kisah petani indonesia

kisah petani indonesia
aku bangga menjadi anak petani


__ADS_3

Kami adalah keluarga yang hidup sederhana, namun aku bangga punya ayah yang mampu menyekolahkan anaknya. Anak-anak hebat yang punya mimpi hasil didikan seorang petani.


selalu ku ingat adalah jasa-jasa, sikap, perjuangan, dan ketulusannya yang tiada batas. Ayahku memang hanyalah seorang petani biasa, bahkan mungkin hanyalah seorang buruh tani. Kalau sedang beruntung ayahku juga menjadi petani penggarap. Tugasnya menggarap sawah milik seorang tuan tanah. Ayahku tak memiliki sawah ataupun lahan. Satu-satunya sawah yang sering dikelola oleh ayah adalah sawah milik nenek.


Seperti petani yang lain ayahku selalu berangkat pagi-pagi, setelah sholat subuh. Waktu kecil kalau hari minggu biasanya aku ikut. Perjalanan dari rumah ke sawah satu jam, semuanya ditempuh dengan jalan kaki.


yang menjadi ingatan sampai saat ini. Waktu itu aku berangkat sekolah, dan ayahku berangkat kesawah. Ayah dan aku sama-sama jalan kaki, kami memang tidak berangkat bersama. Namun di pinggir jalan raya ketika aku berjalan menuju sekolah, aku melihat ayahku di pinggir pematang sekitar kurang lebih 100 m dariku, sedang berjalan membawa cangkul dan peralatan lainnya. Hatiku terenyuh. Aku terpikir. Aku berjalan dengan membawa pena dan buku, pergi ke sekolah menengah pertama, bebanku pun ringan. Sementara di sana ayahku berjalan dengan cangkul yang berat dan alat-alat pertanian lainnya. Kalau aku yang membawanya sendiri. Aku berjalan untuk menulis dan bertemu dengan teman-temanku dalam suasana riang. Sementara ayaku berjalan untuk mencari nafkah. Bergelut dengan panasnya sinar matahari. Bergulat dengan lumpur-lumpur sawah yang penuh dengan kotoran dan kuman.


Aku pun teringat, kalau semasa kecil ayah tidak merasakan bangku sekolah menengah pertama seperti. Ayahku hanya sempat mengenyam pendidikan Sekolah Rakyat,itu pun dengan penuh jerih payah. Sekarang anaknya, aku sekolah di SMA sama halnya dengan teman-temanku.sedangkan kakaku seorang tentara. Begitu bangganya ayah dan ibuku.terkadang pernah aku merasa iri dengan kakak ku,dan berfikir untuk lebih hebat dari kakaku.

__ADS_1


Dari sana aku pun sadar, bahwa aku dibesarkan dari hasil bertani. Aku bahagia ketika ku bertani, berada di sawah. Hari-hariku ku habiskan dengan sawah. Tentunya karena aku teringat ayah yang seorang petani. Saat itualah aku berfikir ingin untuk melanjutkan studi di sebuah perguruan tinggi pertanian terbesar di negeri ini.


karna disekolah kami juga ada pelajaran pertanian, aku pun memahami tentang arti pentingnya pertanian untuk kehidupan ummat manusia. Seorang mantan rector yang telah wafat telah mengajarkanku arti pertanian sesungguhnya melalui buku yang ia tulis.


Saat kami belajar pertanian di sekolah aku pun teringat kembali akan ayahku yang seorang petani. kebanggaan pun muncul. Aku bangga mempunyai ayah seorang petani. Ia telah ikut serta menyelamatkan jutaan nyawa ummat manusia untuk kelaparan. Tanpa orang seperti ayahku, dunia ini akan berada dalam kehancuran dan peperangan terus menerus.


Petani adalah pahlawan kehidupan. Tanpa mereka kita tidak bisa makan. Tanpa mereka kita tak tahu mau makan apa hari ini.


