
Pada usia yang semakin matang. Ibrahim merasakan keanehan dengan perilaku umatnya. Yang Tuhannya berupa patung disembah-sembah. Padahal patung itu benda mati yang tak bisa berbuat apapun. Tuhan bukan seperti patung dan bukan patung yang tak berdaya upaya. Lalu dimana Tuhan yang sebenarnya? gumam Ibrahim.
Kemudian Ibrahim pun menyaksikan orang-orang di sekitarnya menyembah bintang. Ia ragu apakah Tuhan itu bintang? Ia pun menyaksikan orang-orang sekitarnya menyembah raja. Raja Namrudz baginya bukanlah Tuhan. Ia manusia biasa.
Ia pun berpikir siapa tuhan sebenarnya.
Langit sangat gelap. Ibrahim menatap langit untuk mencari Tuhan. Manakah Tuhan? Mata Ibrahim melonjak kegirangan. Karena ia melihat bintang yang bersinar di tengah kegelapan itu.
“Inilah Tuhanku”tunjuk Ibrahim menyaksikan bintang sangat indah di ujung langit. Sangat lama Ibrahim menyaksikan bintang dengan ketakjubannya. Namun saat subuh berakhir. Ayam berkokok. Bintang pun hilang tenggelam. Ibrahim benci dengan semua ini. Tuhan tak mungkin tenggelam.
“Saya tidak suka dengan kepada sesuatu yang tenggelam”ujar Ibrahim kecewa. “Itu bukan Tuhanku” gumamnya.
Kemudian di malam hari terbitlah bulan maka Ibrahim menganggapnya Tuhan. “Inilah Tuhanku”. Namun perlahan bulan pun tenggelam. Ibrahim kecewa lagi karena Tuhan tak mungkin tenggelam. Hati bersih dan lembutnya terus mencari keberadaan Tuhan. Sudah beberapa hari, ia mencari Tuhan. Tapi tak mendapatkan tuhan yang sebenarnya. Ibrahim merasa lelah.
__ADS_1
Di saat kelelahan tersebut, ia menyaksikan sebuah bola matahari yang sangat besar. Sebuah benda yang memiliki energi panas dan menerangi bumi. “Inilah Tuhanku. Ini yang lebih besar” Ibrahim berseru kegirangan. Namun seiring berjalan waktu. Pada waktu sore hari. Matahari mulai meresup sinarnya hingga tenggelam.
Ibrahim kecewa. Ia bukan Tuhanku. Tak mungkin tuhan tenggelam.
“Sesungguhnya jika Tuhan tak memberi petunjuk kepadaku maka pasti aku termasuk orang yang sesat” gumam Ibrahim.
Ia berdoa kepada Tuhan yang memiliki alam semesta dan kehidupan ini untuk memberinya petunjuk. Beliau melihat langit dan bumi yang menjadi buktinya adanya Tuhan.
Pada saat inillah, beliau menyadari bahwa Tuhan itu satu. Bukan dalam bentuk patung, raja maupun bintang. Namun Tuhan tak menampakkan diri dengan Keagungannya.
Namun kaumnya membantah apa yang dikatakan Ibrahim.
“Wahai kaumku sesungguhnya aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan. Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar. Dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan”ujjar Ibrahim.
__ADS_1
Kaumnya keheranan dengan ucapan Ibrahim. Mereka menganggap Ibrahim sudah gila.
“Hai Ibrahim..apakah kamu tidak takut kepada Tuhan Tuhan kami. Jika kau mengatakan itu kagi niscaya Tuhan kami yang akan mengutuk dan membinasakanmu. Tuhan kami adalah patung berhala yang biasa kami sembah”ujar salah seorang kaumnya.
Ibrahim menatap satu persatu wajah orang-orang di sekitarnya.
“Apakah kamu hendak membantahku tentang Allah?” Ibrahim bertanya kepada kaumnya. Seluruh orang terdiam.
“Sesungguhnya Allah telah memberi petunjuk kepadaku. Dan aku tidak takut kepada malapetaka dari sembahan-sembahan kalian yang kalian persekutukan dengan Allah. Kecuali Tuhanku menghendaki dari malapetaka itu”
“Pergilah Ibrahim! Apa yang kamu katakan tidak lain adalah omong kosong belaka! Tuhan kami akan membinasakan kamu. Kamu telah mengingkari Tuhan kami dan kamu”
“Aku tidak takut dengan sesembahan kalian.”
__ADS_1
Orang-orang yang berada di sekitar Ibrahim segera meninggalkan Ibrahim. “Aku tak percaya omonganmu! Ayo kita tinggalkan Ibrahim yang gila ini!”ajak seorang pemimpin kaumnya.
Ibrahim berdiri seorang diri. Ia berdoa “Ya Allah sesungguhnya berhala berhala itu telah menyesarkan kebanyakan manusia. Sesungguhnya orang yang mengikutiku maka termasuk golonganku. Dan orang yang mendurhakaiku sesungguhnya Allah maha pengampun dan penyayang”