
"Iya pa, Cemal janji akan berubah menjadi lebih baik lagi, maafkan Cemal karena selama ini Cemal selalu membuat malu papa sama Mama" jawab Cemal menunduk lemah, dia merasa bersalah pada kedua orangtuanya, bukan tidak ada niat untuk berubah, akan tetapi pergaulannya yang terlalu bebas yang membuatnya melupakan niat baiknya itu.
"Papa pegang janji mu itu, kali ini papa tidak main-main, jika sampai kamu melakukan kesalahan yang sama, jangan salahkan papa jika nama kamu terhapus dari kartu keluarga kita" Jufri berkata dengan raut wajah serius, berharap agar Cemal faham dan mengikuti keinginannya untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
Lima belas menit berlalu, meja yang awalnya berantakan karena makanan dan piring-piring kotor kini telah bersih seperti semula, Safira dengan cekatan membersihkan semuanya setelah suami dan putranya itu menyelesaikan makan malamnya.
"Ma, mama mau ikut papa ketemu rekan kerja papa nggak?" Jufri berdiri di belakang tubuh safira yang tengah mendudukkan tubuhnya di kursi kayu yang ada di ruang tamu, wanita paruh baya itu segera menoleh dan menatap heran pada sang suami, karena tidak biasanya Jufri mengajak dirinya untuk bertemu dengan rekan kerjanya.
"Tumben pa?" Tanya Safira singkat.
"Papa kan orang baru di sini ma, ternyata setiap teman-teman papa meeting mereka selalu mengajak istri-istri mereka, makanya sekarang papa ngajak mama, ya kalau mama mau, kalau nggak ya nggak kenapa-napa juga sih ma" Jufri menjelaskan bahwa setiap dia bertemu dengan rekan kerjanya kebanyakan dari mereka membawa serta istri mereka agar mereka saling mengenal satu dan lainnya.
"Baiklah kalau begitu pa, tapi mama mau ngasih tau Cemal dulu kalau kita akan keluar, setelah itu mama akan siap-siap" jawab Safira tersenyum lembut, Jufri mengangguk dan melangkah menuju kamarnya untuk bersiap-siap.
Sementara Cemal saat ini tengah menatap langit malam seraya membuka jendela kamarnya, di tatapnya beberapa bintang yang nampak berkilau indah dengan cahayanya. "Ya Tuhan, semoga aku bisa membanggakan kedua orang tua ku" ucapnya dalam hati.
"Cemal, buka pintunya, mama mau bicara" teriak Safira seraya mengetuk pelan pintu kamar putranya itu.
"Iya ma, tunggu sebentar" sahut Cemal seraya melangkah tergesa menuju pintu.
"Ceklek" perlahan pintu terbuka, menampilkan sosok wanita paruh baya yang masih terlihat cantik.
"Silahkan masuk nyonya" Cemal bercanda menggoda sang mama, membuat Safira tersenyum kemudian mengacak-acak rambut Cemal yang mulai panjang.
__ADS_1
"Ada apa ma?" Tanya Cemal setelah keduanya duduk di tepi tempat tidur.
"Mama minta maaf ya, tadi mama nggak belain kamu di depan papa, bukannya mama tidak sayang sama kamu, tapi semua ini mama dan papa lakukan demi kebaikan kamu nantinya, mama harap kamu mengerti dan berubah nak" Safira berkata dengan tatapan lurus ke depan.
Cemal menunduk lemah kemudian memeluk sang mama dari samping tubuhnya, "maafkan Cemal ya ma, Cemal udah jadi anak yang nggak berguna, doakan Cemal agar bisa berubah setelah ini" ucapnya dengan mata yang mulai mengembun.
"Mama sama papa sudah memaafkan kamu nak, tapi ingat pesan papa, jangan melakukan kesalahan itu untuk kedua kalinya" Safira kembali mengingatkan putranya itu.
"Iya ma, Cemal janji" ucapnya lagi kemudian di akhiri dengan kecupan singkat di pipi kanan sang mama.
"Malam ini papa mengajak mama untuk bertemu dengan rekan kerjanya, kamu di rumah aja jangan kemana-mana, bisa kan?" Safira mencondongkan tubuhnya menatap Cemal, menanti jawaban apa yang akan keluar dari mulut sang putra.
