Kisah Nabi Ibrahim & Keluarganya

Kisah Nabi Ibrahim & Keluarganya
Ayahku Tersayang


__ADS_3

Hembusan angin bertiup sangat kencang membuat debu-debu pasir beterbangan. Setiap orang memilih berlindung diri di dalam rumah. Sampai angin mereda barulah mereka keluar rumah untuk segala keperluan. Hal itu pula yang dilakukan oleh Ibrahim. Beliau melihat ayahanda sedang membuat patung dari kayu. Inilah patung-patung yang dipuja dan dipuji oleh kaumnya.


Ibrahim bermaksud untuk menasihati ayahnya. Ia diperintah oleh Allah swt sebagai utusanNya untuk menyampaikan kebenaran kepada keluarga dan kaumnya. Ibrahim mulai mendekati ayahnya yang sedang mengukir patung. Kemudian patung itu dicat dan disembahnya. Aneh itulah perasaan Ibrahim. Patung yang telah ayahnya buat disembahnya. Tuhan semacam apa itu? Tuhan dibuat oleh manusia.


Ibrahim mengenang kembali kepada masa lampau. Sebelum ia diperintahkan sebagai utusan Tuhan untuk mendakwahi kaumnya telah ada orang-orang sebelumnya yang diutus Tuhan. Mereka adalah orang-orang pilihan. Dan mereka sudah tiada. Sedangkan utusan Tuhan kepada kaumnya yang masih hidup adalah Luth. Sebuah negeri yang lumayan jauh jaraknya dari negeri Babilonia.


Jika dilihat silsilah inilah kepanjangan dari Ibrahim. Ibrahim bin tarekh bim nahur bin Sarugh bin Raghu bin Faligh bin ‘Abir bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Saam bin Nuh. Kakek nabi Ibrahim adalah nabi Nuh yang juga utusan Tuhan pada jamannya.

__ADS_1


Di dalam keluarga besarnya, Ibrahim terkenal sebagai orang penyantun dan penyayang. Kepada mereka yang hidup miskin, beliau suka membantu. Ucapannya sangat lemah lembut. Beliau orang yang santun. Hingga disukai semua orang. Namun semenjak ajakannya untuk menyembah Allah dan mengingkari patung sebagai Tuhan maka kaumnya kini membencinya.


Ibrahim masih terus menyaksikan ayahandanya yang membuat patung. Sudah lama ayahanda membuat patung itu. Yang kemudian dijadikan sebagai patung berhala buat di kerajaan Namrudz dan sekutunya maupun tempat khusus. Ibrahim menyadari ayahnya telah berbuat keliru. Ia bermaksud untuk menyadarkannya dan memberikan jalan lurus padanya sebagaimana wahyu yang diterimanya.


Ibrahim melihat ayahnya sudah menyelesaikan pembuatan patung. Dan saat ini hal yang paling dibencinya terjadi. Ayahandanya menyembah patung yang telah dibuatnya. Lama sekali ia menyembahnya. Ayahandanya lalu duduk dan mulai membersihkan sisa kayu. Ibrahim mendekati ayahnya dalam jarak dekat dengan sangat sopan. Ia membungkuk. Kemudian ayahandanya melihat Ibrahim dengan senyum dan agak keheranan. “Ada apa wahai anakku? Ada keperluan apa?”


Azar, ayahanda Ibrahim tersentak dengan perkataan Ibrahim demikian. Bagaikan ia mendengar gelegar petir di siang bolong. Sebuah pernyataan jujur dan benar. Namun dirinya tak bisa menjawabnya karena semua yang dilakukan adalah warisan dari leluhur atau nenek moyang.

__ADS_1


“wahai ayahku. Sesungguhnya sudah datang kepada aku sebagian ilmu ( wahyu) pengetahuan yang tak datang kepada engkau. Maka ayah ikutilah aku. Aku akan memberikan petunjuk jalan yang lutus bagi engkau, ayah ku yang kucintai”Ibrahim memohon.


“Wahai ayahku yang sangat kucintai. Janganlah engkau menyembah setan. Karena seta kyu sudah durhakan kepada Tuhan Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku aku sangat khawatir kepada engkau akan ditimpa suatu azab dari Tuhan Yang Maha Pemurah. Sehingga engkau jadi kawan setan”


“Hei Ibrahim. Bencikah engkau kepada Tuhan-tuhanku? Apabila kamu tidak berhenti maka akan kurajam kau dan tinggalkan aku dalam waktu sangat lama” Azar marah terhadap ucapan Ibrahim yang menghina Tuhannya berupa patung.


Ibrahim terkaget dengan respon ayahnya.

__ADS_1


“Ayahku yang sangat kusayang. Semoga keselammatan dilimpahkan kepadamu. Aku akam minta ampun untukmu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku sangat baik padaku”. Ibrahim kecewa atas perkataan ayahandanya yang kasa dan keras. Lalu beliau meninggalkan ayahandanya seorang diri yang tertegun dan masih marah kepada ibrahim.


__ADS_2