
"Udah ngga usah sok hawatir, gue udah biasa begini kok" melihat ketulusan Cemal membuat Salun tidak tega untuk mendiaminya, mendengar jawaban darinya pria itu mengangguk pelan seraya memasukkan mie ayam ke dalam mulutnya.
Salun mulai memakan bakso miliknya, keringat bercucuran membasahi kening gadis tersebut, berulang kali dia membersihkannya dengan tisyu namun terus saja basah dan basah lagi.
"Sal, kalo nggak kuat pedas udah brenti aja, gue pesenin yang lain" ucap Cemal dengan nada hawatir.
"Apaan sih, gue udah biasa begini, loe baru sekarang tau selera makan gue" jawab gadis itu setelah meneguk jus lemon pesanannya hingga tandas.
Cemal segera menyelesaikan makannya dan meletakkan garpu serta sendoknya ke dalam mangkuk kosong sisa makannya, "gue cuma takut loe kenapa-napa Sal" gumamnya dalam hati.
"Gaes, kalian udah belum makannya, kalo udah kita ke kelas aja yok" tanya Salun pada keenam sahabatnya yang masih memakan makanan mereka.
"Sal, loe makannya cepet banget kayak di kejar setan, liat nih kita belum selesai" jawab Dyah tidak kalah nyaring dengan sahabatnya yang baru saja dia kerjai itu.
"Loe aja yang makannya lelet, ya udah kalo gitu gue ke kelas duluan deh" Salun memilih meninggalkan mereka karena dia tidak mau jadi korban kejailan mereka lagi.
Melangkah pelan menuju kelas, melewati koridor yang masih terlihat sepi, ada beberapa siswa yang duduk di depan kelas mereka seraya memegang buku pelajaran, menurut gadis itu mereka adalah tipe-tipe anak rajin, tidak seperti dirinya.
"Sal, gue boleh bareng loe nggak ke kelas?"
Salun terjingkat kaget saat mendapati Cemal sesudah berdiri di sampingnya, berusaha mensejajarkan langkah kakinya dengan langkah kakinya sendiri.
"Jangan bilang loe di suruh sama mereka lagi, kalau iya awas aja mereka" ucapnya dengan penuh ketegasan.
"Nggak kok, ini kemauan gue, lagian ngapain liatin mereka makan, kayak nyamuk aja" jawab Cemal dengan tatapan lurus ke depan.
__ADS_1
"Oke lah kalau gitu" Salun berkata dengan singkat.
"Dari mana Sal?" Seorang pria berdiri menyandarkan tubuhnya pada dinding seraya memegang buku pelajaran, dia menatap lekat ke arah Salun dan Cemal.
"Gue abis dari kantin, kenapa?" Salun menghentikan langkahnya, begitu pula dengan Cemal, dia menjadi pendengar atas obrolan keduanya.
"Udah lama nggak ke rumah, emang nggak kangen?" Tanya pria itu lagi, dia melirik sekilas ke arah Cemal, "siapa dia, sepertinya anak baru" tanyanya dalam hati.
"Ya, gimana ya, bukan nggak kangen tapi tau sendiri lah gue sibuk" memutar bola matanya malas.
"Sibuk apa sok sibuk, emang sibuk apaan, mama nanyain loe terus" pria itu tidak percaya dengan jawaban yang di lontarkan oleh gadis itu.
"Iya kapan-kapan gue ke sana kok, tapi tidak untuk hari ini, udah ya gue mau ke kelas dulu, bay" gadis itu pun melangkah setelah melambaikan tangannya pada pria tersebut.
"Sal, siapa cowok tadi?" Cemal memberanikan diri bertanya.
*****
"Sepertinya Salun sedang tidak baik-baik saja, wajahnya terlihat pucat" gumam pelan Fawaid seraya menatap punggung Salun dan Cemal yang semakin menjauh.
