
"Apaan sih Ra, loe jangan ngadi-ngadi deh, ayok buruan kita jalan" Salun tidak ingin menjawab pertanyaan Zahra dari mana dia mendapatkan parfum itu.
"Bentar Sal, ini gue lagi…"
"Kalo loe masih lama, gue jalan duluan aja" Salun segera memotong ucapan sahabatnya itu agar dia menghentikan kekepoannya.
"Iya iya bentar, ah loe ngambekan banget sih Sal" ejeknya pada Salun lalu segera meraih tas kecil yang berisi ponselnya kemudian memakainya.
"Aku siaaaap, yuk yuk yuk!" Zahra melngkah setengah berlari menerobos tubuh Salun yang masih berdiri di ambang pintu.
"Ais, kurang asem loe Ra" teriak Salun pada Zahra yang saat ini sudah berada di ruang tamu menunggu kedatangan dirinya.
"Siapa nih yang nyetir?" Tanya Zahra setelah berada di dekat motor Salun yang terparkir di halaman rumahnya.
"Ya udah loe aja nih" Salun memberikan kunci motornya pada Zahra, karena biasanya Zahra sangat bahagia kalau dia memintanya untuk membawa motornya, Zahra sama dengan dirinya, terlahir dari keluarga sederhana, Zahra sejak dulu ingin memiliki motor namun kedua orang tuanya belum mewujudkannya.
"Oke sobat, yok naik, akan ku antarkan kau kemana pun kau mau" ucap Zahra dengan berlagak sebagai seorang pembawa puisi membuat Salun tertawa melihatnya.
"Udah jangan banyak drama, ayok jalan" menepuk pelan pundak Zahra agar segera melajukan motornya.
"Ra loe udah tau kan mereka di pantai mana?"
"Iya tadi Fia udah share lock ke gue, dan gue udah tau tempatnya, so, loe tinggal terima beres, oke" menyatukan ujung jari telunjuk dengan jari jempulnya agar membentuk huruf O.
"Kita sampaaaaaai" teriak Zahra dengan antusias membuat Salun hanya bisa memutar bolanya malas.
"Ngga usah kaya anak kecil juga kali Ra, malu tuh di liatin orang-orang" Salun mununjuk beberapa orang pria dengan isyarat dagunya.
__ADS_1
Memang tidak jauh dari tempat Zahra memarkirkan motornya ada beberapa pria yang melihat ke arah keduanya, mereka mengagumi penampilan Salun yang apa adanya namun aura kecantikannya tetap memancar.
"Udah lah biarin mereka liatin kita, kita kan cantik ya pasti mereka ter…"
"Nggak usah banyak drama, jalan" Salun membekap mulut Zahra dengan telapak tangannya hingga terlihat gadis itu menahan seketika nafasnya.
Mereka berdua berjalan menyusuri pasir pantai seraya mencari dua sahabatnya, Salun melangkah dalam diam, hatinya merasakan kerinduan yang sangat dalam pada kedua orang tuanya, kadang dia merasa iri pada ketiga sahabatnya itu, karena mereka selalu bersama kedua orang tuanya, sedangkan dirinya sudah hampir dua tahun ini tidak bisa bertemu dengan ayah ibunya.
"Ibu, ayah, Salun kangen" gumamnya dalam hati seraya menatap indahnya ombak yang mulai datang mendekati kedua kalinya, satu bulir air mata jatuh membasahi pipi kirinya tanpa dia sadari.
Sementara Zahra yang melihat sahabatnya itu tengah terdiam seraya menatap air laut, dia memilih membiarkannya, karena sedikit banyak dia bisa merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan.
"Sal, gue tahu hati loe sedang tidak baik-baik saja, tapi kenapa loe nggak pernah cerita sama gue, gue sahabat loe Sal, gue sayang sama loe, loe memilih menelan rasa pahit itu sendiri, dan asal loe tahu, gue ngajak loe kesini sama Fia dan Dyah hanya untuk loe, semua ini udah kita rencanakan, hanya agar loe bisa lebih tenang dan melupakan hal-hal yang membuat mu sedih" Zahra pun ikut meneteskan air matanya, tidak kuasa melihat sahabatnya itu terpuruk, namun dia membiarkan Salun menumpahkan segala tangisnya, berharap setelah ini dia akan lebih tenang.
