
Restoran ayah dan ibu angkatku, eh sekarang paman bibi yang tidak mengakui diriku itu, bernama RESTORAN TAMAN MASAKAN. Restoran buka setiap hari jam 8 pagi sampai jam 9 malam. Ada dua kelompok shift, Shift pagi sampai dengan jam 15, dan shift sore jam 15 hingga jam 22. Masing-masing kelompok terdiri dari tujuh orang pelayan, satu kasir, satu juru masak dan satu asisten juru masak.
Restoran kami memiliki 3 ruangan untuk tamu. Ruangan besar dapat menampung hingga 50 tamu, dengan 10 meja terdiri 4 kursi, dan 5 meja berisi 2 kursi. Kami memiliki 3 ruangan VIP, yang masing-masingnya dapat diisi 10 kursi, jadi bisa menampung 30 orang tamu. Apabila seluruh kursi terisi dengan pelanggan dalam satu waktu bersamaan, maka kami akan melayani 80 tamu sekaligus.
Restoran ini sudah didirikan lebih dari 30 tahun lalu sehingga bisa disebut legendaris. Bentuk bangunan kami yang unik masih menyerupai bangunan kuno namun sudah kami lapisi tembok. Dan cukup terkenal, terutama menu ayam pengemis yang istimewa. Selain itu kami juga menyediakan menu lainnya dan khususnya susu kedelai yang kami produksi sendiri.
Aku adalah kepala kelompok pagi, dan Lisa adalah wakilku. Elly menjadi kasir. Sedangkan chef kami bernama Pak King, sangat handal dalam membuat ayam pengemis, memang tidak seahli pak Han, chef utama kami. Kak Ho adalah asisten chef dan juga merupakan tenaga paling handal untuk urusan supply.
Enam orang lainnya adalah pelayan. Untuk masalah kebersihan dan pembuatan susu kedelai, kami melakukannya bergantian.
Demikian juga dengan kelompok sore.
Kelompok pagi akan sangat repot pada saat jam makan siang. Sedangkan kelompok sore akan sangat repot pada saat jam makan malam.
Jam 6 pagi Lisa dan dua orang kawan sudah mulai menata ruangan. Semalam memang sudah disapu dan dipel oleh kelompok malam, namun kami tetap membersihkannya lagi. Dan hari ini, ada pesanan untuk pertemuan yang sudah dibooking sejak seminggu lalu. Akan ada 30 tamu undangan yang akan memakai tiga ruangan VIP yang dibuka semua sekatnya, dan memesan ayam pengemis sebagai menu utama.
Kak Ho dan dua orang lainnya sudah mulai berbelanja berdasar catatan dari kelompok pada malam sebelumnya serta menyiapkan bahan-bahan beku mulai dikeluarkan dari freezer beku ke dalam lemari pendingin biasa.
Aku sendiri mengatur dapur, memeriksa perlengkapan masak, memeriksa meteran listrik, meteran air, dan meteran gas. Sementara yang lain memasak nasi dan bubur polos, dan meremas susu kedelai, sesuatu yang wajib siap untuk Restoran kami. Kemudian memeriksa stok air mineral dan minuman bersoda. Elly sudah mulai menyiapkan pembukuannya, dan menyiapkan mesin-mesin EDC, serta uang-uang kembalian.
__ADS_1
Aku memeriksa juga kamar mandi. Paman dan bibiku akan sangat marah kalau kamar mandi restoran ini tidak bersih. Kak Ho sering menggantikanku membersihkan kamar mandi kalau tidak ada paman dan bibi.
Paman dan bibi tinggal di restoran, padahal mereka punya tempat tinggal sendiri. Namun sejak menguasai restroran ini, mereka malah tinggal di sini di lantai 2, memakai kamar ayah dan ibu angkatku! Jadi mereka bisa sewaktu-waktu turun ke restoran, bahkan sewaktu-waktu memintaku atau kelompokku untuk membantu kelompok sore! Sementara itu mereka tidak pernah meminta kelompok sore untuk membantu kelompokku.
Benar-benar suatu kesengajaan bukan? Sebetulnya, mereka hanya mau menyusahkanku agar aku keluar. Tapi, jelas mereka juga menyusahkan kelompokku. Aku tahu, mereka ingin aku tidak tahan dan keluar tanpa harus memecatku. Huh, aku sangat tahu hal itu!
Tapi hari ini mereka sedang berlibur ke luar kota bersama Joey. Mereka sudah memintaku untuk memberikan foto keadaan restoran setiap jamnya dan juga laporan keuangan. Padahal mereka bisa memantau dari CCTV juga.
Pukul tujuh tiga puluh, tetapi pak King belum muncul. Biasanya, pak King sudah datang pukul 7. Akupun berinisiatif meneleponnya. Tapi tidak tersambung. Aku mengirimkan chat, juga tidak aktif.
Aku segera menelepon kak Ho. “Kak Ho, sampai sekarang pak King belum datrang dan tidak bisa ditelepon. Apakah pak King sedang cuti?” “Oh ya, aku juga tidak mendapat info apapun. Coba sebentar aku ke rumahnya.” “Iya, gawat kalau pak King tidak masuk, rasanya tidak mungkin pak Jiang dari kelompok sebelah mau membantu kita.”
