
"Duh, duh duh, sial gue kesiangan lagi, mana belum sholat subuh" Salun segera terjaga dari tidurnya dan berlari menuju kamar mandi untuk berwudhu.
Lima belas menit berlalu, kini gadis itu tengah membaca Alqur'an, setiap pagi setelah selesai melaksanakan dua rokaat subuh gadis itu biasa mengaji walaupun cuma beberapa ayat, menurutnya hal itu adalah hal yang paling baik untuk mengawali hari-harinya.
"Shodaqollaahul adzim" ucapnya seraya mencium Al-Qur'an tersebut lalu meletakkannya pada tempatnya, setelahnya dia pun membereskan mukena serta sajadah yang dia kenakan.
"Sial, gara-gara nungguin jawaban si unta gue Sampe kesiangan, awas aja kalau gue ketemu di dunia nyata nanti, gue timpuk pakai sepatu gue" gerutunya seraya mengenakan seragam sekolahnya, di lanjutkan dengan memasukkan beberapa buku pelajarannya ke dalam tasnya.
"Drrtt, Drrrt" ponsel gadis itu menyala menandakan ada panggilan masuk, di lihatnya nama yang terpampang di sana, lalu menggeser icon hijau agar panggilan itu tersambung.
"Ya ampun Sal, loe kemana aja sih, dari kapan gue nelpon loe sekarang baru loe angkat, ya Tuhan" gerutu Zahra setelah panggilan teleponnya di angkat oleh sahabatnya itu.
"Iya Ra, kenapa? Sorry gue kesiangan" jawabnya lesu.
"Hah, tumben loe kesiangan, biasanya loe rutin bangun pagi?" Zahra terkejut mendengar jawaban dari sahabatnya itu karena tidak biasanya Salun terlambat bangun.
"Semalam gue ngga bisa tidur Ra, nanti deh gue cerita, sekarang loe mau gue jemput atau gimana?" Salun tetap perhatian sama Zahra karena Zahra sudah seperti kakaknya sendiri.
"Iya lah kalo loe nggak keberatan, ini gue udah di depan warung mbak sutik, tadinya gue mau ke rumah loe karena gue hawatir loe kenapa-napa, tapi syukurlah gue lega loe baik-baik aja" jelas Zahra seraya melihat ke arah warung mbak sutik yang sudah mulai ramai dengan orang-orang yang hendak sarapan sebelum berangkat bekerja.
"Ya ampun Ra loe Baek banget siiih, ya udah gue otw nih mau kunci pintu dulu ya, loe jangan kemana-mana tunggu aja di situ, oke" gadis itu pun mulai melangkah keluar dari rumahnya dan tidak lupa mengunci pintunya.
Lima menit kemudian motor Vario putih itu pun melaju meninggalkan halaman rumah yang terlihat sederhana itu, salun mengemudi dengan kecepatan sedang karena dia tidak ingin terjadi sesuatu padanya, dia tidak ingin kedua orangtuanya hawatir akan dirinya.
"Ra, siapa nih yang nyetir?" Tanya gadis itu setelah bertemu dengan Zahra.
__ADS_1
"Ya udah sini biar gue aja, loe tuh kelamaan tau, gue nungguin loe sampe laper" gerutu Zahra dengan menaiki motor sahabatnya itu.
"Ya elah Ra, gue naek motornya pelan-pelan, gini-gini gue masih sayang nyawa" memasang kembali helm yang tadi sempat dia buka.
"Serah loe deh, gue agak cepet ya soalnya keburu telat nih, loe pegangan yang kenceng" Zahra mengambil ancang-ancang.
"Kalo sekiranya nyawa gue jadi taruhan, mending gue naek angkot aja deh Ra" ucapan Salun terhenti saat Zahra melajukan motornya dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Woy Raaa, pelan-pelan napa sih?" Teriaknya lagi.
Merasa kasihan pada Salun akhirnya Zahra memelankan laju motornya, "Sal, loe percaya sama takdir nggak?" Zahra bertanya dengan tatapan tetap lurus ke depan.
"Percaya, emang kenapa?" Salun kembali bertanya.
