Kerinduan Seorang Gadis

Kerinduan Seorang Gadis
Bab 01


__ADS_3

"Mile ho tum humko" 


(Kau telah bertemu dengan ku)


"Bade naseebon se"


(Melalui nasib baik)


"Churaya hai maine"


(Aku telah di curi)


"Kismat ki lakeeron se"


(Oleh garis takdir)


"Teri chahaton mein kitna tadpe hain"


(Banyak sekali denyutan dalam hasrat mu)


"Saawan bhi kitne tujh bin barse hain"


(Musim-musim telah berlalu tanpa mu)


"Zindage mein meri saari jo bhi kami thi"


(Kesulitan apapun yang ku miliki dalam hidupku)


"Tere aa jaane se ab nahi rahi"


(Setelah kehadiran mu, kini tak lagi ada)


"Mile ho tum humko"


(Kau telah bertemu dengan ku)


"Bade naseebon se"

__ADS_1


(Melalui nasib baik)


"Churaya hai maine"


(Aku telah di curi)


"Kismat ki lakeeron se"


(Oleh garis takdir)


*****


"Dhooor" Teriak Zahra dari belakang tubuh Salun yang sedang bermain gitar seraya menyanyikan lagu India kesukaannya.


"Ck, kebiasaan loe Ra, sahabat loe ini tuh lagi pengen tenang, loe dateng-dateng ngagetin gue" Salun memutar bolanya malas.


"Lagian loe sih Sal, galau Mulu" ejek Zahra seraya mendudukkan tubuhnya di samping Salun.


Salun adalah seorang gadis berusia 15 tahun, sejak kepergian kedua orang tuanya ke Kalimantan Selatan Salun tinggal bersama saudara perempuannya, namun karena ada suatu masalah akhirnya dia memilih tinggal sendiri di rumah kedua orang tuanya itu.


Zahra adalah sahabatnya sejak kecil, mereka kenal saat masuk sekolah dasar, usia Zahra dua tahun di atas Salun, kedekatan mereka sudah seperti saudara kandung, setiap hari mereka selalu bersama, kebetulan rumah keduanya tidak begitu jauh sehingga mereka bisa bermain bersama.


"Terus loe mau ngajak gue kemana?" Salun faham bagaimana sahabatnya itu, kalau sudah begitu biasanya mereka akan mencari tempat yang indah, seperti pemandangan sawah dan pantai.


"Enaknya kemana ya Sal, apa kita main ke rumah Fia aja?" Sepertinya Zahra tidak ingin melihat pemandangan, melainkan ingin ngumpul dengan teman yang lainnya.


"Emangnya Fia nggak sibuk hari ini?, Telpon dulu gih buat mastiin dia ada di rumah apa nggak" ucap Salun seraya meletakkan gitarnya pada tempatnya.


Sejak tinggal sendiri Salun membeli gitar untuk menemani hari-harinya di saat dia merasa kesepian, karena Zahra tidak bisa tidur bersamanya setiap malam, jika suntuk melanda maka dia bernyanyi seraya bermain gitar sampai rasa ngantuknya tiba.


"Gimana?" Tanyanya setelah melihat Zahra mematikan panggilan telponnya.


"Si Fia sama Dyah lagi di pantai" jawab Zahra dengan wajah memelas.


"Ya udah ayok kita susulin mereka, pantai mana?" Tanya Salun antusias, karena memang sudah lama sejak kepergian kedua orang tuanya dia jarang sekali ke pantai, kebetulan hari ini hari Minggu jadi dia bisa bermain di pantai sepuasnya hari ini.


"Beneran Sal, loe mau kesana?" Tanya Zahra tidak yakin, Karena sejak Zahra masuk ke dalam kamar sahabatnya itu dia merasa bahwa sang sahabat tengah tidak memiliki semangat untuk melakukan apapun, namun semua itu di luar dugaannya, Salun tiba-tiba ingin menyusul dua sahabatnya yang saat ini sedang berada di pantai.

__ADS_1


"Ya elah, emang muka gue ada tampang bercanda gitu, kalau loe mau sih, kalau nggak ya udah gue mau tidur aja" Salun berkata untuk memastikan Zahra mau ikut dengannya atau tidak.


"Yah, yaaah, jangan gitu Sal, aku mau kok" ucap Zahra dengan bibir di manyunkan membuat Salun mencubit kedua pipi sahabatnya itu.


