
Siang hari ini Aku akan menemui teman lama ku yang kebetulan satu kampung dengan ku. Hanya menaiki sepeda ontel kuno yang dulu sempat aku belikan untuk Sindy. Memang sudah bobrok,tapi lumayan ,jika jalan kaki juga pasti merasa gempor.
Teman yang akan aku temui kali ini bernama Nina,dia kebetulan bekerja di salah satu toko ice cream yang sedang viral akhir akhir ini. Mixue nama nya,jenis ice cream yang akhir akhir ini jadi idaman para kaum,terutama bocil. Atau remaja yang sering nongkrong karena gabut.
Niat nya sementara waktu aku akan mencoba melamar pekerjaan di sana,kebetulan kata Nina toko itu sedang mencari beberapa karyawan memang penempatan kerja belum pasti karena ada beberapa cabang yang akan di buka. Jarak rumah ku dengan rumah Nina sekitar 3 sampai 4 km cukup jauh,tapi aku masih kuat menggayuh sepeda butut andalan keluarga ku.
Kami memang tak punya barang berharga,bapak jika hendak bekerja juga selalu memilih tempat yang sekiranya bisa di jangkau dengan berjalan kaki atau jika tidak, ada mobil bak terbuka yang bisa menjemput para pekerja. Bapak cukup di percaya di lingkungan kami,menjadikan jarang sekali bapak menganggur pasti ada saja pekerjaan yang harus ia jalani atau jika tidak bapak akan pergi mengumpulkan barang rongsokan atau barang barang bekas lalu kemudian akan di jual ke pengepul agar bisa mendapat pundi rupiah walau tidak seberapa tetapi bagi kami itu juga lumayan apa lagi mengingat perjuangan bapak yang selalu berusaha memenuhi kebutuhan keluarga. Tidak ada kata lelah,walau sakit jika itu masih bisa untuk bekerja bapak akan melakukannya.
***
Jalan di kampung ku sangat tradisional,masih beralaskan tanah yang jika hujan melanda pasti akan licin dan mempersulit perjalanan. Banyak lubang juga sudah terbiasa,iya maklum saja ini kampung dan yang aku lalui hanya jalan desa yang cukup terpencil,mungkin jika di pinggir kota jalan juga tidak seperti ini.
Bokong ku terasa sedikit sakit karena tidak mungkin memilih jalan yang tidak berlubang,kerena cukup banyak kendaraan yang lewat jadi aku tidak bisa seenak jidat berkelak kelok menghindari lubang. Yah kira kira begitu lah lika liku perjalanan yang harus aku tempuh ke rumah Nina,untung saja Nina sedang libur hari ini. Usut punya usut di tempat kerja Nina hanya boleh libur maksimal 4 kali dalam satu bulan,jadi aku juga harus benar benar giat dan selalu menjaga kondisi badan ku jika nanti aku di terima kerja di sana. Untuk ku itu tidak menjadi masalah besar karena biasanya aku bekerja di toko juga jarang mengambil hari libur.
Sesampainya di depan rumah Nina.
“asssalamualaikum”teriak ku sembari aku memarkirkan sepeda di samping rumah Nina.
“walaikumsalam” sahut Nina keluar memastikan jika yang datang adalah aku.
__ADS_1
“haii” aku melambaikan tangan saat batang hidung Nina mulai tampak.
“hiss,aku udah nunggu dari tadi tau” Nina memonyongkan mulut nya .
“iya maap,kamu tau sendiri aku naik sepeda ke sini jadi iya lama” ucap ku sembari berjalan masuk ke rumah Nina.
“sebentar yah,aku mau buat teh dulu” pamit Nina yang sedang menuju dapur.
“Nin,jangan teh iya” protes ku yang sontak membuat Nina melihat ke arah ku.
