
Dengkuran halus membangunkan Bella. Perempuan itu perlahan membuka mata dan terkejut saat seonggok pria tengah memeluk dengan kepala menelusup di lekuk lehernya. Bella mencoba menggerakan tubuh, namun tangan Brian semakin erat menenggelamkan tubuh Bella yang mungil. Bella hanya bisa menghela napas.
Perempuan itu mengerling pada jendela yang tertutup rapat. Bisa dipastikan Brian semalam kembali dan melihatnya sudah dalam keadaan pingsan membeku.
Tentang Brian, sebenarnya Bella mengenali pria ini. Sepupunya, Deyara hampir setiap hari bercerita mengenai karya ilmiah juga tentang asisten dosennya yang culun. Karena penasaran Bella akhirnya mencari profil Brian di situs Mandava University.
Ia mendengus. Pria ini yang dipikir manusia lemah, kutubuku berkacamata tebal, kurus krempeng, ternyata bisa menjadi gagah, berotot, kuat dan tampan setelah menghilang selama tiga bulan. Sayang sekali fisik yang kini sempurna membuat Brian menjadi monster pembunuh dengan cakar ditangannya. Mengingat itu Bella meraba pinggangnya.
“Eh?”
Perempuan itu sama sekali tidak merasakan nyeri dan sakit lagi. Bella menyibakan kaos putih tipisnya. Tidak ada luka yang tertinggal, tapi kaos putih? Tunggu dulu, dimana jaket cokelat tebal yang semalam ia kenakan, juga sweter kremnya? Mengapa sekarang hanya kaos putih tipisnya saja?! Dan celana?! Dimana celananya?
Mata Bella kembali mengerling pada Brian yang bergerak.
“Oh, kamu sudah bangun? Aku juga sudah,” ujar Brian dengan suara seraknya.
Bangun katanya?! Bella mendorong Brian agar menjauhinya.
Pria itu terlihat begitu segar dan cerah. Ia bangkit menyangga tubuhnya dan menelusuri setiap lekuk tubuh Bella dengan tatapannya.
Perempuan itu segera menutup mata Brian. “Mesum!! Lo apain tubuh gue?!”
Brian tertawa sambil menyingkirkan telapak Bella. “Nggak ada. Aku cuma buang pakaian yang bisa ganggu tidur kamu.”
“Bukan berarti lo bisa seenaknya!”
Entah keberanian darimana rasa takut semalam hilang begitu saja. Mungkin karena Bella tahu siapa Brian sebelumnya yang hanya mahasiswa tingkat akhir. Mengingat profil Brian umur pria ini bahkan lebih tua setahun darinya, bisa dikatakan Bella lulus lebih dulu.
“Oke, aku minta maaf soal itu. Lagian tubuh kamu indah, sayang kalau disembunyikan saja.”
“Brengsek!!”
Bella akan memukuli Brian, namun pemuda itu begitu gesit mencekal pergelangan tangan Bella. Matanya menatap Bella tajam.
“Tubuh kamu hanya boleh aku yang lihat Bella dan berhenti menggunakan bahasa kasar, kita sepasang kekasih!”
Perempuan itu menggigit bibir bawahnya menahan kesal. Apa-apaan itu? Sepasang kekasih? Bella sama sekali tidak mengerti. Bertemu saja baru sekali bagaimana mungkin Brian mengklaimnya begitu?
“Aku mau buat sarapan untuk kita berdua.”
Dengan begitu Brian tersenyum dan melenggang keluar dari kamar.
Kembali Bella menatap tubuhnya yang terbalut kaos putih tipis dengan ****** ***** kuning kesukaannya. Oh, ayolah ia terlihat seperti korban pemerkosaan saja.
Perempuan itu beranjak mengambil celana panjang dan sweter yang dilempar Brian ke lantai. Bella berjalan mengentak memasuki ruang yang sepertinya kamar mandi.
“Oh, apalagi ini?!!”
