
Barangkali, salah satu hal tersulit yang ada di dalam hidup adalah melawan keterbatasan. seandainya hidup diibaratkan sebagai tembok besar yang menjulang tinggi ke atas langit tanpa ada yang tahu di mana ujungnya, pastilah setiap orang mendaki dengan keadaan yang berbeda-beda.Segelintir orang yang terlahir kaya bisa saja mendaki tembok itu dengan menggunakan pengaman tanpa harus merasa takut untuk jatuh. Adapun sisanya adalah orang-orang dengan keterbatasan, yang berusaha mendaki, namun bisa terhemepas dan hancur berkeping-keping kapan saja karena tidak memiliki pegangan apapun kecuali tekadnya sendiri.
Raga adalah petani yang berasal dari Imogiri, Daerah Istimewa Yogyakarta. Bermodalkan bibit barang mewah pada tanah yang digarap, ia sukses menjadi seorang petani berpenghasilan tinggi.
Bawang merah memang terlihat kecil,tapi keuntungannya tidak tanggung-tanggung. Omzet Raga dari panen bawang merah bisa mencapai Rp 20 juta per bulan. Dengan penghasilan sebesar itu, tentu saja raga bisa menghidupi dirinya beserta keluarga. Dari Tanah, ia bisa membangun rumah.Meski begitu, Raga harus bekerja keras untuk bisa sukses dalam Bertani. Hal itu dikarenakan Raga hanyalah seorang pria yang diapit oleh keterbatasan ekonomi.
Minim penghasilan
Sebelum menjadi seorang petani, Raga seperti menggantungkan hidup pada gumpalan awan yang menyeretnya entah ke mana. Ia tidak memiliki penghasilan tetap atau bahkan bisa disebut sebagai pengangguran.
Raga juga pernah bekerja sebagai pramukantor (office boy) di salah satu perusahaan swasta. Pekerjaan itu ia jalani selama 2 tahun lamanya. Setelah itu, ia memutuskan untuk keluar.
Bagi Raga, penghasilan dari pekerjaan tersebut tidak memuaskan. Gajinya masih belum bisa menambal lubang pada perekonomian keluarga yang kian besar.
Lepas dari profesinya sebagai pramukantor, ia mencari sebuah jalan lain untuk bisa sukses. Raga memutuskan untuk berhenti mencari pekerjaan, tapi memantapkan diri sebagai pengusaha di bidang pertanian.Dalam profil orang sukses, kamu bisa menemukan tokoh-tokoh yang hanya memiliki modal kecil untuk memulai usaha, tapi ia memiliki semangat besar. Hal ini tercermin dalam perjalanan Raga menuju kesuksesan.
Pria itu memutuskan untuk berjibaku dengan tanah dan matahari sebagai seorang petani. Saat itu Raga tidak memiliki modal sama sekali, hanya saja mertuanya yang saat itu memiliki tanah berbaik hati untuk mengizinkan juga mengajari Raga bercocok tanam.
__ADS_1
Pandangan yang cenderung mengkerdilkan profesi petani masih melekat pada mata Raga saat itu. Sebelum memulai Bertani, ia berpikir bahwa petani adalah pekerjaan yang melelahkan serta mengharuskannya untuk berkawan dengan panas dan kotor.
Ibarat sebuah roda yang berputar, Raga sudah tidak memiliki pandangan negatif tentang petani, tapi orang lain lah yang kemudian memiliki pandangan negatif terhadapnya. Ketika Raga mengawali karinya sebagai petani bawang merah, ia menemukan beberapa orang yang menganggap bahwa dirinya terlalu lembek dan tidak mampu untuk menjadi seorang petani.Meski direndahkan, Raga tidak memandang tersebut sebagai perundungan atau semacam kalimat yang membuat hatinya lebam. Ia menjadikan anggapan-anggapan tersebut sebagai bahan bakar untuk tetap bisa bergerak maju.
Raga tetap terus berproses sejak memutuskan untuk menjadi petani bawang merah pada tahun 2016. Proses tersebut ternyata menjadi bisnis yang menghasilkan dan bisa membawanya kepada kehidupan yang lebih baik.
