Kekasih Monster

Kekasih Monster
Bab 3 (Part 1)


__ADS_3

“Kau harus menandainya sebelum bulan purnama!"


"Kenapa aku harus?"


"Karena kau harus, hal buruk akan terjadi jika kau tidak melakukannya!"


"Apa yang kamu maksud menandai? Aku harus mencoret tubuhnya dengan spidol?"


"Bodoh!"


"Hey, beraninya! Kamu ini sebenarnya siapa?!"


"Sudah aku katakan berkali-kali bahwa aku adalah kau!"


"Jika kamu itu aku, mengapa kita bisa berbicara satu sama lain dengan kepribadian berbeda?"


Brian Pradipta hanya menggunakan hoddie abu-abunya berjalan menyusuri jalan setapak. Langkah kakinya menuju salah satu minimarket di dekat apartemennya. Sekarang ia tidak tinggal seorang diri lagi, ada Bella yang terkurung di dalam apartemennya, sehingga ia berinisiatif membeli beberapa keperluan perempuan.


Pintu minimarket telah terlihat. Pemuda itu mendengus saat suara-suara dalam kepalanya telah menghilang. Sampai sekarang ia tidak mengetahui apa yang terjadi pada tubuhnya. Beberapa informasi di internet tidak membuahkan banyak hasil, ke perpustakaan pun hanya akan membuatnya mencolok. Siapa menduga Brian Pradipta yang menghilang selama tiga bulan kembali muncul sebagai seorang pembunuh?


"Selamat datang di toko kami!"


Sebuah suara menggema dari arah spiker di dekat pintu. Mata tajam Brian menatap sekeliling. Ada beberapa pembeli yang sedang mengantri untuk membayar juga karyawan dan karyawati di beberapa sudut.


"Cowok itu ganteng banget!"


"Kira-kira apa yang dia cari?"


"Mungkin ******?"


"Otak lo ya!"


Mendengar percakapan beberapa karyawati yang terus memperhatikannya dengan senyum menggoda membuat Brian menggeram. Ia tidak suka bau manusia-manusia itu, begitu memuakan. Andai saja ia tidak teringat akan wangi lavender Bella sudah dipastikan minimarket ini menjadi tempat pembantaian selanjutnya.


"Ada yang bisa Saya bantu Kakak ganteng?"


Brian menoleh. Ternyata salah satu karyawati tadi. Ia mendengus. "Aku mencari hal yang penting buat perempuan."


"Perempuan? Hal apa Kak?"


"Pembalut."


"Oh!" Karyawati itu sedikit terkejut, namun segera membimbing Brian menuju rak yang penuh pembalut berbagai merek. "Kakak pasti beli buat ibunya ya? Atau kakak punya saudara perempuan?"


Pemuda itu mengerutkan kening mendengar pertanyaan tersebut. Ia menyentuh kepalanya yang mendadak berkedut. Bibir merahnya mulai bergerak tanpa mendapat perintah darinya.

__ADS_1


"Untuk istriku, Bella!"


"O-oh... istri...."


Pria berambut agak gondrong itu menjadi terheran-heran. Bukan hanya bibir, namun tubuhnya bergerak tanpa perintah darinya. Ia mendongak dan menatap sekeliling. Semuanya menjadi gelap, hanya ada layar menampilkan apa yang seharunya dapat ia lihat secara langsung. Pria itu menatap tubuhnya yang telanjang. Bagaimana mungkin?


"Bingung Sobat?"


Brian menatap sekeliling. Suara yang sangat ia kenali menggema dari segala arah. "Kamu?! Bagaimana bisa?!"


"Aku menggantikanmu, sekarang tidurlah. Kini giliranku untuk bertemu Mate-ku."


...***


...


Di dalam apartemen yang lumayan besar Bella mencari sesuatu untuk mencongkel lima belas gembok yang terpasang di pintu utama apartemen. Sialan laki-laki itu, ternyata selama ini orang itu selalu naik lewat balkon karena pintunya terkunci rapat. Beruntung baginya, Brian sedang pergi, komputer pemuda itu ia manfaatkan untuk mengabari Deyara. Beberapa email telah ia kirim, semoga saja Deyara membacanya.


Ia duduk di sofa mulai meratapi nasib. Tidak ada tuas atau apapun yang bisa membuka gembok-gembok itu. Brian benar-benar psikopat, ia terlihat ahli dalam menyembunyikan korbannya.


Kira-kira sudah berapa orang yang berhasil diculik? Melihat apartemen hanya berisi dirinya juga Brian, sepertinya orang-orang yang diculik berhasil kabur? Atau tempat ini khusus hanya untuk Bella dan korban yang lain Brian taruh di tempat lain?


Atau, jangan-jangan jika waktu yang telah ditentukan tiba korban-korban yang diculik Brian akan dipertemukan dan dibunuh bersamaan seperti di film-film?!


"Tuhan, jangan sampai hal itu terjadi!!!"


Bella menatap ke arah kamar Brian. Sebuah suara membuatnya tesenyum. Segera ia berlari ke sana.


"Deya! Dia mau pakai Skype?"


Perempuan itu segera mengiyakan ajakan Deyara. Tidak perlu menunggu lama terpampanglah wajah sepupunya yang terlihat sangat khawatir dengan air mata merembes kemana-mana. Bella pun ikut menangis. Belum pernah ia dalam situasi seperti ini, diculik seorang pembunuh yang mesum!


"Kak!!! Hiks, akhirnya gue bisa lihat lo lagi!!"


"Nggak Dey, lo bakal lihat gue lagi dengan syarat lo harus bisa bebasin gue dari sini!"


"Kak, gue udah lapor polisi, mereka bilang dalam proses. Gue nggak tahu apa mereka benar-benar ngelakuinnya. Gue takut hal yang buruk bakal terjadi sama lo!"


