Kisah Tuan Muda Yuan

Kisah Tuan Muda Yuan
BAB 10


__ADS_3

Pagi ini aku dan Lisa sudah menyiapkan diri dan juga membawa surat lamaran dan dokumen yang sekiranya diperlukan. Tidak ada kesempatan yang lebih baik dari hari ini, kami harus berhasil mendapatkan pekerjaan ini.


“Hari ini, kalian sendiri yang akan menentukan nasib kalian. Aku hanya memberi kesempatan kepada kalian. Buktikanlah kepada manajer yang bertugas di sana.”


“Siap Kak Xiu Huan,” jawab Lisa sambil memberikan sikap hormat.


“Sarapan dulu, lalu kalian akan berangkat ke tempat Wisata Moow Dairy Land.”


“Omong-omong, kemana kak Yuan Di?” tanyaku tidak melihatnya.


“Oh. Dia ada urusan beberapa hari ke Shanghai, dalam tiga hari akan kembali ke sini.”


“Oh baiklah.” Aku tidak mengetahui apa pekerjaan Yuan Di, tapi pasti ia ke Shanghai berkaitan dengan pekerjaannya. Dalam beberapa hari ini dia mampir ke kota Tongli, pasti sudah meninggalkan beberapa urusan pekerjaannya. Sayang, aku bahkan belum sempat bertanya kepadanya, apa pekerjaannya sekarang.


Kami segera makan pagi. Menu pagi ini sederhana saja. Tersedia roti gandum, telor mata sapi, sosis dan bacon. Tersedia juga beberapa sayuran seperti letuce dan tomato, serta buah apel dan pisang. Tersedia juga susu.


“Ayo, cobalah. Makanan pagi ini sederhana, namun sengaja disajikan untuk kalian berdua. Sosis dan bacon yang disajikan adalah produk dari Moow Dairy. Demikian juga dengan susu sapi ini, benar-benar fresh, khusus untuk kalian.”


“Terimakasih kak. Ayo makan sama-sama.”


Aku dan Lisa segera duduk di meja makan dan menikmati sarapan pagi kami. Saat aku akan mencuci alat makan kami, kak Xiu Huan melarang kami.


“Serahkan pada pelayan. Kalian ikutlah aku, bawalah dokumen dan tas kalian.”


Kami bergegas mengikuti kak Xiu Huan menuju sebuah mobil Mercedes Benz berbentuk Jeep. Terdapat tulisan AMG G Class. Jelas, sebuah mobil yang sangat mahal.


“Naiklah.”

__ADS_1


“Tapi kak... mohon maafkan aku... rasanya kurang tepat bila kami harus naik mobil ini, sementara kami akan melamar pekerjaan di sana. Kalau ada yang melihatnya, rasanya jadi kurang pantas. Apalagi kalau tahu kami turun dari mobil kak Xiu Huan. Lagipula, tidak perlu kak Xiu Huan yang mengantar kami. Bila ada mobil yang sederhana, kami akan meminjamnya, naik itu saja. Kami memiliki SIM juga kak.” kataku merasa bahwa ini terlalu berlebihan. Kami yang akan melamar kerja, ternyata diantar sendiri oleh Manajer Peternakan, juga naik mobilnyapun, akan menjatuhkan kami pada hal-hal yang ribet.


“Hmmm. Baiklah kalau kalian berpikir demikian. Ada sebuah mobil listrik Wuling sederhana, kalian boleh memakainya kalau memiliki SIM.”


Kak Xiu Huan mengajak kami berjalan ke garasi belakang, dan tampak sebuah mobil kuning kecil yang lucu. Tapi di sampingnya terdapat juga sebuah motor listrik. “Kak, bolehkah kami memakai sepeda motor listrik ini saja?”


“Hah? Kalian mau memakainya? Apakah kalian sudah tahu arah jalannya? Tadinya aku berpikir kalian menaiki mobil dan motor akan digunakan oleh salah satu tenaga kerja di sini untuk menjadi petunjuk arah kalian.”


“Tidak perlu, kak. Kami memakai motor ini saja. Apakah ada dua helm di sini kak? Kami akan meminjamnya, eh, kalau boleh...”


“Tentu saja, tetapi berhati-hatilah di jalan. Meski jarak dari peternakan ini ke Taman Wisata MOOW Dairy Land tidak terlalu jauh, namun kalian belum eprnah ke sana. Dan ada beberapa jalan yang agak becek kalau hujan.”


“Tenang saja, kami bisa memakai GPS, dan akan berhati-hati.”


“Hmm... Baiklah kalau begitu. Hubungi aku bila perlu, jangan sungkan.”


“Terimakasih Kak!”


