
Setelah mata kuliah selesai, Shirin dan Via langsung masuk ke mobil karena dosen sedang rapat untuk wisuda kakak tingkat sebelum Shirin dan angkatan nya. "Rin kita pergi ke cafe tempat biasa yuk ?", ajak Via.
"Ok, pas benget otak gue butuh refreshing", jawab Shirin melajukan mobil nya ke Library cafe tempat mereka nongkrong untuk menyegarkan pikiran dengan minum sambil membaca buku.
~Di sisi lain~
"Galuh, nanti abis kelas loe mau kemana ?", tanya Nico.
"Gue mau ke cafe......", jawab Galuh yang di potong Rian.
"Wah mau ngapain loe ke cafe? jangan jangan mau ketemu cewek ya", tanya Rian
"Nggak mungkin kali Galuh ketemu cewek", ucap Nico tidak yakin
"Ya makanya gue mau ngomong jangan di potong RIBA", ucap Galuh sambil memukul kepala Rian dengan buku tipis di tangan nya. Maksud RIBA itu adalah julukan Galuh dan Nico yang mereka buat dengan kepanjangan Rian Bacot.
"Aduh sakit kali !!", ucap Rian mengelus kepala nya.
"Ya udah, kalian mau ikut nggak ? kalo nggak gue pergi sendiri", ucap Galuh meninggalkan dua sahabatnya.
"Iya iya kita ikut", jawab Rian dan Nico serempak.
~Mobil Risa~
Setelah sampai Shirin segera memarkirkan mobil dan langsung masuk ke dalam karena cuaca sangat terik di luar. Mereka mengambil tempat di lantai atas untuk membaca buku.
"Mbak", panggil Via pada seorang barista.
"Iya, ini silahkan di pilih menu nya", ucap barista itu sambil memberikan daftar menu pada mereka berdua.
__ADS_1
"Loe mau minum apa Rin", tanya Via sambil membaca menu.
"Gue yang biasa aja, capuccino cincau", jawab Shirin.
"Ya udah mbak capuccino cincau sama cake red velvet nya dua", ucap Via pada barista tersebut, dan langsung di turuti barista itu.
Sambil menunggu pesanan Shirin dan Via mengambil buku untuk mereka baca. Kali ini Shirin tidak mengambil buku yang ada sangkut paut nya pada pelajaran tetapi dia mengambil novel bergenre sedih berjudul "memory loss". tak sampai 10 menit pesanan datang,ia membaca dengan serius sampai tak tau jika pesanannya sudah datang. "Woi Shirin !!! ini pesanan nya udah dateng, daritadi di panggilin nggak nyaut-nyaut", panggil Via dengan nada sedikit tinggi agar Shirin sadar dari keseriusan nya membaca.
"Eh, iya", ucap Shirin dan langsung menyedot minuman nya karena sangat haus akibat teriknya matahari luar.
Tiba-tiba ia merasa pusing dan langsung pergi ke toilet. Ya, Shirin sangat pandai menahan rasa sakit dan menyimpan rahasia miliknya, bukan sok kuat tapi sudah biasa karena saat kecil ia tak bisa bermanja-manja jadi ia menahan semua rasa itu sendiri.
"Eh, loe mau kemana?", tanya Via
"Toilet", jawab Shirin dan langsung pergi ke toilet.
Saat berada di dalam toilet Shirin membasuh wajah nya. Ia masih merasa pusing, mungkin ini karena akhir akhir ini Shirin selalu begadang karena tidak bisa tidur. Lalu ia mengeluarkan aroma terapi untuk di hirup. Setelah mulai mendingan ia keluar untuk kembali menemui Via. Siapa sangka pusing nya tiba tiba menyerang kembali, karena tak kuat menahan akhirnya ia terjatuh. Tiba-tiba ia merasa tubuh nya di topang orang. "Eh, mbak nggak apa apa ?", tanya orang yang menopang nya sambil membantu Shirin duduk, tanpa melihat wajah orang yang di topang nya, Shirin yang masih lemas tak menjawab pertanyaan orang itu. "Lah, ini bukannya Shirin", ucap pria itu terkejut setelah melihat wajah orang yang di bantunya. " Maaf loe siapa ?", tanya Shirin yang masih pusing.