Mantan pekerja kantoran itu kembali menggeram saat pantulan dirinya terpampang nyata di depan cermin. Ia menyentuh kulit lehernya dengan banyak bercak merah di sana. Sialan orang itu, seenaknya saja memberi kissmark! Mentang-mentang semalam ia hilang kesadaran, dengan leluasa bisa menjajah tubuhnya.
Bella merasa kehilangan harga diri. Memakai celana juga sweter dengan cepat, air matanya sudah menggenang akan jatuh. Tidak, Bella tidak boleh menangis dulu. Ia tidak akan kalah oleh orang macam Brian, si mahasiswa yang tidak lulus-lulus.
__ADS_1
Wajahnya yang memiliki porsi sempurna; hidung mancung, bibir merah dan bulu mata lentik membuat Bella kembali berpikir. Apa mungkin Brian sudah mengawasinya dari lama? Bukan merasa PD atau ge-er, Bella sendiri hampir tiap hari mendapat pesan dari laki-laki yang tidak dikenalinya untuk diajak kencan.
“Tau darimana dia soal gue? Deyara? Masa sih?”
Bella memilih mencuci mukanya, ia harus bergegas.
Mumpung laki-laki mesum itu sedang di dapur. Bella mungkin bisa mengakses internet dan menghubungi Deyara. Perempuan itu sedikit menyesal mengenai ponselnya yang terjatuh.
BRAKK!!
PRANK!!
PYAAR!!
Air yang mengucur dari kran wastafel bergeser. Bella sedikit terkejut dengan suara berisik dari luar. Ia mengambil salah satu handuk Brian dan menepuk-nepuk wajahnya. Kegiatannya untuk meminta pertolongan harus terjeda. Bella bergegas menuju dapur di mana suara itu berasal.
“ASTAGA!”
Di depan sana Brian mengangkat kursi kayu yang akan dilemparkan pada kompor dengan teflon di atasnya. Pria berambut agak gondrong itu bernapas pendek-pendek, matanya menatap nyalang, dan rahangnya mengeras, menandakan Brian tengah diselimuti amarah.
Bella yang sudah berpakaian lengkap berlari menghadang Brian. “Tenang, oke? Tenang Brian....”
Pemuda itu memejamkan mata menghirup aroma lavender yang ia kenali. Napasnya menjadi stabil, detak jantungnya sudah tidak berdentum cepat, kursi kayu perlahan turun. Brian menatap Bella dengan mulut terkatup.
“Lo-kamu ini kenapa?! Brutal banget jadi orang!”
Brian menunjuk teflon di atas kompor yang menyala. “Menteganya lama meleleh. Aku mau goreng telur!”
“Ya Tuhan...”
Bella mendorong tubuh Brian agar duduk di kursi yang hampir menjadi barang rongsokan. “Tunggu di sini. Biar aku yang buat.”
Mau bagaimanapun sekarang Bella ada di tempat yang sama dengan Brian. Jika pria ini bisa menyebabkan kebakaran sudah pasti dirinya akan ikut menjadi salah satu korban terbakar.
Brian hanya mengangguk. Pemuda itu mengamati punggung Bella yang sibuk memecah telur di atas teflon.
Perempuan ini entah mengapa terlihat menggoda untuknya mendekat, menyibak rambut panjangnya ke samping dan menghirup bahkan menciumi lehernya yang putih mulus.
Hmmm...
“Brian berhenti!!”
Pria itu terkekeh. Apa yang ada dalam fantasinya ternyata telah ia lakukan dan Bella pasti akan mengamuk.
...***
...
Keduanya sedang menikmati sarapan yang tadinya ingin Brian buat berakhir Bella yang meyelesaikannya. Roti panggang dengan telur mata sapi di atasnya terasa begitu menggoda. Bella mengamati Brian yang lahap memakan sarapannya.
Mengingat bercak merah di lehernya ia jadi sengit pada pria ini. “Kenapa kamu lakuin ini sama aku?!”
__ADS_1
“Apa?”
“Ini, ini, ini, ini, astaga banyak banget!!”
Brian menatap beberapa tanda merah di leher Bella dengan datar. Semalam saat ia tiba ke kamar, tubuh Bella begitu dingin tidak sadarkan diri. Segera ia menutup jendela balkon. Bahkan luka akibat cakarannya pun tidak diobati.
