Kerinduan Seorang Gadis

Kerinduan Seorang Gadis
Bab 03


__ADS_3

"Balik yuk udah sore nih" Zahra mengajak ketiga sahabatnya itu untuk pulang.


"Ya elah Raaa, bentar lagi napa sih?" Tolak Fia seraya melirik dengan ekor matanya, melihat Salun yang saat ini memandangi indahnya air laut dalam diam.


Zahra yang memahami hal itu segera mengangguk mantap, dia trenyuh menyaksikan wajah sedih sahabatnya itu, sejak dulu dia jarang sekali melihat Salun seperti ini, karena gadis itu terlalu pandai menyembunyikan luka hatinya dengan senyumnya.


"Sal, sorry ya ntar malam gue nggak bisa nemenin loe, gue ada acara sama keluarga gue, loe nggak kenapa-napa kan?" Zahra menepuk pelan punggung tangan Salun hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Eh iya Ra, gue nggak kenapa-kenapa kok, loe tenang aja, lagian gue juga udah biasa sendiri" jawab Salun enteng dengan senyum semanis mungkin.


Banyak yang bilang senyum Salun membuat hati siapa saja meleleh dari saking manisnya, karena Salun memiliki dua gigi gingsul di kanan dan kirinya sehingga membuat kecantikannya semakin bertambah.


"Ya udah kita balik yuk, ini udah sore, kalian mau balik bareng kan?" Salun bertanya pada dua sahabatnya yang bernama Dyah dan Dia, karena menurut Zahra mereka datang bersama orang tua mereka, tapi sejak kedatangannya ke tempat itu gadis itu tidak melihatnya.


"Nggak Sal, kita Dateng bareng orang tua kita, tapi mereka ada di sana" tunjuk Fia pada sebuah gedung yang tak jauh dari tempat mereka.


Fia dan Dyah adalah saudara sepupu, ayah Fia adalah adik kandung dari ayahnya Dyah, mereka ada di sana karena kebetulan hari ini ada acara pesta pertunangan kerabatnya, jadi mereka datang untuk membantu menyiapkan segala sesuatunya. 


"Ya udah kalau gitu kita balik duluan ya, sampai ketemu besok di sekolah ya" ucap Salun berpamitan.


"Ayok Ra" ajaknya pada Zahra, Zahra pun segera berdiri dari duduknya dan merangkul pundak Salun.


"Gaes kita duluan ya, papay" ucapnya seraya melambaikan tangannya pada Fia dan Dyah.


"Sekarang siapa yang nyetir?" Tanya Salun setelah sampai di tempat parkir.


"Siapa aja boleh Sal" jawab Zahra.


"Ya udah gue aja yang nyetir, loe mau pulang ke rumah gue atau langsung ke rumah loe?" 

__ADS_1


"Ke rumah gue aja, biar gue nggak harus jalan kaki nantinya, hehehe" 


"Oke lah kalau gitu, biar gue langsung anterin loe pulang, ayo naik" 


"Berangkaaat" teriak keduanya secara bersamaan, membuat tawa mereka pecah begitu saja.


*****


Seorang pria tengah menyandarkan tubuhnya pada sandaran sofa, usianya baru 17 tahun, namanya adalah Cemal Sastro, saat ini dia tengah memikirkan seorang gadis yang tadi siang dia temui di tepi pantai.


"Gadis itu cantik sekali, kenapa aku sampai lupa mengajaknya berkenalan" rutuknya pada dirinya sendiri.


Cemal adalah warga baru di kampung itu, dia pindah dua hari yang lalu dari kota, kedua orang tuanya dulunya adalah seorang perantau, dan saat ini mereka pulang ke kampung almarhum kakeknya.


"Anak mama ini kenapa sih, dari tadi mama liatin bengong aja" Safira datang dan mendudukkan tubuhnya di samping sang putra.


"Nggak apa-apa kok ma, cuma seneng aja tadi keliling pantai" jawab Cemal berbohong.


"Iya sayang, semuanya udah beres, besok kamu udah bisa sekolah lagi kok"


"Baguslah ma kalau gitu" jawab Cemal singkat.


"Ya udah sana kamu mandi dulu, abis itu kita makan malam bersama setelah papa datang" Safira menyuruh putranya itu untuk membersihkan dirinya.