"Kalau mau ya udah ayok" Salun meraih tas jaket dan mengambil hadset miliknya dan meletakkannya pada saku jaketnya setelah mengenakan jaket tersebut.


Salun memang gadis yang tidak suka keribetan, dia senang berpakaian biasa dan mengenakan jaket saja, dia juga jarang merias dirinya kecuali jika sedang ingin mendatangi acara penting saja, namun hal itu tidak mengurangi kadar kecantikannya.


Salun lahir dari keluarga sederhana, kedua orang tuanya hanya seorang pedagang buah kelapa, dulunya memang sangat laris manis, namun sejak ayahnya kecelakaan bisnis itu pun semakin hari semakin menurun, apalagi sejak kakak laki-laki Salun terlibat hutang dengan seorang rentenir. 


Edi adalah kakak kedua dari Salun, kakak pertamanya perempuan bernama Difa, Edi adalah anak laki-laki satu-satunya, jadi kedua orang tuanya menitipkannya ke sebuah pesantren dengan harapan kelak dia akan menjadi pengganti sang ayah. 


Namun nasib buruk tak ada yang tau, Edi menjadi seorang pria brandalan yang suka minum-minuman keras dan bermain judi, sehingga dia banyak memiliki hutang.


Suryanto dan hamimah selaku kedua orang tuanya selalu membayar hutang-hutang Edi, hingga dengan perlahan keuangan mereka semakin menurun, di tambah lagi Suryanto yang kecelakaan dan tidak bisa lagi bekerja keras untuk keluarganya.


Sejak saat itu Edi memilih merantau ke Kalimantan Selatan untuk mencari pekerjaan bersama istrinya.


Beberapa tahun kemudian Salun beserta kedua orangtuanya mendengar kabar bahwa Edi sedang mengalami musibah, istrinya melahirkan namun belum sadarkan diri sehingga Suryanto dan hamimah pergi menemui mereka dan meninggalkan Salun di desa.


Salun merima semua yang telah terjadi dengan ikhlas karena dia tahu bahwa saudaranya sedang membutuhkan bantuan, dia mengikuti saran dari kedua orang tuanya untuk tinggal bersama Difa dan suaminya.


Akan tetapi satu bulan kemudian Salun akhirnya memutuskan untuk tinggal sendiri, karena dia tidak enak dengan saudara iparnya, apalagi perbuatannya yang suka nakal dan hampir saja melecehkan dirinya, namun Salun memilih diam dan tidak menceritakan hal itu pada siapa pun, karena dia tidak ingin keluarga sang kakaknya berantakan untuk yang kedua kalinya.


Ya, Difa adalah seorang janda beranak satu, dulu Difa menikah saat usianya 17 tahun, dia menikah dengan seorang pria yang berusia 26 tahun, tiga bulan menikah Difa hamil anak pertamanya, saat bayi itu lahir, suami pertama Difa meninggalkannya dan pergi bersama wanita lain.


Anak dari Difa bernama Sarah, saat Sarah berusia 3 tahun, Difa menikah dengan Ferdi yang saat itu berstatus lajang, kemudian mereka membuat rumah untuk mereka sendiri.


"Sal, loe yakin mau ke pantai cuma pakai baju begituan, dandan dikit kek biar ada cowok yang ngelirik, biar nggak galau terus" Zahra berkata seraya menaik turunkan alisnya.


"Apaan sih Ra, nggak usah banyak drama deh, aku udah begini aja, enakan gini kok" Salun memperhatikan dirinya di cermin, di lihatnya tampilannya dari bawah sampai ke atas, celana jins hitam panjang di padukan dengan kaos putih polos yang sedikit kebesaran di tubuhnya, dan bagian luarnya dia mengenakan jaket Levis berwarna navy, rambutnya dia ikat seperti ekor kuda.


"Sal, gue minta parfumnya donk, kayanya bau parfum loe beda deh dari biasanya, lebih manis yang ini" tunjuk Zahra pada deretan parfum koleksi Salun yang terjejer rapi di meja riasnya.


"Tumben loe pamit, biasanya langsung nyerobot aja" ejek Salun.


Zahra mengambil dan menyemprotkan parfum itu pada sebagian tubuhnya, terlihat dia mencium parfum itu berulang kali hingga membuat Salun mengernyitkan keningnya, merasa heran dengan tingkah sahabatnya itu.

__ADS_1


"Sal, kok gue kaya pernah kenal bau parfum ini ya, tapi dimana ya gue lupa, loe dapat ini dari mana?"


__ADS_2