kisah petani indonesia

kisah petani indonesia
petani perempuan


__ADS_3

Tidak sengaja saya melihat petani yang sedang menanam padi di sawah. Saya melihat dari kejauhan. Banyak petani yang menanam padi, namun saya tertarik dengan salah satu petani perempuan yang berkerudung putih yang bernama Ibu Sari. Karena beliau sangat bersemangat, ceria, dan murah senyum dalam bekerja. Beliau melakukan tugasnya dengan ikhlas demi mencukupi kebutuhan hidup. Beliau tinggal di rumah yang tidak begitu besar namun juga tidak terlalu kecil. "Yang penting nyaman aja kalau Saya begitu" kata beliau. Bu Sari ini tinggal bersama bapaknya Ibu Sari, suami dari Ibu Sari, kedua anak, dan juga keponakannya.


Bapak Bu Sari juga seorang petani. Beliau sudah sepuh. Beliau memelihara sapi dan setiap harinya harus mencari rumput di sawah untuk makan sapi tersebut. Suami dari Bu Sari ini seseorang yang tidak memiliki pekerjaan tetap, ia juga seorang petani. Namun, orang-orang bilang suami Bu Sari ini adalah seorang pengangguran tidak jelas. Kerjaannya hanya mondar mandir kesana kemari seperti orang bingung. Bu Sari memiliki dua orang anak. Anak pertama Bu Sari ini sudah bekerja sebagai juru masak atau chef di luar kota. Ia pulang setiap lima bulan sekali. Sang anak bekerja untuk membantu Bu Sari memenuhi kebutuhan hidup. Anak kedua Bu Sari ini masih SD. Ada satu keponakan Bu Sari yang tinggal bersamanya. Ia kini berkuliah sudah semester empat.


Setiap harinya Bu Sari menjalani hidup dengan sebagai seorang petani, ia tidak merasa malu ataupun bagaimana. Karena beliau juga mempunyai tanggungan yang besar terhadap anak. Bu Sari memiliki cita-cita yang tinggi untuk anaknya. Ia pengen anak-anaknya menjadi sukses. Tidak ada satu pun di dunia yang tidak mau anaknya sukses. Bu Sari yakin dengan harapannya. Harapan Bu Sari ini memiliki tujuan agar bisa mengubah kehidupan mereka masing-masing.


Bu sari ini adalah sosok perempuan yang sangat kuat dan tangguh. Ia rela banting tulang demi keluarga tercukupi kebutuhannya. Tidak hanya menjadi seorang petani, Bu Sari ini juga seorang buruh pijat. Paginya bekerja sebagai petani di sawah dan malamnya jadi buruh pijat. " Apapun pekerjaannya akan saya kerjakan yang penting halal" kata Bu Sari dengan nada lirih. Waktu istirahat Bu Sari tidak begitu banyak namun terbatas. Akan tetapi beliau tetap semangat menjalani hidupnya karena yang menjadi semangatnya itu adalah seorang anak.


Melihat senyum ceria dan hati yang senang dari para petani itu, yang menandakan bahwa para petani itu memiliki semangat yang sangat tinggi. Mereka mampu menutupi kesedihan yang mereka hadapi saat ini. Mereka juga bercerita tentang kehidupan  masing-masing. Tidak dengan perasaan sedih melainkan dengan perasaan yang penuh gembira. Mereka tidak pernah mengeluh dengan hasil mereka. Berapapun upah yang dibayarkan, mereka tetap menerima dengan apa adanya. Mereka juga bercerita tentang upah yang dibayarkan. Hanya Rp 7.000 sampai Rp 12.000 perhari, terkadang juga ada yang memberikan upahnya kalau yang dikerjakan sudah selesai. Akan tetapi mereka bersyukur dengan apa yang mereka terima. " Yang penting cukup untuk makan, namun tidak cukup untuk keperluan lainnya" ucap salah satu para petani yaitu Bu Sari.