"Makasih ya", ucap Shirin lalu berdiri.
"Eh loe mau kemana ?", tanya Galuh.
"Tenang aja gue nggak apa apa, gue mau nyamperin temen gue dia nungguin", ucap Shirin yang meninggalkan Galuh sendirian.
"Loe dari mana Rin ? kok lama banget", tanya Via.
"Tadi gue di telpon bokap jadi agak lama, maaf ya", jawab Shirin berbohong.
"Ya udah kita pulang yuk, udah mulai sore nih", ajak Via.
__ADS_1
"Ayo", ucap Shirin lalu beranjak dari kursi menuju mobil.
Setelah sampai di rumah Via, Shirin langsung menuju rumah karena tak tahan terus menahan rasa sakit kepala nya. Ia bahkan lupa siapa yang menopang tubuh nya tadi karena tak tahan kepala nya.
~Apartemen Galuh~
Setelah selesai dari cafe, Galuh memilih pulang karena langit mulai gelap. Galuh sama seperti Shirin, tinggal sendiri di apartemennya, sedangkan orang tua l nya tinggal di kota sebelah sama seperti orang tua Shirin. Galuh langsung mengganti bajunya dan keluar ke arah balkon."Kira kira tu cewek baik baik aja nggak ya ? kalo kambuh lagi gimana ? oh iya, kan dia bilang bareng temennya", gumam Galuh khawatir dan bertanya tanya keadaan Shirin. "Ah......... apaan sih kok jadi peduli sama cewek cuek gitu. apa hubungannya sama gue, rese loe Galuh", umpat Galuh dalam hati sambil mengacak-ngacak rambutnya. Setelah selesai mengumpat diri sendiri, Galuh masuk dan menuju dapur karena perutnya sudah mulai keroncongan.
~Apartemen Shirin~
"Alu pulang", ucap Shirin lemas dengan wajah pucat karena menahan sakit.
"Loh non, kok pucat ? sini bibi bantu", ucap bibi Fei membantu Shirin masuk ke kamarnya.
"Makasih bi. Oh iya bi nggak usah kasih tau ayah bunda ya, ini cuma pusing biasa karena sering begadang kok", ucap Shirin meyakinkan bibi Fei. Bibi Fei mengangguk lalu keluar kamar untuk membuatkan Shirin bubur. Selagi menunggu bibi Fei, Shirin pergi mandi dan kembali duduk di pinggir kasur untuk minum. Drrrt.....drrrt....... suara telepon Shirin berbunyi. Dengan segera Shirin mengangkat nya.
"Halo ! apa kabar sayang ?", tanya seorang wanita paruh baya dari sebrang sana.
"Baik Bun, bunda, ayah, sama Refan ?", tanya Shirin balik.
"Baik semua sayang. Kamu gitu ya sekarang, mentang aja tinggal sendirian jadi lupa ngabarin keluarga", ejek bunda Vira pada anak nya yang jarang pulang dan menelpon keluarganya.
"Hhh.....", Shirin menghela nafasnya. "Ya, Shirin minta maaf jarang nelpon. Sekarang Shirin udah mulai sibuk Bun, apalagi sekarang udah mau semester akhir", jelas Shirin.
"Kakak sekarang udah sombong sama aku, nggak rindu aku ya ?", cagil Refan. Jarak umur Shirin dan Refan sekitar 6 tahun. Jadi sekarang Refan masih duduk di bangku SMP kelas IX (9).
"Kamu kira kakak mau sibuk ? nggak lah sekarang lagi padat padat nya kuliah Refan", jawab Shirin.
"Iya iya, aku tau nggak usah marah dong", ucap Refan menahan tawa karena membuat kakak nya yang cuek itu sedikit emosi.
__ADS_1
"Ya, ya udah telpon nya kakak matiin ya", ucap Shirin lalu mengakhiri panggilan.
"Oh iya, tadi yang bantu aku di cafe siapa ya ? kok aku lupa sih, ah.... tau ah", gumam Shirin bertanya tanya dalam hatinya.