Kekasih Monster

Kekasih Monster
Bab 6


__ADS_3

Berjalan menuju salah satu caffe di dekat kampus, Deyara menatap ponselnya. Alex berkata ingin menolongnya menemukan keberadaan Bella yang diculik, awalnya Deyara tidak menggubris bantuan tersebut mengingat Alex termasuk salah satu lelaki yang terobsesi pada dirinya dan selalu mengaku Deyara adalah kekasih pria tersebut pada semua orang.


Perempuan itu menatap sekeliling. Sejak keluar kampus ia merasa ada yang sedang mengikutinya, Deyara berhenti sejenak. Terotoar tidak begitu ramai mengingat jam-jam seperti ini orang masih sibuk bekerja. Mengedikan bahu, Deyara memilih kembali melangkah, hingga sebuah tangan berhasil membekap mulutnya dan menyeret tubuh gadis tersebut masuk ke dalam gang kumuh dipenuhi kotak-kotak tidak terpakai.


“TOLONG!!”


“Sssttt!!”


Orang yang menyeretnya kembali membekap mulut Deyara. Air mata gadis itu meleleh saat mengetahui siapa orang tersebut. Ia mengangguk dengan gemetaran.


“Kak.. k-kamu....”


“Benar Dey i-ini aku, Brian!”


Brian Pradipta dengan tampilan tertutup membuka tudung hoddie-nya. Ia memperhatikan gadis yang disukainya begitu cantik dan manis menggunakan dress yang imut. Sudah sejak lama Brian mengawasi Deyara dari jauh setelah menjadi werewolf, karena ia tahu aroma manusia Deyara akan membuatnya menjadi pembunuh kembali, tapi kali ini ia berusaha untuk menahannya.


Deyata yang tidak nyaman ditatap intens oleh Brian segera mengingat betapa keji pria di hadapannya ini. “Dimana Kakakku Bella?!”


“A-apa?” Brian tersentak, bukan ini yang diinginkan pria itu. Ia terlihat kecewa melihat Deyara dengan mata berkaca-kaca juga penuh rasa marah meneriaki wajahnya. Pemuda itu hanya ingin mengungkapkan perasaannya pada Deyara. “B-Bella siapa? Kamu punya kakak?”


“DIMANA KAKAKKU?! Tidak perlu berlagak bodoh, lo udah culik Bella, dasar kriminal!!”


Mendengar itu bolamata Brian melebar. Netra yang semula berwarna cokelat perlahan berubah menjadi emas dan kuku-kuku di tangannya mulai tumbuh memanjang. Amarahnya keluar begitu saja saat Deyara menguarkan kata-kata tersebut. Brian tidak suka dengan kalimat itu, ia bukan kriminal!


“KAMU!”


Melihat perubahan wujud Brian, gadis itu segera mundur sambil terisak ketakutan. Ia gemetaran bukan main, bibirnya bahkan susah untuk digerakan. Pria di depannya benar-benar menakutkan, bagaimana taring mulai tumbuh di sela-sela mulut Brian. Gadis itu memejamkan mata untuk mengumpulkan energi dan mulai berteriak kencang.


“TOLONG!! SIAPAPUN TOLONG AKU!!”


“DIAM KAMU!!”


Brian berusaha untuk tidak lepas kendali, tapi sangat susah mengingat aroma lavender Bella tidak berada di sekitarnya. Cakar sudah ia naikan akan mengenai Deyara, tapi digagalkan oleh kekuatan asing yang menghantam tubuhnya hingga terpental menghantam tembok gedung.


BLAR!!


Cahaya biru muncul sangat terang berganti dengan tubuh seorang pria berdiri di depan Deyara, melindungi gadis tersebut. Pria itu ternyata Aleisther, menatap tajam pada Brian yang sudah kembali berdiri. Di tubuh pria itu ada luka menganga lebar, Aleisther mengamati dengan cermat dan terkejut saat luka itu menutup dengan cepat tanpa bekas.


“Kau?!” Ingin Aleisther mendekati Brian, tapi pemuda itu segera berlari begitu cepat. Penyihir pria itu mengulurkan tangannya mengeluarkan gumpalan cahaya sihir yang ditembakan dan menyelimuti tubuh Brian. Setidaknya dengan sihir tersebut ia bisa mendeteksi keberadaan Brian. “Akhirnya aku menemukanmu Alpha.”


