Kekasih Monster

Kekasih Monster
Bab 1 (Part 1)


__ADS_3

Sebuah ruangan di salah satu kastil terdengar sangat riuh. Seseorang yang sebelumnya dipanggil mencoba curi dengar pembicaraan para tetua dan petinggi kerajaan sedang berdiskusi sengit.


Pendengaran Vir Sujin yang tajam membuatnya terpejam merasakan sakit kepala karena beberapa orang di dalam saling berteriak.


“Cukup!!!”


Sujin bergegas memasuki ruang tersebut. Orang-orang saling melirik segera menundukan wajah. Mereka mulai duduk kembali di kursi masing-masing dengan tenang.


Sujin berjalan perlahan dan ikut duduk di kursi sebelah Ayah-ibunya.


Ayah Sujin memberikan perhatian penuh pada Putranya. “Kebetulan anak Saya sudah datang. Nyonya Delphi, silakan utarakan pendapat Anda.”


Seseorang yang memiliki nama Delphi segera berdiri memberikan salam pada Sujin. Perempuan ini salah satu tetua yang sangat disegani anggota lainnya.


Sujin mengangguk mempersilakan.


“Terimakasih atas waktunya. Sebelum itu kita semua tahu bahwa kerajaan telah kehilangan tiga sosok yang sangat penting; Alpha, Luna dan juga penerus Alpha akibat perang besar sepekan lalu. Jasad Luna dan calon Alpha telah dikebumikan. Namun, yang menjadi misteri adalah kehilangan Alpha tanpa menemukan tanda-tanda keberadaannya, tidak ada jasad atau lainnya,”


Delphi menatap Sujin yang masih menunjukan ekspresi tajamnya.


“Pendapat Saya Tuan Sujin, Alpha adalah Alpha dari para Alpha di dunia, kelemahannya hanya satu, kematian belahan jiwanya. Ini akan membuat Crestmoon Pack dianggap lemah karena tidak ada yang memimpin.”


Dalam kerajaan ini Alpha adalah istilah untuk pemimpin mereka. Delphi menyebut pemimpinnya di atas para Alpha karena Crestmoon Pack membawahi beberapa pack kecil lainnya.


“Jadi? Apa inti dari pembicaraanmu Nyonya Delphi?”


Wanita itu tersenyum. “Maaf Beta Sujin jika Saya terlalu bertele-tele. Hanya saja kau adalah Beta penerus ayahmu. Ikatan seorang Beta dengan Alpha begitu kuat, jadi Saya mengusulkan Anda untuk mencari keberadaan Alpha.”


Beta sendiri memiliki kedudukan pertama dibawah Alpha dan menjadi tangan kanannya.


Sujin menarik napas. “Bukankah Anda sendiri yang berkata bahwa kelemahan Alpha adalah kematian mate-nya? Jadi, Anda ingin Saya mencari mayat Alpha begitu?”


Ucapan Sujin membuat beberapa anggota rapat terperangah tidak terima.


“Jaga ucapan Anda Beta Sujin!” ujar salah satu tetua.


Dengusan keluar dari penerus Beta.


Ayahnya menghembuskan napas dan mulai bersuara. “Tidak ada yang tahu apakah Alpha benar-benar wafat atau masih hidup. Legenda mengatakan kelemahan King Alpha hanyalah kematian belahan jiwanya.”


Pria tua dengan tubuh ringkihnya menatap Sujin dengan wibawa seorang Beta. “Kami tidak ingin kau mencari mayat Alpha anakku, yang kami inginkan adalah kau mencari Alpha baru untuk kita.”

__ADS_1


BRAK!!


“Bagaimana aku bisa mencarinya?!” Sujin menggeram marah, bolamatanya telah berubah menjadi hitam kelam.


“Tenang, Nak....” Ibunya berusaha menenangkan Sujin.


Delphi tersenyum maklum. “Penyihir Agnes sebelumnya telah mencoba mencari keberadaan Alpha dengan sihir. Aura ungu menguar di tempat terakhir Alpha berada. Menurutnya Alpha menggunakan sihir teleportasi, Beta. Kami memiliki sedikit petunjuk untuk mencari keberadaan Alpha.”


“Lalu? Aku harus berteleportasi dimana Alpha berada begitu? Kau tahu sendiri bahwa aku tidak bisa memakai sihir?”


Seseorang yang sedari tadi diam pun bersuara. “Alasan mengapa aku hadir di sini!”


Semua orang menoleh pada sumber suara. Seorang pria dengan jubah cokelat tuanya mulai membuka tudung. Ia memberi senyum pada semua orang di ruang rapat tak terkecuali Sujin.


Vir Sujin menatap heran. “Siapa kau?”


“Agnes sedang ada urusan, dia tidak bisa membantu terlalu banyak, jadi solusinya dia mengirimku untuk membantumu Beta Sujin.” Orang itu berdiri. “Perkenalkan Saya White wizard, Aleisther!”


...***...


