sesuka hati. Kini kau seorang werewolf. Hidup dan matimu ada di tangan mate!”
“Lalu kenapa kemarin kamu memaksa menandainya? Itu membuat Bella marah dan tidak ingin kusentuh lagi! Bahkan sudah tiga hari dia tidak membuka mulutnya untuk berbicara.”
“Kau menyalahkan tindakanku? Aku harus melakukan itu, karena kita telah menemukannya. Asal kau tahu di dalam tubuhmu ini bukan hanya ada dua jiwa, tapi tiga!”
“Tiga?!”
Brian menaruh semangkuk spageti di atas meja. Ia kembali duduk di bangkunya tadi. Pembicaraan ini harus diteruskan, pemuda itu kembali terpekur dengan tangan bersilang dada. “Katakan semuanya padaku, kumohon... aku benar-benar tertekan akan hal ini.”
“Aku akan menceritakan semuanya jika kau mau menerima kami seutuhnya. Selama ini kau selalu mengelak keberadaan kami!”
__ADS_1
Menghela napas berat, Brian mengangguk. “Oke, tidak ada pilihan lain. Tolong ceritakan Pak Tua!”
“Hah, dasar manusia bodoh!”
Jiwa serigala itu menarik Brian untuk menghadap dirinya. Kini mereka berdua berhadapan.
Jiwa Brian yang ditarik menatap tempat yang ia pijak. Kembali dengan tubuh yang telanjang bulat, Brian berdiri di ruang gelap. Hanya saja ia tidak sendiri, ada seekor serigala silver besar bermata emas, dengan tanda bulan sabit bercahaya biru di dahinya, terlihat begitu agung. Pria itu teringat dengan serigala yang waktu itu menyerangnya.
“Kamu?!”
“Benar Nak, selama ini akulah yang selalu mengajakmu berbicara, perkenalkan aku Mack.”
“Kamu bisa berbicara?”
“Tentu.”
“J-jadi Tuan Mack, bagaimana ini bisa terjadi?”
“Oh, sekarang kau takut padaku?” Serigala itu terkekeh.
"T-tentu saja, siapa yang tidak takut dengan serigala?"
Mack berdecak. “Dengarkan, ini berawal saat aku tiba di dunia manusia. Jiwa manusiaku bernama Daniel telah hancur, sebagai akhir dari ritual yang kulakukan aku bertanggung jawab untuk menyelesaikannya dengan membawa jiwa yang lain. Sebut saja Lycan.”
“Lycan? Dimana dia? Aku tidak melihatnya dan kenapa dia tidak sepertimu yang suka berbicara?”
Mack kembali berdecak, baru tadi ia berpikir Brian takut padanya ternyata tidak berlangsung lama. “Dia tidak bisa berbicara. Alasan kenapa dia tidak terlihat karena ada di belakangku.”
“Di belakang?” Brian hanya bisa menatap latar hitam. Hingga sebuah lingkaran merah di belakang Mack perlahan muncul membuat Brian terkejut. “D-dia?!”
“Ya, dia terlalu besar untuk kau lihat secara utuh. Tubuhku saja hanya sebesar matanya. Ini alasan kenapa aku tidak ingin Lycan mengambil alih tubuhmu di purnama selanjutnya.”
Serigala Mack mulai merebahkan diri.
“Karena saat werewolf telah menemukan mate-nya keinginan untuk mengklaim sangat besar. Akan semakin besar saat bulan purnama, bukankah kau merasa kekuatanmu meningkat di purnama sebelumnya?”
“Benar, ketika sadar ternyata aku telah membantai kelompok pemburu dengan anggota lebih dari dua puluh orang!”
Mack terkekeh. “Saat itu Lycan sedikit mengambil alih tubuhmu. Aku juga berusaha menghalaunya agar tidak mengambil alih seluruhnya.”
“Untuk itu terimakasih.”
“Tidak perlu, lagipula kau sudah menjadi sorotan manusia lainnya. Membiarkan Lycan mengambil alih sama saja mengundang manusia untuk memburumu. Aku tidak ingin identitas barumu diketahui banyak orang.”
Pemuda telanjang bulat itu ikut duduk di hadapan Mack.
“Kembali pada Bella, mengapa aku harus melakukan itu dengannya? Aku tidak mencintainya, ada gadis lain yang kucintai.”
Serigala di hadapan Bella menggeram.
“Sudah aku katakan sebelumnya, kita sudah terikat. Menghianati ikatan mate hanya akan menyiksamu, aku dan Lycan! Atau kau ingin aku mengambil alih lagi, kemudian memperkosa Bella? Tentu dengan senang hati akan kulakukan!”
Brian melebarkan matanya. “Tidak, hal itu tidak akan terjadi! Dia akan bunuh diri kalau kamu melakukannya!”
Mack tertawa sangat keras. “Baiklah, baiklah, bocah polos! Tapi jangan salahkan aku jika Bella tiba-tiba mengalami heat dan kau mengalami rut!”
“Heat? Rut? Apa itu?!”
Suasana berubah seperti semula. Jiwa Brian telah kembali ke tubuhnya. Ruang makan yang disusun sedemikian rupa oleh Brian terpampang nyata. Pria itu terus berteriak pada Mack, tapi serigala itu sama sekali tidak menanggapi. Hembusan napas kembali pria itu keluarkan. Spageti di atas meja ia bawa ke kamar Bella.
Perlahan tangannya memutar kunci dan membuka pintu. Brian pikir Bella sedang tidur, ternyata perempuan itu tengah menyiram tubuhnya di kamar mandi tanpa sehelai benang di tubuhnya. Tentu Brian terkejut. Pemuda itu segera keluar bersama sepiring spageti. Napasnya memburu.
“Hahahaha!!!” Kembali suara dalam kepalanya terdengar.
“Diam!”
“Coba lihat ke bawah!!”
Tidak mempedulikan spagetinya yang jatuh, Brian segera menangkup sesuatu di tengah pahanya yang berdiri tegak.
__ADS_1
“Sialan!! Kamu apakan diriku Mack?!”