
“OK. Semangkuk bubur, dan telur mata sapi ya...” Aku ingat sekali kalau kak Yuan Di sangat menyukai bubur dan telur mata sapi buatan ibu angkatku.
“Kau masih ingat, bagus. Bagus.” katanya sambil mengacungkan jempolnya.
“Aku yang akan memasakkan untukmu, sebentar ya. Oh ya, minum apa?”
“Bubur harus diminum dengan secangkir teh oolong.”
“OK. Good choice.” jawabku.
Aku menuju ke dapur. Tak kusangka kalau dirinya juga mengikutiku ke dapur. Aku sudah berada di dapur, dan hanya bisa mendengar suara mereka.
“Tuan, maaf, itu area dapur, kalau hendak ke kamar mandi, ke arah sini, Tuan.” kata Lisa melihat Yuan Di menuju dapur.
“Aku tahu kok.” jawab Yuan Di cengengesan. Tapi ia tetap menuju dapur.
Lisa semakin marah, “Tuan, Anda tidak tahu aturan? Lihat baik-baik tulisan di dapur itu: Selain karyawan dilarang masuk.”
“Kalau begitu, aku akan menjadi karyawan di sini.” kata Yuan Di.
Kemudian tidak terdengar suara Lisa, malah aku melihat Yuan Di sudah ada di dapur.
Lisa terdiam, berpikir bahwa mungkin ini karyawan cabutan yang dipanggil oleh kak Ellena.
Kak Ho sempat terkejut melihat ada orang lain masuk, tapi aku memberi kode tidak apa-apa. Jadi ia meneruskan pekerjaannya menyiapkan ayam pengemis untuk jamuan siang. Dapur kami ada dapur depan dan dapur belakang. Dapur depan adalah untuk mengolah bubur dan mie serta masakan china lain yang cepat. Dapur belakang untuk makanan olahan yang lebih lama, seperti ayam pengemis, bebek peking, dan lain sebagainya.
“Adik Peng, dimana paman dan bibi Peng?” tanya Yuan Di.
Aku terdiam. Yuan Di melihat raut wajahku, dan kelihatannya dia sudah menebak apa yang terjadi.
“Apa yang terjadi?” tanyanya.
“Ayah dan ibuku... setengah tahun yang lalu, mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.” jawabku, sambil membangun pertahanan untuk tidak menangis.
“Maaf, aku tidak mendengar beritanya sama sekali.”
“Tidak apa.”
__ADS_1
“Jadi, saat ini, kau meneruskan usaha mereka? Wah, aku ikut bangga kepadamu.” kata Yuan Di tersenyum.
Aku mendesah saja. Tapi jelas sekali kalau Yuan Di melihat ada yang tidak beres.
“Aku belum bisa bercerita banyak, nanti sore kalau kak Yuan Di bisa, bolehkah aku bertemu dengan kak Yuan Di di luar?”
“Tentu saja, aku akan datang. Bagaimana kalau di Cafe de Amora? Masih buka kan tempat itu?”
Ayah angkatku dulu sering mengajak kami ke cafe de Amora.
“Masih buka, boleh, jam 15 kita bertemu di sana.”
“Adik Peng, kau memasak sendiri? Kakak ini... asistenmu?” katanya sambil menunjuk kak Ho.
“Kenalkan, ini kakak Ho, asisten Chef di sini, tapi Chefnya bukan aku, aku sendiri hanya pelayan, dan hari ini aku terpaksa menjadi asisten dari asisten Chef karena Chef kami tidak masuk.”
“Oh? Kalau begitu, aku akan membantu. Apa yang bisa aku bantu?”
“Hehehe. Tidak perlu, kak Yuan makanlah dulu bubur ini.” Aku menyajikan bubur kepadanya.
Yuan Di segera duduk di meja dapur, dan kemudian memakan bubur itu. “Hmmm... bubur yang sudah lama tidak aku rasakan... Akhirnya setelah menunggu belasan tahun...”
Rupanya seperti inikah kerinduan antara kakak dan adik yang sudah lama tidak bertemu.
“Nikmat sekali, persis buatan bibi!” katanya mengangkat jempol. Lalu ia meneruskan makannya.
Tentu saja perbuatanku membersihkan bibir Yuan Di, menarik perhatian kak Ho. Aku tahu ia punya banyak pertanyaan. Tapi ia tetap meneruskan pekerjaannya. Kak Ho adalah orang yang berdedikasi dalam masakan, dibanding pak King, justru kak Ho memiliki jiwa yang lebih dalam menjadi seorang Chef, hanya pengalamannya saja berbeda.
“Apakah akan ada tamu khusus? Bahan-bahan ini, dipersiapkan untuk masak ayam pengemis kan?” tanya Yuan Di. Dengan melihat bahan-bahan yang disiapkan kak Ho, dia bisa menebak apa yang akan dimasak oleh Kak Ho.
