
Pagi harinya.
Aku mengumpulkan semua orang dari kelompokku. Kak Ho sudah masuk, demikian juga pak King.
“Pagi ini, aku ingin memberikan pengumuman. Sebelumnya aku meminta maaf kalau harus berakhir dengan cara seperti ini. Aku bukan tidak mau berjuang, atau aku menyerah terlalu dini. Tetapi aku ada rencana yang lain, dan juga untuk menghindarkan kalian dari kesusahan di masa yang akan datang karena keberadaanku.”
“Saat aku pergi dari sini, aku yakin perilaku Tuan Jerry Peng akan lebih baik kepada kalian. Kalian semua menderita hanya karean terkena imbas adanya diriku. Untuk kalian yang masih setia bersamaku sejak zaman ayah dan ibu angkatku, terimakasih atas perjuangan kalian dan kesabaran kalian bersamaku. Untuk kalian yang tidak menyukaiku, terimakasih sudah terpaksa untuk menyukaiku. Tapi aku tidak akan terus menyiksa kalian.”
“Jadi, hari ini aku akan mengundurkan diri. Aku akan menyerahkan kelompok ini kepada kak Ho. Kalian harus mendukung dirinya. Aku rasa cukup untuk aku memberikan pengumuman ini. Pertahankan restoran ini, sampai aku merebutnya kembali!”
“Guys, Aku ikut resign dengan Ellena. Kalian bekerjalah dengan baik. Aku tahu ada beberapa yang dengan sengaja melakukan hal-hal kemarin, yang menyebabkan Ellena harus mengambil keputusan ini, selamat, kalian sudah berhasil. Tapi sampai matipun, kami akan menghantui hati kalian! Huh!” Lisa menambahkan pengumumanku dengan lebih pedas.
Semua terdiam.
Tiba-tiba pak King berkata, “Ellena, Lisa, maafkan aku. Gara-gara aku kemarin tidak hadir tanpa pemberitahuan, jadinya terjadi hal seperti ini.”
“Sudahlah, tidak perlu berpura-pura lagi, siapa yang tidak tahu dengan dirimu, lebih baik kau tutup mulut baumu itu!” teriak Lisa.
“Cukup semuanya, cepat atau lambat, aku memang akan dipaksa untuk keluar. Musuhku bukanlah kalian.” jawabku.
Tiba-tiba Wen wen menangis.
Lisa menghela nafas.
“OK. Sekarang semua siap untuk membuka restoran, aku segera meninggalkan surat ini kepada kak Ho. Aku tidak merasa ada yang perlu dibicarakan dengan paman Jerry, toh aku tidak akan mendapat pesangon dan juga tidak akan mendapat surat keterangan kerja. Aku juga tidak merasa perlu menyampaikan apa-apa kepada kelompok shift sebelah. Jadi kalian sampaikan saja bahwa aku sudah mengundurkan diri.”
Akhirnya semua bubar. Resto buka seperti biasa, aku dan Lisa mengatur barang-barangku.
Saat aku melangkahkan kaki keluar dari restoran, tiba-tiba Yuan Di mendatangiku.
Ia heran melihatku dan Lisa membawa koper.
Aku segera berlari ke kak Yuan Di. Hanya dialah aku dapat bersandar saat ini.
Dengan terisak aku berkata keapda Yuan Di, “semua sudah berakhir, aku sudah tidak bisa lagi ada di sini. Bawa aku pergi kemanapun.”
Kak Yuan Di dengan geram bertanya, “Apakah mereka mengusirmu? Kurang ajar sekali!”
Aku menceritakan dengan singkat kejadian kemarin.
__ADS_1
“Kau tak harus keluar dari sini, aku membawa surat pernyataan pengharagaan dari para tamu, seharusnya ini dapat menolong keadaanmu.” Yuan Di menyerahkan surat dari Tuan Stephen Kong.
“Kok bisa ada di kak Yuan?” tanyaku.
“Tidak penting bagaimaan surat ini ada di tanganku, yang penting baca isinya.”
Memberikan penghargaan atas pelayanan dan perhatian Restoran Taman Masakan dan kelompok Shift Pagi.
“Kenapa... bisa ada surat ini? Mereka tidak meminta ganti rugi?”
“Tidak ada yang sakit sama sekali di antara mereka. Semalam setelah aku berpisah denganmu, aku secara tidak sengaja bertemu dengan rombongan tuan Stephen Kong. Ternyata pada malam harinya mereka berlomba makanan pedas, dan sebagian dari mereka terkena diare. Jadi sama sekali tidak ada hubungannya dengan restoran kita.”
“Hah bagaimana bisa?”
“Makanya, ini hanya fitnahan untuk mu!”
Aku jadi meragukan keputusanku, dan ingin rasanya aku membuktikan semua ini di hadapan paman Jerry dan membongkar semua kebusukan kelompok shift sore. Aku sangat percaya dengan informasi dari kak Yuan Di.
Lisa juga sudah mendengarnya, dan dia semakin geram.
