
Kak Ho terbaring lemas. Ia kehabisan banyak cairan, dan jelas ia tidak bisa melanjutkan memasak. Akhirnya ia berangkat ke rumah sakit, diantar oleh Wen-wen, salah satu teman kami.
Aku segera meneruskan memasak ayam pengemis, tetapi jelas, aku tidak bisa memasak untuk pelanggan lain. Atau kami akan tutup saja untuk pelanggan lain dan hanya melayani pesanan yang sudah dibooking saja?
Yuan Di sudah selesai dari ruangan VIP, dan kembali ke dapur belakang. “Lho, kok kamu sendirian, mana kak Ho?” “Dia tiba-tiba diare dan sekarang ke rumah sakit.” “Habis makan apa dia?” tanya Yuan Di sambil matanya menuju ke meja dapur dekat kak Ho menyiapkan ayam pengemis.
“Aku akan memasak sisa yang belum selesai, aku bisa, tenang saja.”
“Sudah satu yang jadi, masih perlu 9 lagi.”
“OK. Serahan pada kakakmu ini!”
Yuan Di segera memasak ayam pengemis itu ke dalam tungku tradisional. Ia menjaga apinya, sampai ia berkeringat dan mukanya terkena angus arang. Tetapi jelas, ia mampu menjaga suhu dengan baik dan mematangkan ayam pengemis dengan baik. Aku yang membantunya, cukup terkejut dengan kemampuannya.
Sambil menunggu, aku bertanya kepadanya, “Kak Yuan Di... kenapa kau bisa memasak ayam ini dengan baik... ketepatan suhunya, ini sangat susah... Kau sudah lama sekali bukan...”
“Oh, kau lupa, aku memiliki kelebihan...”
“Tapi itu sudah lama sekali...”
“Sekali ada di otakku, sekali aku pernah mempraktekkannya, aku tidak akan lupa selamanya...”
Huh. Sombongnya. Tapi aku ingin juga memiliki kemampuan seperti Yuan Di.
“Kalau begitu, aku bisa tenang, ini tinggal menunggu matang, aku akan menyiapkan masakan yang lain.” Aku meninggalkan Yuan Di dan menuju ke dapur depan.
Sepuluh menit sebelum jam 12. Enam orang bertubuh kekar datang ke restoran. Mereka duduk di meja tamu nomor enam dan memanggil Lisa.
“Pelayan, bawakan kami ayam pengemis satu ekor, sayur cambah, dan sapi lada hitam, enam porsi nasi, dan enam botol bir.” teriak salah satu pelanggan dari meja enam.
Hmm... Aku melihatnya dari jendela dapur, merasa orang-orang ini bakal mencari masalah.
Lisa mendekat sambil membawa catatan. “Selamat datang Tuan. Mohon maaf untuk ayam pengemis hari ini kami sudah kehabisan stok.”
“Oh? Tapi aku mencium masakan ayam pengemis?”
__ADS_1
“Benar Tuan, tapi mohon maaf, itu sudah pesanan pelanggan lain...”
“Hohoho. Untuk pelanggan lain kau layani, untuk kami tidak? Apakah pelanggan lain yang kau maksud, sudah datang?”
“Maaf, pemesannya memang belum datang, Tuan, tapi...”
“Kami datang duluan, berikan pesanannya kepada kami lebih dulu!”
“Tidak bisa Tuan, pesanan ini sudah lebih dulu dipesan...”
“Huh, apa-apaan ini. Kau tahu siapa kami?”
‘Maafkan saya, Tuan, tapi kami bisa menyajikan makanan lain sebagai pengganti, kami berikan potongan 50% untuk Tuan...”
“Hohoho. Tidak bisa begitu, manis.” kata seorang tamu, sambil meremas bokong Lisa! Tentu saja Lisa segera menyingkirkan tangan orang itu dan mundur ke belakang.
Aku segera keluar dari dapur.
“Maafkan aku Tuan-tuan, tapi kami benar-benar kehabisan menu ayam pengemis. Kami akan mengganti dengan menu lain gratis untuk hari ini, dan Tuan dapat reservasi ayam pengemis untuk besok. Juga tolong jaga perlakuan Tuan-tuan terhadap karyawan kami.”
Keluarga Hua, dan keluarga Dao, sama-sama keluarga terpandang. Aku cukup banyak mendengar tentang keluarga-keluarga kaya dari ayah angkatku. Ayah angkatku sendiri sebagai pemilik restoran, memiliki kekayaan sekitar 10 miliar, yang kini dikuasai oleh paman dan bibiku. Namun ayah angkatku banyak mengenal pengusaha-pengusaha, salah satunya keluarga Hua dan Dao.
Mereka adalah pengusaha kelas menengah di China, belum kelas atas. Tingkat kekayaannya sekitar 300-500 milyar. Tapi dengan tingkat kekayaan seperti ini, mereka sudah bisa menyombongkan kelas mereka, di daerah ini tidak ada yang bisa mengalahkan kekayaan mereka.
