
Petani asal Desa Gembong, Kecamatan Babat, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, hanya bisa pasrah. Sebab tanaman sorgum yang digadang-kadang bisa mendapatkan hasil ternyata harus gagal panen lagi karena serangan hama tikus.
Meski biji tanaman serbaguna itu masih terlihat muda dia harus memanennya lebih awal. Padahal normalnya masa panen tanaman dengan nama latin Sorghum bocolor tersebut adalah 80-100 hari.
Di lahan berukuran 100 meter persegi itu awalnya dia mengaku bisa mendapatkan hasil panen 8 kwintal.
Namun, karena serangan hama tikus itu penghasilannya merosot 5 kali lipat, yang tersisa hanya 2 kwintal. Bukan kali pertama, nasib malang itu dia rasakan sudah tiga musim ini.
“Kalau dibiarkan saja sampai tua nanti malah habis kemakan tikus. Meskipun berat tapi ya harus gimana lagi, hama tikus ini sampai sekarang masih belum bisa terkendali,” ujar pria yang juga menjabat sebagai Kepala Urusan Umum Desa setempat itu, Rabu (20/10/2021).
Ancaman gagal panen juga dirasakan Sukardi (45), petani lainnya. Dia bilang musim tanam sorgum dalam tiga musim ini merupakan yang terberat bagi petani.
Dia mengaku serangan hama tikus ini terjadi bahkan ketika petani baru masuk musim tanam. Tikus menyerang batang sorgum sehingga tumbuhnya tidak bisa sempurna, dan saat dipanen hasilnya menjadi sedikit.
Penanganan Belum Serempak
Para petani sudah berusaha maksimal untuk mengusir hama tikus yang melanda. Namun, dari berbagai upaya yang dilakukan itu masih gagal, dan tikus masih merajalela. Akibat serangang tikus ini banyak petani sorgum yang rugi jutaan hingga puluhan juta rupiah, tergantung besar kecil lahan yang digarap.
Suoko (46), Ketua Kelompok Tani Sarwani, Desa Sambangan, Kecamatan Babat mengatakan, untuk penanggulangan hama tikus tersebut dari pemerintah sebenarnya sudah memberikan bantuan berupa obat pembasmi tikus.
__ADS_1
Namun karena ditingkat petani masih belum serempak dalam penanganannya, sehingga tikus makin tetap saja ada. Selain itu, dari gabungan kelompok tani juga pernah membelikan peluru tembak untuk para petani dalam membasmi tikus. Akan tetapi hama tikus masih saja belum reda.
“Musim masih lumayan, beberapa petani masih bisa panen. Lha lima tahun yang lalu malah tidak ada hasil sama sekali,” kata bapak dua anak ini.
Tidak hanya sorgum, di desanya, lanjut suami dari Karti ini, hama tikus juga menyerang tanaman jagung (Zea Mays subsp.mays) dan padi (Oryza sativa). Parahnya tikus-tikus itu bisa menyerang tanaman sorgum dalam satu malam.
Dia pun merasa heran berapa jumlah tikus yang datang sehingga secepat itu bisa mengobrak-abrik tanaman yang sudah dirawat berminggu-minggu itu. Akibat serangan hama itu ada petani yang hanya bisa memanen separuh dari hasil sebelum-sebelumnya, atau bahkan ada yang tidak bisa memanennya sama sekali.
Hasil panen seperti ini, kata Suoko, jangankan bisa untung, modal bekas tanampun tidak bisa tertutupi. Apalagi dalam operasionalnya selain digarap sendiri juga menggunakan upah buruh. Jika mengandalkan buruh, hasil panen juga habis untuk upahnya.
Karena dikhawatirkan serangan hama tikus ini terus terjadi, menurutnya saat ini banyak petani yang terpaksa memanen sorgum lebih awal. Karena hama tikus biasanya memang menyerang tanaman semua umur, sekalipun itu yang sudah siap dipanen.
“Saat stok sedikit itulah harga cakul jadi lebih murah. Berbeda dengan komoditas lain yang stok sedikit justru mahal,” kata pria berpipi lesung itu. Saat panen melimpah, dalam perkilonya sorgum basah dari petani itu hargannya sekitar Rp3.000-3.500. Ketika panennya sedikit harganya turun menjadi Rp2.000-2.500 per kilo.
Harus Dilakukan Secara Kontinyu
Tikus mempunyai karakter biologi yang berbeda dibandingkan hama yang lain seperti serangga dan moluska. Oleh sebab itu penanganan hama tikus di lapangan perlu dilakukan dengan strategi khusus dan relatif berbeda dengan penanganan hama dari kelompok serangga.
Edy Purwanto (48), Penyuluh Pertanian Lapangan Kecamatan Babat menjelaskan, dari pemerintah daerah sudah sering memberikan bantuan obat untuk penanganan hama tikus ke petani. Bahkan di Kecamatan sendiri sudah menghimbau kepada semua kepala desa yang ada di wilayahnya agar menyisihkan Anggaran Dana Desa (ADD) untuk mendirikan rumah burung hantu.