“tumben,kayak kakek kakek aja deh lu” celoteh Nina
“nenek nenek kali,gue cewek bukan cowok bakalnya jadi nenek bukan kakek" tawa ku seketika pecah langsung menyambar perkataan Nina yang di berengi dengan garukan kepala yang tak gatal.
***
Aku menyesap beberapa kali kopi yang tadi di buat oleh Nina untuk ku. Sambil ngobrol santai membahas masa lalu yang sekarang jika di ingat terasa lucu. Dulu Nina semasa SMA sering di buly kerena fisik yang memang badannya seperti gentong dan muka kayak pohon jerawat. Aku juga sering membela Nina yang kebetulan juga waktu itu kita teman satu bangku,kita bahkan kayak perangko dan surat nempel terus dan selalu muncul berdua dimana mana.
Entah itu ke kantin,ke koperasi,bahkan ke kamar mandi kita berengan untuk menyingkat jam pelajaran yang memang kita kurang suka. Bahasan Nina yang selalu mengidam ngidamkan Yogi untuk jadi pacar nya juga sangat lucu jika di ingat ingat. Nina sedih berkali kali di tolak oleh Yogi,tapi dia juga terus mengejar hingga Yogi yang tak bersalah juga merasa malu.
__ADS_1
“kamu inget nggak Lan,waktu aku bucin banget sama Yogi. kakak kelas terkece kita dulu” Nina membuka obrolan
“masih lah,masih inget banget malah” sambar ku yang juga geli akan kelakuan Nina semasa SMA dulu.
“sumpah,sebenernya aku ngerasa bersalah sama dia gara gara aku yang ngerjar dia terus secara terang terangan dia jadi malu. Apalagi waktu itu aku masih gendut,jelek,penuh jerawat,dan pede nya tingkat dewa” berondong Nina. Tangan nya juga tak berhenti menjelaskan,sesekali mengusap wajah nya yang kini jauh lebih glowing dan badan yang sudah ideal karena menjalani diet ketat beberapa bulan lalu dan mungkin juga lelah bekerja.
“hihihi,sekarang baru sadar kamu. dulu kemana ajan Nin” mata Nina menajam ke arah ku yang sedang meledek nya.
Begitu asik kita mengobrol sampai melupakan tujuan awal .
Di sela sela obrolan yang lagi asyik,Nina memberikan selebaran kertas pada ku. Ternyata itu brosur dari toko nya,ia juga memberi tahu pada ku apa saja yang di butuhkan dan kapan aku harus ke sana.
“ini brosur yang aku bilang kemaren,semoga aja kamu di tempatin di toko yang deket deket sini aja iya Lan. Soal nya penempatannya belum pasti”
“iya moga aja,ini harus lengkap semua syarat nya?” tanya ku memperjelas sambil membaca beberapa persyaratan yang tertera,cukup banyak tapi aku juga sudah tidak kaget lagi pasti rata rata memang begitu .
“iya,di usahain yang kumplit iya, aku sih yakin kamu bakal ke terima pengalaman kerja mu juga bagus,apa lagi nilai mu kan?” Nina mantap dengan tebakannya senyum juga tak lupa ia pancarkan.
“ iya moga aja di terima lah,aku butuh banget soal nya. Makasih iya info nya" ucap ku yang juga berpamitan pulang kerena sudah semakin sore.
__ADS_1
“ok,hati hati yah aku tunggu di toko besok” lambaian tangan Nina mengiringi kepergian ku dari rumah nya.
Semoga saja besok aku bakal di terima kerja,yah walau gaji nggak seberapa yang penting bisa bantu bapak sama ibu buat biaya sekolan adik adik ku. Aku harap mereka bisa sekolah yang tinggi,jangan seperti aku yang hanya bisa lulus SMA itu saja dapat bantuan beasiswa. Sebenarnya dulu aku juga dapat tawaran beasiswa untuk kuliah,tapi aku menolak nya mengingat pekerjaan bapak dan ibu dan juga adik adik ku yang pasti membutuhkan bantuan dari ku.