
Salun di buat ternganga mendengar apa yang di katakan Dyah, gadis itu langsung menoleh ke arah empat pria yang baru saja duduk di meja kosong yang terletak di pojok kantin tak jauh da,ri tempatnya.
"Kenapa wajah loe kaget gitu Sal, tadi loe kan yang nantangin kita, sekarang kita kasih tantangan beneran, dan loe, mau nggak mau harus lakuin apa yang kita perintahkan" ucap Dyah penuh penegasan.
Gadis itu melotot tak percaya, kerongkongan serasa tercekat, ludahnya seketika terasa pahit, "I_ya, tenang aja gue pasti lakuin apa yang loe mau kok" ucapnya terbata.
"Ya udah ayok buruan, nih camera gue udah siap" Zahra terkikik geli melihat ekspresi wajah sahabatnya itu.
"Oke, oke, santai" ucap gadis itu seraya berdiri dari duduknya, berulang kali dia menarik nafas panjang, jantungnya terasa berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya.
"Mampus, kenapa gue harus terjebak dalam permainan gue sendiri, sial banget hidup gue hari ini" gerutunya dalam hati, melangkah pelan semakin dekat ke arah empat pria tersebut.
"Hai" ucapnya pada empat pria yang kini sedang duduk menunggu pesanan makanan mereka, mereka pun serempak menoleh ke arah gadis tersebut, mereka merasa bingung, berbeda dengan Cemal yang seketika merasa salah tingkah saat mendapati tatapan detail dari gadis yang sejak kemarin mengisi kekosongan hati dan pikirannya.
"Hallo tuan putri, ada apakah gerangan?, Apa kau memerlukan bantuan?" Goda Abi yang melihat Salun mendudukkan tubuhnya di samping dirinya.
"Hehe nggak kok, gue, gue cuma mau kenalan sama anak baru itu, boleh nggak?" Salun berbasa-basi, pria bernama Abi itu membulatkan kedua matanya dengan mulut ternganga seperti huruf O.
"Sebentar, apa gue nggak salah denger nih?" Abi masih belum percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, karena setahu dia, gadis bernama Salun itu paling anti dekat dengan pria walaupun itu dirinya yang sudah di anggapnya sahabat.
"Nggak loh Bi, loe nggak salah denger, Salun emang mau kenalan sama dia kok, ayo kasih waktu buat mereka berdua kenalan" teriak Dyah dengan lantang membuat semua siswa yang ada di kantin tersebut menoleh ke arah mereka.
"Sial, sial, kenapa gue harus terjebak dalam situasi seperti ini" gerutu Salun dalam hati, tapi mau tidak mau dia memang harus melakukan itu.
Sementara Cemal semakin salah tingkah, keringat dingin mulai bercucuran di keningnya, berulang kali pria itu menghembuskan nafas kasar, "gila, kenapa harus secepat ini" gumamnya pelan.
"Hay, boleh kita kenalan?" Salun berpindah posisi, gadis itu duduk di antara Fatih dan Abi.
__ADS_1
"Ah iya, nama gue Cemal, loe?" Cemal mengulurkan tangan kanannya untuk berjabat tangan dengan gadis yang kini duduk di hadapannya, walaupun sebenarnya dia merasa gerogi, tapi dia tetap harus mempertahankan harga dirinya sebagai pria yang dingin dan tegas.
Melihat Cemal yang mulai berkeringat membuat Abi terkikik geli, ingin rasanya dia tertawa dengan keras, tapi dia juga tidak ingin merusak moment itu, Abi pun tahu bahwa Zahra sedang mengabadikan hal tersebut.
"Nama gue Salun" jawab Salun singkat, namun tak lama dari itu dia kembali mendengar teriakan Dyah yang membuatnya berdecak kesal.
"Woy Sal, pakai nama lengkap donk biar makin afdhol" setelah mengucapkan hal itu Dyah, Zahra dan Dia tertawa lepas, menertawakan sahabatnya itu.
"Oke, nama gue Salun Mardiana Dewi, loe bisa manggil gue Salun" ucapnya dengan tegas.