Fawaid adalah saudara sepupu Salun, ayah Salun dan almarhum ayah Fawaid adalah kakak beradik, usia ayah Fawaid lebih muda tiga tahun dari ayah Salun, namun usia tidak ada yang tahu, ayah Fawaid meninggal dua tahun yang lalu karena menderita penyakit asma, sama seperti ayah Salun yang juga memiliki riwayat asma.
Beruntungnya Fawaid tidak memiliki penyakit yang sama seperti ayahnya, akan tetapi Salun lah yang memiliki penyakit tersebut, kadang jika terlalu kecapean asma itu langsung kambuh, maka dari itu Fawaid sering menghawatirkan keadaan adik sepupunya itu, apalagi saat ini dia tinggal sendiri.
"Sebaiknya nanti malam aku datang menemaninya, tapi kalau dia mau di ajak nginep di rumah sih nggak papa, biar nanti aku tanyain dulu" lanjut pria yang saat ini duduk di bangku kelas tiga SMA itu, ya usia Fawaid saat ini sembilan belas tahun, sebentar lagi dia akan lulus SMA, berbeda dengan Salun yang baru menginjakkan kakinya di bangku SMA.
__ADS_1
"Zahra" Fawaid melihat segerombolan siswa hendak melintasi dirinya, sesaat dia melihat Zahra, yang dia ketahui bahwa gadis itu adalah sahabat akrab Salun.
"Eh iya kak ada apa ya, nggak mungkin kan kalau kakak kangen sama aku, hehehe" Zahra mulai mengeluarkan jurus genitnya, apalagi melihat Fawaid yang semakin hari semakin tampan, apalagi dia adalah ketua OSIS dan menjadi incaran setiap gadis di sekolah itu.
Zahra merasa sangat beruntung bisa dekat dengan Fawaid walaupun dia hanya dekat sebagai sahabat adik sepupunya itu.
"Ck, gue mau ngomong sama loe, berdua aja" jawab Fawaid dengan raut wajah dingin.
Mendengar jawaban Fawaid, Zahra mengerjab-ngerjabkan kedua matanya beberapa kali, masih belum percaya jika ada cowok setampan Fawaid ingin berbicara serius dengannya.
"Ya udah Ra, loe temenin dulu kak Ketos, kita duluan ya ke kelas, jaga jangtungnya ya" canda Dyah hingga membuat semua orang yang ada di sana terkikik geli.
"Ya udah kak bro, kita duluan, nitip Zahra ya, kalau nakal pintel aja kupingnya" ucap Fatih sebelum melangkah menjauh dari dua orang berbeda jenis tersebut.
"Mau ngomong apa kak, kalau mau nembak aku yang romantis dikit lah kak jangan disini, kita ke taman aja yuk" Zahra berkata dengan percaya diri, membuat pria itu menggelengkan kepalanya pelan, tapi dia tahu bahwa gadis di hadapannya memang suka bercanda.
"Kapak terakhir loe nginep di rumah Salun?" Fawaid bertanya tanpa berbasa-basi.
"Oh itu, semalam gue nggak nginep di sana kak karena ada acara keluarga, tapi kemaren malam gue masih di sana, emang kenapa kak?" Gadis itu kembali melemparkan pertanyaan.
"Salun baik-baik aja kan, nggak ngeluh apa-apa?" Fawaid terlihat hawatir.
"Em, nggak ada sih kak, tapi kakak tau sendiri kan kalau Salun nggak akan cerita selagi dia masih kuat menahan semuanya, tapi aku liat sepertinya dia baik-baik saja kok" Zahra berusaha menenangkan pria tersebut.
"Tapi tadi gue lihat dia pucat, tapi semoga itu hanya firasat gue aja" gumam pelan Fawaid.
__ADS_1
"Iya kak, aamiin semoga dia baik-baik aja, biar nanti malam gue temenin dia kak" Zahra melihat dengan jelas raut hawatir dari wajah Fawaid.
"Zahraaaa, kak Fawaid, tolongin Salun" teriak Dyah dari arah pintu kelas satu SMA, membuat dua orang itu seketika menoleh dan segera berlari menuju ke arah gadis tersebut.