KENANGAN LALU

KENANGAN LALU
11). Belajar suka...


__ADS_3

"Gue nggak ngambil langkah yang salah kan, kalo nanti gue malah buat dua sakit hati gimana? entar dia benci lagi sama gue, tapi gue emang lagi belajar suka sama dia, semoga kalau emang pada akhirnya aku tak menerima nya dia bisa mengerti keadaan gue", gumam Shirin.


Akhirnya Shirin memilih pulang karena sudah tak ada lagi urusan maupun pelajaran. "Pulang aja deh", ucap nya sambil membuka pintu mobil.


"Woi Rin !!! loe kok ninggalin gue sih, nanti gue pulang nya jalan gitu, kan nggak etis", ucap seorang wanita dengan suara nya yang melengkin, ya siapa lagi kalau bukan Via yang muncul entah darimana dan langsung mengoceh.


"Oh iya lupa aku bawa loe"


"Ya ampun, loe aja lupain aku sebagai sahabat apalagi Galuh, pasti nanti loe lupa kalo lagi pendekatan"


"Bisa diem nggak sih, kalo nggak gue tinggal di sini"


"Ya maaf maaf, ayo pulang entar loe di cariin lagi sama orang rumah"


"Ya"


"Ya elah, hemat bener loe ngomong"


"Buruan gue udah laper nih"


"Iya sayang"


"Jijik"


"Eh... Yah... kok gitu sih"


"Kenapa sih Vi ?"


"Rin, gue nginep rumah loe ya... kakak gue pergi terus lupa kalo gue di rumah jadi dia bawa kunci rumah"


"Ya udah entar pake baju gue aja"


"Oke, kalo untuk kuliah besok gue tadi pagi bawa baju bersih kok di dalam tas"


"Iya"


Saat di jalan pulang, lagi lagi Shirin dan Via berhenti karena melihat dua orang anak yang di kenal. Shirin meminggirkan mobil nya, lalu turun di ikuti Via di belakang nya menghampiri seorang lelaki yang sudah berumur dengan mobil nya dan dua anak kecil yang lelaki itu marahi. "Permisi tuan, ada apa ini ?", tanya Shirin sopan.


"Ini lho, mereka itu merusak mobil saya", jawab lelaki itu dengan penuh emosi.


"Oh ya ? bagaimana cerita nya ?"


"Tadi saya meminggirkan mobil untuk ke supermarket untuk beli minum, tapi saat saya kembali mobil saya sudah tergores dan ada dua anak ini di depan mobil saya"


"Apakah benar seperti itu ?", tanya Shirin sambil menatap dua anak itu.

__ADS_1


"Bukan begitu kak, tadi ada motor yang mau nyelip tapi malah ke gesek sama mobil tuan ini, dia nyuruh kita nunggu karena dia mau ambil uang buat ganti rugi nya", ucap anak lelaki yang tadi pagi ia temui atau lebih tepatnya kakak dari anak perempuan di sebelahnya.


"Halah !!! kalian alasan saja, biar kalian nggak ganti rugi kan ?"


"Baiklah kalau begitu, kita tunggu saja si pelaku untuk datang dan bertanggung jawab", ucap Shirin.


"Iya tuan, jangan asal nuduh dulu", ucap Via mulai geram.


Selang beberapa waktu, datang seorang pria dengan motor nya lalu turun dari dari kendaraan nya, "Terima kasih kalian telah menunggu disini, maaf tuan tadi saya nggak sengaja kegores mobil anda jadi saya minta anak ini buat nungguin saya ambil uang ganti rugi", ucap pria itu sambil menyodorkan amplop berisi uang.


"Baiklah, saya maafkan kamu tapi lain kali berhati hatilah, dan buat kalian saya minta maaf karena sudah menuduh yang bukan bukan", ucap pria tua pemilik mobil.


"Tidak apa apa tuan saya mengerti kok", jawab anak lelaki itu sambil tersenyum.


Kedua pria itu telah pergi, dan tersisalah Shirin, Via, dan dua anak kecil itu. "Ya sudah kalau begitu lain kali hati hati ya, kalian nggak perlu takut kalau kalian tidak bersalah", saran Shirin.


"Tapi apa tidak apa apa kak ? kalau orang yang menuduh tidak percaya bagaimana ?", tanya anak lelaki itu.


"Kalian harus melawan halus dan membuktikan kalian tidak bersalah sama sekali, tak perlu takut untuk jujur jika kalian salah, jika kalian memang salah jujur lah maka beban kalian akan berkurang, mengerti??", tanya Shirin.