"Hey Ra, mana Salun?" Dyah menepuk pelan pundak Zahra, Zahra menunjuk keberadaan Salun pada dua sahabatnya itu.
"Udah biarin dulu dia di sana, kita pantau dari sini, nanti kalau dia nyari kita baru kita panggil" Fia memberi saran dan mendapat anggukan dari Zahra dan Dyah.
"Ya Tuhan, berilah orang tua ku kebahagiaan, berilah mereka kesehatan, aku belum bisa membalas jasa mereka, aku berharap mereka segera kembali dan berkumpul lagi bersama ku, aku rindu pelukan mereka, aku merindukan kasih sayang mereka" tangis Salun semakin pecah, dia tidak peduli seberapa banyak tatapan aneh orang-orang di sekitarnya, tanpa dia rencanakan, saat memandangi damainya air laut dia ingin menumpahkan segala keluh kesahnya.
"Hey, ini untuk mu" seorang pria menyodorkan sebuah sapu tangan untuk Salun.
Gadis itu menoleh dan terkejut tatkala menyadari yang di sampingnya saat ini bukanlah Zahra, melainkan seorang pria tampan yang usianya mungkin masih sama dengannya.
"Nggak baik lama-lama nangis, nanti cantiknya ilang" pria itu memuji kecantikan Salun namun dalam sebuah candaan.
Salun menarik nafas panjang dan menghembuskannnya kasar, di raihnya sapu tangan itu dan menghapus sisa air matanya yang masih melekat pada kedua pipinya.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian Salun kembali menatap air laut, merasakan kedamaian dan ketentraman saat bersamanya, gadis itu menoleh hendak mengembalikan sapi tangan pria itu, tapi dia di buat bingung saat mendapati pria itu sudah tidak ada di sampingnya.
"Kemana orang tadi, prasaan masih di sini, atau dia cuma halusinasi ku saja, tapi ini apa" tanyanya seraya melihat sapu tangan yang masih berada di tangannya.
Tak ingin ambil pusing, Salun memasukkan sapu tangan itu ke dalam saku jaketnya, menoleh kesana dan kemari mencari keberadaan ketiga sahabatnya.
"Woy Sal, kita di sini" teriak Dyah seraya melambaikan tangannya, berharap Salun melihatnya.
"Oh itu mereka" ucap Salun seraya melangkah pelan menghampiri ketiga sahabatnya itu.
"Loe ngapain bengong di sana lama banget, untung nggak kesurupan setan bengong" Zahra menyambut kedatangan Salun dengan sebuah candaan.
"Kampret loe, loe nyumpahin gue kesurupan" umpat Salun kesal.
"Udah, udah ngga usah ribut, nih minuman buat loe" Fia menyodorkan segelas jus jeruk kesukaan Salun.
Salun menerima dan meminum jus tersebut hingga tersisa separuh, "ini baru sahabat gue, makasih ya Fi" Salun tersenyum manis ke arah Fia.
"Jadi selama ini loe nggak nganggao gue sahabat Sal, ah loe tuh pilih kasih banget ya, mentang-mentang gue nggak beliin loe minum, tapi ingat gue rela jadi sopir pribadi loe kemana pun loe mau" Zahra tidak terima karena hanya Fia yang di akui sahabat oleh Salun.
*Iya, iya kalian semua sahabat terbaik gue, gue berharap selamanya kita akan seperti ini walau jarak memisahkan kita nantinya" jawab Salun.
"Emangnya loe mau kemana Sal?" Tanya Dyah.
Salun mengernyitkan heran, kenapa Dyas bertanya seperti itu, padahal dia berkata karena teringat pada kedua orang tuanya.
"Emang gue mau kemana?" Tanya Salun pada Dyah.
__ADS_1
"Ah loe tuh ya Sal ngelawak mulu, gue nanya, loe malah balik nanya" kesal Dyah, membuat tawa Salun pecah begitu saja, begitu pun dengan Fia dan Zahra.
Dari kejauhan seorang pria tengah memperhatikan gerak gerik mereka.