"Cemal, panggil sayang aja lebih enak, ya nggak Bi?" Fia ikut bersuara dan meminta dukungan pada Abi, pria itu pun mengangguk mantap menyetujui ucapan gadis teman kelasnya itu.
"Hey, kalian bertiga ngapain di situ jadi nyamuk aja, mending kalian gabung di sini sama kita, biarkan mereka berdua saling kenal satu dan lainnya" usul Zahra yang langsung di setujui oleh tiga pria itu, mereka langsung membawa kursi mereka pada meja di mana Zahra, Fia, dan Dyah duduk.
"Sialan, ini nggak sesuai konsepnya dodol" teriak Salun karena merasa kesal akan tingkah tiga sahabatnya.
"Ya ampun, ternyata Salun tadi pagi kesiangan gara-gara nungguin balasan chat dari gue, kasian sekali dia, tapi belum saatny aku ngasih tau dia siapa pangeran unta" Cemal bergumam dalam hati seraya menatap lekat gadis di hadapannya.
"Bro, liatinnya biasa aja kali, kalai dia udah di ceklis milik loe, kita sebagai sahabat nggak bakal ngambil kok, hahahahah" Abi tertawa lepas.
Sedangkan Cemal hanya bisa menarik nafas pasrah, dia pun juga sangat senang karena bisa secepatnya dekat dengan gadis yang mengganggu pikirannya sejak kemarin.
"Makanan udah siap" teriak pelayan kantin seraya meletakkan beberapa makanan di hadapan beberapa siswa itu.
"Mbak, gue tadi minta bakso bukan mie" ucap Salun karena di hadapannya sudah ada mie ayam.
"Eh ini bukan punya kamu, ini punya mas ini, kalau yang ini baru punya kamu" ucap sang pelayan.
__ADS_1
"Terus kenapa di taro depan gue?" Gerutunya pelan.
"Sal, loe kenapa sih dari tadi sensi Mulu, tinggal pindahin itu mie ke depan Cemal sambil bilang, ini sayang punya loe, gitu" Fatih pun ikut menggoda kedua pasangan itu.
"Apa sih loe, ikut-ikutan aja" Salun melirik tajam ke arah Fatih.
"Udah ngga usah ribut, sini punya gue" Cemal mengambil semangkuk mie ayam tersebut dan meletakkannya di hadapan dirinya.
"Sini mbak baksonya" pria itu pun mengambil bakso yang ada di atas nampak dan meletakkannya di hadapan Salun.
"Loe mau saos yang banyak apa gimana?" Tanya pria itu seraya mulai membuka tutup saos.
"Nggak usah, gue bisa sendiri kok" tolak gadis itu secara halus.
"Cieee, Cemal sosweet banget siiih, coba aja gue jadi Salun, pasti gue nggak bakal nolak" goda Zahra terkikik geli.
"Ayok tukar posisi" tantang Salun lagi.
"Ya nggak lah Sal, Cemal tuh cocoknya sama loe, ganteng sama cantik, kalau dia sama gue ya nggak cocok banget lah, gue kan tampang pasaran, beda sama loe yang tampang kelas atas, ya nggak gaes" Zahra meminta dukungan para sahabatnya yang lain, mereka semua serempak mengangguk.
"Au ah, serah kalian, gue laper mau makan aja" Salun mengambil saos yang di letakkan Cemal di samping baksonya, menuangkan sedikit kemudian kembali menutupnya.
"Nih kecapnya" Cemal menyodorkan kecap yang dia pegang ke arah Salun, gadis itu pun menerimanya dan menuangkan pada baksonya secukupnya saja.
"Ehem ehem, udah mulai akrab kayaknya ya" Fatih kembali bersuara, namun gadis itu tidak menghiraukannya, dia meraih sambal yang ada dan manuangkan beberapa sendok ke dalam baksonya.
"Sal, jangan banyak makan sambal, apalagi dalam keadaan perut kosong, nggak baik Sal" cegah Cemal, namun ucapan pria itu tidak di hiraukan oleh Salun, gadis itu terus memasukkan sambal itu hingga kurang lebih sepuluh sendok makan.
__ADS_1