
Sudah pagi. Cahaya matahari sudah masuk ke dalam jendela kamarku. Aku menarik nafasku panjang-panjang.
Huuuaaaah…. Lagi-lagi sudah pagi. Kenapa malam harus berganti pagi…
Malam adalah saat dimana aku sangat menikmatinya. Malam adalah saat dimana aku setidaknya, bisa merasa lepas dari segala beban hidupku. Meskipun itu hanyalah kelepasan yang semu.
Pagi hingga sore nanti, aku masih harus membanting tulang untuk memelihara hidup.
Aku bekerja di sebuah restoran yang dulunya adalah milik ayah dan ibu angkatku, di kota Tongli, sekitar 1 jam dari Shanghai menggunakan mobil. Kota Tongli adalah salah satu kota kecil perairan dengan sistem kanal-kanal, yang ada dalam distrik Wujiang. Memiliki taman Retret dan Refleksi yang terkenal sebagaii pusaka UNESCO dan puluhan jembatan kuno. Jadi bukan “Tongli” yang itu ya.
Namaku Ellena Peng. Aku adalah anak panti asuhan Cahaya Pengharapan, yang kemudian diangkat anak oleh pasangan suami istri Edwin Peng dan Sherly Peng.
Tetapi, sayangnya, sejak ayah dan ibu angkatku meninggal dunia, restoran ini malah berpindah tangan kepada Jerry Peng, kakak dari ayah angkatku.
Jerry Peng sama sekali bukan orang baik. Tetapi ia sangat takut kepada istrinya, Nova Peng. Sejak mereka menguasai restoran ini, mereka bahkan tidak menganggapku sebagai keponakan angkat mereka.
Seperti biasa, pagi ini sampai sore nanti, aku akan menerima berbagai perkataan dari paman dan bibiku.
“ELLENA! Kamu itu sebagai puteri dari pemilik restoran sebelumnya, kenapa bisa begitu malas, benar-benar contoh yang buruk!”
“ELLENA! Kamu itu cuma diminta bantu menjaga masakan oleh Joey, kenapa sampai hangus juga kamu biarkan? Matamu tidak bisa melihat, atau hidungmu sudah tidak bisa membau?”
“ELLENA! Kamu itu, diminta melayani tamu, malah salah memberi orderan, kamu mau bikin rusak citra restoran yang ayah angkatmu rintis ya?”
“ELLENA! Paman dan bibi benar-benar kecewa, kamu ternyata tidak bisa apa-apa, memasak tidak bisa, melayani tamu juga tidak bisa, lalu apa yang kamu bisa?”
__ADS_1
“ELLENA, kamu apa tidak bisa belajar dari Joey, yang sudah membanting tulang membantu paman dan bibi mengurus restoran ini? Kamu itu tahunya hanya merepotkan dan cuma bisa menumpang tidur saja dan makan gratis!”
“ELLENA, adikku benar-benar telah salah mengangkatmu menjadi anak mereka! Sekarang, kau adalah orang lain bagi kami, dan bukan apa-apa di restoran ini selain hanya seorang karyawan biasa!”
Ya, paman Jerry dan bibi Nova, seringkali menghina dan memarahiku. Hanya saja, mereka memiliki anak yang setidaknya, tidak pernah menggangguku, meski juga tidak pernah menolongku. Namanya Joey Peng, adalah saudara sepupuku, anak dari Paman dan bibiku ini.
Aku berhenti sekolah setengah tahun yang lalu, setelah aku tamat Pendidikan menengah senior di jurusan sosial. Waktu itu aku masih memiliki keinginan kuat untuk bisa menempuh Pendidikan tinggi, namun kenyataan berkata lain. Ayah dan ibu angkatku, secara mengejutkan, mereka tewas dalam kecelakaan mobil.
Dan anehnya, sehari sebelumnya, restoran telah berganti pemilik kepada paman dan bibiku, yang bahkan mereka tidak pernah ikut berkecimpung di dalamnya.
Sejak saat itu, aku sangat tertekan. Aku hampir tidak tahan, tetapi hanya dari sinilah aku bisa hidup.
Baiknya, aku masih bisa tidur dan makan di sini, sekalipun sebagai seorang karyawan. Dan aku masih dapat memperoleh gaji sekitar 3000 RMB sebulan (sekitar 6.500.000 dalam Rupiah). Hukum di sini sangat tegas. Mereka tahu resikonya bila tidak memberikan gaji.
Aku tidur di mess karyawan bersama para karyawan lain. Ada beberapa yang merasa kasihan denganku, namun ada juga yang merasa senang dengan keadaan yang aku alami, khususnya mereka yang menjadi “anak buah” dari paman dan bibiku.
Namanya Lisa Jiang. Dia sangat memperhatikanku, dan menjadi teman sekamar denganku. Posisinya di restoran ini hanyalah pelayan biasa. Sama dengan aku. Semalam, kami sempat berbicara satu sama lain.