__ADS_1
Pemberiannya, per 10 hektare lahan harus dibuatkan satu rumah burung hantu. “Hanya kalau dengan cara ini kan bisa kita harapkan 2-3 tahun baru ada burung hantunya. Sementara ini baru berjalan 1 tahun,” katanya.
Pengendalian hama tikus ini, kata dia, tidak bisa dilakukan hanya beberapa saat. Diperlukan waktu yang kontinyu dan bertahap, dalam arti dibutuhkan biaya yang besar dan waktu yang panjang.
Meski dibeberapa desa sudah sering melakukan pembasmian tikus secara bersama-sama. Namun itu dinilai belum efektif, karena tidak dilakukan secara serempak.
“Jadi tikus itu kan bersifat migrasi dari satu desa ke desa lain. Kalau hanya dilakukan disatu desa saja sementara desa lain tidak melakukan ya sama saja, tikus akan kembali lagi,” kata bapak dua anak ini.
Untuk itu, menurut dia, penanganan hama tikus ini harus dilakukan secara bersama-sama, seluas-luasnya dengan serempak dan kompak, minimal diintruksikan ditingkat Kecamatan. Karena dalam per malam tikus ini bisa berjalan 2 kilometer, mengikuti tanaman yang ada di ladang petani.
Meski dibeberapa desa sudah sering melakukan pembasmian tikus secara bersama-sama. Namun itu dinilai belum efektif, karena tidak dilakukan secara serempak.
“Jadi tikus itu kan bersifat migrasi dari satu desa ke desa lain. Kalau hanya dilakukan disatu desa saja sementara desa lain tidak melakukan ya sama saja, tikus akan kembali lagi,” kata bapak dua anak ini.
Untuk itu, menurut dia, penanganan hama tikus ini harus dilakukan secara bersama-sama, seluas-luasnya dengan serempak dan kompak, minimal diintruksikan ditingkat Kecamatan. Karena dalam per malam tikus ini bisa berjalan 2 kilometer, mengikuti tanaman yang ada di ladang petani.Hama jenis keong, tikus dan burung, kata dia, menjadi predator yang saat ini sedang dihadapi para petani, tak terkecuali petani di Desa Cinunuk.
Rintangan tak berhenti ketika padi masih berusia dini, ketika tumbuh dan siap di panen hama pun masih kerap berdatangan merusak padi.
"Waktu nanam hamanya keong, waktu tumbuh hamanya tikus, waktu jadi hamanya tikus sama burung," terangnya.
__ADS_1
Kendati bisa menggunakan obat, namun Ujang khawatir hama keong tersebut tidak mati ketika sudah disemprot menggunakan obat. "Tapi kalau pakai obat itu kadang suka ketipu, pas disemprot itu sudah kaya yang mati, tapi begitu dikasih airnya lagi seperti hidup lagi, jadi sekarang mah sudah diambil pakai tangan saja," jelas dia.Tentukan Pilihanmu 336 hari menuju Pemilu 2024 Kompas.com Regional Cerita Petani di Kabupaten Bandung Berjuang Hadapi Gagal Panen karena Diserang Hama Kompas.com, 2 Februari 2023, 16:43 WIB Lihat Foto Penulis: Kontributor Bandung, M. Elgana Mubarokah | Editor: Teuku Muhammad Valdy Arief Penanganan Ujang mengatakan, untuk menjaga padi yang masih baru dari hama keong, pihaknya memilih berjaga setiap hari dan mengambil keong keong tersebut menggunakan tangan. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Hal itu dilakukan untuk memastikan bahwa keong tersebut sudah dijauhkan dari padi yang masih baru. "Untuk mengantisipasi keong ada obatnya, Rp 100 ribu sebotol ukuranya satu liter setengah," kata Ujang. Baca juga: Petani Perempuan di Bengkulu Tewas Dibacok, Diduga Dibunuh Pencuri Petai Video Terkini Dikasih Amplop dan Bertemu Presiden Jokowi, Sejumlah Warga Kebumen Mengaku Seperti Mimpi Kendati bisa menggunakan obat, namun Ujang khawatir hama keong tersebut tidak mati ketika sudah disemprot menggunakan obat. "Tapi kalau pakai obat itu kadang suka ketipu, pas disemprot itu sudah kaya yang mati, tapi begitu dikasih airnya lagi seperti hidup lagi, jadi sekarang mah sudah diambil pakai tangan saja," jelas dia. Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+ Sementara, untuk menangani hama tikus, Ujang dan rekan petani lainnya terpaksa harus mengurangi kuantitas air di setiap petak sawah. Hal itu dilakukan, agar hama tikus pergi mencari makanan lain, lantaran stok air di petak sawah sudah di keringkan dengan sengaja. Selain itu, para petani juga dibantu dengan keberadaan predator ular yang memburu tikus di sawah. Namun, tetap saja jumlah predator ular di sawah miliknya tak mampu mengimbangi jumlah hama tikus yang ada. "Tikus itu pasti kalau makan harus berdekatan dengan air, sederhananya buat minum, nah kita keringkan airnya di petak sawahnya. Kalau soal ular, banyak di sini juga tapi gak seimbang aja jumlahnya," jelas dia.