“Akhirnya kebebasan tiba! Masa depan kami yang cerah....” teriak Lisa yang membonceng di belakangku sambil mengangkat tangannya. “Eh, kak Xiu Huan itu baik sekali. Untung kau punya teman yang dekat dengannya...”


“Hmmm. Kita harus berterimakasih kepadanya. Sekarang kita buktikan bahwa kak Yuan dan kak Xiu Huan, sama sekali tidak salah menolong dan mempercayai kita!”


“Benar. Ayo!!!”


Tidak banyak masalah di perjalanan, memang ada jalan yang sedikit licin, namun aku mengemudikan dengansangat berhati-hati. Aku memarkirkan motorku di parkiran setelah tiba. Masih pagi, jadi belum tampak banyak pengunjung. Tetapi jelas kantor perusahaan sudah buka. Kami menuju ke arah perkantoran, bukan menuju ke pintu masuk wisata.


“Selamat pagi, ada yang bisa kami bantu?” tanya resepsionis ramah.

__ADS_1


“Kami ingin melamar pekerjaan di sini, bisakah kami bertemu dengan Manajer?”


“Maaf, di bagian mana, karena divisi kami cukup banyak.”


“Kami ingin melamar di restoran sebagai pelayan dan sebagai juru masak.”


“Oh. Sebentar.”


Resepsionis itu menelepon sebentar, lalu mengarahkan kami ke ruang tunggu.


Kemudian seseorang perempuan berbaju blazer hitam datang menemui kami.


“Lhoh, Ellena?” tanya orang tersebut. Aku berusaha mengenalinya. Aku membaca kartu pengenalnya. Diana Fu. Restaurant Asistant Manager.


Oh. Ingatanku melayang ke masa-masa kelas satu SMA. Saat itu, Diana Fu merupakan salah satu gadis tercantik di sekolah kami. Diana Fu sudah berada di kelas 3 saat itu. Ya, hal itu menimbulkan persaingan di antara kami. Sebenarnya aku tidak merasa bersaing atau tersaingi. Tetapi memang, di sekolah kami, kami berdua memiliki basis penggemar yang hampir seimbang. Diana Fu adalah gadis yang memiliki latar belakang sedikit lebih kaya daripada aku, tetapi aku memiliki sedikit lebih banyak prestasi.


Keluarga Fu saat itu adalah keluarga menengah, memiliki kekayaan sekitar 30 miliar sekitar 3 kali lipat dari kekayaan orang tua angkatku. Entah sekarang. Pada akhirnya, cowok idola di sekolah kami sekaligus idola dari Diana Fu, yaitu Zhan Chao, malah menunjukkan ketertarikannya padaku.


Zhan Chao adalah anak keluarga Zhan, yang berasal dari Shanghai. Keluarga Zhao terkenal sekali dengan bisnis kesehatan yang mereka jalankan. Mereka memiliki jaringan rumah sakit dan farmasi. Nilai kekayaan keluarga Zhao berada di atas kekayaan keluarga Hua dan Dao bahkan jika kekayaannya digabung.


Karena itu, Diana Fu sangat iri kepadaku. Meskipun akhirnya aku dan Zhan Chao tidak terjalin hubungan apapun, sampai Zhan Zhao dan Diana Fu sama-sama lulus. Namun aku ingat kalau Diana Fu sudah kadung tidak suka kepadaku, bahkan pernah berkonflik fisik denganku. Zhan Chaolah yang meleraikan dan menolong aku saat aku terjatuh didorong oleh Diana.


Hari ini, aku akan diwawancara oleh Diana. Semoga dia sudah menjadi lebih dewasa, atau semua ini akan berjalan dengan tidak baik.


“Diana?” Dia bertambah cantik. Aku sendiri sangat heran melihatnya di sini. Secara hitungan, dia seharusnya masih baru akan lulus kuliah tahun depan, tetapi kenapa ia sudah bekerja di sini? Aku mencoba memastikan perhitunganku. Saat aku kelas 1 SMA, dia sudah kelas 3 SMA. Saat aku kelas 3 SMA, dia sudah di tahun ke dua kuliahnya, bukan? Seharusnya ini adalah tahun ketiganya di bangku kuliah, dan aku harusnya berada di tahun pertama kuliah.


“Kau... mau melamar kerja?” tanyanya.

__ADS_1


“Eh, iya. Aku mendengar ada lamaran kerja di sini sebagai juru masak.”


“Apa? Kau melamar menjadi juru masak? Kenapa kau tidak menjadi juru masak di restoranmu sendiri saja?” tanyanya keheranan. Ia hanya tahu kalau aku memiliki restoran. Aku tidak dapat menilai pertanyaannya ini sebuah keheranan murni atau ada perasaan yang lain.


__ADS_2