
Di keheningan malam, Nabi Ibrahim as berdoa sambil mencucurkan air mata: Ya Allah ampunilah kami dan orang-orang beriman diantara kami. Ya Allah Ya Tuhanku. Sesungguhnya berhala-berhala itu telah menyesatkan kebanyakan manusia. Barangsiapa yang mengikutiku maka ia adalah golonganku. Dan barangsiapa yang mendurhakaiku maka Engkau Maha Pengampun dan Penyayang. Aminn.
Nabi Ibrahim as meminta diberikan hidayah kepada penduduk Babilonia. Di tengah Nabi Ibrahim as menyaksikan kemaksiatan dan kedurhakaan yang terjadi pada penduduk Babilonia. Padahal Nabi Ibrahim telah menyeru mereka pada agama Tauhid, beriman dan berbuat baik. Hanya sebagian kecil saja yang mengikuti seruannya.
Adat kebiasaan menyembah patung berhala di masyarakat Babilonia sudah menjadi kebiasaan turun temurun. Dari nenek moyang mereka sampai anak cucu mereka. Anak-anak mereka terus mengikuti tradisi menyembah patung berhala yang entah siapa dan kapan yang memberi contohnya.
Mayoritas penduduk Babilonia menentang ajakan Nabi ibrahim. Mereka tidak mempercayai adanya hari akhirat. “Apakah tulang belulang yang sudah mati dapat hidup kembali?” tanya salah seorang penduduk Babilonia kepada Nabi Ibrahim as. “Kami tak percaya tulang yang sudah mati dapat hidup kembali” lanjutnya.
Di tengah penentangan dan penolakan kaumnya terhadap ajakan Nabi Ibrahim as untuk beriman kepada Allah dan tidak menyembah berhala membuat Nabi Ibrahim dan Siti Sarah mendapatkan berbagai ancaman dari kaumnya.
Allah swt menyuruh kepada Nabi Ibrahim as untuk melakukan hijrah ke daerah Mesir. Daerah itu sangat merajalela kemungkaran dan kebatilan. Nabi Ibrahim disuruh berdakwah di daerah Mesir. Mereka menuruti perintah Allah. Mereka kemudian memilih hijrah ke wilayah Mesir yang dirasakan lebih aman sesuai petunjuk Allah.
Dengan menggunakan unta, Nabi Ibrahim bersama Siti Sarah menuju Mesir. Berpuluh-hari lamanya mereka sampai di Baitul Maqdis. Di daerah ini, keduanya memilih berdiam diri di wilayah dekat negeri Syam, Harun. Nabi Ibrahim as dan Siti Sarah bersosialisasi dengan masyarakat sekitar. Ternyata mereka juga menyembah patung dan bintang.
Sesampai beberapa hari lamanya di Mesir, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah mengetahui siapa sebenarnya penguasa di kawasan ini yakni Amr bin Amru Al Qais Bin Mailun. Ia seorang Raja Mesir yang kafir yang zalim, yang suka menikahi wanita-wanita cantik dan senang berfoya-foya. Nabi Ibrahim menyadari situasi yang berbahaya ini.
__ADS_1
“Hei prajurit apakah ada wanita cantik lagi yang ada di kawasan kekuasaanku ini?”
“Ada tuan raja. Hamba mendengar ada seorang wanita cantik yang berkunjung ke daerah Mesir hanya untuk menemui saudaranya”
“Cepat panggil dia!” aku akan menikahinya” ujar Raja Mesir.
Tak berselang lama, seorang bala tentara raja Mesir membawa seorang wanita cantik. Ia menangis minta dibebaskan.
“Lepaskanlah dia” suruh Raja Mesir.
“Apa yang akan kau lakukan kepadaku? tuan Raja lepaskanlah aku!"
“Ku tidak mau!” histeris wanita itu.
“Kalau kau tak mau kau akan kubunuh”
__ADS_1
ancam Raja sambil memegang pedang berkilat.
Gadis itu pasrah dan kemudian dinikahi oleh Raja Mesir. Pernikahan Raja Mesir dengan wanita itu disaksikan oleh rakyat Mesir dan para pembesar kerajaan. Dan juga disaksikan oleh selir berjumlah puluhan wanita cantik.
Tiba-tiba salah seorang bala tentara Raja Mesir memberi hormat pada Raja Mesir. Raja Mesir tersenyum. Ia sudah mengetahui informasi apa yang akan disampaikannya. Tak lain adalah soal wanita cantik.
“Lapor tuan raja. Negeri Mesir baru saja kedatangan rombongan keluarga Ibrahim beserta seorang perempuan cantiknya”
“Perempuan cantik? Dimana mereka sekarang?”
“Mereka sedang singgah di daerah Harun.”
“Cepat panggil mereka!"
“Siap tuan”prajurit itu berlalu pergi.
__ADS_1
**
Selepas beristirahat di daerah Harun, Nabi Ibrahim beserta Siti Sarah diminta untuk menghadap Raja Mesir. Setelah berpakaian rapi, Nabi Ibrahim dan Siti Sarah berangkat pergi menemui Raja Mesir di istana. Pada saat berjalan menuju pintu kerajaan, mereka dihadang oleh dua orang prajurit. Tiba-tiba seorang perwira menghentikan langkah mereka. Dan mempersilakan Nabi Ibrahim dan Siti Sarah menemui Raja yang berada di dalam istana.