
"Kak,tumben beberapa hari ini kayak kakak sibuk banget" Sindy menatap dalam mata ku,seolah berusaha mencari sesuatu yang ku sembunyikan.
"Hah,nggak kok. Perasaan kamu aja kali". Aku mengalihkan pandangan agar tak saling menatap dengan Sindy.
"Kak,aku bukan bocil yah. Jangan boong deh !" tatapan Sindy lebih mengintrogasi.
"Nggak,udah lah tidur besok sekolah kan" aku membelakangi Sindy yang semula kita saling berhadapan.
"Kakak udah nggak kerja lagi di kota yah ?" sambar Sindy yang hati ku juga ter serempet oleh pertanyaan nya.
"Nggak usah sok tau deh kamu" aku masih berusaha tidak menguak kebenaran.
"Aku tadi liat kakak ke rumah kak Nina,trus aku juga udah liat brosur di bawah kasur" Sindy membuka kebohongan yang aku berusaha untuk menutupi.
__ADS_1
Kali ini aku tak bisa mengelak lagi,seperti sudah tertangkap basah. Aku membuka mulut dan berkata tentang kejadian yang sebenarnya.
"Iya,kakak udah nggak kerja di kota lagi. Kakak udah resign,dan kakak berniat untuk cari kerjaan di sini aja" aku menjelaskan dengan hati hati,masih takut jika bapak dan ibu tau kalau aku sekarang menganggur hanya itu yang bisa aku katakan pada adiku Sindy. Bibir ku kaku saat aku teringat akan peristiwa yang sebenarnya terjadi.
"Kenapa kakak resign,bukan nya kakak betah yah di sana" lagi lagi ke kepoan Sindy membuat lidah ku harus menambah kebohongan.
"Nggak papa sih,kakak lagi pengen kerja yang deket deket aja sama kalian" les ku yang sekarang Sindy menjadi mengangguk,lalu entah apa yang ada di pikiran nya muncul pertanyaan yang membuat hati ku sakit.
"Ohh,jangan jangan kakak mau nikah yah jadi resign. Alasan aja pengen deket sama kita,pasti kakak udah punya pacar yah. Kasih tau dong,aku penasaran kayak apa sih pacar kakak. Calon kakak ipar ku itu hihihi" Sindy tertawa renyah,meledek ku agar tak terlalu serius. Tapi tanpa sepengetahuan nya ia membangkitkan luka yang berusaha aku pendam dalam dalam.
Aku menutup tubuh ku dengan selimut,tanpa pamit air mata jatuh mengalir tak bisa ku tahan. Aku berusaha menghentikan tapi pertanyaan Sindy barusan masih terngiang hingga membuat dadaku semakin sesak. Luka yang aku pendam dan aku tahan hingga saat ini seakan terkoyak lagi oleh perkataan Sindy.
***
__ADS_1
Di lain sisi bapak dan ibu yang mendengar hentakan suara gandang ku kaget seketika.
"Ada apa itu pak?" tanya ibu pada bapak setelah mendengar suara keras ku yang sebelum nya tak pernah mereka dengar. Bapak juga tampak bingung,melihat kembali ke arah ibu dan mata nya seolah mengajak untuk menghampiri dan memastikan apa yang terjadi.
"Bapak juga nggak tau bu,ayo lihat" langkah kaki bapak menapaki lantai yang masih berupa tanah memimpin ibu menuju kamar ku dan Sindy.
Sesampainya.
"Kenapa Sin?" bapak bertanya pada Sindy yang terlihat menunduk. Tak lupa juga mengedarkan pandangan ke arah ku yang berbalut selimut.
Sindy hanya menggeleng,dia juga tak tau pertanyaan bagian mana yang membuat ku menjadi seperti sekarang. Di lain sisi bapak dan ibu berusaha mengerti dan tidak mau ikut campur dengan urusan ku dan Sindy ,seolah mereka membiarkan aku dan Sindy menyelesaikannya sendiri.
Bapak menuntun ibu untuk keluar kamar,memberi waktu untuk ku dan Sindy agar menenangkan diri. Langkah kaki ibu terlihat berat,melihat ke dua putri nya.
__ADS_1
Ada rasa bersalah dalam hati setelah membentak Sindy yang sebenarnya tak tau apa apa. Tapi hati ku seperti di cabik cabik pertanyaan yang Sindy lontar kan mengingatkan peristiwa kelam yang terjadi pada ku kala itu. Di gilir oleh tiga pemuda sekaligus bukan hal yang enteng,tapi sangat berat bahkan aku tak bisa melupakan. Bagaimana mereka memperlakukan ku,meruda paska,dan menggilir ku hingga air mata ku bahkan kering. Ada rasa ingin balas dendam,tapi siapa aku. Cihhh hanya wanita lemah yang tak bisa membela diri sendiri.
Aku sudah berusaha keras untuk melupakan,tapi tetap saja tidak akan bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari diri ku. Berusaha iklas,tapi itu juga tidak mungkin ,atau aku akan membalikan keadaan di masa depan. Itu baru yang aku inginkan. Jika mungkin sekarang aku bukan siapa siapa,berbuat segala cara juga pasti akan terlihat tetap salah. Aku harus bisa membuktikan jika aku bisa melewati ini semua.