"Oke Dey, untuk saat ini gue nggak kenapa-napa, tapi lo nggak ngasih tahu orangtua gue soal ini 'kan?"


Deyara di sana menggeleng masih dengan air matanya. "Kak, gue harus gimana?"


Bella menggigit bibir bawahnya dan menatap sekeliling.


"Bilang sama polisi kalau gue ada di salah satu apartemen di dekat mantan kantor gue. Nggak tahu tepatnya dimana, cuma lo bisa ngasih informasi unit yang dijadikan tempat mengurung gue berada di lantai cukup tinggi, pintunya nggak bisa dibuka dari luar, karena digembok dari dalam!"

__ADS_1


Sepupunya mengangguk-angguk membuat Bella sedikit lega, sebentar lagi ia akan selamat. Selanjutnya ia harus mengulur waktu agar Brian tidak membunuhnya seperti yang ada dalam pikirannya.


Perempuan yang masih memakai pakaian lamanya tesenyum sebagai salam perpisahan dan mulai menggerakan kursor untuk menutup software sebelum Brian kembali, namun suara geraman dari arah balkon membuatnya tercekat. Salivanya ia telan dengan susah payah. Matanya menjadi gelisah, membuat Deyara yang masih terhubung terus bertanya dengan panik mengenai keadaan Bella yang berubah.


"Mencoba kabur Mate?"


"B-Brian, a-aku cuma---"


Suara Bella terhenti saat tangan bercakar milik Brian menarik monitor dan membantingnya. Kabel yang masih dialiri listrik mengeluarkan percikan api membuat Bella mundur teratur. Rencana untuk kabur telah diketahui Brian lebih cepat dari yang perempuan itu duga.


Sosok dengan mata emasnya mendengus menatap perangkat komputer milik Brian telah hancur. Ia berbalik menatap miring pada Bella yang mengigil ketakutan. Sosok ini bukan Brian yang berhati lemah. Ia tidak suka jika ada yang melawan keinginannya, bahkan jika itu mate-nya sendiri.


"Kau takut, Manusia?"


"Lo, lo si-siapa?! Dimana Brian?!"


"Dia sedang tidur Mate."


Bella semakin mundur saat sosok itu berjalan mendekat hingga kakinya terhenti pada kaki ranjang. Tangannya terkepal kuat meredam rasa takut. Matanya masih menatap sosok selain Brian yang semakin mendekat dan menghimpit tubuhnya. Napas Bella menjadi tercekat, sosok ini benar-benar mengintimidasi.


"Kau adalah sumber kehidupanku Mate...." Sosok itu mengelus lengan Bella dengan sebelah tangannya. Perlahan naik pada leher jenjang perempuan itu. Ia tersenyum sinis dan mencekik Bella kuat. "Dan sumber kematianku!!!"


"Akh... to-long, le-phass... akh!"


Perempuan dengan sweter kremnya memukul-mukul tangan Brian yang mencekiknya dengan cakar menancap di sana. Darah mengalir, oksigen semakin susah Bella raup, tubuhnya perlahan menjadi kebas, entah hanya halusinasi atau bagaimana perempuan itu bisa melihat malaikat pencabut nyawa tidak jauh darinya.


"Tidak untuk kali ini!"


Sosok itu melepaskan cengkramannya pada leher Bella. Perempuan itu limbung di atas ranjang. Melihat Bella menggelinjang meraup oksigen sebanyak mungkin, dengan tangan menggenggam luka berdarah-darah, sosok itu menjadi terkekeh. Ia menarik tubuh Bella untuk lebih nyaman tidur di atas bantal.


"A-apa yang akan lo lakukan?!"


"Menandaimu Mate."


Bella bisa merasakan kedua tangannya dikunci di atas kepalannya. Perempuan itu berusaha berteriak dan memberontak, namun kalah kuat. Ia menjadi terisak saat sosok itu mengecup dahi, kedua kelopakmata, hidung, pipi dan bibirnya berkali-kali. Lehernya yang masih mengeluarkan darah walau sakit berusaha ia gerakan ke kanan-kiri saat sosok ini mulai mengecupi dan menjilatinya.


"Berhenti Mate, aku berusaha untuk menyembuhkanmu!!"


"Tolong jangan lakukan itu sama gue!!"


Sosok itu terkekeh. "Brian sangat bodoh Mate. Jika dia yang menandaimu mungkin akan sedikit lebih lembut tapi tidak denganku. Maafkan aku Mate."


Isakan Bella semakin pilu. Lehernya yang perlahan pulih tidak membuatnya menjadi tenang. Perempuan itu mulai merasakan bagaimana hidung Brian menelusuri lehernya dan menjilati pada satu titik tersensitifnya dengan lembut. Ia mengigit bibir bawahnya ketika sosok ini menyedot lehernya kencang. Eunbi mungkin akan terlena dengan tindakan makhluk ini, namun airmatanya kembali menetes saat rasa sakit kembali ia rasakan.


Taring tajam sosok pengganti jiwa Brian mulai menancap pada titik aroma lavender, campuran kayu manis, dan petrichor yang menguar pada tubuh Bella. Dari taringnya keluar cairan tercampur bersama darah Bella.

__ADS_1


Setelah selesai sosok itu menarik taringnya dan menjilati darah yang keluar dari leher putih Eunbi. Luka perlahan menghilang tergantian dengan simbol bulan sabit. Sosok itu tersenyum senang karena berhasil menandai Bella.


Perempuan itu menarik napasnya dengan lelah. Rasa sakit perlahan mereda. Kelopak matanya menjadi berat dan kegelapan mulai menarik kesadarannya


__ADS_2