“Memang orang-orang busuk! Dasar Monyet bau, kadal bintit, muka gepeng, kecoa bunting, babi ngepet, dinosaurus, brontosaurus!” omelnya.
“Kau lakukan apa yang ingin kau lakukan, sebagai kakak, aku akan mendukungmu!” katanya mantap.
“Rasanya memang ada yang perlu diperjelas. Tadinya aku tidak mau berkonftrontasi, tapi...”
Aku akan mengumpulkan kembali timku nanti jam 10 akan aku tutup sementara. Saat ini sudah ada pelanggan.
Jadi aku masih melayani beberapa pelanggan sebelum seperti biasa menjadi sepi saat pukul 10. Aku meminta kak Ho menutup sementara dan memberikan tulisan akan buka kembali pukul 11.
“Teman-teman, ada kabar baik. Ada yang berniat mencelakakan kelompok pagi. Semalam, memang tamu VIP kita ada yang masuk rumah sakit karena diare, namun bukan karena makanan kita. Mereka beradu makanan pedas di tempat lain. Sebagai buktinya, kak Yuan Di yang membantu kita kemarin, telah dititipi surat penghargaan dari Tuan Stephen Kong. Jadi, kelompok pagi dengan ini jelas bebas dari segala tuduhan. Tapi memang ada yang memutarbalikkan fakta, seakan-akan tamu kita masuk rumah sakit diare setelah memakan makanan kita. Karena kejadiannya mirip dengan kak Ho yang juga terkena diare, maka kita jadi saling curiga satu sama lain. Tapi sekarang keadaan sudah menjadi jelas. Sekarang aku hendak menuntut kebenaran kepada pamanku dan kepada kelompok sore bila kalian mendukungku. Selanjutnya aku tetap akan mengundurkan diri untuk kebaikan kalian. Bila kalian takut, maka aku akan tetap mengundurkan diri, tanpa harus memperpanjang masalah ini.”
Semua terkejut mendengar penjelasanku.
“Aku ingin kau memperjuangkan kebenaran!” teriak Lisa. Kak Ho juga mengangguk. Wen wen hanya menundukkan wajahnya saja.
Akhirnya hanya tiga orang saja yang mendukungku.
Akhirnya Yuan Di berkata, “Sudahlah adik Peng, mereka tidak layak. Hanya Lisa, kak Ho, dan dia, eh siapa namanya, yang mementingkan kebenaran, lainnya hanya mementingkan diri sendiri.”
__ADS_1
“Kita simpan bukti peristiwa ini, suatu saat kita akan bukakan semuanya.” Ternyata dari tadi kak Yuan Di merekam semua dengan kamera video Hpnya.
“Surat dari Stephen Kong, tidak jadi aku berikan. Terlalu enak bagi mereka.”
Aku hanya merasa betapa aku melakukan semua untuk mereka, namun mereka tetap tidak bisa mempercayakan nasibnya kepadaku.
“Kita pergi, kak.”
Aku dan Lisa keluar dari restoran itu, bersama dengan kak Yuan Di.
Sebuah mobil mendekat. “Ini mobil si kutu buku Xiu Huan. Masih ingat?” tanya Yuan Di.
“Oh?” tanyaku bingung. Aku berusaha mengingat-ingat, sampai pikiranku tertuju pada satu anak culun berkacamata tebal, yang kesukaannya berada di perpustakaan sekolah. Bayangkan saja, anak SD, siapa yang suka ke perpustakaan? Tapi dia memang kutu buku.
“Aku meminta tolong dia agar menjemput kita ke peternakannya.”
“Ke peternakan?”
“Iya. Peternakannya sangat luas dan aku terpikir untuk membawa kalian berdua ke sana untuk sementara.”
“Hah? Serius?”
“Kenapa? Kau tidak mau tinggal di peternakan?”
“Restoran itu saat ini jauh lebih buruk dari peternakan sekalipun.” Kataku terkekeh. Entahlah. Kesedihanku sedikit terhapus.
Yuan Di bergegas membukakan pintu, mempersilakan aku dan Lisa masuk, kemudian sopir membantu mengangkat koper kami ke bagasi belakang.
Yuan Di duduk di depan.
Mobil segera berjalan, dan aku memejamkan mataku, berusaha mencegah agar mataku tidak basah. Namun tidak bisa. Hanya saja, semua kami berdiam. Emosiku masih bergejolak, Bagaimanapun banyak kenangan di restoran itu.
Beberapa menit berlalu, aku sudah bisa mengontrol emosiku. Yuan Di menyetel musik.
“Xiu Huan ini, adalah kawan yang setia. Kamu mungkin tidak dekat dengannya, tapi kau sangat mengenalnya. Kau tenang saja, dia akan mengenalimu.”
“Kau masih sering berhubungan dengannya?”
“Kami satu SMP, satu SMA, juga sama-sama satu kuliah!”
__ADS_1
Setelah hampir empat jam perjalanan, kami sampai di peternakan si kutu buku Xiu Huan. Peternakan itu terletak di Anhui.