Kelompok sore adalah kelompok kesayangan paman dan bibi. Dan mereka selalu mencari-cari kesalahan kelompok kami. Aku yakin itu juga merupakan perintah dari paman dan bibi. Terutama kepala kelompok mereka, sangat menjilat kepada paman dan bibi!
Ya, kak Ho selama ini memang menjadi asisten dari pak King, dia masih bisa menggantikan pak King. Tapi aku yakin ada sesuatu terjadi. Pak King tidak mungkin menghilang begitu saja, bertepatan dengan hari di mana paman dan bibi keluar kota! Ini pasti skenario dari paman dan bibi! Mereka mau kelompok kami kesulitan dan berbuat kesalahan! Apalagi hari ini, ada pesanan pertemuan, kami bakal sibuk sekali!
“Aduh bagaimana ini?” tanya Lisa panik mendengar pak King tidak dapat dihubungi. “Tenang saja, kita tetap buka. Kak Ho dapat menggantikannya. “Tapi, hari ini ada booking makan siang untuk 40 orang, kita akan sangat kelabakan kalau kokinya hanya satu.” “Tetap tenang, aku bisa membantu.” kataku mantap. “Astaga, bagaimana mungkin aku melupakan kemampuanmu!” Lisa menatapku dengan membelalakkan mulut dan matanya. Lalu ia mengerjap-ngerjapkan matanya.
Kak Ho datang dengan terburu-buru. “Aku akan segera bersiap-siap. Telepon terus pak King, siapa tahu dia tetap datang walau terlambat.” Lisa segera menelepon pak King tapi masih tidak bisa. Jam sudah hampir waktunya buka. Resto harus tetap buka, dan aku harus mempertahankan kelompokku. Nasib dan kehidupan mereka saat ini ada di restoran ini. Dan aku sebagai kepala kelompok, bertanggungjawab atas hal ini.
__ADS_1
Kak Ho segera masuk ke dalam, dan bersiap-siap. Pak King benar-benar tidak datang sampai saat jam buka restoran. Aku bisa membantu sebagai chef di dapur, tapi untuk pelayan mungkin perlu menambah orang. “Lisa, kau cobalah mencari tenaga cabutan untuk membantu sebagai pelayan.”
Saat kami buka, sudah ada beberapa pelanggan tetap yang suka menyantap bubur pagi kami, atau pangsit mie kami. Pukul delapan sampai sepuluh, adalah jam-jam sibuk kami. Setelah itu sedikit berkurang, kami bisa membersihkan tempat dan mengatur tenaga. Mungkin kami masih bisa mencari tenaga cabutan tambahan.
Pagi ini kesibukan berjalan normal, kak Ho bisa mengatasi semuanya. Hanya saja untuk siang nanti, aku harus membantu kak Ho menjadi asisten koki yang menangani pesanan yang umum, dan kak Ho yang akan menghandle pesanan bookingan.
Seorang pemuda masuk ke dalam restoran saat restoran kami mulai sedikit agak sepi.
Aku segera mengenalinya.
“Kak Yuan Di!”
“Halo, Adik Peng! Apa kabarmu?”
Yuan Di adalah teman SD dulu, bukan hanya teman di sekolah, bahkan dia juga sempat tinggal di restoran ini, selama beberapa bulan. Waktu itu, Yuan Di minggat dari rumah, dan secara tidak sengaja, aku menemukannya sedang menangis di depan restoran. Tentu saja Ayah angkatku menelepon sekolah dan kemudian menelepon ayah Yuan Di. Tapi aku tidak tahu apa yang mereka bicarakan, yang jelas kemudian Yuan Di tinggal di tempat kami selama beberapa bulan. Meski di hari-hari pertama kami merasa canggung, tapi lama-kelamaan hubungan kami menjadi seperti kakak dan adik yang sebenarnya. Tapi kemudian saat lulus SD kamipun berpisah.
Astaga. Sekarang ia sudah menjadi pemuda yang sangat tampan. Aku dapat melihat bahu kekarnya dari luar kaosnya. Penampilannya memang sederhana sekali, ia hanya memakai kaos berkerah berwarna biru, dengan celana jeans denim. Persis seperti kesukaannya dulu.
“Sudah lama kita tidak bertemu?” tanya Yuan Di. “Iya, bagaimana kabar kak Yuan Di?” “Oh hahaha... nanti aku cerita banyak.” katanya terkekeh sambil menggaruk rambutnya. Matanya terlihat tajam, menyorot ke beberapa tempat dari restoran ini. Aku ingat, sorot matanya sejak kecil memang sudah tajam, dan kini bertambah tajam. Biarlah, mungkin ia sedang bernostalgia.
__ADS_1
“Silakan duduk, Kak Yuan Di. Mau pesan apa?” tanyaku.
“Aku ingat sarapan bubur bibi yang istimewa. Bisakah aku menikmatinya lagi?” tanyanya tersenyum.