"Baiklah ma, tapi hati-hati ya, Cemal nggak mau papa sama Mama kenapa-kenapa" jawab Cemal dengan senyumnya.
Di salah satu sudut kamar seorang gadis tengah membaringkan tubuhnya seraya memakai earphone pada telinganya, dia adalah Salun, setelah melakukan kewajiban empat rokaat isya' gadis itu merasa lelah dan ingin sekali cepat terlelap, namun entah kenapa kedua matanya seakan tidak bisa di ajak bekerja sama.
"Padahal aku ngantuk banget, kenapa aku nggak bisa tidur ya" ucapnya pelan seraya menatap langit-langit kamarnya.
"Kriyuk-kriyuk" perut gadis itu tiba-tiba berbunyi menandakan bahwa ia sedang meminta di isi.
"Ya Tuhan, aku sampai lupa makan malam, mungkin karena ini aku nggak bisa tidur" Salun segera mendudukkan tubuhnya.
Beberapa menit kemudian gadis itu sudah menyalakan kompor, dia ingin membuat nasi goreng untuk mengisi perutnya, karena kebetulan saat itu masih ada nasi sisa sarapan tadi pagi yang masih berada di rice cooker miliknya, biasanya kalau tidak ada nasi gadis itu akan memasak mie instan untuk mengganjal perutnya.
__ADS_1
"Untung masih ada nasi, lumayan kan bisa buat nasi goreng" ucapnya seraya meletakkan sebutir telur pada minyak yang sudah dia panaskan.
"Adududuh, panas, panas" ucapnya seraya mematikan kompornya karena tangannya terasa panas akibat letupan minyak goreng.
"Sial, apes bener gue" Salun menggerutu seraya membasuh tangannya pada wastafel.
Setelah di rasa membaik, gadis itu membawa sepiring nasi goreng yang telah dia siapkan sejak tadi pada meja ruang tamu, sebelum memakannya dia memotret nasi goreng tersebut dan mengirimkan photo tersebut pada Zahra melalui pesan chat di aplikasi berlogo telpon berwarna hijau yang bisa di sebut dengan aplikasi wathsap.
"Ra gue lagi makan malam" demikian isi pesan yang Salun kirimkan setelah selesai mengirimkan photo nasi gorengnya tadi.
"Buset Sal, itu laper apa rakus?" Zahra membalas pesan sahabatnya itu dengan candaan.
"Resek loe" setelah membalas pesan tersebut Salun memulai panggilan video dengan Zahra, namun dua kali Salun menelponnya tak juga Zahra angkat, sehingga membuat gadis itu kesal, di siapkan satu sendok nasi goreng pada mulutnya kemudian mengunyahnya pelan seraya mengetikkan sebuah pesan pada Zahra, pesan tersebut belum terkirim namun Zahra sudah lebih dulu mengirimkan pesan untuknya yang berisi.
"Apa sih Sal, gue nggak ada kuota jadi nggak bisa video call, ini pun gue pakai Jamkesmas"
Membaca pesan dari Zahra membuat tawa Salun pecah sampai-sampai tersedak oleh makanannya. "Loe pikir handphone loe korban DBD pakai Jamkesmas segala" timpalnya lagi.
" au dah Sal, terserah loe aja mau ngomong apa yang penting malam ini gue mau tidur"
"Nggak setia kawan loe Ra, gue mau di temenin makan malah loe main tinggal" Salun menggerutu pelan namun Zahra hanya terkikis geli sebelum menonaktifkan data ponselnya.
Akhirnya Salun melanjutkan makan malamnya seorang diri, sepi yang dia rasakan, merindukan kehangatan keluarganya seperti dulu, namun dia tidak tahu sampai kapan hidupnya akan terus seperti ini, berharap hari esok akan ada keajaiban, dimana kedua orang tuanya datang untuknya di tengah rasa rindu yang semakin hari semakin menggerogoti jiwanya.
__ADS_1
"Ya Allah, sampai kapan aku harus seperti ini?" Ucapnya dengan mata berkaca-kaca seraya berusaha untuk tidak menjatuhkannya.