
Dua orang dengan kain sutra---sebagai identitas baju kerajaan---muncul dari sebuah portal berselimut warna ungu. Mereka menelusuri hutan tempat mereka mendarat. Tempat ini begitu berbeda dari dunianya. Aromanya lain dan tidak pernah ada dedaunan berwarna hijau seperti ini.
Di kerajaan mereka dedaunan memiliki banyak warna, namun hijau bukan sebagai warna mayoritas. Sedangkan hujan pun tidak ada di kerajaan, musim di dunia kerajaan hanya ada dua panas dan bersalju.
Melihat hutan yang sangat berbeda juga becek penuh lumpur membuat keduanya heran.
“Tempat apa ini?”
“Entahlah Beta, tapi yang jelas ini bukan di dunia kita. Di sini sangat dingin!”
Tentu saja, hujan baru saja turun dengan derasnya. Bahkan beberapa pohon ikut tumbang akibat terjangan angin yang ikut serta bersama hujan.
“Maksudmu dunia lain?”
“Beberapa buku yang kupelajari terdapat beberapa semesta yang saling berdampingan dan sulit untuk digapai. Aku sendiri kagum bagaimana Alpha bisa menembusnya. Beruntung energi sihir yang tersisa milik Alpha bisa kita manfaatkan untuk tiba di sini.”
“Kau yakin itu sihir milik Alpha?”
“Tentu. Penyihir Agnes termasuk penyihir kelas atas.”
“Baiklah, untuk selanjutnya apa kau bisa melihat sihir Alpha lagi di sekitar sini?”
“Aku bisa melihatnya samar. Apa kau bisa mencium aromanya Beta Sujin?”
Vir Sujin memejamkan mata. Dahinya mengkerut. “Tidak, aku hanya mencium banyak bau air. Apa tempat ini terbuat dari air?”
“Mungkin saja.”
Aleisther menatap heran pada Sujin yang sama sekali tidak merasa kedinginan seperti dirinya. Sudah pasti salah satu ability yang dimiliki kaum werewolf. Aleisther mulai merapalkan sihir untuk meningkatkan suhu tubuh. Ini tidak akan bertahan lama, tapi bisa sedikit membantu.
“Kalau begitu kita telusuri jejak sihirnya!”
__ADS_1
“Hm.”
Keduanya berjalan perlahan menyusuri hutan. Sesekali kaki mereka terjebak di antara lumpur, mengingat hujan baru saja turun. Beberapa kabut juga seakan menghalangi langkah mereka. Hingga sampailah pada titik terakhir di mana aura ungu berada. Bisa disimpulkan, di sinilah tempat terakhir Alpha menggunakan sihir.
Sang Beta menatap sekitar. Hutan lebih sunyi dari dugaannya. Mungkin banyak air yang menggenang membuat segala aktifitas hewan terhenti. Ia kembali mencoba berkonsentrasi menemukan aroma Alpha. Berkat bantuan jiwa serigalanya, Sujin sedikit mendapat petunjuk. Aroma Alpha bisa tercium walau samar.
“Di sana!”
“Huh?”
Aleisther mengikuti Sujin bergegas menuju salah satu pohon besar. Ia heran ketika Beta itu menggali tanah lumpur dingin di sekitar pohon. Apa yang sedang dilakukan? Pria itu memincing saat potongan kain basah yang terkoyak berhasil Sujin temukan. Kain itu milik siapa? Jelas bukan terbuat dari sutra.
“Aroma Alpha ada pada kain ini!”
“Kau serius Beta? Tapi itu bukan kain dari kerajaan.”
“Memang,” Sujin mengendus kain tersebut. “Ada aroma lain!”
“Sama sekali tidak.”
White wizard di sebelah Sujin mengambil sebuah botol dari tas kainnya. Botol itu berisi minyak dihasilkan dari inti sari tubuh vampir. Makhluk seperti mereka memiliki keahlian melihat masa lalu. Maka Aleisther memanfaatkannya walau terlarang.
“Darimana kau mendapatkannya?!” tanya Sujin ketus. Ia tahu minyak tersebut dari aroma yang busuk.
“Hehe, aku membelinya di pasar gelap. Benda seperti ini juga penting Beta.”
“Akan kuhitung sebagai kesalahan. Setelah tugas ini selesai, kau harus menerima hukumanmu Aleisther.”
“Iya aku tahu.”
Penyihir pria itu merampas kain di tangan Sujin dan mengolesi minyak di sana. Ia memejamkan mata sambil merapal sebuah mantra dan *******-***** kain tersebut. Beberapa kilas kejadian menelusup di penglihatannya. Sungguh seperti memutar film monokrom yang ekstrim, bahkan pelipis Aleisther meneteskan keringat walau udara begitu dingin.
__ADS_1
“Bagaimana?!”
“Aku melihatnya,” Penyihir Pria masih memejamkan mata dan meremas kain basah di tangannya. “Alpha dalam bentuk serigalanya tengah sekarat dengan luka di sekujur tubuh. Tapi ada gerombolan tiba melempar tubuh seseorang dari atas jurang, di sana!”
Melihat arah telunjuk Aleisther, Beta sedikit heran. Memang di tempat mereka ada tebing yang cukup tinggi hanya saja Aleisther menunjuknya masih dengan posisi mata tertutup dan meremas kain.
“Apa lagi?”
“Gerombolan itu pergi setelah memastikan tubuh yang mereka lempar sudah tidak bergerak. Hanya saja mereka salah, tubuh itu masih hidup dan Alpha melihat dengan jelas. Beliau mendekat membuat orang itu ketakutan dan mulai menyerangnya!”
“Menyerang? Maksudmu Alpha menyerang? Mengapa?”
“Itu... oh, sial!” Aleisther membuka matanya dengan terengah. Ia menatap gelisah ke arah Sujin yang menunggu penjelasan penyihir itu. “Alpha telah melakukan ritual pertukaran!”
“Maksudmu? Apa itu pertukaran? Ritual?”
“Intinya segala hal yang ada pada tubuh Alpha, beliau serahkan pada orang yang diserangnya! Alpha telah melebur dan menyatu pada orang tersebut. Sebagai gantinya beliau secara fisik telah mati.”
“T-tapi bagaimana bisa?”
“Ritual itu sangat sulit dan terlarang. Sama halnya dengan beliau yang bisa menjangkau semesta lain. Aku rasa beliau telah mempersiapkannya dengan matang jauh sebelum perang terjadi.”
Pria Beta itu berdecak. “Kau melihat wajah orang itu?”
“Tentu!”
Angin bertiup membuat Aleisther bergidik. Sihirnya ternyata telah habis, memang memerlukan banyak energi apalagi saat menembus kejadian lalu dari energi yang tertempel di kain basah tersebut. Tubuhnya menjadi menggigil kembali. Kain itu ia serahkan pada Sujin.
“Beta, sepertinya pencarian ini akan menjadi lebih lama. Kita perlu tempat sebagai markas.”
Selain itu keduanya sudah sangat kotor apalagi Vir Sujin yang kedua tangannya dipenuhi lumpur. Mungkin jika mereka bertemu penduduk bumi akan ditertawakan.
__ADS_1
“Kau benar!” Manusia serigala itu meremas kain di tangannya. “Kita cari orang itu dan membawanya pulang.”