"Iya mengerti kak, makasih kakak sudah bantuin kita dua kali dalam sehari, lain kali kami akan mencoba melakukan apa yang kakak katakan"


"Nah, dan juga kalian pasti bingung mau kemana ya kan ?", sela Via.


"Iya kak, kami bingung mau kemana, kami tak punya rumah lagi"


"Tidak !!! kami tidak mau di siksa, kasihan adik ku jika terus terusan di siksa", tolak anak lelaki itu.


"Tidak, kalian tidak akan di siksa", ucap Shirin.


"Aku tak mau hidup jika adik ku terus di siksa"


"Tenang saja, kakak berjanji kalian tidak akan di siksa, kakak akan bawa kalian ke panti asuhan yang di tanggung keluarga kakak, jadi kalian tak perlu bingung dimana tempat tinggal kalian, daripada kalian tak menentu akan tidur dimana", jelas Shirin.


"Kakak berjanji ?", tanya anak lelaki itu sambil mengangkat jari kelingking nya.


"Ya, kakak berjanji", jawab Shirin sambil membalas jari kelingking anak itu.


"Baiklah, ayo pergi hari sudah mulai sore", ajak Via sudah tak tahan ingin melihat panti asuhan yang di tanggung keluarga Shirin.


"Eh, tapi ada yang lupa kakak tanyakan, siapa nama kalian ?", tanya Shirin.


"Namaku Rico umurku 12 tahun, dan ini adik ku Rena umurnya 6 tahun", jawab anak lelaki itu.


"Kalau begitu, kenalkan nama kakak Shirin dan ini teman kakak namanya Via, kalian bisa panggil kakak atau bunda Tessa jika butuh sesuatu di panti asuhan nanti, kalau begitu ayo kita pergi", ucap Shirin.

__ADS_1


Memerlukan 15 menit lebih untuk sampai ke panti asuhan itu, Kedua anak itu tampak khawatir entah untuk apa. "Jangan khawatir, kalian bakal baik baik aja kok", ucap Via menenangkan.


"Iya kak, kami percaya kok sama kakak tapi... kalau nanti kami ngerepotin gimana ?"


"Nggak akan, hitung hitung hutang Budi kalian sama kakak", ucap Shirin tersenyum.


"Ya ampun Rin, loe sama gue aja nggak pernah senyum, kalaupun senyum itu momen langka tapi kok loe sama orang lain senyum terus sih", batin Via.


"Nah sudah mau sampai, siap siap turun ya... disini kalian bakal ketemu keluarga baru", ucap Shirin masih fokus pada setiran mobilnya.


Mereka turun dari mobil, Shirin masuk dan menemui bunda Tessa dan beberapa pengurus panti. "Bun, ini anak yang mau aku titip mereka ya", ucap Shirin.


"Benarkah ? baguslah kalau begitu ada anggota keluarga baru deh, pasti yang lain senang", jawab bunda Tessa.


"Akak gendong", ucap Rena sambil mengangkat kedua tangan minta di gendong.


"Baiklah", jawab Shirin.


"Maacih udah nolong ami", ucap Rena sambil mencium pipi Shirin.


"Sama sama, kalian baik baik ya disini, jangan nakal, dan satu lagi, terbukalah pada keluarga baru kalian", ucap Shirin.


"Kalau gitu kami pamit dulu ya, sampai ketemu lagi", pamit Shirin.


"Enak ya Rin jadi orang lain", gerutu Via kesal.


"Emangnya kenapa ? loe iri gue senyum sama orang lain ?"


"Iyalah, gue aja jarang liat loe senyum, eh loe dengan enteng nya senyum sama orang lain"


"Nggak semua orang gue senyumin Via, paling cuma orang yang menurut gue bener bener tulus"


"Iya deh, tapi gue baru tau keluarga loe danain panti asuhan, kenapa loe nggak pernah bilang"


"Ya loe kan nggak pernah nanya, gimana gue mau kasih tau"


"Bener juga ya loe, oke deh serah loe aja nyerah gue debat sama orang kayak loe"


"Ya walaupun gue jarang liat loe senyum, tapi setidak nya gue udah liat loe baik sama orang lain", gumam Via pelan.


"Loe ngomong apa ? nggak denger gue", tanya Shirin.


"Gue nggak ada ngomong apa apa kok, ge-er amat"


___________________________

__ADS_1


Klik tombol like, favorit, dan komen ya... 😊


__ADS_2