
Part 4 - KETIKA HATI SUDAH MATI RASA
"Gimana kabar kalian?" tanya ku pada dua adik ku.
"Baik kak,kakak gimana" Sindy yang baru saja bersalaman dan balik menanyakan kabar ku.
"Iya,seperti yang kalian lihat" aku memaksakan senyum.
"Syukurlah,ayo kak"ajak Sindy sambil menggandeng tangan ku.
Aku berusaha menyembunyikan luka yang tak terlihat,sekarang aku hanya ingin menenangkan diri.
"Eh,kalian sudah makan belum" tanya ku pada kedua adik ku
"Belum kak,ibu baru belanja tadi di warung bu Rosi jadi belum sempet masak" Doni tak menutupi keadaan lain dengan Sindy yang sedikit mencubit Doni karena terlalu jujur.
"Nggak papa,ayo kita makan makan mie ayam kayaknya enak yuk kakak yang traktir. Ajak bapak sama ibu sekalian" aku menyuruh Doni memanggil bapak dan ibu di belakang rumah.
Terkadang ini yang membuat ku berpikir berulang kali jika aku tak membantu mencari uang bapak dan ibu. Padahal aku sampek rumah sudah sore,tapi ibu belum juga masak bahkan baru saja bisa belanja sayur. Biasanya harga sayur di warung bu Rosi lebih murah jika sudah sore hari,karena pasti juga sudah tidak ada orang yang akan beli sayurnya. Walau keluarga ku orang tak berpunya,tapi ibu selalu mengajarkan kepada kita agar tidak menghutang walaupun itu hanya sedikit.
***
Aku dan semua keluarga ku hanya berjalan kaki menuju warung mie ayam sekitar 10 menit dari rumah ku. Ada rasa bahagia ketika melihat mereka juga bahagia,walau hanya dengan hal sederhana.
"Mas,pesen mie ayam nya 5 iya. Ada yang mau sama ceker nggak?"
"Ibu sama bapak nggak Lan"
"Ohh ok. Jadi yang 3 mangkuk pakai ceker yang 2 nggak pake ceker iya mas" aku memesan mie sebelum aku memilih posisi.
"Ok neng, perasaan baru pulang apa yah neng. Kemarin mamang lewat kayaknya belum ada neng Bulan" si tukang mie yang itu juga tetangga dekat rumah ku.
__ADS_1
"Iya ,baru aja mang". Aku sembari melihat lihat pilihan rentengan minuman perasa.
"Pesen es jeruknya 1 iya mang,yang 4 es teh aja" aku langsung memesan karena pasti yang lain akan pesan es teh seperti biasa.
****
Setelah makan mie ayam tadi,kita langsung pulang ke rumah hari juga sudah gelap.
Aku kangen banget sama kamar masa masa aku sebelum kerja,sekarang Sindy yang menempati karena kamar di rumah juga hanya 3. Terakhir aku menempati kamar ku Sindy masih tidur dengan ibu sedangkan Doni dengan ayah kebetulan waktu itu mereka juga masih belum berani untuk tidur sendiri. Kamar ku juga tampak masih sama,hanya ada tambahan 1 lemari kuno dan beberapa buku milik adik ku Sindy.
Aku yang lelah langsung tertidur meninggalkan Sindy sendiri hanya dengan tumpukan buku nya. Karena besok Sindy ada ujian jadi ia belajar keras malam ini. Aku juga menutup kuping ku karena Sindy terus berteriak ketika menghapal beberapa materi.
***
Pagi ku di bangunkan oleh Sindy yang berteriak karena tidak sengaja ku tendang.
"Kakakkkkk" Sindy membuat ku langsung terbangun.
" Ehh,kamu di mana Sin" aku kaget tak melihat Sindy di samping ku.
"Aku jatuh di bawah,kakak bisa nggak sih tidur nggak usah kayak kuda" Sindy memperotes
"Namanya juga orang tidur ,nggak sadar lah lagian kasurnya sempit jadi iya maap"
"Ah ya udah lah,aku mau bangun aja. Udah pagi mau siap siap berangkat sekolah" Sindy terus mengoceh sepanjang bersiap ke kamar mandi.
Aku juga bangun tapi tujuan ku ke dapur menyambar secangkir air lalu meneguk beberapa kali. Melihat ember yang biasanya berisi beras. Ternyata tinggal sedikit,mungkin ibu belum mendapat gaji karena ini masih hampir akhir bulan. Aku juga belum tau sampai kapan aku akan di kampung. Niat untuk merantau lagi belum terpikirkan di otak ku. Bapak dan ibu juga belum tau kalo aku udah resign dari tempat kerja.
****
"Kak,berangkat dulu iyah" Sindy berpamitan pada ku.
__ADS_1
"Udah ada uang saku belum ?" tanya ku memastikan.
"Udah kok,lumayan buat naik angkot nanti dari oada jalan kaki" balas Sindy seperti mengharap sesuatu dari ku.
"Iya iya,kakak tau kok. Nih bagi 2 yah sama Doni ngomong ngomong Doni mana ?"
" Doni udah berangkat tadi,soal nya nungguin kakak lama katanya. Dari tadi dari kamar mandi baru keluar"
"Ehehe maklum tadi abis semedi soal nya. Yaudah gih sana berangkat nanti telat loh"
"Iya,assalamualaikum"
"Walaikumsalam"
Mandi pagi hari terasa dingin,aku berniat jalan pagi sebentar sambil berjemur. Melihat kesibukan para tetangga memang yah emak emak pagi pagi ada yang lagi gibahin tetangga, sda yang ke tukang sayur bahkan pagi pagi ada yang lagi cari kutu buszsyeettt hedeuhhh.
"Ehhh Lan,kamu kapan pulang?" tanya bu Rosi pemilik warung sayur. Di barengi dengan para ibu ibu yang bergilir menatap ke arah ku.
"Kemarin sore bu" aku tanpa basa basi.
"Nggambil cuti yah neng,biasanya bulan bulan biasa nggak pulang lebaran baru pulang" sambar bu Ning yang kepo dari lahir
"I - iya bu " aku yang tak mau ribet berurusan dengan bu Ning.
"Gimana kerjanya di sana neng ? Eh itu Riska anak ibu ajak neng kerja bareng sama kamu dari pada nganggur cuma makan tidur di rumah" bu Ning yang menaruh harapan pada jawaban ku.
"Ehh bu,maaf iya saya duluan mules soal nya" aku langsung berlari kecil menghindari pertanyaan bu Ning yang memberatkan ku.
Ah,ke kepoan tetangga satu ini memang tingkat dewa apa lagi jika di jawab terus,bisa jadi kereta nanti. Ada nggak sih tetangga kalian yang gitu,tetangga ku pasti ada loh bahkan bukan cuma satu orang bisa dua atau tiga orang hanya yang di deket rumah aja yah apa lagi jalan seratus meter lagi ke depan bisa jadi bahan gibah padahal cuma numpang lewat doang yah. Apa lagi di desa lewat depan orang tongkrongan harus permisi,senyum,bungkukin badan ada aja deh acaranya.
Beda banget sama di kota,apa lagi beda gang kita mah jalan lempeng aja biasa aja nggak ada orang bilang eh itu anak sombong bener,nggak mau permisi,nggak mau tanya,nggak mau ini nggak mau itu hadeh ribet pokoknya. Sabar juga harus tingkat dewa ngadepin ibu ibu barbaju baja,terhempas kita jauh jauh.
__ADS_1