"Gini ya Ra, takdir itu udah seharusnya kita terima, banyak pembalap motor selamat dari lombanya walaupun kecepatan motornya selalu di atas rata-rata, sedangkan tidak sedikit orang yang motornya jalan pelan untuk melindungi dirinya tapi tiba-tiba ada sebuah truk menabraknya hingga sang pemilik motor meninggal" Zahra membandingkan dirinya dengan seseorang pemain balap liar.
"Akhirnya nyampe juga, untung gue yang nyetir, kalo loe yang nyetir bisa-bisa telat kita" ucap Zahra setelah memarkirkan motor milik sang sahabat.
"Ck, kebiasaan" salu memutar bola matanya malas, di detik berikutnya mereka telah melangkah beriringan menuju kelas, di selingi dengan canda tawa keduanya, dan seperti biasanya, keduanya tak luput dari tatapan teman-teman kelasnya yang lain, ada yang ikut bahagia melihat keakraban keduanya namun ada juga yang merasa iri.
Setibanya di kelas keduanya di sambut bahagia oleh Fia dan Dyah, "gue kira kalian nggak mau sekolah, nggak biasanya kalian nyampe jam segini" Dyah berkata seraya melihat jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya.
"Ini tuh gara-gara ratu kita kesiangan, nggak tau juga kenapa dia bisa telat bangun biasanya dia yang paling rajin di antara kita-kita" Zahra meletakkan tasnya di atas meja kemudian mendudukkan tubuhnya.
"Semalam gue nggak bisa tidur tau nggak, gue lupa tidur jam berapa, ini aja kepala gue masih agak pusing" jelas Salun setelah mendudukkan tubuhnya di samping Zahra.
__ADS_1
"Loe banyak pikiran kali, atau loe kecapean karena seharian di pantai" Fia mengeluarkan pendapatnya tapi hal itu mendapat bantahan dari Salun.
"Nggak juga sih Fi, kalo gue kecapean biasanya gue lebih cepat tidur dari biasanya, entahlah gue juga bingung kenapa sama gue, bahkan gue sampe nggak sarapan gara-gara takut telat" jelasnya seraya menyadari bahwa dia telah melupakan sarapan paginya.
"Ya ampuuunnn kacian banget sahabat akoh" Zahra menggoda Salun sambil mencubit gemas pipi sahabatnya itu.
"Ck, apaan sih loe" memutar bola matanya malas.
"Selamat pagi gaes, hari ini gue punya kabar gembira buat kalian semua, ada yang penasaran nggak?" Abi memasuki kelas dengan merentangkan kedua tangannya.
"Brisik tau bi" sergah Fia.
"Gue tuh bawa kabar baik buat kalian, kalian nggak mau tau apa?" Abi meletakkan tasnya pada meja dan mendudukkan tubuhnya di atas meja milik Salun dan zahra sehingga membuat kedua gadis itu menggeser tubuhnya.
"Anak barunya cewek apa cowok bi?" Akhirnya Dyah bertanya mewakili ketiga sahabatnya.
"Anak barunya cowok, dia pindahan dari kota" jawab Abi penuh semangat.
"Yang bener Bi, gimana ganteng nggak?" Zahra begitu antusias menanyakan hal itu, bukan untuk dirinya sendiri melainkan untuk sahabatnya, dia ingin Salun bahagia dan ada yang menemaninya, walaupun dia sudah berusaha untuk selalu ada untuk Salun tapi dia tahu bahwa Salun tidak sebahagia yang dia lihat.
"Kalo masalah itu sih lebih ganteng gue, gue kan nggak ada tandingannya Ra, cuma loe aja yang nggak menyadari itu" Abi terkikik geli.
"Sialan loe" satu tangan Zahra menjitak kepala Abi dari samping hingga pria konyol itu mengasuh.
"Jangankan di jitak sama loe Ra, di cium pun gue rela" gombal si Abi lagi membuat Fia, Dyah, dan Salun tertawa lepas melihat ekspresi raut wajah Zahra yang terlihat kesal.
__ADS_1
"Eh, eh balik sono Bi, noh Bu Indah udah dateng, tapi dia bareng siapa ya, apa dia anak barunya itu?" Tanya Dyah pada Abi karena melihat seorang pria mengikuti langkah Bu Indah dari belakang.