Awalnya ia menjadi panik, tapi suara di kepalanya menyuruh agar Brian menjilat luka Bella. Ajaibnya luka tersebut menyusut, menghilang tanpa bekas. Hal yang lain juga terjadi karena perintah suara-suara dalam pikirannya.
“Dia bilang aku harus menandai kamu. Aku nggak tahu maksudnya, jadi aku lakuin gitu aja sama kamu. Tapi dia tetap nggak terima.”
“Dia siapa?”
“Suara di kepala aku. Dia berisik, menyuruh melakukan banyak hal yang kadang di luar nalar seperti menjilat luka di pinggang kamu.”
“Apa?! Me-menjilat?!”
Bella jadi tidak napsu makan lagi. Piringnya yang masih tersisa setengah porsi segera ia dorong. Mungkin dugaannya benar, laki-laki ini tidak waras karena kebanyakan ilmu dari internet itu. Bahkan sudah menjurus ke skizofrenia. Apa yang harus Eunbi perbuat? Tetap mencari cara agar bisa keluar dari tempat ini atau....
Perempuan itu kembali menatap wajah Brian yang terlihat penasaran dengan pemikirannya.
“Perut kamu udah kenyang ya?” tanya pemuda itu.
Bella mengangguk. Ia kembali terpekur. Deyara sering bercerita mengenai Brian, walau hanya via telepon ia bisa membayangkan betapa menderitanya Brian menjadi korban bullying.
Mendengar cerita Brian semalam dimana ia memakan biskuit buatannya sendiri, menimbulkan percikan empati di hati Bella. Memang kemana keluarganya? Apa ia tidak memiliki teman? Yang Bella tahu hidup sendiri tidaklah enak.
“Brian?”
“Iya?”
“Kenapa kamu nggak pakai baju?”
Pemuda itu menyentuh tubuhnya yang berotot. Jika tidak dalam keadaan seperti ini sudah dipastikan Bella akan dengan senang hati berteriak histeris pada barang bagus. Hanya saja statusnya kali ini menjadi korban penculikan. Huft!
“Aku nggak tahu. Setelah keluar hutan tubuhku jadi panas. Aku pikir demam, ternyata bukan.”
Bella mengangguk. Ia menatap Brian lama dan menggigit bibir bawah ragu. “Brian, bisa nggak kamu antar aku ke tempat pertama kita bertemu semalam? Aku mau pulang!”
Mendengar itu Brian menggeram. Ia tidak senang dengan ungkapan Bella. “Nggak. Kamu harus tetap bersamaku!! Kalau kamu ingin pulang di sinilah tempatnya!!”
Sudah diduga akan mendapat penolakan. Bella mendengus. “Kenapa sih?! Karena aroma aku?! Bahkan aku nggak pakai parfum lavender! Kamu egois Brian! Aku juga punya kehidupan sendiri!!”
“Argh!! Diam!!”
Brian menarik-narik rambut kepalanya yang begitu sakit. Suara di kepalanya terus berteriak meminta Bella untuk tidak jauh darinya. Brian tahu dirinya egois tapi ia membutuhkan keberadaan Bella di sisinya. Hanya perempuan ini yang bisa membuatnya lebih normal.
“B-Brian?!”
Bella melihat Brian kesakitan bergegas menarik tangan pria itu, bisa-bisa rambutnya menjadi botak. Ia menangkup wajah Brian yang memerah dengan mata berkaca-kaca.
Pria ini kenapa? Awalnya Bella pikir Brian membentaknya, namun Bella segera sadar bahwa Brian sedang mengontrol suara-suara di kepalanya sendiri.
__ADS_1
Bella tidak tega, dipeluk pemuda itu yang segera mencari ketenangannya.
“Maaf Bella, maaf... aku nggak bisa,” lirih Brian di leher perempuan bersweter krem. “Jauh dari kamu sangat mustahil. Lebih baik aku cabut jantungku dengan cakar kotor ini dari pada jauh sama kamu. Aku nggak sudi jadi monster lagi....”