Dua orang dari tamu kami itu berdiri, dan marah. “Nona, kami memesan baik-baik, kalian yang menolak. Jangan salahkan kami.”
“Oh, lalu kalian mau apa?” Aku juga merasa kesal dengan perilaku mereka. Tapi aku lebih cemas karena akan ada tamu-tamu yang akan datang.
Bersamaan dengan itu muncul juga serombongan tamu dari luar. Aku dan Lisa memanfaatkan kesempatan itu untuk berpaling dari tamu-tamu liar itu untuk menyambut tamu-tamu, dan juga para pelayan lainnya segera menempatkan diri.
Rombongan ini datang ramai sekali, sambil ketawa-ketiwi. Tampak sekali mereka adalah turis lokal yang sedang berlibur. Mereka masuk sambil membicarakan keindahan kota Tongli.
Perdebatan kami dengan tamu-tamu liar itu sedikit terhenti, dan juga tamu-tamu liar itu duduk kembali. Namun belum selesai kami mengatur tamu-tamu ke ruangan VIP, tiba-tiba para tamu itu berteriak-teriak. “Heeeei. Kami datang duluan, layani kami duluan!!!” Lalu mereka menggebrak-gebrak meja.
Aku meminta maaf kepada para tamu di ruangan VIP, lalu mendatangi mereka. “Tuan, kalau kalian mengacau, aku akan memanggil petugas!”
__ADS_1
“Oh? Kau gila ya... Panggil saja petugas! Aku tidak takut.”
“Kalau aku mau, restoran ini bisa aku beli, termasuk dirimu, cantik!” katanya sambil berusaha merengkuhku. Aku mengibaskan tangan dan mundur. Aku kesal sekali dengan mereka. Tapi aku mencoba bersabar.
“Tuan, maafkan kami, tapi ayam pengemis kami benar-benar habis. Kami sudah menawarkan menu pengganti secara gratis dan Tuan-tuan dapat membooking ayam pengemis untuk besok.”
“Aku mau hari ini. Atau... kami akan membookingmu besok?” seringai salah satu tamu.
Aku diam tidak menanggapi mereka, dan segera masuk ke dapur. Lisa menangani ruang VIP.
“Ada masalah di depan?” tanya Yuan Di yang baru saja menyelesaikan mengangkat sayam pengemis terkahir dari tungku. “Serombongan pengacau!” gerutuku. “Mereka sangat cabul, memegang-megang bokong Lisa, dan mencoba membookingku!”
“Oh? Bagaimana dengan rombongan tamu VIP?” “Semoga mereka tidak terganggu dengan kejadian di depan.” “Aku saja yang akan melayani tamu-tamu liar ini, jangan bolehkan pelayan perempuan mendekati mereka.” “Kak, hati-hati, mereka memang mencari gara-gara.” “Tenang saja, ada aku di sini.”
Yuan Di menyiapkan menu ayam goreng rempah, dan membawakan kepada tamu-tamu liar itu.
“Hey, kemana gadis pelayan itu? Kenapa jadi kamu? Aku mau dilayani gadis-gadis, bukan kacung sepertimu.” teriak mereka. Salah satu dari mereka kemudian berdiri dan mencoba menumpahkan makanan yang dibawa di tangan Yuan Di. Tapi Yuan Di dengan cepat menghindarinya, kemudian meletakkannya dengan mulus di meja.
“Silakan kalian nikmati, kalau kalian tidak mau, juga tidak apa-apa, akan kuberikan kepada anjing-anjing di luar.”
“Kau! Kurang ajar! Pada gadis-gadis tadi kami masih berbaik hati, namun tidak ampun bagimu!”
“Oh? Benarkah?” tanya Yuan Di, memandang mereka dengan tajam.
Tiba-tiba masuklah seorang tua dengan didampingi empat pengawal.
“Hey, aku mengenalnya, dia itu Tuan Stephen Kong!” kata Dao Ming. “Dia adalah rekanan bisnis ayahku.” Dao Ming kemudian berdiri dan mendekati tamu tersebut dengan gaya.
Yuan Di segera berbalik ke dapur.
Saat Dao Ming mendekatinya, dua orang pengawal justru menghadangnya. “Apa maumu?”
Dao Ming berhenti, kemudian tersenyum. “Kakak, aku adalah anak dari rekanan bisnis Tuan Stephen Kong, aku hanya ingin menyampaikan salam hormatku.”
Tapi keduanya tidak bergeming. Si orang tua terus berjalan ke ruangan VIP bersama dua pengawal lainnya.
__ADS_1
Dao Ming dengan kecewa kembali duduk. Dan segera mengambil ayam goreng rempah yang disajikan tadi, menggigitnya dengan gemas.