__ADS_1


Bu Sari adalah seseorang yang bertanggung jawab dan dapat dipercaya. Beliau sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya. Bahkann beliau rela mementingkan pekerjaannya daripada dirinya sendiri. Dan makanya banyak yang memakai Bu Sari untuk menanam padi di sawah mereka. Walaupun dengan hasil upah yang sedikit namun beliau tetap menerimanya dengan senang hati.


Cerita dari Bu Sari ini sangat menginspirasi bagi kalangan muda. Terutama yang kurang bersyukur. Dan juga sangat memotivasi banyak orang. Semangat dan kegigihannya membuat anak muda sekarang malu jika melihat seorang ibu rumah tangga yang mencukupi kebutuhan hidup. Dengan suami yang tidak mempunyai pekerjaan tetap. Namun Sari tetap sangat bersyukur atas apa yang diberikan olehnya. Tak pernah mengeluh dengan apa yang tidak beliau punya. Walaupun hidup sederhana namun keluarganya tetap tercukupi. Bu Sari ini juga masih bisa umum seperti dengan keluarga lainnya.


Bu Sari juga memberikan pesan agar anak-anak zaman sekarang harusnya lebih semangat dan gigih dalam mengerjakan apapun. Jangan pernah mengeluh setiap apa yang dikerjakan. Tetap syukuri apa yang ada karena di luar sana masih banyak orang yang berada di bawah kita. Jangan pernah melihat orang yang berada di atas kita namun lihatlah kebawah , jika melihat keatas terus maka rasa kurang bersyukur itu akan ada dan hanya menimbulkan iri dan dengki. Namun jika kita melihat di bawah maka kita akan bersyukur lebih banyak kepada Allah.


Di Indonesia masih banyak para petani yang belum bisa sejahtera. Adapun beberapa alasan para petani belum bisa sejahtera yaitu dikarenakan mengalami beberapa kesulitan seperti kesulitan dalam mengakses permodalan kesulitan menemukan pasar dan transaksi. Kurangnya pengetahuan dari mereka membuat masalah-masalah itu terjadi sehingga menyebabkan para petani yang ada di Indonesia ini tidak sejahtera. Tidak hanya itu namun banyaknya para petani yang belum bisa mengetahui cara menjaga kualitas produk yang baik untuk diperjual belikan.


Kalau mulai menanam maupun panen, katanya, sanak keluarga maupun tetangga saling bantu. “Urun kerja untuk meringankan dan mempercepat pengerjaan. Tidak pasti berapa orang dalam satu kelompok. Kan kebiasaan warga masih ada ikatan darah, biasa membangun rumah berdampingan. Misal ada 10 keluarga, bisa ada 10 perempuan bergabung urun kerja,” katanya.

__ADS_1


Kelompok itu tanpa label, hanya bekerja dari satu ladang ke ladang lain di antara mereka secara bergantian. “Jadi, misal hari ini punya saya, besok bisa pindah ke ladang orang lain.”


Laki-laki petani juga menerapkan sistem urun kerja yang sama. Selama pekerjaan anggota kelompok tidak selesai, akan terus bergantian fokus pada mengerjakan anggota urun kerjanya.


Kalau ada waktu, kelompok urun kerja baik laki-laki maupun perempuan petani, sesekali memenuhi panggilan kerja jadi buruh tani ladang lain di luar kelompok urun kerja mereka. Buruh tani biasa disebut dherrebbhân.


Masodah, perempuan petani lain mengatakan, biasa ambil kerja dherrebbhân. Baginya, jadi perempuan petani harus memecah pikiran, satu sisi harus cekatan bertani dan hampir tiap hari harus ke ladang. Sisi lain, harus menjadi manajer di rumah. Mulai dari urusan kebersihan dan kerapihan rumah sampai mungkin mengatur keuangan untuk kebutuhan keluarga.


“Uang hasil dherrebbhân juga untuk kepentingan bersama di rumah. Suami memang juga bekerja dherrebbhân. Tidak setiap hari. Hasil dherrebbhân saya gunakan membantu keuangan di rumah.”

__ADS_1


Hampir semua perempuan petani di sana punya peran sama.


__ADS_2