
Desa Penutuk merupakan desa yang perekonomiannya bertumpu pada subsektor perikanan. Meskipun begitu, kegiatan pertanian di desa ini juga tidak kalah vitalnya dengan subsektor perikanan. Hal ini ditunjukkan dengan menggeliatnya kegiatan budidaya padi sawah di desa tersebut. Desa Penutuk memiliki sawah dengan luas 261 ha yang terbagi di dua lokasi, yaitu sawah di bagian timur desa dan bagian barat desa. Sawah yang dicetak pada tahun 2017 ini hampir seluruhnya digarap semua oleh petani Desa Penutuk.
Petani Desa Penutuk menceritakan dalam membudidayakan padi sawah mereka menghadapi berbagai permasalahan, seperti sering masuknya air laut ke area sawah yang mengakibatkan sawah terendam, tergenangnya sawah bila musim hujan, serangan hama dan penyakit, serta pengetahuan yang masih kurang dalam membudidayakan padi sawah. Dalam acara temu tani (30/11/2020) yang diadakan di sawah barat Desa Penutuk ini, para petani menuturkan keluhan-keluhan mereka kepada Bapak Singkir selaku pemateri beserta Ibu Misnah dan para penyuluh BPP Kecamatan Tukak Sadai. Acara yang diinisiasi oleh Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Lepar Lestari bersama Penyuluh Desa Penutuk ini dimanfaatkan para petani secara maksimal untuk mencari solusi mengenai permasalahan-permasalahan mereka dalam membudiayakan padi sawah. Pertanyaan-pertanyaan pun timbul dari petani untuk mencari solusi dari permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi. Permasalahan mengenai dosis pemupukan dan penanganan hama dan penyakit lebih sering ditanyakan oleh para petani kepada pemateri. Bapak Singkir selaku pemateri sangat bersemangat memberikan solusi mengenai permasalahan-permasalahan petani Desa Penutuk.
Petani Desa Penutuk juga berharap kedepannya mereka semakin meningkat pengetahuan dan keterampilannya dalam membudidayakan padi sawah. Sehingga produksi dan produktivitas padi sawah para petani meningkat dan meningkatkan perekonomian mereka. Selain itu, para petani juga berharap bantuan dari Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan melalui Dinas Pertanian, Pangan, Perikanan Kabupaten Bangka Selatan tetap berkelanjutan dan tidak pernah putus untuk membantu mereka.
Tulisan ini menguraikan tentang pandangan hidup yang diyakini oleh orang desa sebagai pedoman kehidupannya. Secara teoritis temuan tentang pandangan hidup orang desa ini dapat menambah khasanah keilmuan baik secara sosiologis maupun antropologis. Dalam keilmuan pendidikan, ikhwal pandangna hidup dapat menjadi pembelajaran tentang nilai-nilai kehidupan yang membentuk karakter anak bangsa. Dipandang dari segi praktis, hasil studi tentang pandangan hidup dapat menjadi sumber inspirasi kehidupan bagi masyarakat.. Bagi petani Desa Sungai Kali, prinsip dalam hidup berkeluarga meliputi: prinsip pandai-pandai bersyukur dan bersabar, keluarga harus menyatu sampai kapanpun, tidak boleh ada rahasia antar suami istri dan ajarkan tentang halal dan haram, berkeluarga sampai tuntung pandang (langgeng) dan terakhir bahwa dalam keluarga harus mengutamakan kerukunan. Prinsip dalam bekerja teridentifikasi bahwa dalam bekerja mencari nafkah harus diupayakan sendiri secara mandiri, bekerja harus tuntas sampai selesai tidak boleh setengah–setengah, pekerjaan yang dilakukan harus memperhatikan ke-halalan-nya, prinsip selanjutnya, sukses diraih dengan bekerja keras. Pegangan dalam berkehidupan bermasyarakat meliputi, perilaku yang baik, berbaik hati dengan sesama, tidak membicarakan orang lain di belakangnya, tidak bertengkar dengan tetangga, berbagi pengalaman dengan sesama.
Sungai setempat yang menjadi sumber air bagi masyarakat telah mengering. Begitu juga dengan sumur tadah hujan yang menjadi andalan warga yang berangsur kian menyusut.
Desa yang berbatasan dengan Kabupaten Ngawi, Jawa Timur ini adalah salah satu desa di wilayah Kabupaten Grobogan yang juga mengalami kekeringan paling parah.
Bahkan, lahan pertanian di desa terpencil ini sudah tidak difungsikan akibat tak ada lagi pasokan air.Para warga yang mayoritas petani memilih merantau ke daerah lain saat kemarau supaya bisa terus menyambung hidup.Bagi warga yang sudah berusia lanjut, aktivitasnya saat kemarau diganti dengan beternak dan cukup mengandalkan sisa tabungan yang ada.
Sementara bagi warga yang lainnya terpaksa meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan lain.
"Selama belum musim penghujan ya sawahnya mangkrak. Mau ditanami jagung dan sejenisnya tetap mati karena memang tak ada air," ungkap Suparno yang juga petani ini.Bagi warga yang sudah berusia lanjut, aktivitasnya saat kemarau diganti dengan beternak dan cukup mengandalkan sisa tabungan yang ada.
