Kerinduan Seorang Gadis

Kerinduan Seorang Gadis
Bab 10


__ADS_3

Setibanya di kelas satu SMA, Fawaid melotot tak percaya saat melihat pria yang belum dia kenal sedang memangku adik sepupunya yang sedang memejamkan mata, dengan tubuh lemas dan terlentang di lantai.


"Astaga, kenapa ini, ada apa?" Tanyanya dengan raut wajah panik seraya mengambil alih kepala Salun ke pangkuannya.


Melihat kepanikan raut wajah Fawaid membuat dada Cemal semakin terasa nyeri, dia belum tahu sebuah kepastian bahwa Fawaid adalah saudara sepupu dari gadis pujaannya, dia mengira bahwa Fawaid tersebut adalah kekasih Salun, pria itu memilih mengalah dan menyerahkan gadis itu pada Fawaid.


"Sal, bangun Sal, kamu kenapa?" Fawaid menepuk pelan kedua pipi Salun, namun gadis itu sama sekali tidak merespon ucapan pria tersebut.


"Zahra, gue mau bawa Salun ke rumah sakit ya, gue titipin barang-barangnya sama loe, motornya loe bawa pulang dulu ya" Fawaid mengangkat tubuh mungil Salun dan membawanya ke luar dari sekolah, merebahkannya pelan di dalam mobilnya.


Zahra, Dyah, Fia serta keempat sahabat pria gadis itu pun mengikuti langkah Fawaid dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Kak, kabari aku ya kak gimana kondisi Salun nanti, dan tolong share lock lokasi rumah sakitnya" ucap Zahra memegang pergelangan tangan Fawaid yang hendak membuka pintu mobil, pria itu pun mengangguk dan segera melajukan mobilnya ke arah rumah sakit terdekat.


Hening, tak ada lagi suara tawa dan canda tawa ketiga sahabat itu, mereka semua diam menatap kepergian mobil yang membawa pergi Salun, gadis yang selalu ceria dan bisa membawa suasana, namun saat ini semua terjadi begitu saja, mereka tidak tahu ada apa dengan sahabatnya itu.


"Semoga Salun baik-baik aja" gumam Zahra pelan, tanpa dia sadari air matanya mengalir membasahi kedua pipinya, dadanya tiba-tiba terasa sesak, seakan merasakan kerinduan yang Salun alami saat ini, terlintas dalam pikirannya bahwa dia akan menghubungi Difa, namun gadis itu mengurungkan niatnya, dia takut jika melakukan hal itu tanpa izin dari Salun.


"Salun punya penyakit apa Ra?" Cemal bersuara tepat di belakang tubuh ketiga gadis itu, mereka serempak menoleh dan menyadari bahwa sejak tadi Cemal berdiri di belakang mereka.


"Kita nggak tahu Salun sakit apa, dia nggak pernah mau cerita tentang kesedihannya sama kita, walaupun kami sudah berusaha membuatnya bercerita tapi dia tidak pernah mau dan tidak pernah detail dalam bercerita, dia lebih terlihat bahagia, tapi hatinya seperti menyimpan luka" jelas Zahra, gadis itu mendongak dan mengedipkan matanya beberapa kali agar air matanya tidak kembali membasahi kedua pipinya.

__ADS_1


"Ya udah kita masuk dulu yuk, setelah ini kita susul Salun ke rumah sakit, gimana?" Dyah mengelus pelan punggung Zahra, dia pun sedih melihat kondisi Salun, namun dia berusaha tegar dan tidak menangis seperti Zahra.


Sementara Cemal, pria itu melangkah dalam diam, terdengar suara gelak tawa dan candaan Abi bersama yang lainnya, namun pria itu pikirannya masih tertuju pada Salun dan pria yang baru dia tahu bahwa namanya adalah Fawaid.


"Siapa Fawaid, kenapa dia perhatian sekali sama Salun, Zahra dan yang lain juga biasa-biasa aja liat Salun di bawa sama dia, apa mereka punya hubungan spesial, atau mereka cuma saudara, tapi kalau gue liat tatapan Fawaid sepertinya ada cinta di sana, jadi aku rasa mereka bukanlah saudara" monolog Cemal dalam hati.