“Aleisther?”


Penyihir itu menoleh pada Deyara yang super kebingungan. Ia tersenyum kecil pada sosok yang sangat mirip dengan kekasihnya yang telah meninggal. “Sudah tidak apa, kau aman bersamaku.”

__ADS_1


Perempuan berambut panjang meraup wajah, air matanya menetes gelisah. Melihat bagaimana Brian menjadi sangat mengerikan, bukankah itu pertanda bahaya bagi Bella?


“Tadi itu apa? Dia-dia kenapa bisa begitu? Dan kamu, kamu sebenarnya siapa?”


Aleisther mendekati Deyara, meremas kedua bahu gadis tersebut. Ia sangat tahu mengenai kekhawatiran perempuan di depannya. “Deyara maafkan aku, tapi kali ini aku---.”


Belum sempat Aleisther selesai berbicara seseorang tiba-tiba menerjangnya. Penyihir itu terkejut bukan main. Lehernya kali ini dicekik oleh orang yang datang bersama ke dunia manusia dengan mata hitam kelamnya.


“B-beta Sujin a-apa yang kau?!”


“Jangan sentuh Mate-ku!!!”


"Mate?" Aleisther melirik pada Deyara yang terkejut. Bibir pria penyihir itu bergerak. Sebenarnya apa yang menjadi kehendak makhluk langit tentang takdirnya?


...***...


Satu goresan Bella bubuhkan pada dinding batu dengan sendok yang sengaja ia sembunyikan dari Brian. Hari ini tepat tujuh hari ia di dalam kamar tanpa pernah keluar. Tentunya perempuan itu tidak mendapatkan vitamin D karena cahaya matahari belum menjamah tubuhnya sama sekali. Beruntung seminggu ini Brian membelikan beberapa pakaian untuknya, walau tanpa dalaman.


Bella mengambil kain panjang yang menjadi alas ranjang dan menaruhnya di bawah lantai. Kali ini ia akan senam yoga, sudah lama perempuan itu tidak melakukannya, karena terlalu sibuk menjadi wanita karir. Perempuan itu berpikir, setidaknya ia harus beryoga sebelum Brian benar-benar membunuhnya.


Bella mulai meliukan tubuh menghadap kamar mandi yang kebetulan sudah ada pintunya. Entahlah dua hari yang lalu Brian tiba membawa sebuah pintu dan memperbaikinya. Bella tentu masih bungkam pada Brian yang mulai menunjukan wajah frustrasi, karena takut akan ancaman Bella mengenai bunuh diri.


Sejujurnya Bella tidak akan melakukan hal tersebut, tapi Brian yang mudah percaya atau entah bagaimana, benar-benar tidak menyentuhnya sama sekali, ajaib bukan?


“Hah, gue benar-benar perlu waktu luang!”


Hingga pikirannya teralihkan pada sosok penculiknya. “Jika dipikir-pikir Brian manis juga.”


Bella tersenyum kecil mengingat bagaimana pemuda itu yang berusaha untuk mendapatkan maaf Bella. Dari memberi boneka kelinci, membuatkan makanan yang enak, tidak pernah memaksanya lagi, selalu menuruti permintaan Bella walau hanya dengan gerakan isyarat, tapi tetap saja keinginan untuk pulang tidak pernah dituruti, hingga yang terakhir Brian membuatkan dreamcatcher karena Bella selalu bermimpi buruk.


Mungkin pria itu berusaha berbuat baik sebelum melenyapkannya?


BRAK!!


Perempuan itu terkejut dan bangkit melihat orang yang sedang dipikirkan muncul dengan tampilan berantakan dan mengerikan. Bagaimana mulut juga cakar pemuda itu berlumuran darah, pakaiannya terkoyak dengan potongan daging kecil-kecil menempel, serta matanya telah berubah menjadi emas kemerahan.


Bella mundur perlahan, walau ia sudah pernah melihat Brian dalam wujud seperti itu, tentu dengan darah amis yang masih segar membuatnya ketakutan.


“B-Brian?” Bella berusaha untuk membaca situasi. Tangan yang bergetar ia genggam di samping tubuhnya. “BRIAN?!”


Pemuda itu memejamkan mata. Netra cokelatnya kembali seperti semula, ia mencari keberadaan Bella. “Tolong, aku benar-benar membutuhkanmu....”