Ayahku dan petani lain mempunyai nasib yang sama. Tetap kekurangan meski telah berjuang. Dikendalikan oleh tengkulak-tengkulak berduit. Dimanfaatkan oleh tuan tanah yang hanya ingin untung sendiri. Begitulah nasib petani kita. Menanam padi, tapi untuk makan berasyang bagus sulit. Menanam sayuran tapi tak penah makan sayuran.

__ADS_1


Aku beruntung bisa sekolah.Aku belajar tentang pertanian Tapi yang terjadi sesunguhnya di petani kita, tak ada pertanian ideal yang sesuai dengan teori. Tapi dengan adanya aku di sini, untuk belajar aku pun jadi paham tentang apa yang harus aku lakukan dalam pertanian.


Aku mengemban amanah dari ayahku dan para petani seperti ayahku untuk memperbaiki nasib para petani. Bukan hanya nasib petani yang harus aku perbaiki. Aku juga harus mengubah wajah pertanian Indonesia. Pertanian berkemanusiaan, pertanian berteknologi tinggi, pertanian berkelanjutan, dan pertanian yang membawa kesejahteraan dan perdamaian.


Terima kasih AYAH!. Kau telah mengajariku menjadi seorang manusia utuh.


Ketika zaman semakin maju, kita mengenal istilah zaman now, mungkin sudah banyak anak petani tak mengikuti jejka orang tuanya. Dan hampir semua petani berharap agar anak-anaknya kelak lebih sukses dari pada mereka dan memiliki kehidupan yang lebih baik nantinya. Sebenarnya itulah salah satu penyebab semakin berkurangnya jumlah petani. Dismaping faktor lainnya terutama karakter anak itu sendiri yang secara sadar tidak ingin menjadi petani.


Bagi saya, bertani tidak harus bisa mencangkul berpuluh -puluh meter areal pertanian ataupun memiliki lahan sekian meter. Tapi, bertani juga mencakup aspek lain yaitu ikut memajukkan dunia pertanian meskipun dengan lahan terbatas dan dana terbatas. Dan salah satu dampak positif yang kita lihat sekarang adalah mulai ikut tumbuhnya komunitas dan kegiatan Tapulampot, hidropinik atau aquaponik. Itu bukti bahwa pertanian juga bisa dilakukan di lahan terbatas di perkotaan. Dan yang lebih hebat lagi adalah sistem pertanian bertingkat Vertikulture.

__ADS_1


Saya memiliki sebuah cita-cita yang belum terwujud, tapi saya tentu berusaha mencapainya, yaitu ikut memajukkan dunia pertanian , karena saya sadar berasal dari dunia pertanianlah saya tumbuh hingga bisa menjadi seperti sekarang ini.Mereka tidak di dampingi pemerintah, tidak ada bantuan dan mungkin tidak mengharapkan. Dari mulai pertanian alami, peternakan, lembaga keungan mikro dan pasar produk tani, dalam ikatan solidaritas dalam musyawarah mandiri dalam menghadapi tantangan hidup, mereka terus berjalan mewujudkan eksistensi kemandirian petani dan desa yang mereka cintai. Dengan bekal pendidikan dan musyawarah pertanian dengan Yayasan Bina Desa, mereka terus bekerja dalam solidaritas bersama mewujudkan impian kemandirian.Tapi sebenarnya, tantangan juga datang dari hal non teknis pertanian, pengalaman saya, pertentangan datang malah dari bapak saya sendiri, ”Saya pernah sampai bertengkar, ketika bapak saya kerena tidak percaya dengan hasil panen pertanian alami, dia mau beli pupuk urea: saya bilang saya mau beli tiket “tinggalkan kampung”. Kisahnya. Tapi sekarang sudah mulai baik.Tidak hanya Mitha yang muda—dan selain sebagai mahasiswa, tapi juga menjalani profesi sebagai petani alami yang tekun dan bangga. Ahmad Dai, Sunardi atau Jojo adalah anak-anak muda di Sulawesi yang bersemangat menekuni dunia pertanian alami, menyayangi lingkungan dan menghidupkan desanya untuk mandiri terutama dalam pangan.


__ADS_2