"Iya ma bentar lagi, Cemal masih pengen di sini" tolak Cemal, dia masih ingin bersantai setelah seharian berpanas-panasan.


"Ya udah kalau gitu, mama tinggal masak dulu ya, jangan lama-lama cepet mandi sebelum papa datang" Safira memperhatikan sang putra sebelum akhirnya dia melangkah menuju dapur untuk menyiapkan makan malam.


"Iya ma iya, ini Cemal udah mau mandi kok" akhirnya Cemal yang malas berdebat dengan sang mama mengalah dan segera melangkah menuju kamarnya.

__ADS_1


"Cewek itu sekolah di mana ya, andai saja aku tau di mana sekolahnya mungkin aku akan meminta papa untuk mendaftarkan ku di sekolah yang sama dengannya" Cemal berbicara pada dirinya sendiri seraya melepaskan semua baju yang melekat pada tubuhnya kemudian meletakkannya pada keranjang baju kotor yang ada di kamar mandinya.


Lima belas menit berlalu, Cemal telah menyelesaikan ritual mandinya, dia mengeringkan seluruh tubuhnya dengan handuk, lalu melangkah menuju lemari dan mengambil baju santainya yang berupa celana pendek selutut berwarna hitam dan kaos pas body berwarna putih, menyemprotkan parfum kesukaannya pada sebagian tubuhnya.


"Ah" menghempaskan tubuhnya pada tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya, pertemuannya dengan gadis yang belum dia ketahui namanya selalu berputar dalam memory otaknya. 


"Kenapa aku selalu teringat dengan gadis itu, apa ini yang di namakan jatuh cinta pada pandangan pertama?" Gumamnya dalam hati, hingga tanpa terasa Cemal tertidur dengan membayangkan pertemuan kedua dengan gadis itu.


"Tok, Tok, Tok" suara ketukan pintu membuat Cemal terbangun, di liriknya jam dinding yang menggantung di atas meja belajarnya, ternyata telah menunjukkan pukul 21:15 menit, Cemal terjingkat kaget hingga langsung terduduk dari tidurnya.


"Astaga, aku ketiduran" gumamnya pelan.


"Cemal, ayo kita makan malam, papa udah nungguin kamu dari tadi" teriak Safira dari luar pintu kamar sang putra.


"Iya ma, Cemal bentar lagi kluar kok ma" Cemal segera melangkah ke kamar mandi untuk mencuci muka.


Sepuluh menit kemudian mereka bertiga telah berkumpul di meja makan, Jufri dan Safira serta Cemal menikmati makan malam bersama dalam keheningan, hanya dentingan sendok dan garpu yang meramaikan acaran makan malam mereka.


"Gimana nak, kamu udah siap masuk sekolah besok?" Tanya Jufri setelah meneguk segelas air yang telah di siapkan oleh istrinya.


"Papa daftarin aku di sekolah mana?" Cemal penasaran di mana sekolah barunya itu.


"Papa daftarin kamu di SMA pagar Nusa, nggak jauh dari kantor kecamatan" Jufri menatap lekat wajah sang putra, dia berharap banyak pada putra satu-satunya itu.


"Oh, ya udah Cemal siap" jawabnya seraya mengunyah makanan yang baru saja dia masukkan ke dalam mulutnya.


"Papa boleh minta sesuatu?" Lanjut Jufri lagi, sementara Safira dia memilih diam karena dia tahu bahwa suaminya itu sedang ingin menasehati putranya.


"Apa pa?" Jawab Cemal singkat, di raihnya gelas yang terisi penuh dengan air yang ada di sampingnya, meneguknya hingga tersisa separuh.

__ADS_1


"Papa minta kamu belajar yang benar, jangan sampai mempermalukan papa sama Mama lagi, berhenti merokok dan minum-minuman yang beralkohol, selama ini papa dan mama selalu menuruti apapun kemauan kamu, sekarang saatnya kamu menuruti permintaan papa sama Mama, papa ingin melihat kamu menjadi anak yang lebih baik lagi, apa kamu sanggup?" Jufri mengutarakan keinginannya, selama ini Cemal terkenal sebagai anak yang nakal yang sering merokok dan membawa minuman keras ke sekolahnya, sehingga dia di keluarkan dari sekolah.


__ADS_2