
Assalamualaikum teman teman, bertemu dengan karya pertama ku . Mohon dukungannya dengan follow dan vote cerita ini ,yah tinggalkan juga komen positif kalian terimakasih.
Part 1 - KETIKA HATI SUDAH MATI RASA
Namaku Bulan Maheswari saat ini umur ku menginjak 27 tahun aku dulu pernah bekerja di beberapa restaurant ternama di kota Bandu ng,tapi kali ini aku beralih profesi sebagai karyawan toko di salah satu pertokoan yang juga masih berada di sekitar kota Bandung yang kebetulan buka 24 jam. Aku juga keturunan jawa tulen dengan tinggi badan 155 cm aku mengikuti perawakan ibu yang juga tidak terlalu tinggi,kulit sawo matang ,mata bola,dan badan sedikit berisi. Orang orang berkata jika wajah ku juga menurun ibu yang berparas cantik,dan menawan.
Kini hari hariku di sibukan oleh aktivitas yang tak menentu karena bekerja sebagai karyawan toko yang buka 24 jam harus selalu berganti waktu jam kerja. Aku juga punya teman dia bernama Lidya lebih tua satu tahun dariku dia seorang teman yang menurutku sangat baik,badannya lebih gemuk dari aku dan dia juga sama denganku berasal dari jawa dan terlahir sebagai orang yang kurang mampu. Jarak kosan kita juga jaraknya lumayan walau kita bekerja di tempat yang sama,tapi pasti kita selalu bergantian untuk sekedar mengobrol atau jalan jalan untuk menghilangkan rasa jenuh.
Aku sangat beruntung memiliki sahabat seperti Lidya. Sudah terbiasa mandiri sejak kecil membuat aku tidak kaget lagi dengan sulitnya mencari uang sejak aku duduk si bangku SMP aku berjualan membantu sedikit meringankan beban bapak dan ibu. Walau laba yang aku peroleh hanya bisa untuk uang jajan ku dan menyicil buku LKS waktu itu, aku bangga dengan diriku yang mau berusaha bekerja keras aku selalu menolak uang pemberian orang tuaku dan aku selalu berfikir mereka susah payah mencari uang untuk membiayai sekolah ku,aku salut dengan mereka. Memang biasanya aku mendapat bantuan tapi tidak semua bisa menggunakan uang bantuan atau terkadang hanya untuk membeli peralatan sekolah bapak dan ibu pasti akan menambah uang,karena yang di beli bukan hanya buku milik ku,tetapi juga 2 adikku.
***
__ADS_1
"Lan ini,sana bawa buat kamu jajan di sekolah nanti" ibu mengeluarkan tiga lembar uang dua ribuan dari sakunya dan berusaha memberikan padaku.
" Nggak bu,sana simpan aja uangnya buat tambah tambah beli beras atau minyak di warung" kata ku yang memang aku sudah membawa dua keranjang berisi jajanan yang biasa aku jajarkan di sekolah saat istirahat jika hanya untuk pergi dan pulang sekolah aku juga pasti selalu punya uang pegangan.
Kejadian seperti itu yang selalu aku ingat,aku tidak ingin terlalu membebankan bapak dan ibu.
Bapak hanya seorang kuli dan ibu menjadi pembantu di rumah tetangga hasilnya juga tidak seberapa apalagi kerja di desa masalah gaji sangat jauh berbeda dengan kota masih di bawah standar rata rata UMR. Kedua adik ku juga masih butuh biaya yang lumayan besar Sindy sekarang baru saja duduk di bangku SMK sedangkan Doni sekarang kelas 2 MTS mereka memang bukan anak yang pandai jadi cukup sulit utuk mendapat bantuan apalagi beasiswa. Pemikiran orang jawa juga biasanya jika kedua orang tua semua bekerja,dan kakak tertua di perantauan mereka akan beranggapan jika keluarga itu mampu.
Padahal sama saja,apalagi biaya sekolah kedua adik ku yang semakin membuat bapak dan ibu tercekik juga membuat otak ku semakin berputar. Kedua adik ku tak mampu untuk bersekolah di negeri,yah jika swasta pasti biaya akan jauh berkali kali lipat. Aku selalu bangga pada bapak dan ibu,walau begitu tekad mereka kuat. Ingin menyekolahkan anak anak nya ke jenjang pendidikan yang tinggi. Tidak seperti bapak dan ibu yang hanya lulusan SD dan hanya mampu bekerja serabutan.
***
__ADS_1
Hari ini aku mulai kerja di malam hari pergantian waktu kerja biasanya jam sembilan atau biasanya di beri kelonggaran waktu tiga puluh menit. Kali ini aku agak terlambat berangkat bekerja kebetulan juga badanku terasa agak meriyang tapi aku tetap bekerja mengingat bonus yang di janjikan bos jika aku tak pernah izin dalam satu bulan bonusnya juga lumayan 150 ribu menurutku sangat berarti. Tetapi aku merasa ada sesuatu yang beda hari ini,suasana gang yang aku lewati sudah sepi sekali tak seperti biasanya banyak sekali bocil yang masih berlarian di area gang. Memang sudah jam 21.15 sih,biasanya aku berangkat kerja malam paling lambat sekitar jam 20.30 bawaanya jadi merinding ngrasa kayak ada orang nggak jelas di pertigaan gang depan tapi aku tetap berpikir positif tingking .
Ternyata hanya orang tongkrongan,tapi yang aku lihat dari gelagatnya juga nggak kaya biasanya aneh dan seperti orang mabuk aku berusaha cuek terus berjalan ke depan . Berusaha biasa saja sembari mempercepat laju langkah kaki ku. Sekilas aku juga tak asing dengan pemuda yang ada di sana,hanya bocah remaja sekitar komplek.
Tiba tiba Brugghh ,seorang pemuda menyergap ku dari belakang di barengi dengan membungkam mulut ku ,hidung ku juga tak bisa berbohong tangannya sedikit bau terasi. Aku sangat takut sekali ,tangan kekar yang membunggam mulut ku terlalu kuat walaupun aku terus memberontak tapi percuma saja Emmpttt emmmptt suara teriakan ku yang tertahan entah kemana mereka akan membawa ku , rasanya aku tidak terlalu asing dengan jalan yang di lewati, ini seperti jalan menuju ladang jagung. Apa yang akan mereka lakukan ?
Kini aku merasa sangat resah,dan gelisah apa lagi ladang jagung di depan sangat lah sepi dan petang. Aku terus saja di dorong oleh sekelompok pemuda itu,di sela sela teriakan ku yang terasa semakin lirih. Mereka terus saja menertawakan sikap ku yang terus saja memberontak.
Kira kira apa yang akan terjadi pada Bulan selanjutnya ?
Apa yang akan di lakukan oleh sekelompok pemuda itu pada Bulan ?
__ADS_1
Akan kah Dewi Fortuna berpihak kepadanya?
Ikutin terus ceritanya dan tinggalkan jejak iya ,supaya outhor tambah semangat buat ceritanya😊