
Pulang dari pasar aku di bantu ibu untuk membersihkan halaman rumah yang nantinya akan aku jadikan lahan untuk tempat ku berjualan. Jadi besok aku hanya menyiapkan bahan bahan yang sekiranya kurang saja. Tak terasa keringat bercucuran sangat lelah sekali sebetulnya, tapi demi memulai merintis usaha aku akan tetap semangat.
“Nak,ini minum dulu” ibu membawakan segelas air putih untuk ku.
“Terimakasih bu” jemari ku terulur menyambar gelas yang ibu berikan,menyesapnya beberapa kali untuk menghilangkan sedikit rasa dahaga.
“Masih banyak yang harus kita kerjakan,Lan” mata ibu terarah pada gundukan rerumputan yang rimbun nan lebat di samping pohon jambu.
“Iya bu,ibu istirahat saja dulu biar aku yang akan melanjutkan” balas ku melihat raut wajah ibu yang memang terlihat sangat letih apa lagi nafasnya juga memburu.
Bukan karena efek umur atau sudah tua memang ibu sejak tadi sangat aktif membantu ku. Apalagi sepulang dari pasar belum istirahat sama sekali. Jiwa muda sepertiku saja sudah mulai sesak,apa lagi ibu. Dukungan dari ke dua orang tua ku menambah bara dalam jiwa ku.
Dulu sewaktu masih kecil aku dan Sindy sangat sering main di bawah pohon jambu itu,apa lagi jika berbuah lebat bisa bisa tanpa makan nasi kita sudah kenyang karena makan jambu terlau banyak. Tak jarang kita juga bertengkar,omelan ibu selalu terdengar. Kala itu adik laki laki ku masih sangat kecil ,aku dan Sindy sangat membencinya dulu. Karena perhatian ibu pasti lebih fokus ke padanya. Dalam otak ku bapak dan ibu selalu pilih kasih ,tapi seiring berjalannya waktu aku mengerti dan aku selalu mengaggumi bapak dan ibu yang padahal selalu berlaku adil pada semua anaknya. Hanya saja memang anak kecil perlu lebih mendapat perhatian.
“Bu,sudah yok masuk. Sudah sore” aku menatap langit yang nampak semakin petang,awan juga sepertinya mulai bersedih atau malah hendak menangis.
__ADS_1
“Ayo” balas ibu bangkit dari duduknya yang beralaskan hanya dengan daun pisang .
Seperti biasanya jika hari sudah petang kita akan berkumpul di ruang tamu yang memang tidak terlalu besar.
“Bapak ,ibu tadi Sindy udah di kasih ini” Sindy menyodorkan sepucuk surat yang sepertinya itu adalah surat dari sekolah Sindy agar cepat membayar administrasi sekolah yang memang belakangan ini agak macet.
“Dari sekolah yah” tanya bapak menatap Sindy yang menenggelamkan separuh wajahnya.
“Iya pak” suara nya tercekik lirih.
“Besok kakak juga akan bantu kalau usaha kakak udah mulai jalan,kamu berdo'a aja semoga rejeki bapak,ibu dan kakak lancar biar bisa secepatnya melunasi tunggakan sekolah dan bisa nyekolahin kamu sama adek setinggi tingginya” ucap ku pada adik adik ku.
“Iya,makasih yah kak” Sindy membalas dengan senyum.
****
__ADS_1
Aku memiliki hoby yang cukup unik,menulis kata kata yang sempat terlintas di pikiran ku pada buku tulis yang biasa aku jadikan ruang emosi.
Permasalahan yang datang bertubi tubi itu bukan ancaman
Itu tandanya kita sedang di uji
Seberapa kuat,seberapa bisa kita melalui
Sabar itu jalan yang pasti
Memang terkadang godaan pasti selalu membuat goyah
Tapi jika tetap berpegang teguh pada prinsip utama
Bisa jadi kamu akan lolos ujian cuanksss hihi hihi
__ADS_1