"Dokter, suster, tolong adek saya" teriak Fawaid seraya berlari memanggil suster untuk memeriksa keadaan Salun, gadis itu masih setia memejamkan kedua matanya dalam gendongan saudara sepupunya itu.


"Astaghfirullah, adeknya kenapa mas, kok pucat sekali, ayo bawa ke sana" tunjuk seorang suster saat melihat wajah pucat gadis itu.


Mendengar apa yang suster ucapkan membuat Fawaid semakin panik, dia berlari membawa Salun ke dalam ruangan yang tadi suster tunjukkan padanya, "Dok, tolong adek saya" ucapnya pada seorang dokter muda yang di dadanya bertuliskan nama D.r. Mahesa.


Fawaid pun mengangguk dan mendudukkan tubuhnya pada kursi tunggu yang tak jauh dari ruangan tersebut, "Dek kamu kenapa, maafin kakak karena selama ini kakak terlalu sibuk sampai tidak ada waktu buat nemenin kamu" gumamnya pelan seraya menggenggam tangannya sendiri, berusaha tenang dan tidak berfikir negatif, dia berharap semuanya akan baik-baik saja.


"Ceklek"


Hampir satu jam Fawaid menunggu akhirnya dokter Mahesa keluar dari ruangan tersebut, melangkah pelan menemui pria itu, Fawaid pun segera berdiri dari duduknya untuk menyambut kedatangannya serta ingin menanyakan bagaimana kondisi adik sepupunya itu.


"Dok, bagaimana keadaan adik saya, dia sakit apa?" Fawaid seakan tidak sabar ingin mengetahui penyakit yang di derita oleh Salun.

__ADS_1


"Dia tidak apa-apa, cuma sepertinya dia baru saja memakan makanan pedas dalam keadaan perut kosong" jelas dokter Mahesa dengan tenang.


"Oh begitu ya dok, apa dia sudah bisa di temui?" Pria itu ingin segera melihat Salun secara langsung.


"Silahkan, tapi nanti jangan lupa untuk mengambil resep obat di ruangan pribadi saya" melangkah cepat menuju ruangannya setelah mendapat anggukan dari saudara pasiennya itu.


"Sal, kamu kok bandel banget sih, kenapa bisa ngga sarapan, biasanya kan kamu paling ngga bisa ketinggalan sarapan, apa ada hal yang membuat mu sangat sibuk akhir-akhir ini?" Menatap lekat wajah pucat pasi yang masih memejamkan kedua matanya itu, dia hanya bergumam pelan karena takut mengganggu istirahat Salun.


"Apa sebaiknya aku kasih tau kak Difa ya, mau gimana pun juga dia kan kakak tertua Salun" Fawaid berinisiatif untuk memberi tahu Difa, tapi sekarang dia urungkan karena dia tahu Salun dan Difa tidak sedekat hubungan saudara seperti yang lainnya.


"Kalau Salun tau pasti dia marah karena aku ngasih tau kak Difa, tapi aku harus telepon siapa nih, atau aku telpon mama aja ya, siapa tau dengan kedatangan mama kesini bisa ngobati rasa rindu Salun pada bibi" lanjut pria itu lagi, Meraih ponsel dalam saku celananya, mencari kontak sang mama.


"Tut, Tut, Tut" nada sambung telpon pun mulai terdengar, dengan sabar Fawaid menunggu sang mama untuk mengangkat telponnya karena dia tahu saat ini mamanya sedang sibuk membersihkan rumahnya.


"Halo ma, assalamualaikum, ini Fawaid" pria itu mengucapkan salam pada sang mama, sebenarnya dia sedang dilema, ingin sekali dia memberi tahu tentang Salun tapi dia tidak mau mamanya sedih, karena sejak dulu dia memang menganggap Salun sudah seperti putrinya sendiri.


"Waalaikum salam, ada apa nak, tumben kamu telpon mama di jam segini?" Tanya wanita paruh baya itu.


"Em, anu ma, Salun masuk rumah sakit ma" Fawaid berkata penuh keraguan, dia takut mamanya akan sedih dan terkejut mendengar kabar itu.

__ADS_1


__ADS_2