“Kau... bagaimana kau tahu?” tanya kak Ho heran.
Yuan Di maju ke meja tempat bahan-bahan itu digelar, lalu berkata, “Bahan-bahan ini, memang bisa dimasak untuk resap yang berbeda-beda, namun daun teratai ini, jelas ini adalah ayam pengemis. Lagipula, tungku masak tradisional ini sudah dipersiapkan, jelas akan membuat ayam pengemis dalam porsi yang cukup banyak, mungkin untuk 3 atau 4 meja?”
Aku bertepuk tangan. “Kak Yuan Di memang tajam.”
“Kak Ho, ini adalah kakakku, namanya kak Yuan Di. Dia pernah belajar memasak sebentar dengan ayah dan ibu.” jelasku kepada kak Ho supaya tidak terheran-heran lagi.
__ADS_1
Keduanya saling memberikan salam.
“Pantas saja, ternyata murid langsung dari ayah dan ibumu. Senang bertemu senior!” kata kak Ho senang.
“Hahaha. Aku hanya belajar beberapa bulan saja, tidak pantas disebut senior. Baiklah, berikan apron pelayan, aku akan membantu melayani di restoran kalian hari ini,” kata Yuan Di.
Aku terkejut, namun bukankah aku memang membutuhkan pelayan tambahan? Yuan Di juga anak yang baik.
“Tapi aku tidak bisa membayarmu tinggi, kak Yuan Di!”
“Hahaha. Aku cukup dibayar dengan semangkuk bubur saja.” katanya tertawa renyah. Yang aku tahu, Yuan Di memang begitu. Waktu pertama kali datang dan tinggal di rumah kami, Yuan Di selalu uring-uringan dan membuatku kesal. Tapi di belakangan hari, aku tahu dia anak yang baik. Bahkan aku sempat merasa kehilangan seorang saudara yang baik saat kami berpisah. Aku hanya tahu, Yuan Di ini dibuang oleh orang tuanya. Dan dia tidak memiliki tempat tinggal. Ayah ibu angkatku kasihan kepadanya, dan selanjutnya setelah lulus SD, dia mendapat orang tua angkat yang lain.
Aku memberikan apron pelayan kepadanya, “Terimakasih kak Yuan Di. Aku memang sedang membutuhkan tenaga bantuan.” “Kau masaklah dengan baik, tenang saja aku akan membantumu hari ini.” Aku mengangguk.
“Apa yang harus aku lakukan?” tanya Yuan Di. “Aku akan mengenalkanmu dengan Lisa, kau bisa bertanya padanya.”
Aku memanggil Lisa ke dapur dan mengenalkannya kepada Yuan Di.
“Lisa, ini kak Yuan Di, dia akan membantu kita di sini hari ini, kau baik-baiklah padanya.”
“Baiklah, jadi aku tidak perlu mencari tenaga cabutan lagi ya?”
“Tidak perlu, ada kak Yuan Di di sini, bisa membantu kita. Kau beritahukanlah apa yang dia bisa bantu.”
“Hai. Sudah kubilang kan, aku akan menjadi pegawai di sini,” sapa Yuan Di kepada Lisa sambil menjulurkan lidahnya.
Lisa terlihat ingin melemparnya dengan sapu yang dipegangnya. Tapi tentu saja itu hanya gertakan.
“Ikuti aku!” sahut Lisa sedikit sewot. Tapi akhirnya mereka berdua sama-sama menuju ke ruangan VIP, membuka sekat dan menyiapkan 3 meja. “Lihat ini!” kata Lisa.
Ia kemudian mengangkat meja tengah, membersihkannya, memberikan taplak meja, dan memasangnya kembali. Kemudian menaruh piring-piring kosong ke atas meja. “Kau siapkan satu meja di ruangan itu, seperti tadi yang aku tunjukkan.” “Baiklah.”
Yuan Di segera menuju ke meja. Lalu dengan gerakan yang sangat cepat, ia menarik taplak meja yang lama, mengganti taplak baru, menarik keluar tatakan kaca bundar, merapikan taplak yang baru tadi, dan menggulirkan tatakan kaca kembali di atas meja. Lalu ia meletakkan piring-piring ke atas tatakan bundar, dan kemudian memutarkannya, sampai piring-piring itu tertata rapi ke atas meja!
Lisapun terbengong melihatnya. “Sialan dia lebih jago daripada gue ?!?”
Di dapur, kak Ho sudah selesai membungkus ayam pengemis dengan daun teratai, dan akan memasaknya dengan tungku, tapi tiba-tiba berlari ke toilet. Aku melihatnya enam kali bolak-balik ke toilet. Ia berusaha memasak tapi selalu terganggu.
__ADS_1
“Kak Ho, kenapa?” tanyaku. “Perutku,... sakit sekali... Aku tiba-tiba diare...”
“Gawat, kenapa tiba-tiba sekali? Kak Ho, kau istirahat dulu. Ada obat diare di kotak obat.”