Udara di musim penghujan membelai kulit Bella Wicaksana yang tidak tertutup sempurna oleh jaket cokelat berbulunya. Perempuan itu menggenggam ponsel di telinganya dengan gigil. Malam hari seperti ini paling enak bergelung di bawah selimut, menonton serial drama dan meminum segelas cokelat panas. Membayangkan saja sudah membuat matanya berbinar, tapi kali ini ia hanya bisa membeli segelas kopi hangat dari minimarket di pinggir jalan.


“Beneran Kak! Penelitian gue jadi berhenti sementara. Beruntung gue bisa selesaiin sendirian walau lebih lama.”


Bella menghela napas. “Deyara, lo masih beruntung. Beda lagi sama gue.”


“Emang lo kenapa Kak?”


Perempuan jaket cokelat itu mulai meneguk kopi sambil berjalan menuju kos-kosan kecil yang tidak terlalu jauh. Beberapa air mulai turun dari langit membuat jejak kakinya semakin dipercepat. Sebaiknya ia harus segera kembali, langit malam semakin kelam saja sepertinya akan turun hujan lagi.


“Gue dipecat Dey!”


“Serius?! Dipecat? Gimana bisa Kak? Bukannya lo termasuk salah satu karyawan yang rajin ya? Lo sering cerita kalau manajer suka muji-muji lo.”


“Itu dulu Dey, sebelum kejadian tadi buat dia marah.”


“Kejadian apa?”


Bella menghentikan langkahnya. Ia merasa leher belakangnya sedang dibidik. Perempuan itu menoleh dan tidak menemukan siapapun di sekitar tempatnya berpijak.


Ingatannya memutar pada beberapa berita yang sering ditayangkan televisi mengenai kasus pembunuhan berantai. Sampai sekarang pelakunya belum ketemu, bahkan wujudnya saja tidak ada yang bisa mendeteksi.

__ADS_1


Apakah kejadian pembunuhan itu akan terulang lagi? Bella tahu ia baru dipecat, tapi bukan berarti nyawanya juga akan melayang. Perempuan itu masih ingin melanjutkan hidup, mencari pekerjaan, dan bertemu lelaki tampan untuk dinikahi.


Memang sebaiknya ia harus cepat sampai.


“Kak Bell? Lo masih di sana?”


“Em, Deya gue ada di jalanan yang sepi. Tetap temanin gue ya?”


“Oke, Kak. Gimana kalau kita lanjutin obrolan yang tadi? Kenapa lo dipecat?”


“Oh, itu. Gue menduga ada seseorang yang udah sabotase data keuangan yang gue kerjain Dey. Kebetulan manajer waktu itu ngasih kepercayaan ke gue buat proyek kali ini. Semua udah gue kerjain, tapi data yang ter-input bukan seperti data yang gue kerjakan.”


“Jahat banget. Siapa kira-kira yang udah tega ngelakuinnya Kak? Lo punya musuh?”


“Entah, Dey... Walau gue selalu berpikir baik-baik saja ngelakuin ini-itu, tetap saja siapa yang bisa membaca pikiran setiap orang di sekitar gue?”


“Benar sih, tapi sayang Kak, lo udah kerja selama setahun di sana. Untuk fresh graduate dengan lulusan tercepat lo seharusnya jadi primadona sih Kak.”


“Mungkin bukan jodoh gue aja.”


“Kalau gitu apa lo udah dekat sama tempat tinggal lo?”


“Oh, bentar lagi, tapi gue merasa ada yang ngawasin gue.”


“Kak, itu bahaya! Siapa tahu itu orang jahat? Atau mungkin orang yang sama yang udah sabotase kerjaan lo? Harus lapor polisi!!”


“Gue rasa nggak perlu sebentar lagi sam—--akh!!”


Ponsel dalam genggaman Bella terjatuh. Perempuan itu terperanjat saat tubuhnya dipeluk seseorang dari belakang begitu erat. Napasnya memburu dan keringat dingin mulai menetes ketika orang itu menelusupkan kepalanya di antara lekukan leher Bella, menghirup aromanya dalam.


Siapa orang ini? Apa maunya? Apakah ia si pembunuh itu?


“Kamu bau lavender, tidak, ini seperti kayu manis, hm... mungkin sedikit aroma tanah kering yang terkena air hujan. Kamu sangat menenangkan.”


Bella mulai memejamkan mata. Ia tidak boleh panik, beberapa penelitian mengatakan rasa panik menjadi salah satu hal yang diincar oleh orang-orang seperti ini. Bagaimanapun ia harus terbebas dari orang ini perlahan.


“Anda si-siapa?”


Orang itu terkekeh. Ia membalikkan tubuh Bella agar menatap wajahnya. Bolamata perempuan itu melebar membuat orang asing ini tersenyum. Ia mengelus wajah putih dan lembut milik Bella pelan, seakan kulitnya terbuat dari kristal yang mudah pecah.


“Kamu harus ikut Saya!”

__ADS_1


__ADS_2