Ia bukan lagi seorang pekerja serabutan yang diombang-ambing oleh nasib. Semua itu karena sebuah bibit kecil yang ia tanam di dalam dirinya: Kemauan untuk terus berusaha, meskipun direndahkan.
Bawang merah menjadi salah satu bahan utama bumbu berbagai masakan nusantara. Mulai dari rumah tangga, pedagang sayur, hingga pelaku usaha kuliner membutuhkan bawang merah setiap harinya.
Permintaan yang tinggi tersebut ternyata menjadi peluang bisnis bagi Aditya Nugroho (22), seorang pemuda asal Grobogan, Jawa Tengah. Mahasiswa tingkat akhir jurusan Ekonomi dan Sumberdaya Lingkungan, IPB University ini telah mantap melakoni profesi sebagai petani bawang merah.
“Karena saya lihat peluang , bawang merah punya nilai ekonomi tinggi dan menjadi kebutuhan yang paling banyak digunakan. Di samping itu, karena saya lihat kebanyakan petani di sini adalah orang tua, itu juga jadi peluang bagi saya menjadi petani muda dan menurut saya pertanian itu usaha yang nggak ada habisnya,” kata Adit kepada Sariagri, Jumat (13/8).
Adit mengungkapkan, pada awalnya dia menanam bawang di lahan seluas 8000 meter persegi dan kini lahan garapannya sudah mencapai 2 hektar.
“Awalnya saya kelola 8000 meter, kini Alhamdulillah sudah 2 hektar,” ungkapnya.
__ADS_1
Dia menceritakan, untuk menanam bawang merah di lahan seluas 2 hektar membutuhkan modal sekitar Rp 130 juta, dan dalam waktu dua bulan dia bisa mendapatkan omzet berkisar Rp200 – Rp300 juta tergantung harga yang berlaku pada saat panen.
“Di lahan 2 hektar saya pakai bibit bawang merah sebanyak 2,5 ton. Dari situ nanti hasilnya bisa sampai 20 ton bawang merah. Harga bawang merah terendah di tingkat petani biasanya berkisar Rp 10 ribu dan bisa mencapai RP 25 ribuan kalau emang lagi mahal,” paparnya.
Adit menyebutkan, varietas bawang merah yang ditanamnya merupakan varietas lokal Brebes yang menurutnya mempunyai keunggulan dalam kualitas dan rasa. Dia pun membeberkan rahasia untuk menghemat biaya kebutuhan bibit yaitu dengan membuat bibit sendiri.
“Saya juga bibitin sendiri, karena dengan bibit sendiri bisa tekan biaya untuk kebutuhan bibit hingga lebih dari 50 persen,” ungkapnya.
Lebih lanjut, Ia menceritakan, hal terberat dalam budidaya bawang merah yaitu pengendalian hama dan penyakit. Menurut dia, perawatan tanaman terhadap serangan penyakit di tanaman bawang merah harus lebih intens dibandingkan tanaman lainnya, terutama saat musim hujan tiba.
“Kalau musim hujan kan banyak serangan jamur, nah harus rajin nyemprot dan kendalikan kelembaban lahan,” jelasnya.
Adit berharap, di masa depan akan semakin banyak generasi muda yang mau terjun langsung menjadi seorang petani. Dia bertekad setelah lulus akan terus melanjutkan profesinya menjadi petani dan memperluas lahan garapannya. Selain itu, dia pun berencana ingin menambah jenis bisnisnya pada pengolahan bawang merah, khususnya terhadap bawang merah yang berukuran kecil yang selama ini dikategorikan sebagai barang reject.
“Kalau kita bisa kelola juga yang kecil dan sisa-sisa itu jadi bawang goreng kan maka nggak ada yang terbuang dan bisa menambah keuntungan. Saya harap anak muda semakin banyak yang mau jadi petani, karena di pertanian itu sangat menguntungkan kalau dikelola dengan benar,” pungkasnya.
Memang tidak mudah mengawali bisnis
__ADS_1
Orang bisanya cuma melihat kagum ketika seseorang itu sudah sukses tanpa melihat proses yang amat sangat berat yang di jalaninya. Motivasi hidup nya jangan merasa rendah jika kamu di lahirkan sempurna. Jangan merasa takut jika belum mencoba teruslah melangkah sejauh mungkin sampai kau menemui jalan kesuksesan