“Huh. Memang nasib suka mempermainkan manusia. Ellena, aku nggak tahu bagaimana kamu bisa sesabar ini. Apakah kamu akan diam saja? Aku yakin paman dan bibimu itu, yang merancangkan kecelakaan Tuan dan Nyonya. Lalu merebut restoran ini. Kamu harus bisa mengungkapnya dan merebut restoran ini Kembali.”
“Lisa, aku memang sudah curiga demikian. Tetapi, paman dan bibiku itu, meskipun mereka jahat dan licik, namun mereka tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan hal itu. Darimana mereka bisa menekan atau menipu ayah dan ibu angkatku, atau menyuruh orang mencelakai mereka, kalaupun benar, uang mereka tidak akan cukup untuk menutup perbuatan tersebut. Pasti ada seseorang di belakang mereka yang merancangkan hal ini.”
“Benar juga, ada yang aneh di sini. Paman dan Bibimu itu, baru memegang uang setelah kejadian itu terjadi. Tapi, aku masih menyukai Joey, entah bagaimana, aku merasa saudara sepupumu itu, dia berbeda dengan paman dan bibimu.”
“Joey memang tidak pernah menggangguku, tapi dia juga tidak pernah membelaku. Dia sendiri, dirinya mungkin tertekan dengan ulah paman dan bibi, yang sering menyuruhnya menggantikan pak Han memasak saat pak Han tidak masuk.”
__ADS_1
“Tapi, bukannya dia memang sekolah di jurusan cookery? Wajar kan kalau dia membantu memasak.”
“Dia masih sekolah, mungkin dia merasa dirinya terangkat baru-baru ini, dan merasa malu kalau ada teman-teman sekolahnya yang melihatnya memasak di dapur.”
“Huh. Dasar tidak tahu bersyukur. Memasak juga di restoran sendiri, masih jadi bos kecil juga kalau dihitung-hitung. Tapi kamu ini, aku sangat kesal melihatmu ditindas seperti ini.”
“Sudahlah. Aku sendiri saat ini hanya bisa begini. Aku sudah lama memikirkan untuk keluar dari sini dan bekerja di tempat lain.”
“Hah? Maksudku, aku senang kau punya pemikiran itu, namun aku tahu kamu tidak akan merelakan restoran ini begitu saja? Ellena, begitu kamu keluar dari restoran ini, kamu tidak akan bisa mengambilnya kembali! Aku tidak boleh melarangmu untuk keluar dari sini. Hanya saja…”
“Lisa, aku tahu apa yang akan kamu sampaikan. Aku hanyalah lulusan sekolah menengah Senior. Aku tidak akan bisa menemukan pekerjaan yang baik, bukan? Jadi pelayan sepertimu juga aku bersedia. Kadang aku sudah tidak kuat di sini, kalau tidak memikirkan apa yang kamu pikirkan tadi…”
“El… aku sangat tahu kemampuanmu dalam memasak, dan kalau kamu membuka sendiri restoranmu… pasti akan sukses, dan aku pasti akan mengikutimu di restoranmu!”
“Hehehe. Bicara dan bermimpi memang mudah, modal dari mana aku bisa membuka restoran?”
“Hey… tanpa mimpi orang tidak bisa maju! El, aku bicara serius, kemampuanmu sangat baik dalam memasak, aku yakin kamu bisa membuka restoran sendiri! Tapi aku tahu restoran ini… adalah peninggalan milik ayah dan ibu angkatmu, kau pasti tidak rela melepaskannya kepada paman dan bibimu yang jahat itu!”
“Lis, percayalah, aku juga ingin keluar dari sini. Tapi aku harus memperhitungkannya matang-matang. Sekali aku keluar dari sini, maka aksesku terhadap restoran ini juga akan terputus, dan aku akan semakin kesulitan merebutnya kembali! Selain itu, di sini aku masih menerima gaji, mempunyai tempat tinggal, dan satu lagi, aku mempunyai kenangan di restoran ini.”
Lisa tidak berbicara lagi. Kami tenggelam dalam pemikiran kami masing-masing.
Saat aku berumur 5 tahun, aku diangkat anak oleh ayah dan ibu angkatku. Mereka menyayangiku dan mendidik aku di sekolah dasar sampai sekolah menengah Senior. Aku juga belajar memasak dari mereka. Bahkan, ayah dan ibu angkatku mengakui, aku bisa memasak lebih baik dari mereka!
Namun aku tidak pernah mengungkapkan hal ini kepada paman dan bibi. Aku membiarkan mereka mengira bahwa aku tidak bisa apa-apa. Aku ingin menjaga rahasia ini, mungkin akan berguna untukku, kalau aku harus keluar dan melamar di sebuah restoran.
__ADS_1
Tetapi niat itu belum pernah bisa aku laksanakan, karena aku tahu, kalau aku keluar dari sini, maka aku akan semakin jauh dari restoran ini, dan semakin kehilangan kesempatan untuk merebutnya. Meskipun ini adalah restoran pinggiran kota, tetapi cukup legendaris.