Melihat wajah memelas Brian, akhirnya perempuan itu mengangguk. Tubuh mungilnya perlahan diselimuti lengan Brian yang hangat dan penuh darah, membuat Bella ingin muntah. Perempuan itu menempelkan hidungnya pada bahu Brian, setidaknya ia bisa bertahan dengan hal tersebut.

__ADS_1


“Aku merindukan baumu!” Brian semakin erat memeluk Bella. Pria itu dengan mata terpejam mengecupi tanda yang hanya bisa dilihat olehnya. Aroma yang seminggu ini hanya lewat di hidungnya segera ia rampas sebanyak mungkin. “Maafkan aku Bella, kumohon... aku tidak bisa hidup tanpa dirimu!”


“Brian....” Perempuan itu merasakan Brian melekat sangat intim pada tubuhnya, bagaimana dada bidang pria itu beradu dengan dadanya yang hanya tertutup kaos. Belum lagi pemuda itu mulai bermain pada salah satu titik sensitifnya. Dengan tangannya Bella mendorong tubuh Brian. “Cukup!”


“Kenapa?” Brian terlihat sangat kecewa.


“K-kamu bau darah!”


Pria itu mengerti. Ia menatap tubuh Bella yang ikut tertempel darah dengan pakaian ketat dan basah dari keringat setelah senam yoga. Melihat pemandangan tersebut membuat Bria berpikir liar. Bella terlihat sexy apalagi dengan noda darah di tubuhnya, sungguh sangat panas dan memikat.


“Liat apaan?!” teriak perempuan itu sengit. Bella menyilangkan kedua tangan di depan dada. “Aku nggak bercanda ya soal ancamannya. Kamu tahu 'kan ada banyak cara untuk bunuh diri?”


Brian menggeram, tangannya menjadi terkepal. Baru saja ia pikir Bella telah melupakan kesalahan yang tentu serigala di dalam dirinyalah yang seharusnya disalahkan, kini sudah kembali pada mode tidak ingin disentuh. Mengamati lagi sosok Bella yang masih menunjukan sikap siaga, Brian memilih keluar dari kamar dan mengunci pintu kembali.


...***...


“Malam ini purnama Brian.”


“Aku tahu!”


“Seharusnya kau bersama Bella untuk meredam jiwa predatormu. Lycan mungkin akan mengambil alih kembali.”


“Hm.”


“Jadi?”


“Aku tidak tahu Mack!”


Pemuda itu berjalan menuju kamar mandinya sendiri. Kedua tangan yang sudah kembali seperti semula membuka seluruh pakaian yang kotor tanah, beberapa potongan daging dan tentunya darah. Keran shower segera Brian nyalakan, tubuhnya yang tegap berotot perlahan diguyur dinginnya air. Pria itu membutuhkannya walau musim pemghuna masih menyelimuti tempatnya tinggal.


“Mengapa dia terkesan menolakku?”


“Bella?”


“Deyara!”


“Sudah berapa kali kukatakan bahwa pasanganmu itu Eunbi! Reputasimu dimata gadis itu sudah buruk dan kau tetap akan mencintai gadis yang sudah mengataimu kriminal? Sama seperti ayahmu itu?”


“DIAM!”


Dinding di hadapannya menjadi korban hantaman. Kepalan tangan pemuda itu begitu kencang mengayun menyebabkan dinding retak. Beberapa darah berjatuhan dari tangannya yang terluka juga dari korbannya bersama tetesan air. Brian mengamati aliran darah tersebut dan tersenyum miring.


“Dia sangat sexy Mack....” Pikiran Brian melayang pada Bella. Darah yang mengalir mengingatkan Brian pada leher perempuan itu yang tertancap cakar karena perbuatan serigalanya. Entah mengapa Bella terlihat menggairahkan jika berselimut darah. “Oh, sial!”

__ADS_1


Netra Brian perlahan berwarna merah gelap. Tatapannya turun pada sesuatu yang telah mengeras di antara kakinya. Ia sangat tahu libidonya kini sedang tinggi. Dengan air yang masing mengucur pemuda itu menempelkan dahinya pada dinding.


Sialan, kegiatan yang selalu dihindari dulu akan menjadi solusinya dalam meredam diri. Lelaki itu mengerang selama tangannya memuaskan diri.


__ADS_2