Sementara bagi warga yang lainnya terpaksa meninggalkan desa untuk mencari pekerjaan lain.
"Selama belum musim penghujan ya sawahnya mangkrak. Mau ditanami jagung dan sejenisnya tetap mati karena memang tak ada air," ungkap Suparno yang juga petani ini.Saya adalah cucu petani di sebuah desa di wilayah Cianjur. Tradisi bertani sudah lama terlupakan karena kedua orang tua saya sudah tidak berprofesi petani.
Beberapa kegiatan bertani dilakukan orang tua saya dan kemudian beralih profesi menjadi pedagang hasil bumi dan lainnya.
Pernah saya utarakan bercita-cita menjadi petani kepada ibu saya, kemudian beliau menjawab agar saya bercita-cita yang lain dan menjadikan bertani hanya hobi.
Tradisi bertani saya dapatkan ketika saya masih kecil bersama kakek dan nenek. Mereka sebelumnya memiliki sebidang tanah yang kemudian sedikit demi sedikit dijual untuk membiayai pendidikan anak dan kebutuhan lainnya.
Kemudian mereka menjadi buruh tani dari lahan yang dimiliki orang kota. Sebagai cucu, saya terkadang mengikuti mereka beraktifitas seperti ketika mereka mengolah sawah atau ladang, memanen dan mengolah hasil panen.
Selain menanam padi, mereka juga berkebun tanaman palawija, bahkan pernah juga menanam tembakau. Mereka menanam tanaman yang sedang bagus harganya.
Karenanya kampung kami sempat dikenal sebagai kampung penghasil tembakau.
Karena pasarnya berkurang, petani di kampung kami kembali bertani menanam padi dan palawija.
Yang menyenangkan dari kegiatan bertani tentunya adalah makan bersama setelah kegiatan bertani selesai di waktu dluhur. Anak-anak pun ikut serta menikmati kegiatan bertani ini karena menyenangkan.
__ADS_1
Beberapa daerah di Cianjur mempunyai tradisi ngaseuk yaitu kegiatan menanam bersama-sama untuk pertanian tadah hujan.
Kegiatan ini dilakukan secara gotong royong bergantian antar penduduk yang mempunyai ladang. Setelah itu yang punya lahan menjamu tetangga yang membantu ataupun yang tidak.
Lama kelamaan kegiatan bertani di kampungku mulai berkurang. Beberapa pemuda yang dulunya asik bertani dan berternak kemudian mengambil bidang lain sebagai profesi.
Ada beberapa yang beralih menjadi tukang ojeg, dan ada juga yang bekerja ke kota dan pulang ke desa dengan membawa kesuksesan masing-masing.
Beberapa orang yang bekerja di luar negeri menjadi TKI dan pulang membawa keberhasilan membeli sawah atau kendaraan sebagai sarana mencari nafkah.
Beberapa pemuda ada yang masih bekerja dan menekuni bertani. Mereka pun masih tetap mengolah lahan dan memelihara ternak seperti waktu dulu.
TERPOPULER
TERBARU
HEADLINE
TOPIK PILIHAN
EVENT
VIDEO
LAGI RAME!
Hidup Sederhana dengan Bukti LHKPN
Imbauan Gaya Hidup Sederhana
Pengaruh Media Sosial dan Fenomena Flexing
Flexing di Medsos, Menipu atau Memotivasi?
Perjalanan Karier dan Fakta Blackpink
Kerja Keras Blackpink dan Cerita Kesuksesan
__ADS_1
Isnaeni
Belajar dengan menulis. - Belajar dengan menulis.
Belajar sepanjang hayat
FOLLOW
SOSBUD PILIHAN
Kisah Petani di Kampung Halamanku
27 Juli 2022 21:17 Diperbarui: 27 Juli 2022 21:17 257 10 0
+
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Sosbud. Sumber ilustrasi: KOMPAS.com/Pesona Indonesia
Lama kelamaan kegiatan bertani di kampungku mulai berkurang. Beberapa pemuda yang dulunya asik bertani dan berternak kemudian mengambil bidang lain sebagai profesi.
Ada beberapa yang beralih menjadi tukang ojeg, dan ada juga yang bekerja ke kota dan pulang ke desa dengan membawa kesuksesan masing-masing.
Beberapa orang yang bekerja di luar negeri menjadi TKI dan pulang membawa keberhasilan membeli sawah atau kendaraan sebagai sarana mencari nafkah.
Beberapa pemuda ada yang masih bekerja dan menekuni bertani. Mereka pun masih tetap mengolah lahan dan memelihara ternak seperti waktu dulu.
Mereka berkeluarga dan bisa membangun rumah seperti yang lain. Bertani masih menjadi mata pencaharian yang menjanjikan.
Beberapa orang mengubah produk tani mereka dengan tanaman yang menjanjikan. Mereka tidak lagi menanam padi atau sayuran seperti orang tua mereka, mereka menanam bunga potong atau bunga hias.
Menanam bunga potong sangat menjanjikan waktu itu, banyak bos bunga bermunculan.
Modal besar dan kondisi pasar yang spekulatif mengakibatkan banyak petani bunga yang berguguran pula.
__ADS_1